
Hari berlalu dan hari ini adalah hari pernikahan sepupu Fiola. Di rumah Fiola sudah terpasang tenda-tenda dan dekorasi pernikahan walau sederhana tapi memiliki makna didalamnya.
Karena Chan sudah termasuk dalam keluarga Fiola jadi dirinya juga akan hadir disana. Walau nantinya ia tidak mengenal siapapun selain orang tua dan tetangga di sekitar rumah Fiola.
"Ibu,, ini lauknya ditaruh dimana?" tanya Fiola yang tadi disuruh mengambil lauk di dapur.
"Di Empang!. Ya, di tempat makan lah. Kau ini" geram ibu nya Fiola membuat Fiola mendengus.
Suasana semakin riuh ketika keluarga pengantin sudah datang. Dan Chan yang ikut datang bersamaan dengan keluarga pengantin menjadi tambah riuh.
"Aduh,,,pengantinnya ganteng banget. Tapi itu cowok yang dibelakang nya juga ganteng banget" bisik para pemudi yang menyambut kedatangan keluarga pengantin pria.
Chan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang akhir-akhir ini tidak pernah bertemu lagi karena sama-sama sibuk.
"Om,, sini!!" teriak bocah yang membuat Chan menatap nya takut. Bocah perempuan yang dengan baju gambisnya yang warna sangat cocok untuk kulitnya yang putih langsat.
Dengan perasaan yang sedikit takut dengan bocah itu membuat Chan akhirnya mengikuti kemana bocah itu membawanya.
Ternyata bocah itu membawanya ke dalam rumah dari pintu belakang. Dan membawanya masuk kedalam salah satu kamar. "Eh,,,??" ucap Chan yang didorong masuk kedalam kamar tersebut.
"Om, disini dulu jangan keluar sebelum acaranya mulai. Kata mbak Ola, Om harus diamankan" ucap bocah itu dengan nada kesal menyampaikan pesan dari Fiola.
Mendengar itu membuat Chan tersenyum senang karena Fiola tidak ingin dirinya dilihat atau dikagumi oleh pemudi disana.
"Baiklah. Tapi nanti beritahu mbak Olanya ya?" ucap Chan membuat bocah itu mengangguk dan meninggalkan Chan dengan mengerlingkan matanya menggoda Chan.
Hingga beberapa menit kemudian suara pintu terbuka membuat Chan yang sedang duduk diatas ranjang dan bermain ponsel pun mengalihkan pandangan nya.
Chan melihat Fiola tanpa berkedip karena aura Fiola yang sangat manis "Cantik" gumam Chan tanpa disadari.
"Maaf ya. Aku suruh menunggu disini. Habis nya dari kamu datang membawa riuh acara aja. Jadi perlu diamankan setelah acaranya selesai." ucap Fiola yang duduk di kursi belajar nya untuk membuat jarak diantara dirinya dan Fiola.
Chan masih terus memandang Fiola dengan intens membuat Fiola melemparkan pulpen kepada Chan hingga membuatnya tersadar.
__ADS_1
"Kamu dengar, nggak?" tanya Fiola membuat Chan mengangguk tengkuknya dan mengangguk.
"Yaudah, aku bawain kamu makanan dan cemilan kesini ya?" tanya Fiola yang diangguki Chan.
Namun, belum sempat melangkah tangan Fiola ditahan oleh Chan dan langsung menyeret nya dan Fiola jatuh kedalam pangkuan Chan.
"Kamu cantik banget. Nanti setelah menikah kamu pakai terus ya?" ucap Chan dengan mengusap kepala Fiola yang tertutup oleh hijabnya. Fiola mengangguk dengan pelan.
Ia merasa canggung dalam posisi seperti ini walau mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah.
"Yaudah, sana gih, pasti ibu nyariin kamu. Buat bantu-bantu disana. Bilangin sama bapak dan ibu ya. Kalau aku disini" ucap Chan terkekeh.
"Malah bapak yang nyuruh buat amanin kamu" ucap Fiola yang bangkit dari pangkuan Chan. "Mau makan pakai apa?" tanya Fiola yang masih berusaha mengatur detak jantungnya dan kecanggungan yang ada.
"Bebas aja asalkan jangan kayu dan batu aja" ucap Chan mengikis kecanggungan.
"Baiklah" ucap Fiola kemudian keluar kamar untuk mengambilkan makanan untuk Chan.
Beberapa menit berlalu, Fiola membawa nampan yang berisi makanan dan juga buah serta air. Kemudian di letakan di meja belajarnya. Karena kamar Fiola tidak ada sofa. Karena terlalu sempit jika harus diisi sofa dan meja.
