
Suasana langit masih sama dengan di hiasi gumpalan awan putih yang indah dengan berbagai bentuk. Semilir angin membawa seseorang untuk terus mere*mas rambutnya dibarengi dengan beberapa kali helaan nafas yang panjang.
Hati nya bimbang tentang apa yang akan dilakukan. Dia tau hidupnya akan berubah tapi bisakah dia menjalaninya. Paksaan orang tuanya semakin menekannya.
Rasa ingin mati sering terlintas di kepalanya. Namun, tersadar kan akan dosanya yang banyak belum dia hapus. Ada sedikit pencerahan di hatinya untuk bangkit dan berserah diri memohon ampun, tetapi jiwanya seakan menolak hal itu.
"Lohan, mama ingin cucu. Kapan kamu menikah!!" ucap Mamanya kepada orang yang bernama Lohan.
Itu adalah perkataan yang sering ia dengar ketika ke rumah orang tuanya. Tak pernah sekalipun menanyakan bagaimana kabarnya. Apakah dirinya sehat. Namun, perkataannya hanya tentang itu saja.
Dia memang tidak pernah dekat dengan siapapun karena ia terlalu lelah untuk hidup jika ditambah dengan beban untuk berpacaran ataupun menikah.
Semakin lama disini akan membuatnya semakin ingin mati. "Lohan!!!" teriak mamanya akibat anaknya pergi begitu saja.
Lohan pun mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Membuat siapa pun yang bersamanya didalam mobil itu sudah dipastikan akan pingsan sampai kemungkinan nyawanya juga ikut menghilang.
Tujuannya ternyata sebuah bar yang sangat elit. Karena bar ini adalah miliknya jadi dia bebas keluar masuk bar tersebut. Dia langsung masuk kedalam ruangan VIP dalam bar itu.
Para karyawan nya pun tau ketika bosnya datang kemari maka sudah dipastikan hatinya kacau. Sehingga karyawan nya tidak ada yang akan menyapanya.
"Bawakan saya alkohol" ucapnya dengan tegas dan dingin.
Setelahnya datanglah karyawan bar. Membawa 5 botol white wine dan diletakan di meja dekat bosnya.
Lohan meminum nya dengan perasaan yang sedih bercampur kesal. Iya, kesal karena begitu tragis kehidupannya. Ketika ayah yang menjadi panutan untuk anaknya. Kini berubah menjadi membawa kehancuran untuk anaknya.
Hingga hari semakin larut dan Lohan pun sudah sangat mabuk. Dengan setengah sadar ia berjalan untuk keluar pulang karena dia tidak nyaman untuk tidur di ruangannya ini.
Namun, di tengah perjalanan dia melihat gadis yang sangat manis yang walau dalam keadaan mabuk dengan mata samar-samar melihatnya. Tetapi dia tau bahwa gadis itu sangat cantik dan lembut di lihat dari matanya.
Namun, tidak sengaja mata mereka bertemu dan itu membuat kupu-kupu dalam perut Lohan berterbangan sampai terasa mau lepas.
Entah karena apa Lohan langsung menyeret gadis itu untuk masuk kedalam ruangnya. Dan mengunci pintunya lalu langsung menjatuhkan gadis itu ke atas ranjang dan menindihnya.
__ADS_1
Dia melihat bahwa gadis itu menangis dan meronta. Tapi karena mabuk dan hasratnya yang meningkat ketika melihat baju gadis itu tersikab menampilkan gundukan yang putih bersih.
Membuatnya dengan segera untuk melu*mat bibir gadis itu. Hingga hal yang tidak pernah mereka lakukan pun terjadi.
Tanpa mereka sadari inilah jalan Tuhan yang diberikan oleh keduanya dalam satu kebahagiaan yang menanti mereka.
...*****...
Di rumah Papa Aditama sudah ribut oleh teriakan Cia dan Aidan yang memperebutkan mainan. Sementara Riski dan Riska memandang mereka dengan tatapan tidak bisa di baca.
"Aidan, Cia. Nggak malu dilihatin bertengkar oleh Riska sama Riski?" tanya Papa Aditama membuat mereka berhenti dan saling pandang.
Cia hanya menampilkan deretan gigi bersama dengan Aidan lalu mereka berpelukan sebagai tanda bahwa mereka sudah akur. Dan mereka kembali bermain bersama-sama dengan Cia dan Riska bermain masak-masak sementara Aidan dan Riski bermain robot-robotan.
Orang tua mereka sedang menyiapkan makan malam di teras belakang rumah. Karena akan ada pesta kecil-kecilan.
"Daddy, kami lapar!!" teriak Cia memasuki teras dengan menggandeng tangan Riska dengan pelan-pelan. Mendengar itu membuat mereka semua tertawa.
"Kak, kapan lahirannya?" tanya Cira ketika mereka sudah selesai makan dan kini duduk bersama di atas tikar dengan menikmati eskrim.
"Bulan depan, Ra. Anak kamu sehat?" tanya balik Andra membuat Cira mengangguk dan mengusap perutnya.
Rey datang dan duduk disamping istrinya dengan menyerahkan susu hamil yang sudah dia buat. Memang sudah menjadi kebiasaan Rey untuk membuatkan Cira susu karena Cira selalu lupa untuk meminumnya.
