
Cira di bawa ke rumah sakit terdekat. Oma menyuruh Mbak Ijah dirumah dan mengabari keluarga mereka.
"Dokter?!!" teriak Oma ketika mobil mereka sudah sampai di lobi UGD rumah sakit. Membuat para perawat segera memindahkan Cira menuju brankar.
"Ibu, silakan registrasi dulu. Pasien akan di tangani oleh petugas rumah sakit" ucap perawat membuat Oma dengan segera mendaftar kan Cira.
Setelah beberapa menit akhirnya selesai juga. Dan Oma segera menghampiri Cira yang sedang berbaring di brankar untuk proses observasi.
"Ibu keluarga nya?" tanya dokter. Yang tidak mengetahui siapa mereka sebenarnya. Membuat Oma mengangguk.
"Mari, Bu" ajak dokter itu duduk di meja.
"Begini, Bu. Setelah saya periksa. ternyata ibu Cira kelelahan. Dan kami juga menunggu hasil lab untuk mengetahui lebih spesifik lagi." ucap dokter itu menjelaskan.
"Baik dok, terima kasih. Dok, apakah bisa menantu saya di pindahkan saja keruangan?" ucap Oma membuat dokter itu mengangguk.
"Bisa, sembari menunggu hasil lab dan untuk memulihkan kondisi pasien agar lebih nyaman" ucap Dokter.
"Ibu, mau ruangan kelas berapa?" tanya dokter itu.
"VVIP, dok." ucap Oma.
Mendengar itu dokter segera menghubungi pihak perawat yang menangani pasien VVIP. Untuk mengetahui ada tidaknya kamar kosong.
Rumah sakit yang mereka kunjungi adalah rumah sakit kelas atas sehingga pasien yang masuk adalah kalangan pembisnis. Karena rumah sakit ini memiliki privasi yang tinggi. Wartawan atau apapun tidak bisa masuk. Karena itu tempatnya berada di perumahan kelas elite.
"Baik, Bu. Kami akan menyiapkan kepindahannya." ucap Dokter menyiapkan keperluan Cira.
Oma memilih keluar ruang UGD dan dilihatnya keluarga Aditama dan Nugraha sudah ada didepan dengan wajah cemas dan khawatir. "Mami, Cira baik-baik saja kan?" ucap Sinta. Mamanya Cira.
"Cira sedang di pindahkan keruangan dan sedang menunggu hal lab" ucap Oma membuat mereka sedikit tenang. "Apa Rey tahu kondisi, Cira?" tanya Oma.
"Tidak, kami bilang Cira baik-baik saja" ucap Pak Aditama.
"Oma!!"teriak Andra membuat semua orang memperhatikan ibu hamil yang sedikit berlari. Membuat yang melihatnya nya ngilu. Sementara suaminya Kerta sudah was-was dengan apa yang akan terjadi.
"Honey, jangan lari. Kamu sedang hamil!" ucap Kerta di belakang Andra namun tidak dipedulikan oleh Andra.
"Kamu lagi hamil, Andra!!" bentak Oma karena melihat kelakuan cucunya yang bar-bar. Andra hanya tersenyum saja menanggapi nya.
"Oma, Cira lagi hamil" ucap Andra membuat semua keluarganya termangu.
"Hamil" gumam mereka semua. Hingga beberapa menit membuat teriakan menggema. Membuat mereka di tegur oleh petugas keamanan.
__ADS_1
"Keluarga, ibu Cira" panggil dokter membuat Oma kembali masuk ke dalam UGD.
"Saya dokter" ucap Oma.
"Sekarang, ibu Cira akan kami bawa ke ruangan. Harap Ibu mengikuti kami" ucap Dokter membuat Oma mengangguk.
Cira masih belum sadar karena obat yang diberikan dokter membuatnya tertidur untuk memulihkan tenaganya.
Mereka semua mengikuti kemana Cira di bawa. "Ingat, jangan ada yang memberitahukan hal ini kepada Rey. Salah sendiri dia tidak peka kalau istri hamil. Jadi kalau Rey menelpon kalian buatlah alasan" ucap Oma di sela berjalan mengikuti brankar yang membawa Cira.
Perawat yang membawa Cira. Hanya tersenyum melihat tingkah keluarga. Yang terbilang unik.
Akhirnya Cira sudah berada di dalam ruangan. Dan beberapa menitnya Cira tersadar membuat semua orang yang ada disana mengerumuninya. "Sayang, apakah sudah mendingan?" tanya Mamanya. Membuat Cira bingung.
"Ini dimana?" tanya Cira ketika melihat sekeliling nya yang putih.
"Kamu tadi pingsan. Untungnya Oma datang tepat waktu jadi kamu bisa segera di bawa ke rumah sakit" ucap Mamanya. Membuat Cira mengangguk.
Ketika Cira sadar suara dering ponsel Pak Aditama berdering menampilkan nama anaknya. Mereka seolah mempunyai ikatan batin. "Hallo, Rey?" ucap Pak Aditama membuat mereka semua memandangnya.
"Mas Rey, Pa?" tanya Cira membuat Pak Aditama mengangguk. Lalu memberikan ponselnya kepada Cira.
"Mas," lirih Cira membuat yang disebrang sedikit tenang akibat mendengar suara istrinya.
