Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Melamar ?


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari Deddy bahwa sore ini ia berada di rumah makan pak Andi beserta keluarganya pun bersiap - siap untuk pergi ke rumah Deddy.


"Yank... pak Andi tiba - tiba mau ke sini. Kamu siapkan makanan untuk menjamu pak Andi dan keluarganya! ", Deddy memberitahu Herli istrinya.


" Ada apa lho yank kok tiba - tiba. Maksudku nggak biasanya pak Andi. Baru kali ini kan mau bertamu ke tempat kita ? "


"Aku sendiri juga nggak tahu dan penasaran. Aku kaget waktu di tempat kerja di telpon dan bilang mau main ke rumah"


"Ngomong - ngomong kita suguhin apa yank kue aja kah atau sama makan nasi gitu hitung - hitung makan malam ? "


"Semua aja, buruan gih sore ini mau ke sini ! "


"Sore ini ? mendadak banget. Kan kita nggak ada persiapan sebelumnya ? "


"Udah beli aja sana makanan yang enak - enak! Kue dan buah jangan lupa yank ! "


"Ya udah kalau gitu aku pergi, Zacky nggak aku ajak biar aku pergi berdua sama Alya"


"Iya ajakin Alya. Biar anak - anak di rumah sama aku"


Herli pergi bersama Alya mencari makanan sesuai yang di perintahkan Deddy. Di tengah belanjanya yang lebih dari satu tempat membuat Alya heran dan bertanya,


"Mau ada acara kah mbak kok belanjanya banyak banget ? Mbak juga beli lauk dan sayur banyak, bukannya di rumah masih cukup buat makan malam nanti ? "


"Itu mau ada tamu dek. Mendadak pula makanya sama abangmu di suruh beli aja soalnya nggak keburu kalau masak dulu. Mana belum ada bahan juga di rumah. Kamu ingat pak Andi kan dek? Nah itu yang mau bertamu sama keluarganya dek"


"Deg, pak Andi mau datang bersama keluarganya ada apa ya? Apa jangan - jangan soal Revan kemarin ? ", batin Alya.


" Emang ada apaan mbak? Tumben pak Andi mau main ke rumah ? "


"Itu dia jangankan mbak, abangmu aja juga nggak tahu waktu mbak tanyain. Abangmu bilang tiba - tiba dapat telpon dari pak Andi dan ngomong kalau mau main ke rumah. Abangmu ini juga penasaran. Eh sudah semua kali dek, ayo kita pulang ! "


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, Keluarga pak Andi pun sampai di rumah Deddy sesuai alamat yang di kirimkan Deddy. Kedatangan mereka di sambut ramah oleh Deddy, istri serta adiknya Alya. Mereka pun di persilakan masuk dan setelahnya ddi jamu dengan minuman, kue dan snack lainnya.


"Wah tumben ini pak Andi mau ke sini. Saya kaget lho pak waktu bapak telpon bilang mau ke sini. Ada apa ya batin saya"


"Begini Ded, saya langsung saja... sebenarnya kedatangan saya beserta keluarga ingin meminta Alya untuk jadi istri Revan"

__ADS_1


"Deg", begitu Deddy mendengar ucapan pak Andi.


" Deg, ini sempat terlintas di pikiranku tadi", batin Alya.


"Lhoh kalau saya sih terserah Alya pak, mau sama mas Revan atau tidak. Kan yang menjalani Alya sendiri", Deddy berusaha tenang walaupun sebenarnya masih kaget sambil melihatke arah sang adik. Sedang Herli manggut - manggut membenarkan yang di katakan sang suami.


"Ini mungkin memang mendadak. Tapi tadi saya tanya pada Revan ada apa dengan tempo hari, dimana dia mengajak Alya berbicara empat mata saja. Dia bilang dia mengajak nikah Alya. Maaf Ded mungkin anak saya ini lagi terguncang karena batalnya pernikahannya makanya jadi ngawur. Dan Alya saya minta maaf atas nama anak saya Revan, dia sangat terguncang dengan batalnya pernikahannya Alya. Mohon di maklumi ya atas ketidak sopanannya terhadap mu? "


"Pak jangan minta maaf, bapak kan tidak salah", sahut Alya. Dilanjutkan Deddy,


" Iya pak. Mungkin mas Revan gara - gara batal pernikahannya jadi tidak jernih pikirannya. Hahaha", Deddy sengaja agar suasana tidak kamu sambil melihat ke arah Revan beberapa detik. Revan pun membalas,


"Saya benar - benar minta maaf mbak Alya soal yang kemarin. Saya akui saya terguncang dengan batalnya pernikahan saya dan saya seperti belum bisa menerima. Tapi saya tidak main - main soal yang mengajak mbak Alya menikah, saya serius"


Alya terdiam, ia tidak tahu harus bicara apa. Ia merasa punya pilihan yang sulit. Kesal pada Revan beberapa waktu dan sekarang malah seperti di balik. Seakan memojokkannya, ia harus membuat keputusan di depan semua yang berada di ruangan itu.


