
Setelah pulang dari rumah sakit. Kini mereka sedang makan malam bersama. Suasana begitu ramai karena seluruh keluarga berkumpul makan bersama.
"Oma, sebentar lagi Cia bakalan punya adik ya?" tanya Cia dengan semangat. Melihat itu membuat semua orang yang ada disana tersenyum.
"Iya sayang. Kamu mau adik apa?" tanya Oma mengusap rambut Cia.
Cia seolah berfikir. Tentang adik apa yang diinginkan "Cia mau adik kembar cowok semua" ucap nya membuat mereka semua tertawa.
"Kamu ini, ya." ucap Oma gemas menjawil pipinya.
"Iya Oma. Nanti kalau mau main bola bisa bareng-bareng dan ada jagain mommy dari Daddy" ucap Cia tertawa polos membuat mereka terkejut.
"Sayang, memangnya Daddy kenapa?" ucap Rey yang penasaran dibalik perkataan Cia.
"Kan Daddy suka bikin Mommy sakit." ucap Cia membuat mereka melongo. Dan Oma justru menatap Rey tajam.
"Sakit apa sayang?" ucap Oma.
"Kata Aidan ngeluarin adik bayi itu membuat mommy sakit sampai nangis-nangis. Terus kalau ada adik laki-laki. Daddy tidak bisa buat mommy nangis dan sakit lagi deh. Karena bakalan di tinju sama adik laki-lakinya" ucap Cia membuat semua orang yang makan tersedak.
Bahkan Rey sudah mendapatkan jitakkan dari Oma. Melihat itu membuat Cia senang karena menurut nya Oma memberikan hukuman pada Daddy nya karena sudah membuat Mommynya sakit.
"Kamu ajarin apa cucu, Oma?" bisik Oma membuat Rey merinding mendengar nya.
"Oma, Rey tidak ngajarin apapun. Kan kata Cia. Itu kata Aidan" bela Rey pada dirinya yang mendapatkan tatapan tajam dari Oma.
Mereka makan malam dengan bahagia. Kini didalam rumah hanya ada Cira, Rey, Oma dan Cia serta mbak Ijah.
"Hallo dedek bayi. Cepat keluar ya. Nanti kita bisa main bola bersama" ucap Cia yang sedang berbicara dengan dedek bayi yang ada diperut Cira.
"Iya kakak" ucap Cira dengan menirukan suara anak kecil.
Mereka tertawa bersama. Hingga pintu kamar mandi terbuka menampilkan Rey yang sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap. Mereka memandang Rey sekejap kemudian kembali pada rutinitasnya yaitu mengajak berbicara bayi dalam kandungan Cira.
"Cia udah malam, tidur sana" usir Rey membuat Cia menatapnya dengan marah.
"Cia masih pengen main sama dedek bayinya, Daddy" rengek Cia membuat Rey menghela nafasnya.
"Benar kata Daddy, besok kamu sekolah, sayang. Nanti telat bangunannya" ucap Cira membuat Cia mengangguk dan kemudian mencium perut Cira dan pipi Cira lalu keluar kamar dengan menjulurkan lidahnya pada Rey.
Rey menaiki ranjang dengan membawa minyak untuk perut Cira. "Pakai ini dulu" ucap Rey. Membuat Cira membuka dasternya dibantu oleh Rey.
__ADS_1
Rey mengolesinya dengan sangat pelan, membuat Cira kegelian dan tertawa. "Mas geli" ucap Cira membuat Rey semakin pelan menggoda Cira. "Auh" ucap Cira ketika tangan Rey menyentuh bagian **** * nya tanpa sengaja.
"Maaf, sayang tidak sengaja" ucap Rey dengan senyum bersalah. Melihat itu membuat Cira gemas.
"Mas, nggak pengin?" pancing Cira membuat Rey membelakkan matanya tidak percaya dengan ucapan istrinya.
"Pengen banget malah. Tapi aku takut dan kasihan nanti dedek bayinya terluka" ucap Rey dengan menutup botol minyak yang tadi dipakai.
"Nggak apa-apa kok, mas. Kalau mau masuk aja. Dedek bayinya aman kok" ucap Cira membuat Rey menggeleng kan kepalanya.
"Mas, tahan kok, sayang. Demi kamu Dan anak kita selamat. Mas pasti kuat menahan nya. Ya, walau ujung-ujungnya main sabun juga. Karena semakin besar usia kehamilan. Kamu semakin terlihat cantik dan seksi" ucap Rey membuat Cira malu mendengarnya.
