Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
S2 #14


__ADS_3

Sudah seminggu kegiatan perkemahan itu berlangsung dan sejak saat itu pun Chan belum bertemu dengan Fiola. Entah mengapa gadis itu terasa menjauhi dirinya dari Chan. Padahal Chan sudah sering menanyakan kapan akan mereka bertemu untuk membahas sekolah untuk anak-anak kurang mampu. Namun, gadis itu memiliki beribu alasan untuk menolaknya.


Dan sekarang adalah pesta resepsi pernikahan Bejamin dan Indah. Seperti biasa mereka akan mencemooh Chan karena kedua sahabatnya kini telah menikah. Jangan lupa mamanya yang paling semangat dalam hal membully anaknya sendiri.


"Jeng anakmu kapan nyusul?" tanya salah satu geng sosialita ibunya.


"Mungkin nunggu saya mati. Baru dia nikah atau dia akan jadi bujang lapuk" ucap mamanya dengan menatap sinis kearah Chan yang sedang menikmati makanannya.


"Sabar, jeng. Mungkin dia kurang usaha" ucap ibu itu membuat mereka tertawa bersama. "Jodohin aja sama anaknya Jeng Tuti. Anaknya cantik lho jeng. Kuliah nya di Oxford" ucap ibu itu membuat mata mamanya Chan berbinar.


"Wah, ide bagus tu, jeng. Kalau begitu saya samperin jeng Tuti dulu, ya?" pamit Mama Chan.


"Idih,,,kuliah apanya. Kuli sambil desah sih iya..."dumel mamanya Chan mendekat kearah anaknya.


Plak!!


"Makan aja!. Cari bini kek, tuh lihat teman mu aja sudah pada berkeluarga, kamunya kapan" sarkas mama Chan yang mengeplak bahu anaknya yang dibales dengusan kesal.


"Iya,,,ini lagi pengisian energi buat nyari mantu yang mama minta" ucap Chan dengan kembali melahap makanannya.


Mama Chan duduk disampingnya dan menatap menu makanan yang sangat menggoda menari ingin dimakan. Hingga akhirnya dia bangkit dan mengambil makanannya.


"Rendangnya enak sekali, ya, Chan?" ucap Mama Chan yang memakan rendang membuat Chan mengangguk.


"Kalau enak boleh dibungkus kok, Tante"ucap Bejamin yang datang dari arah belakang mereka.


Membuat mama Chan terkejut "Beneran?. Tapi Tante ingin tau resepnya aja" ucap mamanya Chan membuat Bejamin tertawa. "Kamu ngapain kesini?. Istri mana?" tanya Mama Chan yang baru menyadarinya.


"Ini mau ngambil makanan untuk Indah. Mumpung tamunya sudah sepi jadi kami mau makan juga. Lapar dari tadi belum makan. Sekalian ngisi tenaga juga" ucap Bejamin dengan wajah cengengesan.


Mendengar itu membuat mama Chan tertawa "Perlu obat kuat nggak. Oma Ida biasa punya banyak dia" bisik mama Chan pada Bejamin membuat Chan menatap curiga kearah mereka yang sedang berbisik.

__ADS_1


"Udah,,dikasih kemarin. Sama obat encok nya juga. Dan berbagai gaya biar anaknya cepat jadi" ucap Bejamin membuat mereka tertawa. Tetapi, tidak dengan Chan yang justru mengerjitkan dahinya.


"Sippp lah" ucap Mama Chan dengan cengiran khasnya dan acungan jempol yang dibalas juga dengan Bejamin.


"Bro,,,cewek Lo nggak diajak?" ceplos Bejamin membuat mereka berdua ibu dan anak menatap Bejamin bingung. "Cewek yang kemarin lho ajak makan bubur itu?" Ucap Bejamin lagi memberikan penjelasan.


Mata tajam mama Chan kini beralih ke anaknya seolah meminta penjelasan. Sedangkan Chan yang terkoneksi merasa gugup harus berkata apa "Itu cuma teman yang nggak sengaja bertemu" ucap Chan namun tidak membuat mereka puas.


"Beja, Tante butuh informasi dari kamu. Soal nya si Curut ini tidak mau curhat ke Tante" ucap Mama Chan menatap sinis Chan yang sedang kikuk.


"Beja juga tidak tau, Tan. Karena cewek itu memunggungi kami" ucap Bejamin yang sekarang justru membuat Chan kesal.


Mata mama Chan kembali menusuk Chan, membuat si empu hanya tersenyum sampul. Dengan kembali makan namun, harus terhenti ketika melihat seseorang yang sedang berjalan kerarah mereka. "Mantan calon mantu. Sini kita makan bareng" ajak mamanya Chan membuat orang yang dipanggilnya merasa malu dan gugup.


"Gea, kamu mau makan juga?. Aduh,,,lama nggak ketemu makin cantik aja. Gimana baby-nya sehat. Kok nggak diajak kesini?" tanya Mamanya Chan yang menyeret orang itu. Iya, orang itu adalah Gea.


