Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Terus?


__ADS_3

Hari ini adalah hari super sibuk untuk Oma. Karena ia akan menyiapkan acara untuk besok, hari ulang tahun Cira dan juga pengumuman tentang kehamilan Cira untuk keluarga nya. Kalau untuk publik biarkan mereka mencari tau sendiri saja.


"Oma, apakah EO nya sudah datang?" tanya Andra yang juga ikut andil. Dia sebagai pengecek setiap kegiatan apa saja yang sudah beres. Tentunya dengan didampingi sang suami yang rela meninggalkan pekerjaan nya demi sang istri agar bisa memantau pergerakan nya.


"Belum katanya nanti siangan" ucap Oma yang sedang makan.


Mereka saat ini berada dirumah Andra. Agar bisa lebih leluasa berbicara tentang rencana mereka.


Sesuai dengan rencana bahwa Rey tidak pernah bertanya apapun tentang kehamilan Cira kepadanya. Dan Cira pun sama tidak membahas tentang kehamilan nya.


"Oma uyut!"teriak Aidan dengan menggendong tasnya bersiap untuk ke TK.


"Selamat pagi, boy" ucap Oma membuat Aidan nyengir.


"Selamat pagi juga, Oma uyut. Oma hari ini Aidan sama Cia bakalan lomba gambar" ucap Aidan semangat dan riang.


"Owh, ya?. Semangat ya. Cicit Oma" ucap Oma dan mencium pipi Aidan.


"Ayo berangkat. Bareng, papa" ucap Kerta dengan membawa Aidan ke gendongannya.


"Papa, Aidan belum cium mama" rengek Aidan yang berada di gendongan papanya.


"Yaudah" ucap Kerta lalu membawa Aidan ke Andra yang sedang duduk.


Aidan mencium pipi Andra tanpa turun dari gendongan Papanya. Dan Kerta mencium pipi dan kening Andra. Tidak di bibir karena ada Aidan dan Oma membuatnya malu kalau mencium Andra di bagian bibir.


"Dada...Oma, mama" ucap Aidan dengan melambaikan tangannya. Dan dibalas oleh mereka.


Sementara dirumah Cira dan Rey sedang ada debat. Masalah pakaian. Sudah biasa memang mereka selalu debat dengan masalah kecil.


"Mas, pakai ini aja" ucap Cira dengan menyerahkan kemeja berwarna Merah maroon. Namun di geleng kan oleh Rey.


"Tidak, sayang. Itu terlalu mencolok. Pakai yang putih aja. Dengan jas hitam. Sudah" ucap Rey membuat Cira kesal dan membuang pakaian lalu keluar kamar dan menuju dapur.


Melihat hal itu hanya bisa membuat Rey pasrah. Dan memakai pakaian yang dipilihkan oleh Cira.


"Yang?" ucap Rey mencari Cira. Karena dasinya belum terpasang. "Mbak, lihat Cira?" tanya Rey ketika melihat Mbak Ijah berada di dapur.


"Itu, nyonya lagi di belakang nyiram tanaman, tuan" ucap Mbak Ijah. Membuat Rey mengangguk dan menyusul keberadaan Cira.


Greb.


Peluk Rey dari belakang membuat Cira terkejut. "Mas, ish. Lepas" ucap Cira yang kesal.

__ADS_1


"Jangan marah dong, yang. Ini aku udah pakai pakaian yang kamu mau" ucap Rey melepaskan pelukannya dan merentangkan tangannya untuk menunjukan kepada Cira pakaian nya.


"Terus?" ucap Cira yang melirik sekilas kearah Rey. Membuat Rey mendengus.


"Pasangin dasi. Dan aku besok mau keluar kota sebulan" ucap Rey membuat Cira menghentikan menyiram tanaman. Dan melempar selangnya. Lalu memandang tajam kearah Rey.


"Kamu mau pergi? besok?. Kenapa harus besok kan bisa lusa" ucap Cira membuat Rey memeluk Cira.


"Tidak bisa di undur lagi. Karena ini sangat penting"ucap Rey membuat Cira memukul dada Rey pelan.


"Ish. Yaudah, pergi aja. Bila perlu jangan kembali, lagi." ucap Cira kesal dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Rey.


"Yaudah deh. Nanti mas menetap disana aja. Sama bule-bule yang ada di sana" goda Rey membuat Cira kesal lalu menyiram Rey. Membuat Rey lari agar tidak terkena guyuran dari Cira. Namun, sama saja tetap basah.


"Rasain" ucap Cira melihat Rey sudah basah kuyup.


Rey yang mendengar nya langsung berlari dan mendekap tubuh Cira. Membuat tubuh mereka menjadi basah.


"Mas, aku udah mandi" ucap Cira kesal karena dasternya sekarang sudah basah bagian punggung.


"Aku juga udah mandi dan rapi. Tapi kamu siram" ucap Rey tak mau melepaskan pelukannya.


"Mas, di lihatin oleh mbak Ijah, malu" ucap Cira namun tidak dipedulikan oleh Rey yang sedang menciumi leher Cira.


"Yang, aku mau peluk kamu dulu soalnya besok aku udah berangkat" ucap Rey membuat Cira menghela nafas.