"Terima kasih ya mas. Sudah menjaga aku dan bayi-bayi kita" ucap Cira kemudian mencium bibir Rey.
Mereka tidur tidur dengan nyaman tidak terusik oleh apapun. Hingga pagi menyerang membuat mereka harus bangun. Dan Rey sudah rapi dengan setelah baju kerja sementara dibagian bawah di memakai boxer.
Karena katanya sekarang ada meeting virtual dengan kolagen nya. "Mas pakai celana dulu" ucap Cira yang merasa aneh melihat Rey dengan pakaian begitu.
Rapi bagian atas dan menyembul dibagian bawah. "Aku malas pakai celana kain, sayang. Lagian kan cuma yang keliatan kepalanya aja" ucap Rey membuat Cira hanya menggelengkan kepalanya.
Rey meeting dengan lancar didalam kamar sementara Cira sedang duduk manis memandang taman yang ada dibelakang kamar mereka. Karena kamar mereka dan taman hanya terhalang oleh dinding kaca.
Namun tidak memperdulikan Rey yang sedang meeting."Sini, sayang" ucap Cira dan Cia menghampiri nya lalu mencium pipi Cira. Dan adik bayi diperut Cira.
"Kakak kesekolah dulu ya. Nanti kita main lagi" ucap Cia yang kembali menciumi perut Cira kanan dan kiri.
"Daddy, kenapa nggak pakai celana?" tanya Cia ketika melihat pakaian Daddy-nya yang aneh. Mendengar itu membuat Rey dengan segera menutup microfon dan kamera laptopnya.
"Kamu ini. Jangan keras-keras Daddy lagi meeting" ucap Rey membuat Cia tersenyum.
"Daddy kayak bapak yang dijalanan itu yang tangannya begini" ucap Cia dengan gerakan melambaikan tangannya gemulai.
Merasa disamakan dengan para Ban*ci dijalan membuat Rey kesal "Sana sekolah nanti telat" ucap Rey menjulurkan tangannya untuk di salami Cia.
Setelah kepergian Cia, Rey melanjutkan meeting ya dan Cira sedang berjalan santai di taman.
"Mas?" lirih Cira karena perutnya sakit.
Rey yang mendengarnya langsung lari mendekati Cira yang sedang bertumpu pada pohon mangga yang ada di taman tersebut.
Rey lupa bahwa Videocall masih hidup bahkan kini semua orang dalam meeting melihat Rey berlari dengan baju kerja dan dasi tetapi dibawahnya memakai boxer. Menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sayang kenapa?" tanya Rey panik.
"Perut aku sakit, mas" ucap Cira berusaha mengatur nafasnya.
"Kita ke rumah sakit aja, ya?" ucap Rey menuntun istrinya duduk di bangku taman. Sementara Cira menggeleng kan kepala. "Sakitnya masih?" tanya Rey membuat Cira mengangguk.
"Tadi sakitnya tidak sesakit sekarang" ucap pelan Cira masih mengatur nafas. Dan Rey mengusap pelan perut Cira.
"Kita rumah sakit aja. Karena kata dokter kemarin. Persalinan anak kembar kemungkinan akan maju" ucap Rey membuat Cira berpikir sejenak.
"Tapi mas...."ucap Cira namun segera dibantah oleh Rey.
"Kita ke rumah sakit aja" ucap Rey dengan cepat membopong Cira.
Ketika memasuki kamar pandangan Cira terarah pada laptop yang masih menyala. "Mas, kamu masih meeting" ucap Cira membuat Rey ingat bahwa dirinya tidak mematikan laptop nya.
Rey menurunkan Cira di atas ranjang. Lalu menutup laptopnya dari belakang. "Sudah. Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ucap Rey dengan mengambil perlengkapan yang sudah disiapkan.
"Kamu mau pakai itu?" tunjuk Cira pada bagian bawah Rey yang diikuti oleh mata Rey.
"Tidak masalah, yang terpenting kita ke rumah sakit dulu" ajak Rey membuat Cira meringis karena rasa sakit itu datang lagi membuat Rey panik.
"Mang ambil mobilnya.!" teriak Rey dengan keras membuat pak supir berlari kencang untuk mengambil mobil.
Mendengar teriak itu membuat Oma dan Mbak Ijah bangun dan menghampiri Rey dan Cira. "Sekarang Rey?" tanya Oma membuat Rey mengangguk. "Mbak jaga rumah dan Cia, ya?" ucap Oma berbicara dua arah yang diangguki kembali oleh Mbak Ijah.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1