Mommy Untuk Daddy

Mommy Untuk Daddy
Hacker


__ADS_3

Mereka semua mendengar gumam dari Cira yang membuat Chan menjadi gelisah. Ia tidak tau harus bagaimana jika itu memang benar anaknya. Tetapi dia tidak ingat kejadiannya bagaimana dan mengapa.


"Argh!!" frustasi Chan yang tidak tau apapun dan ingat apapun yang terjadi waktu itu. "Siapa sih, dalangnya?!"tanya Chan kepada mereka membuat mereka berpikir juga.


"Tenang aja bro. Belum tentu anak Gea adalah anak Lo"ucap Rey menepuk pelan punggung Chan memberikan ketenangan. "Tapi kalau benar dia anak Lo. Segera nikahin dia. Karena hidupnya sudah sangat menderita" ucap Rey lagi.


"Tapi mas. Kata Gea laki-laki itu bule. Kalau dia kan melokal, mas!" tunjuk Cira pada Chan membuat mereka semua tertawa.


"Cira sayang. Wajah gue ini Lo bilang melokal. Wajah seperti Justin Bieber Lo bilang melokal?" tanya Chan geram.


"Tapi di mata aku tetap saja" ucap Cira tak mau kalah dan bersidekap dada. Kesal.


Merasa tidak ada baiknya berdebat dengan orang hamil. Membuat mereka pasrah saja menerima kekalahan. "Aku mau bekerja kembali dulu. Karena jam istirahat sudah berakhir" ucap Indah pamit membuat Bejamin merasa sedih. Lalu dengan cepat mencium pipi Indah. Membuat Cira mendidih akan kelakukan sahabat suaminya.


"Bajaj!!" teriak Cira dengan menggebrak meja membuat pandangan orang tertuju pada mereka.


Melihat istrinya marah membuat Rey dengan segera mengusap punggung istrinya agar lebih tenang. "Sabar sayang" ucap Rey menyerahkan minuman pada Cira agar lebih tenang.


"Indah kamu pernah diapakan sama dia selain cium pipi?" tanya Cira membuat Indah kikuk.


"Hanya cium pipi sama tangan saja, Bu" ucap Indah pelan karena malu dengan tingkah pacarnya yang seenaknya.


Cira mendengus "Lain kali jangan biarkan. Sampai dia halal kamu" ucap Cira tegas membuat Indah mengangguk lalu melenggang pergi.


Tatapan tidak terima dari Bejamin segera dibalas dengan tatapan tajam oleh Cira. Membuat nyali Bejamin menciut terhadap Bu bumil itu.


...***...


Hari terus berlalu. Hari ini adalah hari yang sibuk untuk karyawan di perusahaan Rey. Karena ada yang membobol sistem data nasabah Bank. Rey dan Chan berserta staf ITE di perusahaan nya mencari pelaku dari pembajakan data ilegal itu.


"Apakah data di setiap cabang aman?" tanya Rey yang sedang memperhatikan kinerja stafnya.


"Dari laporan cabang aman, pak" ucap Sarah yang baru selesai berbicara dengan perusahaan cabang. Dan diangguki oleh Rey yang pandangannya masih pokus pada layar komputer.


"Chan beritahu untuk seluruh cabang perusahaan untuk tidak melakukan pelayanan. Karena data yang terkirim bisa menghilang" ucap Rey tegas kemudian diangguki oleh mereka.


"Halo, Pa. Apakah disana aman?" ucap Rey disebrang telepon.

__ADS_1


"Disini data nasabah aman, Rey." ucap Papa Aditama.


"Baiklah, pa. Setelah ini kita berbicara lagi, pa" ucap Rey kemudian mematikan sambungan telepon nya.


Telah beberapa jam akhirnya sistem kembali berjalan normal dan data dari nasabah tidak mengalami perubahan. Hanya saja ada beberapa uang dari rekening nasabah yang hilang. Mungkin uang yang mereka cari dari dari membobol data nasabah.


Dengan terpaksa Rey harus mengembalikan uang nasabah dengan uangnya. Karena ini adalah kesalahan dari pihak bank yang lalai.


"Capeknya" ucap Rey yang sudah bisa bernafas dengan lega walau uangnya harus berkurang sebanyak 1 milyar untuk menutupi kebobolan ini.


Tapi itu tidak masalah untuk Rey selama masyarakat masih percaya dengan banknya dan memberikan pelayanan yang baik. Itu tidak masalah.


Rey duduk di kursinya dengan memejamkan matanya dan kaki berada di atas mejanya. Pikiran Rey sedang berkelana tentang siapa yang berani dan mampu membobol sistemnya.


Hingga ketukan dari pintu menyadarkan Rey. Dan membiarkan orang itu masuk. "Rey. Ternyata ada 2 user yang membobol sistem kita" ucap Chan membuat Rey semakin memijit kepalanya. "Yang lebih parahnya lagi salah satunya anak SD usia 6 tahun. Tidak sengaja karena bermain game di komputer bapaknya" mendengar itu membuat Rey bangkit akibat terkejut karena anak kecil bisa membobol sistemnya.


