Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Kecurigaan Revan


__ADS_3

"Mila ajak Sandi ke kamar mu dan Rafli pinjamin dulu kak Sandi bajumu! ", perintah pak Doni ketika sudah di dalam rumah.


" I- iya pa", jawab Kamila sedikit gagal karena ragu dengan perintah papanya namun yang dikatakan papanya benar.


"Baju yang seperti apa pa? ", tanya Rafli ia merasa cengo saat ini.


" Kaos santai aja sama celana selutut", jawab pak Doni.


Mereka bertiga lantas ke atas karena kamar Rafli juga di atas. Kamila memandu Sandi menuju kamarnya. Sedang Rafli menuju ke kamarnya sendiri untuk mengambil baju.


Sandi memperhatikan setiap sudut kamar Kamila. Tidak sebesar kamarnya dan lebih sederhana. Tempat tidurnya juga ukuran standar tidak sebagus di rumahnya. Ia melihat arah pintu kamar mandi, ia ingin coba melihatnya.


"Tok tok, mbak ini bajunya", Rafli mengetuk kamar yang terbuka sebagai tanda bahwa dirinya datang.


Kamila yang tadinya menyiapkan selimut dan merapikan sedikit barang lantas menghampiri Rafli.


" San ganti baju dulu gih! "setelah menerima baju dari Rafli.


Sandi mengambil baju tersebut kemudian berjalan pincang menuju kamar mandi.


" Aku bantu? ", tanya Kamila berusaha menawarkan bantuan.


" Nggak usah, aku bisa sendiri"


"Nanti bajumu yang kotor taruh di keranjang aja"


Sandi tidak menjawab, ia terus berjalan dan...


"Brak", ia menutup pintu kamar mandi cukup keras.


Kamila sampai kaget di buatnya. Setelah Rafli memberikan baju kepada Kamila ia turun menghampiri sang ayah yang baru saja keluar dari dapur membawa secangkit teh.


" Pa, ini ada apa sih? Kenapa kak Sandi di sini? Terus kenapa di kamar mbak Mila? "


"Mbakmu Mila dan kak Sandi sudah menikah. Sekarang mereka sudah jadi suami istri"


"Hah? kok bisa? ",


" Ya bisa saja namanya juga jodoh"


"Trus kenapa dengan wajah kak Sandi dan kakinya pincang"


"Di hajar orang waktu nolongin mbakmu Mila, bilangnya sih begitu tapi papa juga belum tahu pastinya. Besok sajalah papa coba tanya ke mereka"


"Trus bagaimana mbak Mila bisa menikah sama kak Sandi? "


"Mereka di fitnah berbuat mesum, makanya mereka di paksa menikah di kantor polisi"


"Kantor polisi?, kenapa menikah di kantor polisi? "


"Karena mbak Mila dan kak Sandi di bawa ke kantor polisi, mereka di anggap mesum. Jadilah mereka disuruh menikah dengan alasan agar jadi pelajaran buat anak muda yang lain. Sudah ah, kamu ini tanya terus. Tidur sana besok sekolah! "


" Ah.... iya iya papa ini nggak seru" , setelahnya Rafli bangkit dari duduknya pergi menuju kamarnya.


Rafli berpapasan dengan Kamila di tangga, Rafli memandang Kamila sambil geleng - geleng kepalanya. 'Ada apa anak itu? ', pikir Kamila.


"Pa, ada apa dengan anak itu? "


"Nggak apa - apa, papa hanya nyuruh dia tidur. Kamu kenapa turun? "

__ADS_1


"Mau ambil minum buat di kamar"


"Sekalian bawakan makanan buat Sandi! "


"Iya"


"Besok papa mau bicara sama kamu mengenai masalah hari ini! Sekarang lebih baik istirahat saja, sudah malam"


" Iya pa"


"Cklek", Kamila membuka pintu kamarnya dan ja melihat Sandi sudah berada di atas tempat tidur sedang duduk bersandar bantal.


" San makan dulu!", Kamila menyuruh Aandi makan.


"Aku nggak lapar", jawab Sandi dingin kemudian mengatur tubuhnya untuk berbaring.


" San... ", Kamila yang tahu sikap Sandi yang berusaha menghindarinya.


" Berisik", kemudian Sandi memejamkan matanya.


"Kamu berhutang penjelasan kepadaku", Sandi mengingatkan Kamila masih dengan mata terpejam.


" Iya", jawab Kamila ia merasa memang harus menjelaskan kepada Sandi kenapa ia tidak terus terang siapa yang melakukan pelecehan yang sebenarnya sewaktu mereka di interogasi oleh polisi.


 Di rumah pak Andi,


"Mas ada apa sebenarnya? Trus Sandi mana? ", tanya Alya pada suaminya begitu mereka masuk ke kamar.


