
Rey yang baru datang melihat aksi Aidan. Dan duduk disamping Cira yang tengah mengusap perutnya. "Ini diminum. Pelan-pelan" ucap Rey membuat semua orang memandang Cira dan Rey.
"Cucu nenek ganteng. Sudah dong nangisnya" rayu Papanya Kerta yang kini sudah menggendong Aidan yang masih sesenggukan.
"Aidan nggak mau punya adik lagi. Kasian Mama kesakitan" ucap nya di sela tangisnya.
Mendengar itu membuat mereka tersenyum. Karena Aidan begitu lucu. Cira merasa terharu dengan sifat Aidan yang begitu menyayangi mamanya.
"Ya Tuhan, Rey. Kamu ngapain ajak istri kamu kesini. Kasian perutnya sudah besar gitu" ucap Mama Kerta yang kasihan melihat kondisi Cira.
"Benar Rey mendingan kalian pulang saja" ucap Papa Aditama yang duduk disamping Rey dengan menepuk pelan pundaknya.
Cira hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Mamanya Kerta. Sebenarnya dari tadi dia sudah tidak nyaman berjalan dengan perut gentong begitu. Tapi dia tahan hingga sampai di ruangan bersalin.
Rey hendak membantu Cira bangkit namun tangis bayi membuat mereka diam seketika dan saling pandang. Untuk bertanya apakah benar itu suara dari cucu atau ponakan mereka.
"Itu yang lahiran siapa?" tanya Papanya Kerta yang bingung.
"Itu adik bayi, kakek!" ucap Aidan keras membuat mereka semua mengucapkan kalimat syukur. Bahkan para kakek sudah berpelukan saling memberikan selamat.
Cira dan Rey juga turut bahagia. Karena kelahiran anak kedua dari keluarga Andra dan Kerta. Setelah menunggu beberapa menit pintu ruang bersalin terbuka menampilkan suster tengah membawa bayi.
"Dengan keluarga ibu Andra?" tanya suster tersebut dan langsung dikerumuni oleh para kakek dan nenek bahkan Aidan pun ikut.
"Ini cucu kalian perempuan sangat cantik persis ibunya" ucap suster tersebut menyerahkan bayi yang masih merah itu ke tangan Neneknya.
"Bagaimana keadaan ibunya, sus?" ucap Papa Aditama yang menanyakan kondisi anaknya. Karena sejujurnya dilubuk hatinya ia masih trauma akan persalinan yang merenggut sang istri.
"Ibunya baik-baik saja. Sekarang sedang tahap observasi pasca melahirkan" ucap suster tersebut lalu pamit untuk kembali masuk kedalam ruangan.
Semua orang memandang bayi cantik yang masih merah itu dengan penuh bahagia. "Hallo baby Camellia" ucap Aidan menyentuh pipi adiknya yang kini membuka matanya memandangnya dan sedikit tersenyum.
Melihat hal itu membuat semua orang tersenyum "Ternyata dia tau kalau itu kakaknya" ucap Papanya Kerta dengan mengusap pucuk kepala sang cucu, Aidan.
"Hallo baby Camellia" sapa Rey membuat bayi itu memenyamkan mata ketika sekilas melihat Rey. Sontak saja membuat mereka semua tertawa karena anak kecil baru lahir saja tidak menyukai Rey yang malah memilih memenyamkan matanya.
"Nyesel om kasih kereta" gerutu Rey karena ponakan nya itu tidak mau menatapnya. Dan memilih duduk kembali di samping istrinya.
Cira hanya tersenyum dengan mengusap punggung sang suami yang menggerutu kesal. "Kalian sudah makan?" tanya Papa Kerta memandang Cira dan Rey. Dan dibalas anggukan kepala oleh mereka.
"Om pulang aja. Aidan mau disini sama adik bayi" ucap Aidan seolah mengusir Rey.
Mendengar itu semakin membuat Rey kesal dengan tingkah ponakannya. Dirinya bagaikan sepah tebu. habis manis dibuang.
"Yaudah, Tante dan Om pulang dulu. Kamu ingat tidur ya karena ini sudah malam. Tidak baik anak kecil ganteng tidurnya malam-malam" ucap Cira dengan mengusap rambut Aidan, yang mengangguk.
__ADS_1
Cira dan Rey pulang ke rumah dengan kondisi Rey yang masih menggerutu. Dia kesal dengan tingkah ponakannya. "Mas, sudah dong jangan cemberut gitu" ucap Cira mengusap lengan suaminya yang menyetir mobil dengan bibir manyun.
Mendengar itu membuat Rey menghela nafas "Aku cuma nggak habis pikir. Bisa-bisa dia mengusir Omnya. Dan itu bayi lucu itu bahkan tidak mau melihat wajah tampan Omnya" curhat Rey membuat Cira tersenyum.
"Kamu ini kayak anak kecil tau nggak" ucap Cira disela tawanya membuat Rey mendengus kesal.
"Tapi aku tidak suka, sayang" ucap Rey merengek. Lama-lama membuat Cira kesal juga dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin berbeda dari biasanya bahkan dari pertama kenal pun sudah hilang bagikan bau kentut.