Namun, bukan pelukan biasa yang Rey maksud tapi pelukan tambahan dengan membuat kissmark di leher Cira dan tangan mer*mas dada Cira.


"Mas, tangannya!" ucap Cira dengan mencubit tangan Rey yang seenaknya saja mere*mas.


"Habis udah seminggu lebih aku nggak enak-enak sama kamu, yang. Kemarin karena aku keluar kota sekarang menstruasi. Terus kapan dong aku bisa kecebong aku lepas landas" ucap Rey pulgar membuat Cira berbalik dan membekap mulut Rey dengan tangannya.


"Mas, kalau ngomong itu di jaga dong. Kita lagi diluar ini. Kalau dikamar kamu sepuasnya deh, ngomong apapun" ucap Cira dengan sedikit berbisik. Membuat Rey dengan cepat melu*mat bibir manis itu.


"Ish, mas!" ucap Cira ketika ciuman mereka berakhir. Dengan Rey mengusap bibir Cira dengan jarinya. Menghapus jejeka permainan mereka. "Kita ganti pakaian dulu, mas. Takutnya nanti sakit" ucap Cira lagi dan meninggalkan Rey dibelakangnya.


"Mas, beneran mau keluar kota?" ucap Cira ketika memilihkan baju untuk Rey pakai.


"Iya, dan tidak bisa di tunda" ucap Rey membuat Cira sedih.


"Mas, lupa ya besok hari, apa?" tanya Cira membuat Rey Mengerutkan dahinya.


"Besok hari kamis, yang." ucap Rey polos dengan memakai pakaiannya. Membuat Cira menjadi dongkol.

__ADS_1


"Iya kamis.!." ucap Cira kesal.


"Jangan sedih, dong. Kan cuma sebulan. Nanti aku telpon terus deh setiap jamnya" rayu Rey membuat Cira memeluk tubuh nya.


Hingga dering ponsel berbunyi membuat Rey mengambil ponselnya. "Woy,, ini sudah jam 8. Lho jadi kekantor, tidak!!" bentak Chan membuat Rey menjauhkan ponselnya.


Cira yang mendengarnya tersenyum "Iya, ini juga mau berangkat"ucap Rey lalu mematikan ponselnya ketika Chan mengatakan iya.


"Mas, Mau kerja, dulu. Kamu tidak ke toko?" tanya Rey membuat Cira menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, hati-hati. Mas, kerja dulu" ucap Rey mencium seluruh wajah Cira.


"Mas, juga hati-hati, ya. Jaga mata dan hati selama bekerja, ya" ucap Cira membuat Rey mengangguk dan terkikik.


Selepas kepergian Rey. Cira berbaring di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya. Pikiran melenggang kepada rencana yang Oma usulkan.


Tangan Cira turun mengusap perutnya. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak memberitahukan keberadaan nya kepada Rey.


"Apa aku kasih tau besok, aja ya?. Kalau aku sedang hamil" monolog Cira. " mumpung besok, ulang tahun ku" ucap Cira lagi. Dengan merenung.


"Besok gimana cara ngasih taunya, ya?" gumam Cira lagi. Dengan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dengan memeluk guling.


Tanpa dirasa Cira ternyata tertidur dalam pikirannya. Hingga hari semakin siang. Membuat Cira terusik karena perutnya lapar.


"Hoam......Aduh, udah siang pantesan perut lapar" ucap Cira membuka matanya. "Anak mommy lapar, ya?" ucap Cira kepada calon anaknya dengan mengusap perutnya.


Cira bangkit lalu menuju dapur untuk mencari makanan yang bisa di makan. "Aduh kok, pengen rujak, ya?" gumam Cira melihat isi kulkas yang berisi buah segar yang baru tadi pagi di beli Mbak Ijah.


"Nyonya, mau makan?" tanya Mbak Ijah yang baru datang membawa kantong plastik buah mangga. Dan itu membuat Cira ngiler.


"Mbak, itu. Mangga?" tanya Cira membuat Mbak Ijah mengangguk.


"Mbak tolong mangga nya di kupas ya. Aku mau bikin rujak" ucap Cira membuat Mbak Ijah mengangguk.


Mbak Ijah tahu kalau Cira hamil dari kejadian waktu pingsan. Dan Mbak Ijah juga ikut dalam misi petak umpet si dedek bayi. Sehingga kalau Cira mau apa atau ada apa, mbak Ijah tinggal lapor saja sama Oma.


Buah mangga yang sudah dikupas sudah tersaji di meja makan dengan Cira yang sudah membawa perlengkapan bahan rujak. Namun bahan bumbunya belum di ulek.


Karena malas untuk mengulek ya jadi Cira langsung makan saja buah mangga nya dengan di cocol garam dan dimakan dengan lahap tanpa ada rasa asamnya.


Melihat majikannya makan mangga dengan garam mbak Ijah ngilu sendiri dan ngiler melihat majikannya.


Padahal mangga itu masih belum matang. Tapi ketika melihat Cira makan maka mangga itu seolah terasa manis.

__ADS_1


"Aduh, nyonya. Mbak Ijah mau angetin makan dulu, ya. Mbak ngilu ngelihat nyonya makan mangga" ucap Mbak Ijah bangkit dan langsung menuju dapur dan bermain dengan wajan dan kawan-kawannya.


__ADS_2