"Mbak Alya... santai saja hm...? Kalau mbak Alya mau memikirkannya dulu saya akan menunggu walaupun sebenarnya saya pengennya secepatnya. Saya serius kok mbak saya akan berusaha menjadi suami dan ayah bagi anak mbak yang baik", Revan bersuara kembali setelah beberapa detik tidak ada jawaban dari Alya.


"Iya Alya, ibuk tahu kok Revan itu seperti apa. Anak itu kalau sudah memutuskan suatu hal ya sudah tidak akan berubah. Dari dulu begitu sifatnya" , kini ibu Yani yang angkat bicara meyakinkan Alya dan melanjutkan kalimatnya,


"Ya walaupun kemarin caranya dia memang tidak sopan. Ibuk sebagai ibunya minta maaf. Dia memang begitu, keras. Kalau sudah ada maunya susah", sambil ia melirik sang putra. Sedangkan yang di lirik agak menundukkan kepala merasa malu di kuliti oleh orangtuanya sendiri di depan orang lain. Tapi itu tidak jadi masalah saat ini baginya karena kali ini ia serius ingin menikah dengan Alya.


"Deg", batin Revan ketika melihat ekspresi wajah Alya yang tadinya diam saja sekarang malah tersenyum lembut.


" Apa artinya dia mau? semoga saja... biar cepat kelar ya allah... aamiin... ", batin Revan berdoa.


" Jadi bagaimana dek? ", Deddy bertanya pada sang adik.


" Hm... gimana ya? ", Alya masih bingung.


" Jangan kelamaan mbak kasihan kakakku, udah ngebet banget dia" celetuk Sandi tiba - tiba yang dari awal hanya diam. Ia sudah tahu semua dari cerita sang ibu mengenai keadaan kakaknya yang terguncang membuat ia mengerti dwngan keputusan sang kakak yang ingin menikah dengan Alya.


"Heh ngebet apa woi ? ", Revan tak terima.


" Udah nggak usah malu...!", sang adik menjawab dengan santai. Semua jadi tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.


"Saya coba pikirkan lagi boleh ? ", setelah hening beberapa detik akhirnya Alya memberi jawaban. Yang merupakan belum jawaban. Sembari ia melihat ke arah Revan.

__ADS_1


" Boleh, silakan ! Tapi dua hari aja oke ? ", Revan pun menjawab.


" Hah dua hari ? ", Alya melongo.


" Ya emang mau berapa lama ? kan dari kemarin udah dua hari lho ? "


Mereka selain Alya dan Revan merasa aneh 'kok bicaranya jadi biasa seperti mereka sudah dekat. Apa sudah cocok ? '. Sampai tiba - tiba sebuah suara mengagetkan mereka,


"Sudah - sudah nggak usah dua hari dua harian, kalian lho udah cocok", cerocos Sandi.


" Iya nggak? ", sambungnya sambil melihat orang satu persatu di ruangan itu. Semua pun sedikit manggut - manggut sependapat dengan Sandi. Sedang Alya dan Revan yang sekarang jadi bingung. 'Kok malah jadi begini ?',pikir mereka berdua.


" Ya sudah bagaimana ini baiknya ? ", Deddy memastikan.


" Alya gimana kamu dek mau menikah sama Revan ? Kalau dia macam - macam bilang saja sama abang !" , lanjut Deddy.


"Bikin merinding aja", Revan nyeletuk pelan karena kaget dengan ucapan terakhir Deddy.


Hening hingga bbeberapa detik kemudian Alya mengangguk sebagai tanda bersedia menikah dengan Revan.


" Alhamdulillah... ", semua mengucap syukur.


" Kalau begitu di percepat aja ya ? Nggak usah lama - lama mereka kan sudah bukan remaja", pak Andi menyarankan.


"Iya lebih cepat lebih baik", timpal ibu Yani.


" Giman dek? ", Deddy masih bertanya pada sang adik.


" Terserah aja bang"


"Baiklah kalau begitu sudah clear. Bagaimana kalau minggu depan kita adakan acara pernikahannya. Mau seperti apa penikahannya ? Ramai atau sederhana saja ? "


"Kalau dari saya sih sederhana saja", jawab Alya pasti.


" Bapak juga sependapat dengan Alya... kalau kamu Revan ? ", tanya pak Andi pada putranya.


" Nggak papa sederhana aja yang penting lancar", jawab Revan.

__ADS_1


Dan pernikahan pun di tetapkan minggu depan tepatnya hari minggu. Mereka pu sepakat hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga sekitar saja. Setelahnya mereka berbincang entah hal apa saja. Hingga masuk waktu shalat maghrib, setelah menunaikan shalat mereka pun makan malam bersama yang di sediakan keluarga Deddy.


__ADS_2