"Iya, kata mereka juga sama. Bahkan tingginya pun tetap sama" ucap Fiola terkekeh melihat fotonya. "Udah, di makan. Aku mau keluar dulu soalnya acaranya mau mulai. Nanti kalau mau akad aku panggil, deh" ucap Fiola meninggalkan Chan di kamarnya.
"Eh,,,ini foto siapa?" tanya Chan pada dirinya ketika tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku dan sebuah foto keluar dari buku tersebut. "Sebelas kosong satu?" tanya Chan yang melihat angka di balik foto tersebut.
Berbagai pertanyaan muncul dari pikiran Chan. Namun ditepisnya. "Mungkin temannya" gumam Chan kemudian memakan makanan nya dengan memandang foto Fiola.
Chan mengambil foto Fiola, yang terlihat waktu zaman dia masih kuliah. Karena di fotonya memakai jas almamater universitas nya dan senyum manisnya yang manis. Kemudian meletakkan nya di cashing ponselnya.
Chan selesai makan berbarengan dengan masuknya Fiola kedalam kamar. "Sudah?" tanya Fiola membuat Chan mengangguk. "Acara akadnya mau mulai" ucap Fiola membuat Chan bangkit dan berjalan disamping Fiola menuju tempat akadnya.
Untungnya semua mata tidak tertuju pada mereka sehingga mereka bisa duduk dengan tenang. Hingga acara pun dimulai. Hening. Dan hikmah terasa dalam proses akad tersebut.
Suasana kesakralan sangat terasa. Bahkan Chan dan Fiola membayangkan diri mereka disana. "Semoga acara kita lancar, ya?" ucap Chan membuat Fiola menatap Chan dengan tatapan sulit diartikan.
__ADS_1
"Iya,," ucap Fiola kembali menatap sepupu yang menikah.
Acaranya pun sudah berakhir kini hanya para saudara saja yang masih berkumpul. Membuat mereka yang melihat Chan bertanya-tanya.
"Sur, ini siapa. Ganteng banget" ucap kak dari bapaknya Fiola.
"Calonnya Fiola" ucap Pak surat dengan memakan kue.
Semua orang yang mendengarnya riuh. Pasalnya mereka hanya tau bahwa Fiola itu tidak pernah pacaran. Jadi berita ini sangat membuat mereka terkejut.
"Selamat sore, semuanya. Saya Chan. Calon suami Fiola" ucap Chan membuat Fiola mendapatkan ejekan dari para sepupu nya.
"Nikahannya kapan?" tanya salah satu istri saudara pak Surat.
"Akhir bulan ini" ucap Fiola yang sejak tadi diam walau diejek sepupunya.
"Wih,,,gercep banget, nak Chan. Pasti sudah tidak sabar malam pertama, ya?" goda adik pak Surat membuat mereka tertawa sementara Chan dan Fiola merasa malu.
"Nanti pelan-pelan aja. Soalnya Fiolanya masih gadis" timpal pak Surat membuat Chan dan Fiola ingin mengubur dirinya di tumpukan jerami.
"Udah,,,kasian itu mereka wajah nya sudah merah. Nanti acara akadnya dimana?" tanya istri adiknya oak surat yang terlihat sangat kalem.
"Masih dibicarakan, pak" ucap Chan membuta mereka tertawa.
Mereka berbicara dengan santai sampai melupakan waktu sudah malam. Hingga melewatkan makan malam. Mereka berbicara banyak hal tentang rumah tangga sehingga membuat Chan memiliki pengetahuan dalam berumah tangga. Dan banyaknya wejangan yang didapat.
"Nanti kalian langsung cetak 3 bayi, ya!!" perintah adik pak Surat membuat Chan melongo.
"Kalau tiga kasian Fiolanya, atuh" ucap kakak pak surat membuat mereka tertawa. "Nak Chan ini anak tunggal, ya?" tanya Kakaknya pak Surat membuat Chan mengangguk.
"Wah,,,kamu harus banyak nih, cetak anaknya. Soalnya nanti rumah biar nggak sepi. Nanti kalau mau anak kembar tanya aja sama dia soalnya anaknya sudah 2 kali kembar" ucap adiknya pak surat menunjuk kakak pertamanya. Yang hanya cengengesan.
"Iya, benar sekali. Kami saja tidak dikasih tau rahasia apa. Padahal kami juga ingin anak kembar. Karena lucu aja ngelihat mereka bersamaan" ucap Pak surat.
__ADS_1
"Bapak-bapak ini sudah malam. Apakah kalian tidak lapar?" ucap Fiola dengan berjengking pinggang.
"Nak Chan nanti kamu harus sabar ya, menghadapi Fiola yang cerewet" bisik adik Pak surat yang terlihat jahil.