"Terima kasih, mas." ucap Cira dengan meminum susunya dengan lahap.
"Aidan masih sedih dan suka ngebantah, nggak?" tanya Rey yang tau bahwa keponakan nya itu sedang mengalami cemburu karena takut akan dilupakan dan tidak di sayangi orang tuanya ketika nanti adiknya lahir.
Sehingga hal itu membuat Kerta dan Andra sedikit kewalahan dengan sikap Aidan yang semakin mulai memberontak. Namun, dengan di berikan pengertian pelan-pelan baru dia mulai menerimanya. Walau ada saat dia akan kembali lagi. Dia begitu karena merasa akan tersaingi karena adiknya adalah seorang laki-laki sedangkan dia menginginkan adiknya perempuan.
"Sudah biasa setiap anak yang akan memiliki adik begitu. Semoga aja hasil USG salah karena ada beberapa orang hasil USG nya cewek tapi yang lahir cowok. Kita cukup serahkan semua kepada Tuhan saja." ucap Andra membuat Cira dan Rey yang mendengarnya mengangguk.
Hari semakin malam. Keluarga Cira sudah pulang karena Riska yang sudah rewel akibat mengantuk. Kini didalam kamar Rey sedang mengajak calon anaknya berbicara. Mengenai banyak hal. Bahkan sudah berbicara terlalu jauh. Membuat Cira tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Mereka memang tidak sabar untuk kelahiran anak mereka. Bahkan mereka menolak untuk mengetahui jenis kelaminnya.
"Mas, tadi aku lihat album foto kamu. Ternyata mas, waktu kecil cantik banget, ya" ucap Cira yang mengingat foto suaminya waktu seusia Cia di dandani pakaian cewek yang serupa dengan Andra. Memakai baju pulkadot merah seperti stroberi dengan hiasan bando mewarna hijau.
"Aku ingat, waktu itu. Karena aku laki-laki jadi tidak diundang ke pesta ulang tahun, karena sangat ingin jadi Mama mendandaniku seperti itu karena tema pestanya buah-buahan." ucap Rey dengan mengelus dan mencium perut Cira. Mendengar itu membuat Cira tertawa.
"Tapi kamu beneran cantik, lho, mas. Besok coba pakai pakaian ku mas. Mas cantik tidak" goda Cira membuat Rey mencium bibirnya.
"Sekarang aku sudah jadi laki-laki kuat. Buktinya sampai aku bisa membuatmu seperti ikan buntal" ucap Rey tertawa dan menjewer pipi Cira yang mengembang seperti bakpao.
Mendengar ejekan suaminya dengan cepat Cira mencubit perutnya "Iya ini ulah kamu. Dan membuat aku menjadi susah untuk bergerak" ucap Cira kesal.
"Tenang aja kan ada aku yang nantinya sebagai tangan dan kaki kamu" ucap Rey gemas dengan tingkah istrinya.
"Mas, siapa cowok yang berfoto dengan kamu waktu lulusan SMA?" tanya Cira yang baru mengingat apa yang ingin dia tanyakan.
Rey kembali berusaha mengingat maksud ucapan Cira. "Owh,,,yang pakai behel, itu?" tanya Rey yang mengingat orang di foto itu dan diangguki oleh Cira. "Itu Sarah, sayang" ucap Rey membuat Cira terkejut.
"Nggak mungkin mas. Sekarang aja cantik dan Se*xy begitu, mas" ucap Cira tidak percaya.
"Kamu ingat waktu itu pas pertemuan pertama kita yang di toilet itu?" ucap Rey membuat Cira mengangguk. "Cewek itu sebenarnya suka sama Sarah. Karena dia kira Sarah cowok" ucap Rey membuat Cira tersentak akibat mendengar ucapan Rey.
"Lho, kok dia nggak tau Sarah cewek, mas?" ucap Cira mulai tertarik dengan pembicaraan suaminya.
"Jadi Sarah dari SD sudah tomboy. Jadi kami memanggil Sarah dengan nama bapaknya Ilham. Diambil dari nama belakangnya. Sarah Putri Ilhamsyah." ucap Rey membuat Cira tertawa.
"Tapi Mas aku kok nggak pernah ketemu dengan kamu setelah tragedi toilet, itu.?" ucap Cira penasaran.
"Siapa suruh kamu pindah sekolahnya di akhir semester 2. Jadi tidak melihat bagaimana suamimu ini di kerumunin cewek-cewek. Dan bertepatan dengan itu mas sudah selesai ujian jadi bebas. Mau ke sekolah atau tidak" ucap Rey membuat Cira mengangguk.
"Owh,, iya. Dan itu pertemuan kita dan terakhir di SMA kan?. Karena aku tidak melihat mas di acara perpisahan." ucap Cira membuat Rey gemas karena banyaknya pertanyaan. Lalu mencium bibirnya sekilas.
"Ini mulutnya banyak sekali pertanyaan. Iya, di hari perpisahan aku sudah berada di Amerika untuk belajar" ucap Rey membuat Cira terkejut. "Ayo, mau nanya apa lagi?" potong Rey ketika melihat raut wajah Cira yang ingin kembali bertanya. Membuatnya gemas lalu mencium bibir itu dan melu*matnya dengan lembut.
__ADS_1