Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Mual


__ADS_3

Cira dan para pegawai memang sangat akrab selayaknya sahabat. Dan terkadang mereka menceritakan atau menonton film yang beradegan dewasa. Namun hanya saja ketika Ulfa yang dinas pekerjaan di toko itu menjadi padat. Entah barang-barang dan bahan-bahan yang datang ataupun yang lainnya.


Sehingga Cira tidak begitu mengetahui seluk beluk dari Ulfa. "Kamu, ini. Tidak boleh membayangkan suami orang. Dosa" ucap Cira malu dan marah. Malu karena kini isi kepala sudah diisi dengan adegan main kuda-kudaan dengan suaminya. Dan marah karena suaminya jadi bahan fantasi mereka.


"Habisnya mereka kalau lihat pak Rey pada keluar iler, Bu. Padahal yang aku lihat itu pak Rey seperti singa yang siap menerkam siapa saja. Ketika melihatnya." ucap Ulfa membuat Cira tertawa.


"Kamu ini. Ada-ada saja. Udah sana dilanjutin. Keburu di cancel nanti" ucap Cira keluar dari ruangan itu.


"Ayo, pulang, yang!" ucap Rey yang sudah di depan pintu. Membuat Cira terkejut.


"Bu, kayaknya pak Rey. Mau bobok" ucap pegawai yang ada di kasir. Membuat Cira menatap nya tajam.


"Ayo, mas" ajak Cira merangkul tangan Rey. Sembari menoleh ke belakang lalu menyulurkan lidahnya mengejek pegawai tersebut.


"Awas Bu, besok jalannya ngangkang" teriak pegawai itu membuat Cira malu.


Akibat di tertawakan dan di pandang oleh banyak orang yang ada di toko itu. Cira membenamkan wajah merahnya di lengan Rey. Membuat Rey tersenyum melihat nya.


"Mommy!!"teriak Cia yang sudah didalam mobil. Dengan kepala keluar dari kaca mobil.


Cira melepaskan rangkulannya dari Rey. Kemudian berlari menghampiri Cira yang sudah melambai-lambai kan tangannya.


"Di lihat dari dekat makin gemil aja ini pipi" ucap Cira dengan mencubit pelan pipi Cia yang makin berisi. Membuat Cia tertawa.


"Udah, ayo. Masuk." ajak Rey pada Cira yang langsung masuk kedalam mobil.


"Kamu didepan, sayang" ucap Rey melihat Cira masuk ke pintu penumpang. Cira yang lupa akhirnya hanya bisa tersenyum malu. Lalu kembali duduk di bangku samping pengemudi.


"Mommy, sekarang kita ke rumah Aidan, yuk."Ucap Cia membuat Cira sedikit berpikir.


"Tidak, Daddy capek banget, sayang" ucap Rey membuat Cia kesal. Dan bersidekap dada dengan mulut yang monyong.


"Sayang, Daddy lagi capek dan butuh istirahat. Gimana kalau besok aja ke rumah Aidan?" ucap Cira ketika melihat wajah Rey yang memang keliatan sangat lelah.


Cia masih saja marah. Dan menggelengkan kepalanya. "No mommy" ucap Cia.


"Baiklah, Kamu boleh ke rumah Aidan. Tapi mommy dan Daddy mu tidak lama. Karena Daddy sangat lelah dan ingin tidur"ucap Rey membuat Cia tersenyum sumringah dan mencium pipi Daddy-nya dan juga Mommynya.


Setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai dirumah Aidan. Dan Cia sudah keluar dan berlari untuk mengetuk pintu rumah tersebut.

__ADS_1


"Kak Andra. Cia datang"ucap Cia mengetuk pintu itu tidak sabaran.


Cia dan Rey yang melihatnya hanya menghela nafas saja. "Cia pintunya bisa nangis, kamu getok seperti itu" ucap Rey membuat Cia memandangnya dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa?" tanya Cia berbalik melihat mommy dan Daddy yang sudah berada di depan pintu rumah itu.


"Karena tersakiti oleh pukulan Cia, yang tidak sabaran. Kan disekolah di ajarkan untuk selalu sabar " ucap Cira membuat Cia manggut-manggut mengerti. Kemudian meminta maaf kepada pintu tersebut dengan mengusap bagian yang dia ketok itu.


Melihat tingkah Cia membuat mereka tersenyum. Dan ketika Cia dengan sabarnya. Pintu terbuka menampilkan Andra dengan perut buncitnya.


"Kak, Aidan mana?" tanya Cia.


"Itu di dalam. Ayo masuk" ajak Andra pada mereka.


Mereka telah duduk di ruangan tamu. Sedangkan Cia sudah ngacir masuk ke kamar Aidan. Di ruang tamu sudah ada Kerta yang sedang mengupas jeruk.


