
Tangis si kembar menggema, membuat Cira kewalahan dengan perbuatannya yang sudah di kasih enen juga tidak mau. Entah apa yang mereka inginkan. Cira dan mbak Ijah juga tidak mengerti dengan yang diinginkan oleh kedua bayi itu.
"Kalian mau apa sih?" ucap Cira yang menggendong baby Jeo yang menangis keras. "Ini minum susu dulu, ya?" ucap Cira yang berusaha mengarahkan payu*dara kepada baby Jeo namun ditolak nya.
"Non, mungkin mereka rindu dengan Cia?" ucap Mbak Ijah. Membuat Cira mengangguk dan mengambil ponselnya dan menghubungi Oma.
Setelah beberapa menit akhirnya Cia datang dengan Oma yang langsung teriak. Membuat si kembar yang nangis sesenggukan menjadi sedikit lebih tenang.
"Mereka kenapa nangis?" tanya Oma ketika si kembar sudah tenang bermain dengan Cia. Dan langsung tertidur karena kelelahan menangis.
"Nggak tau, Oma. Baru pulang dari toko mereka tidur di mobil. Dan ketika masuk ke dalam rumah mereka nangis" ucap Cira yang duduk di sofa dengan wajah lelah.
"Suami kamu udah ada nelpon?. Mungkin si kembar rindu dengan Daddy nya" ucap Oma membuat Cira tersentak.
"Iya, Oma. Cira lupa" ucap Cira segera mengambil ponsel yang tadi di letaknya di meja dekat sofa.
"Kamu ini. Pantas saja kembar nangis, hahaha" ucap tertawa karena kesibukan cucu mantunya mengurus anaknya dan tokonya.
Cira berusaha menelpon sang suami namun tidak dijawab padahal sudah 10 kali ditelpon . Membuat Cira geram menelpon Chan.
"Chan, Rey dimana?" tanya Cira pada disebrang.
"Lagi tidur, Ra" ucap Chan membuat Cira menghela nafas.
"Kalian nanti kalau sudah sampai di hotel, suruh Rey telpon ya. Ini si kembar rindu Daddy-nya" ucap Cira membuat disebrang mengiyakannya. Dan mereka memilih mengakhiri obrolan.
...###...
Sementara di sebuah rumah sederhana, sedang makan lesehan bersama dengan ditengah ada meja kecil yang menyajikan hidangan sederhana. Persis mereka makan seperti orang Jepang.
"Gimana kerjaan kamu sekarang?" tanya pak Surat.
Sudah biasa suasana makan di isi dengan bercerita. Karena disana kita bisa menemuka suatu kebersamaan yang sesungguhnya.
"Gitu aja, Pak." jawab Fiola santai.
__ADS_1
"Biasa anak-anak emang gitu. Kamu aja waktu masih kecil bandel banget. Kalau dikasih tau bilangnya 'Iya' tapi setelah beberapa jam kembali lagi" ucap Bu Naska. Ibu dari Fiola.
"Nggak kok, Fio selalu nurut sama bapak dan ibu" bantah Fiola membuat orang tuanya tertawa membayangkan.
"Kamu masih kecil, mana ingat" ucap Pak surat membuat Fiola cemberut.
Setelah mereka makan bersama, Kini merek sedang duduk di depan TV yang menyatu dengan posisi makannya. Hanya meja kecil itu yang berpindah.
"Bapak buahnya masih?" tanya Fiola membuat pak Surat mengangguk.
"Buat apa?" tanya Pak Surat membuat Fiola tersenyum.
"Rencananya Fio mau buat puding yang berisi buah, pak. Buat anak-anak soalnya kan lagi musim kemarau panjang" ucap Fiola.
"Bagus, itu lagian besok juga bapak tidak berdagang mau bermalas-malasan dulu" ucapnya membuat Fiola tertawa.
"Bilangnya mau bermesraan dengan ibu" gerutu Fiola membuat orang tuanya tertawa.
"Nanti kamu juga tau," ucap Bapak membuat Fiola memilih ke kamarnya. Karena tidak ingin sakit mata dan telinga dengan tingkah orang tua nya.
Di kamar Fiola sedang menyiapkan keperluan untuk besok. Mencatat resep untuk puding buahnya. Hingga beberapa menit berkutat dengan resepnya. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk membuat Fiola mengerjitkan alisnya karena ada panggilan tidak dikenal.
"Ini saya Chan, Fi" ucap disebrang membuat Fiola mengangguk.
"Ada apa ya mas?" tanya Fiola membuat disebrang berdehem.
"Saya mau bahas terkait sekolah untuk anak-anak" ucap Chan membuat Fiola mengerjitkan dahinya.