" Aku sendiri belum paham yang pastinya seperti apa yank. Semua seperti terlalu cepat gitu. Ada lima orang yang membawa Sandi dan Kamila ke kantor polisi dengan tuduhan mereka melakukan hal mesum"


"Ha... Sandi? "


" Sama aku juga nggak percaya. Akun tahu adikku itu sedikit nakal dan liar tapi kalau untuk main - main yang begitu nggak"


"Itu juga maksud aku mas, Sandi memang agak liar tapi untuk berbuat begitu sama cewek itu kayaknya nggak mungkin. Dia kan termasuk agak susah membuka celah untuk cewek yang mau dekat - dekat. Apa lagi Kamila yang sudah jelas pernah buat kecewa"


"Karena dorongan orang - orang yang menghajar Sandi itu akhirnya pihak kepolisian pun menyuruh mereka menikah. Alasannya untuk kebaikkan dan bisa di jadikan pelajaran buat para pemuda. Hadeh... "


"Ada benernya sih mas alasannya itu tapi yang jadi masalah Sandi nggak mungkin melakukan itu. Tapi mas waktu di tanya Sandi dan Kamila bilang apa sama polisi? "


"Mereka tetap membantah tidak melakukan perbuatan itu tapi mereka nggak bisa ngasih penjelasan yang bisa menguatkan. Disitu masalahnya yank. Siapa yang percaya jika mereka saja tidak bisa memberi penjelasan yang menyakinkan dan... bukti"


"Ah iya. Tapi aneh kok Sandi dan Kamila nggak bisa memberi penjelasan yang menyakinkan jika mereka tidak melakukan? "


"Itu yang mau aku cari tahu yank. Kapan - kapan aku harus ketemu Sandi dan bertanya detailnya seperti apa"


"Kenapa mesti kapan - kapan? Kenapa nggak sekarang aja? "


"Keadaan Sandi saat ini memperihatinkan, dia babak belur di hajar gerombolan lima lelaki itu"


"Aduh kasihan Sandi mas, kenapa nggak di ajak pulang ke sini aja tadi? "


"Kalau boleh"


"Maksudnya? "


"Bapak nggak bolehin dia pulang ke sini. Bapak marah karena bapak berpikir Sandi benar melakukan. Dan ibuk kamu tahu yank... ibuk nggak mau Kamila di sini"


"Bapak dan ibuk kan masih sangat kecewa sama Kamila mas"

__ADS_1


"Iya aku juga tahu itu tapi kasihan juga mereka "


"Iya sih, bagaimana pun juga kenyataannya Kamila sekarang adalah istrinya Sandi"


"Untung om Doni orangnya care, jadilah mereka di suruh tinggal di sana"


"Sepertinya aku harus ngasih tahu Rio deh yank buat mecahin masalah ini. Soalnya aku merasa ada yang nggak beres. Aku curiga tapi entah apa dan siapa?", lanjut Revan.


Setelahnya Revan mengirim pesan pada Rio agar bertemu di cafe besok sore.


" Eghssh... ", Sandi mendesis kesakitan ketika sesuatu mengenai lukanya.


" Maaf... sakit ya, aku udah pelan - pelan kok", Kamila yang sedang mengobati luka di wajah Sandi.


"Ngapain sih? "


"Aku lagi obatin kamu. Takutnya infeksi"


"Ck"


"San maafin aku ya? Kenapa aku melarang kamu bilang pada polisi jika itu adalah Ryan, itu karena... ", perkataan Kamila berhenti.


" Apa? ", ucap Sandi galak.


" Jangan galak - galak napa San? ", Kamila memelas.


"Ya makanya buruan apa? "


"Itu... aku malu San, jika orang - orang tahu aku di lecehkan. Aku belum siap jika orang - orang tahu "


"Lalu bagaimana dengan kita? Ketidak terus teranganmu membuat kita terikat tanpa ada rasa cinta"


"Aku harus gimana Mil? , orangtuaku berpikir aku benar melakukan hal kotor itu. Dan sekarang aku terikat denganmu", lanjut Sandi.


" Itu salahku. Kamu hanya korban Sandi. Maafkan aku...? Untuk itu jika memang kamu tidak bisa menjalani pernikahan ini maka aku siap kamu ceraikan kapan saja"


"Kamu pikir itu mudah. Ini pernikahan Kamila, pernikahan? Kenapa kamu seolah - olah menggampangkan"


"Bukan begitu maksudku San, aku hanya ingin supaya kamu tidak terbebani dengan pernikahan ini. Aku tidak mau memaksamu untuk menjalaninya jika itu tidak membuatmu nyaman. Hanya itu, bukan karena aku menggampangkan atau menyepelekan pernikahan"


"Please kamu ngerti maksud aku San! Memang aku akui, aku salah dengan membatalkan secara sepihak pernikahanku dengan kakakmu. Tapi aku sudah sadar dan menyesalinya. Dan sekarang aku berusaha memperbaiki diriku", lanjut Kamila.


" Huh... intinya kamu siap aku ceraikan? "


"Iya, tapi aku boleh minta satu hal? "


"Apa? "


"Tolong jangan katakan kepada orang - orang soal Ryan, terutama papa! "


"Nggak bisa, tapi kalau untuk papa kamu... akan ku pikirkan"


"San please jangan bilang ke siapapun! "


"Nggak mungkin Mil, apa kamu nggak memikirkan aku sedikitpun? Gara - gara Ryan aku yang di tuduh. Paling tidak aku harus mengembalikan nama baikku di hadapan keluargaku. Terutama orangtuaku. Jika sekarang kamu minta aku untuk diam tidak menceritakan kepada siapa pun selamanya aku akan di anggap kotor dan memalukan untuk keluargaku. Paham kamu? "


"Sudah aku mau tidur", ucap Sandi setelah beberapa saat Kamila tidak mengucapkan apa - apa.


Kamila berpikir apa yang di katakan Sandi memang benar. Dialah yang justru egois tidak memikirkan Sandi.

__ADS_1


__ADS_2