"Kamu tidak apa-apa kan, yang. Maaf mas tidak ada di sana. Mas, ini lagi di kereta" ucap Rey sendu. Kemudian mengubah mode panggilan. Sehingga mereka bisa melihat wajah mereka.
Cira belum tahu kondisi. Karena dokter belum ada kemari.
"Iya, mas usahain cepat pulang. Kamu sakit kenapa?" tanya Rey. Membuat Cira memandang kepada keluarga nya.
"Sini biar, Oma aja yang bicara" ucap Oma membuat Cira menyerahkannya kepada Oma.
"Istri kamu cuma kelelahan. Kamu ini udah tau istri sakit. Malah minta jatah, kan jadi begini jadinya!" omel Oma pada Rey membuat yang di sebrang hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan cengiran khasnya.
"Kan buat perpisahan, Oma." ucap Rey dengan tidak bersalahnya. "Oma, kasih ke Cira lagi. Rey kangen" ucap Rey kembali membuat Oma ingin menjitak kepalanya.
"Sayang, jangan makan makanan pedas, lagi. Nanti maag kamu makin parah" ucap Rey membuat Cira mengangguk.
"Adeh, pengantin baru. Kemarin aja nolak sekarang malah lengket" sindir pak Nugraha membuat Cira malu.
"Papa, ih." ucap Cira menelusup kan kepalanya di balik selimut. Agar tidak terlihat oleh orang-orang.
Mereka melihat hal itu hanya tertawa. Hingga dokter datang untuk memeriksa Cira dan membawa hasil labnya.
__ADS_1
"Selamat siang" ucap Dokter itu masuk.
"Siang dok" ucap mereka semua membuat Cira menyembulkan kepalanya.
"Ibu Cira sudah baikan, ya. Suaminya mana?" tanya dokter menghampiri Cira dan memeriksa Cira.
"Suaminya seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Turki" ucap Oma membuat Cira membulatkan matanya.
Sambungan telepon yang belum putus pun mendengar ucap Oma membuatnya kesal "Suami saja lagi dinas keluar kota, dok" ucap Cira memamerkan ponsel yang sedang menampilkan suaminya.
"Owh,,baik. Keadaan ibu Cira sangat baik. Dan,...." belum sempat dokter itu bicara dengan segera Oma mematikan sambungan telepon yang mana membuat Cira bingung.
"Oma, kenapa dimatiin?" protes Cira.
"Sudah dengar dulu penjelasan dokter" ucap Oma.
"Jadi begini, Bu. Ibu Cira sudah berapa lama tidak menstruasi?" Tanya dokter membuat Cira berpikir. Dan yang lainnya sudah senyam-senyum mendengarnya.
"Lupa dok" ucap Cira.
"Ibu Cira positif hamil. Dilihat dari hasil lab. Habis ini ibu silakan ke ruangan OBGYN. Untuk hasil lebih spesifik" ucap Dokter membuat mereka semua bersorak bahagia. Sementara Cira terbengong dengan tangan mengusap perutnya.
Hamil, jadi aku hamil batin Cira bertanya.
"Akhirnya aku jadi kakek lagi!!" ucap Pak Nugraha senang dengan mencium pipi Cira bahagia.
"Hore....aku punya ponakan!!" teriak Andra dengan berjoget membuat Kerta kelimpungan menangani istrinya.
"Kamu tidak senang, sayang?" ucap Oma ketika melihat Cira yang melamun. Dan memegang pundaknya.
"Oma!!" teriak Cira dan menangis di pelukan Omanya. Karena begitu bahagianya.
Mereka semua bergantian memberikan selamat kepada Cira atas kehamilannya. Sementara Papa Aditama sedang keluar untuk menjemput Cia yang menangis karena ditinggalkan di rumah Cira dengan mbak Ijah.
"Kalian kenapa?" ucap Pak Aditama yang baru masuk ke dalam ruangan Cira. Melihat semua orang yang ada disana tersenyum bahagia.
Hingga pak Nugraha mengerakkan tangannya seolah menggendong bayi membuat pak Aditama bahagia lalu memeluk Pak Nugraha.
Cia yang bingung pun hanya menghampiri Mommynya yang menangis dalam pelukan Oma Ida. "Amma, Mommy kenapa?" tanya Cia dengan menarik ujung baju mamanya Cira.
"Kamu bakalan jadi kakak, sayang" ucap Mama Cira membuat Cia menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Sini, sayang" ucap Cira menepuk sebelahnya. Ketika mendengar suara Cia membuatnya berhenti menangis.
__ADS_1
"Cia pengen adik kan?" tanya Cira membuat Cia mengangguk di samping Cira yang sedang menatap Cira dengan tatapan senang. "Sekarang dedek bayinya ada di perut mommy." jelas Cira dengan membawa tangan Cia ke perutnya.
"Beneran!!." ucap Cia dengan mata berbinar bahagia lalu memeluk mommy. "Hore...Cia bakalan punya adik" ucapnya melepaskan pelukan Cira dan beralih memeluk Mama Cira yang berada disampingnya. "Cia mau kasih tau Daddy dulu" ucap Cia membuat semua orang panik dan mencegah Cia agar tidak memberitahukan hal ini pada Rey.