"Aku mau jeruk, yang" ucap Rey dengan menarik ujung baju Cira seperti anak kecil.


"Kalau mau. Ya, tinggal ambil aja, mas." ucap Cira yang geli melihat tingkah Rey. Membuat Rey dengan wajah kesal mengambil dan mengupas jeruk itu.


Melihat tingkah kakaknya yang berbeda dari biasanya membuat Andra bertanya-tanya. "Rey, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Andra membuat mereka memandang Rey dengan tatap menyelidik.


"Iya, dia baik-baik saja, honey." ucap Kerta kemudian memberikan buah yang sudah dikupas kepada Andra.


"Tapi, honey. Wajah Rey itu berbeda" ucap Andra lagi membuat Cira memegang wajah suaminya.


"Masih sama kok, kak" ucap Cira. Membuat Andra mengiyakannya. Walau dalam pikiran dan hatinya menolak untuk mengiyakannya. Nanti aku kasih tau, Oma. aja biar dia tahu dan mengerti maksudku batin Andra.


"Kita tidak, lama. Karena Rey sudah keliatan sangat capek." ucap Cira.


"Yah, padahal maunya diajak ke Mall." ucap Andra sedikit sedih. Membuat Kerta mengusap punggung istrinya.


"Kan bisa besok, honey" ucap Kerta membuat Andra mengangguk.


"Mommy, Cia bobo disini, boleh?" ucap Cia menuruni tangga.


"Yakin?. Tapi jangan buat, Kakak mu marah. Jangan buat ulah. Kasian dedek bayinya" ucap Cira menasehati anaknya membuat Cia mengangguk senang.


Cia mencium pipi mommy dan Daddy nya. Kemudian langsung kabur naik bermain bersama Aidan.

__ADS_1


Mereka mengantar Cira dan Rey keluar. Hingga mobil yang mereka pakai tidak terlihat dari rumah Andra dan Kerta.


Di dalam mobil hanya ada Rey dan Cira. Terasa sepi karena si tukang oceh tidak ikut. Lebih memilih menginap dirumah kak Andranya.


"Mas, lusa kamu jadi keluar kota, ya" ucap Cira yang menyandarkan kepalanya di pundak Rey.


"Iya...." ucap Rey dengan menggemgam tangan Cira lalu di ciumnya.


"Mas,,aku pengen muntah" ucap Cira sontak saja membuat Rey panik. Dan segera menepikan mobilnya.


"Kamu, mabuk, yang?" tanya Rey membuat Cira mengangguk.


"Huek,," ucap Cira dengan cepat menutup mulutnya. Membuat Rey panik mencari tisu.


"Yang, keluar dulu, ya?" ucap Rey yang sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Cira.


Cira keluar dengan tangan yang menutup mulutnya "Huek,," ucap Cira lagi dan Rey segera menyerahkan tisu dan air untuk Cira.


"Mas,,," ucap Cira lirih karena lemas yang diakibatkan gejolak di perutnya. Yang serasa ingin keluar tetapi tidak bisa.


Rey yang memegang rambut Cira hanya memandangnya penuh khawatir "Kita ke dokter, saja ya?" ucap Rey membuat Cira menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, aku beliin air kelapa muda, mau?" tanya Rey membuat Cira mengangguk. "Tunggu disini, ya?" ucap Rey melenggang pergi membeli kelapa muda yang untungnya ada di yang jualan di pinggir jalan.


Cira masuk kedalam mobil dengan pintunya dibiarkan terbuka. Pasti ini maag nya kambuh. Tadi aku kan tidak makan siang batin Cira mengingat mengapa ia sampai ingin muntah.


"Ini minum dulu biar perutnya dingin" ucap Rey yang datang membawa kelapa muda. Dan Cira segera meminumnya.


"Gimana, udah nggak mual lagi?" tanya Rey sembari mengusap perut Cira.


"Sudah, mas" ucap Cira lemas.


Rey membersihkan bekas tisu dan botol air yang di pakai Cira. Kemudian dibuangnya pada tong sampah. Lalu masuk kedalam mobil.


"Kita ke dokter, aja gimana?" ucap Rey lagi membuat Cira menggelengkan kepalanya. "Yaudah, kamu tidur aja. Biar nggak kerasa mualnya" ucap Rey membaringkan kursi mobil agar Cira bisa tertidur. Dan Rey menyelimuti Cira dengan jasnya.


Rey merasa khawatir akan Cira yang mual tadi. Tangan menjulur mengusap perut Cira agar lebih enakkan dan mencium wajah dan perut Cira. Kemudian melakukan mobilnya.


"Kebiasaan kalau kerja tidak ingat makan" gumam Rey yang mengingat ternyata istrinya tidak makan siang.

__ADS_1


__ADS_2