Karena itu Cira lebih baik diam tidak meneruskan nya karena mungkin suaminya itu sedang dalam keadaan mood yang tidak baik.
Mereka akhirnya sampai dirumah, Cira berjalan dengan santai dengan memegang pinggang nya yang pegal. Melihat itu membuat Rey kasihan.
"Biar aku gedong, ya?" ucap Rey yang dibalas anggukan oleh Cira.
Rey menggendong Cira ala bridal style masuk kedalam kamar nya. Suasana rumah sepi. Mungkin karena Mbak Ijah sudah tidur.
"Sini buka bajunya. Pakai daster aja" ucap Rey membukakan baju Cira. Sedang Cira hanya pasrah saja diperlakukan oleh suaminya.
Rey dengan telaten membuka baju Cira. "Mau pakai bra?" tanya Rey membuat Cira menggeleng.
Setelah memakai kan daster kepada Cira dan mengelap badan Cira. Dengan segera Rey masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.
Rey keluar dari kamar dengan keadaan berbalut handuk dibagian pinggangnya saja dan rambut yang basah. Melihat itu membuat Cira merasa tergoda apalagi perut nya yang menggoda untuk di sentuh.
"Sini, mas. Biar aku keringkan" ucap Cira berusaha menepis pikiran yang menggodanya.
"Aduh,,,anak Daddy main bola ya disana" tanya Rey ketika anaknya didalam perut menendang.
"Main voli Daddy" ucap Cira dengan suara meniru kan anak bayi. Membuat mereka tertawa bersama.
Rey merasa bahagia ketika memiliki Cira. Diawal pertemuan memang Rey ingin Cira menjadi istrinya. Karena mata teduh Cira mampu membuat hati Rey menghangat.
Walau pernikahan ini diawali dengan tragedi yang diluar nalar. Namun, entah sejak kapan mereka mulai saling mencintai. Seolah Tuhan memang menciptakan mereka untuk berpasangan.
...****...
Hari sudah sore dan jam pulang kerja pun sudah lewat. Namun, Rey masih bernyanyi dengan kertas-kertas yang menumpuk. Lelah sangat terasa dari wajah, tubuh dan pikirannya.
"Rey?" tanya Chan yang juga sejak tadi berada disampingnya dengan melakukan hal yang sama dengan Rey.
"Hem" dehem Rey menanggapi panggilan Chan.
"Bapak gue kemarin kesini, ya?" ucap Chan membuat Rey memandangnya.
"Tidak. Emangnya kenapa?" tanya Rey membuat Chan menghela nafas nya.
__ADS_1
"Baguslah." ucap Chan tersenyum
"Lo kenapa?. Jangan bilang bapak Lo pulang?" ucap Rey memandang Chan penuh selidik. Dan diangguki oleh Chan.
Melihat itu membuat Rey tersenyum senang dan bahagia. Masalahnya jika bapaknya Chan sudah pulang dirinya bisa bekerja dari rumah.
Karena perusahaan dapat di pegang oleh bapaknya Chan. Karena bapaknya Chan adalah tangan kanan dari Papa. Sama seperti Chan yang juga tangan kanan Rey.
"Kenapa Lo tersenyum?" tanya Chan.
"Tidak ada" elak Rey. Karena tidak mau ketahuan pikirannya oleh Chan.
"Gue tau ya. Pikiran Lo licik. Gue kalau kerja sama bapak, horor. Apalagi kalau ada yang salah keras, bro" ucap Chan membuat Rey tertawa.
Memang benar bapaknya Chan memang sangat disiplin. Apalagi jika menyangkut pekerjaan. Tidak akan pandang bulu. Sehingga bapaknya Chan sangat dipercaya oleh Papa Aditama.
Setelah acara saling memaki. Akhirnya Rey pulang karena sudah tidak bisa berpikir kembali untuk memeriksa berkas tersebut. Lagian dirinya sudah kangen dengan sang istri.
Sampai dirumah Rey langsung mencari keberadaan istrinya itu. "Mbak Ijah, Cira mana?" tanya Rey pada Mbak Ijah yang sedang mencuci piring di dapur.
"Itu nyonya sedang dikamar"ucap Mbak Ijah dan Rey pamit ke kamarnya untuk menghampiri Cira.
"Selamat malam, sayang?" ucap Rey sembari membuka pintu kamarnya.
Didalam kamar Cira terkejut melihat Rey. Begitupun dengan Rey yang terkejut melihat istrinya polos berdiri didepan cermin.
Dengan segera Rey masuk dan mengunci pintu kamarnya. Dan dengan segera menghampiri Cira dan memeluk tubuhnya.
"Kamu cantik kalau begini" goda Rey dengan tangannya sudah bermain. Dan mencium pundak polos sang istrinya. Sementara Cira dibuat malu karena ketahuan oleh sang suami sedang bercermin dengan tubuh polos.
Rey yang sudah tergoda melihat istrinya begitu langsung melancarkan aksinya dengan menggoda Cira.
Hingga Cira masuk perangkap Rey dan mereka melakukan kegiatan panas dengan penuh kelembutan. Mencoba posisi baru untuk ibu hamil sesuai dari anjuran sang dokter.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima Kasih