"Anak-anak?" ucap Fiola yang Lola dengan pikirannya. Membuat disebrang terkekeh.
Ini kenapa jadi ketawa benak Fiola yang beradu dengan pikiran nya. Mungkin karena kelelahan membuat Fiola menjadi Lola. Karena di pikirnnya saat ini adalah bantal dan kasur.
"Iya anak-anak yang kemarin, Fi?" ucap Chan membuat Fiola mengangguk mengingat kejadian kemarin.
"Iya, mas?" ucap Fiola membuat Chan menjelaskan rencananya. Namun hal tidak terduga terjadi Fiola justru tertidur. Karena kelelahan. Suara Chan seolah musik pengantar tidur untuk dirinya.
__ADS_1
Sementara disebrang samudra sedang tertawa karena mendengar dengkuran halus dari sang pujaan hati. Kemudian melihat jam yang sudah tengah malam di Indonesia. Chan merasa bahagia bagaikan ada kembang api dihatinya.
"Selamat tidur, sayang" ucap Chan pelan kemudian menutup telepon nya dan kembali bekerja karena sudah cerah.
Chan dan Rey bekerja dengan cepat. Karena mereka tidak ingin lama-lama jauh dari sang istri. Terutama Chan yang sedang mengalami musim semi menjadi lebih cekatan dalam melakukan apapun.
Berbagai masalah mereka selesai dengan cepat. Mungkin ketika otak orang jatuh cinta bekerja akan semakin cepat dan teliti agar segera cepat selesai dan berhasil. Maka dari itu kita dapatkan bahwa Cinta bisa membangun motivasi.
Namun, ada pula Cinta yang justru merusak. Tetapi, balik lagi ke diri kita untuk membawa cinta itu ke jalan yang mana. Jika ke jalan baik maka hasilnya akan baik begitupun sebaliknya. Mencintai boleh tapi pada batas yang wajar.
"Mbak, pagi ini tolong buatkan roti bakar aja. Kasian mbak masak sendiri nanti kelelahan. Dan untuk makan siang nya nanti kita order aja mbak" ucap Cira yang baru bangun dan melihat mbak Ijah sedang menyiapkan bahan dapur untuk menu sarapan.
"Baik, non" ucap Mbak Ijah yang mengembalikan lagi bahan makanan yang tidak diperlukan kedalam kulkas.
Cira kembali naik ke kamar untuk melihat Cia dan mempersiapkan keperluan sekolahnya. "Sayang bangun, yuk. Kita sekolah" ucap Cira dengan menciumi pipi Cia. Membuat si empu menggeliat geli.
"Iya, mom" gumam Cia dengan mata tertutup dan kembali mengeratkan selimut ditubuhnya.
Melihat itu membuat Cira tersenyum kemudian kembali menghujani cium di wajah Cia. Membuat si empu mendengus."Ish,,,mom. Cia udah bangun" ucap Cia dengan mata terpejam.
"Bangun apanya, mata aja masih merem" ucap Cira membuat Cia membuka perlahan matanya.
"Nih mata Cia kebuka" ucap Cia yang sudah membuka matanya dan dilihatnya Mommynya dengan senyum yang cantik.
"Mandi dulu. Nanti mau bawa bekal?" tanya Cira karena biasanya Cia selalu membawa bekal untuk sekolah.
"Tidak, mom. Ibu guru Cia katanya membawakan puding buah" ucap Cia yang bangkit dan mengucek matanya.
"Baiklah. Kamu mandi dulu dan berpakaian. Mommy mau liat adik-adik kamu dikamar" ucap Cira dan mendarat kan sebuah kecupan kembali di kening Cia.
Cira melangkah pergi meninggalkan kamar Cia dan masuk kedalam kamar si kembar yang ternyata juga sudah bangun. Dengan cepat Cira membawa kedua bayi itu untuk diberikan asi. Karena sudah biasa setiap baru bangun bayi kembar itu harus minum susu.
Cira memberikan susu asi kepada bayi yang mudah menangis yaitu bayi Jeo kemudian baru kepada Baby Gio yang anteng saja walau tidak dikasih susu di pagi hari.
"Lapar ya?" ucap Cira memandang Bayi dengan pipi gembul itu yang sedang menyusui dengan kuat. Bayi itu hanya tersenyum dengan tangan membelai pipi Cira.
__ADS_1
"Kamu kayak gini persis daddy mu" ucap Cira yang melihat tingkah anaknya yang menyusu selalu memegang wajah Cira dengan senyum menggoda nya.
Mengingat itu membuat Cira ingat bahwa suaminya itu belum menelpon sejak kemarin. Membuat Cira mengambil ponselnya di nakas dan menghubungi suaminya.