"Bagaimana bisa?." tanya Rey penasaran.


"Bisalah. Karena bapaknya seorang programmer jadi dia asal klik saja dan terjadi lah seperti saat ini" ucap Chan membuat Rey mengusap wajahnya kasar. "Rekrut bapak dan anak itu untuk berkerja di sini. Lalu yang satu lagi?" tanya Rey.


Mengapa bisa anak kecil dan seorang lansia mampu membobol sistem di perusahaan batin Rey yang pusing dengan keadaan.


"Chan kamu sudah menemui lansia itu?" tanya Rey membuat Chan menggeleng. "Segera temui dia. Dan kita bantu beliau untuk hidupnya" ucap Rey lagi membuat Chan menganggukan kepalanya. "Dan satu lagi. Tolong kamu urus semuanya karena aku mau pulang sekarang" ucap Rey kepada Chan yang kembali mengangguk. Kemudian Rey keluar dari ruangannya untuk pulang ke rumah.


Rey sudah sangat lelah yang ia butuhkan saat ini pelukan dari sang istri. Dengan cepat Rey melajukan mobilnya agar segera sampai di rumahnya.


Setelah beberapa menit akhirnya Rey sampai dirumah. Sayup-sayup dia mendengar suara tawa istrinya dan Cia. "Daddy pulang!!" ucap Rey memasuki rumah. Dan di sambut oleh Cia yang berlari kearahnya.


"Daddy!!" teriak Cia dengan merentangkan tangannya kemudian di tangkap oleh Rey dan digendongnya. Dibelakang sudah ada Cira yang kini perutnya sudah membucit dan semakin seksy dengan dasternya.


Rey mencium pipi Cia dengan gemas. Lalu mencium kening Cira. "Kok sudah pulang?" tanya Cira yang menuntun mereka untuk ke kamar.


"Masalah di kantor sudah beres" ucap Rey yang kini menurunkan Cia dari gendongannya. Mendengar itu membuat Cira mengangguk dengan meletakkan tas suaminya di meja.


"Kamu mandi dulu, gih. Habis itu baru makan. Kan dari pagi belum makan. Karena harus buru-buru ke kantor" ucap Cira yang diangguki Rey.


"Sayangnya Daddy udah mandi?" tanya Rey pada Cia yang duduk disampingnya dengan mengayunkan kakinya.

__ADS_1


"Belum. Mau mandi sama daddy" ucap Cia dengan semangat. Membuat Rey gemas lalu kembali mencium pipi Cia yang gembul.


"Ayo kita mandi!!" teriak Rey dengan menggendong Cia di pundaknya membuat Cia tertawa.


Melihat itu membuat Cira menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Dan Cira menyiapkan baju mereka.


"Mommy!!" teriak Cia membuat Cira menghampiri nya. Dan ternyata mereka belum mandi tetapi malah bermain krim cukur milik Rey.


Cira tertawa melihat Cia yang memakai kumis yang terbuat dari krim ditambah dengan brewok sehingga membuat nya seperti Om-om dari negeri minyak.


begitupun dengan Rey karena ia sedang mencukur kumis dan brewoknya karena sudah mulai tumbuh.


"Belum mandi juga?" tanya Cira membuat Mereka hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Kamu sudah mandi, yang?" ucap Rey dengan tangan membersihkan bulu di dagunya.


"Nanti aja. Malas aku mandi. Dingin" ucap Cira dengan wajah menggambarkan ekspresi kedinginan.


"Yaudah mandi bareng aja. Nanti aku peluk biar tidak dingin" ucap Rey membuat Cira malu.


"Iya mommy. Kita mandi bareng dacki dan ducki" ucap Cia dengan wajah berbinar. Membuat Cira mengangguk.


Mereka mandi bersama dalam satu bathtube. Sesuai ucapannya Rey memberikan pelukan kepada Cira dengan memeluk Cira dari belakang. Sedangkan Cia bermain dengan mainan bebeknya.


Rey yang di belakang Cira memudahkan dirinya untuk meraba tubuh Cira. Buktinya sekarang dia sedang mengusap perut Cira. "Dedek bayi nya nakal nggak?" tanya Rey pada Cira yang dibalas gelengan dan tangannya mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Rey.


"Tadi Cia juga main dokter-dokter sama dedek bayi, Dad!" ucap Cia yang mendengar pembicaraan Mommy dan Daddy dengan terus bermain bersama bebeknya.


Mereka mandi saling membantu. Hingga beberapa menit mereka sudah selesai mandi. Dan kini berada di meja makan untuk makan karena sudah waktunya makan malam.


"Daddy, papa kapan pulangnya?" tanya Cia ketika mereka sudah selesai makan dan kini sedang memakan puding buatan Cira.


Mendengar itu membuat Rey mengusap rambut Cia "Kemungkinan besok Papa, pulang. Sudah kangen ya?. Padahal kan baru 2 hari di tinggal" ucap Rey gemas.


"Tapi Cia kangen Papa" ucapnya dengan nada sedih membuat Cira merasa tersentuh.


"Kan bisa video call, papa. Nanti di temani mbak Ijah, mau?" tanya Cira membuat Cia tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2