Gea yang ditanya oleh mama nya Chan merasa gugup dan canggung. Sehingga dirinya hanya memilih untuk tersenyum kikuk. "Di rumah sama pengasuh, kalau diajak suka rewel" ucap Gea.


Bejamin dan Chan yang memandang sosok yang sejak tadi mengikuti Gea itu dengan senyum ramahnya "Santai saja Gea nya tidak akan gue ambil. Eh,, perkenalkan dulu nama gue Chan, Kakak dari Gea dan sahabat dari Rey" terang Chan yang bangkit kemudian bersalaman dengan sosok tersebut.


"Jangan cemburu, bro. Kita hanya menganggap Gea sebagai adik kita kok" ucap Bejamin membuat aura sosok itu sedikit tenang.


"Iya,,terima kasih. Gue Lohan" ucapnya membuat Chan terperangah.


"Lo Lohan anaknya Mr, William, kan?" tanya Chan membuat Lohan mengangguk dan itu membuat jiwa Bejamin berkobar.


"Pantesan gue lihat muka Lo seperti tidak asing. Anj*Ir nikahan gue didatangi oleh pengusaha terkaya dari Amerika" ucap Bejamin berdramatis membuat Chan mendengus kesal.


Ketiga laki-laki itu keluar dari ruang makan dan duduk disebuah meja dengan barisan kursi yang melingkar. Mereka bercakap ria membahas banyak hal layaknya obrolan kumpulan laki-laki yang lainnya.


Mereka bercerita tentang Gea yang belum menerima lamarannya membuat Chan dan Bejamin menertawakan nasib Lohan.

__ADS_1


"Gea memang begitu, batu banget anaknya. Lo tau kan?. Ungkapan dari sekerasnya batu akan terkikis oleh angin?" ucap Bejamin membuat Lohan mengangguk dengan pasrah. "Maka dari itu Lo jangan putus asa. Karena Gea kalau sudah menaruhkan hatinya pada Lo dia akan sangat bucin dan setia banget" lanjutnya membuat Lohan mengangguk begitu pun dengan Chan.


"Dan untuk Lo Chan. Kejar dia selagi janji Tuhan belum terucap" ucap Bejamin.


Mendengar untaian kata kerang mutiara dari sahabatnya membuat sepasang orang yang menghampiri mereka "Hidayah pernikahan ternyata membuat Lo lebih dewasa ya?" tanya orang itu yang duduk di samping Chan.


Mereka bertiga memandang Rey terkejut kemudian kembali memandang Cira "Lo duduk, bini Lo berdiri. Durhaka Lo sama istri" ucap Bejamin membuat Rey tersadar dan berdiri kemudian mengarahkan Cira untuk duduk sementara dirinya mengambil kursi yang lainnya.


"Cira nggak diajak?" tanya Chan yang tidak melihat batang hidung Cilcomblang tersebut.


"Dia lagi sama papanya, tuh!" tunjuk Cira kepada seorang gadis yang sedang menikmati pernak-pernik kukis kering yang berbagai bentuk dan rasa. "Hai,,Lohan" ucap Cira ketika melihat kearah Lohan yang dibalas dengan senyuman.


Mereka berbicara dengan santai bahkan Cira mampu mengimbangi obrolan para laki-laki "Mas, makannya mana. Dari tadi ditungguin juga. Untung sudah sepi" cerocos Indah membuat Bejamin yang tersadar merasa bersalah.


"Maaf sayang, tadi tersangkut dikumpulkan para bapak-bapak" tunjuk Bejamin kepada Chan, Lohan dan juga Rey serta Cira.


"Eh,,,ada kalian. Eh,,ini siapa ganteng banget" puji Indah pada Lohan membuat mereka tertawa. Namun, wajah Bejamin langsung pias dan berdiri menutup mata istrinya.


"Nggak boleh liat. Dosa" terang Bejamin membuat Indah mendengus dan berusaha melepaskan tangan Bejamin di matanya.


"Kak katanya Ibel nangis. Tadi aku ditelepon sama mbaknya" ucap Gea yang datang bersama Mamanya Chan.


Mendengar itu membuat mereka memandang Gea. Kemudian Cira berdiri dan langsung memeluk Gea dan mereka berpelukan dengan tangis.


Sementara mereka melihatnya dengan haru. "Kamu kenapa nggak ngasih kabar. Aku selama ini kangen banget sama kamu" ucap Cira dengan menangis.


"Udah,,kasian Ibel dirumah. Ini aku udah minta kontaknya Lohan Jani nanti kita main ke rumah mereka" lerai Rey membuat mereka yang menangis tenang.


"Iya, kak. Nanti main aja ke rumah jangan lupa ajak juga si kembar. Biar Ibel ada punya teman" terang Gea yang sudah dirangkul pinggang oleh Lohan.


Mereka satu persatu pulang ke rumah masing-masing dan kembali pada rutinitasnya mengurus rumah tangga ataupun bekerja.

__ADS_1


__ADS_2