
Setelah menyelimuti Kamila, Sandi kemudian turun menuju ruang tamu. Ia kemudian tidur di sofa ruang tamu. Ia merasa serba salah ingin tidur di kamar namun melihat Kamila dengan keadaan seperti itu membuatnya iba. Ia merasa kasihan pada sang istri.
"Maafkan aku Mil... semoga besok kamu tidak marah padaku ", gumamnya setelah itu ia memjamkan matanya.
Keesokan harinya, Kamila yang tidak sedang melakukan apa - apa memilih menemani ibu mertuanya menonton TV di ruang keluarga.
" Mil, sini duduk nonton TV! ", ajak ibu Yani ketika melihat Kamila turun dari lantai atas.
" Tadi pagi kok ibuk lihat Sandi tidur di ruang tamu? Kalian tidak sedang berantem kan? ",
" Tidak kok buk"
"Tadi malam kalian ngapain? Ibuk seperti mendengar suara tapi samar"
"Ah tidak ngapa - ngapain buk"
"Mil, ibuk mau tanya sama kamu? "
"Iya, silakan buk! "
"Kamu serius dengan pernikahanmu dengan Sandi? "
"Kenapa ibuk bertanya seperti itu? Saya memang pernah... ", ucapan Kamila terpotong sebab ibu Yani langsung berbicara.
"Bukan begitu Mila, ini bukan tentang dirimu yang membatalkan pernikahan dengan Revan. Melainkan ini soal Sandi"
Kamila masih belum mengerti maksud ibu mertuanya tersebut. Namun sesaat kemudian ibu Yani melanjutkan ucapannya.
"Jika kamu serius dengan Sandi, ibuk harap kamu bisa sabar dengan sifatnya".
Kamila masih diam dan mendengarkan ibu mertuanya, ia masih belum mengerti dengan yang di katakan oleh ibu mertuanya. Kemudian ibu Yani melanjutkan kembali.
" Sandi itu berbeda dengan Revan. Revan terlihat dingin tapi lembut perasaannya jika dengan wanita. Kalau Sandi itu keras apalagi jika sudah kecewa atau sakit hati. Dia bisa tidak pandang bulu sama siapapun... mau itu laki - laki atau perempuan. Dia bisa saja melakukan kekerasan fisik. Dulu waktu masih SMA dia beberapa kali berkelahi dengan teman satu sekolah. Pernah juga sampai mendapat surat panggilan orangtua dari sekolah. Dia bukan kemarin saja berurusan dengan kantor polisi".
"Hah, apa...? ", Kamila tidak menyangka.
" Sandi sebelumnya juga pernah berurusan dengan polisi. Waktu itu dia sudah lulus sekolah... dia nakal di jalanan bersama teman - temannya di malam hari. Bermotor ugal - ugalan sampai timbul perkelahian. Orang yang berkelahi dengan Sandi bersama temannya itu sampai di bawa ke rumah sakit. Tapi masih untung bisa di ajak berdamai keluarga korban. Dengan mengganti kerusakan motor korban dan perawatan si korban hingga sembuh. Yah... walaupun habisnya tetap saja tidak sedikit Mil. Lebih baik kami keluar uang daripada Sandi harus di mendekam di penjara. Baik ibuk sama bapak nggakntega jika Sandi di penjara. Senakal - nakalnya anak dia kan anak kami, mungkin juga itu kesalahan kami yang belum bisa mendidik dengan benar. Makanya begitu kemarin kalian dituduh melakukan perbuatan kotor itu bapak percaya. Karena Sandi memang nakal. Dan lagi kalian tidak bisa memberi penjelasan yang menyakinkan pihak polisi", ibu Yani bercerita panjang lebar fakta mengenai putra keduanya... Sandi.
"Jadi begitu ya buk? ", hanya kalimatnitu yang bisa Kamila ucapkan.
"Itu kenapa ibuk bertanya begitu kepadamu. Ibuk sih berharapnya kalian dapat menjalani pernikahan dengan baik. Kamu maupun Sandi saling memahami dan sabar ketika ada masalah. Saling bisa menerima. Seperti Revan dan Alya itu, mereka sebelumnya juga tidak saling mencintai tapi mereka berpikir dewasa berusaha mempertahan pernikahan mereka"
"Oh", ucap Kamila. Ia jadi mengerti jika Revan dan Alya sebelumnya tidak saling mencintai tapi mereka berusaha menjaga pernikahan mereka.
" Ah Mil ibuk mau merebahkan tubuh, pegal ibuk jika terlalu lama duduk. Ibuk tinggal ke kamar ya? ",
__ADS_1
" Iya buk silakan! Mila juga mau ke kamar"
Ibu Yaninpun beranjak dan menuju kamarnya sedang Kamila memetikan TV lebih dulu baru kemudian berjalan menuju kamarnya.
Begitu di dalam kamar Kamila mengingat perkataan ibu mertuanya, "senakal - nakalnya anak dia kan anak kami, mungkin juga itu kesalahan kami yang belum bisa mendidik dengan benar". Kamila jadi mengingat bagaimana ketika ia membatalkan pernikahannya dengan Revan, orangtuanya berusaha menuntun dirinya agar tidak salah mengambil keputusan. Namun ia malah keras kepala tidak mau mendengar perkataan orangtuanya. Dan biarpun sudah seperti itu tapi orangtuanya masih menyayanginya hingga saat ini. Mama, ia jadi teringat mamanya. Hingga sesaat kemudian muncul ide bagaimana jika sebelum pulang ke rumah papa Doni ia mampir ke makam mamanya. Ah iya ia baru ingat setelahnya bagaimana bisa mampir ke makam mamanya jika Sandi saja jam lima baru pulang kerja. Sepertinya lain hari saja ia mengajak Sandi ke makam mamanya. Mengingat Sandi dari semalam setelah keluar dari kamar... ia belum ada bicara dengan lelaki itu hingga kini. Sandi tadi pagi hanya diam saja sedang dirinya sendiri takut jika Sandi masih marah. Jadi ia pun memilih diam.
Di tempat lain, di sebuah kantor perusahaan Sandi bekerja. Sandi sedari pagi sedikit tidak tenang, pikirannya terus di rumah. Lebih tepatnya ia kepikiran kepada Kamila, wanita yang sekarang menjadi istrinya.
"Ah... aku harus gimana ya?", gunanya pelan sembari menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
" Dari mana memulainya? Apa sebegini rumit jika sama istri sendiri? Kamila... ", lanjutnya.
" Ah aku coba cerita ke Farel aja siapa tahu dia bisa kasih masukan. Anak itu kan gampang dekat sama perempuan", Sandi kemudian mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Lalu menekan sebuah nomor. Untung pekerjaanya hari ini tidak banyak sehingga ia bisa lebih santai.
"Tut tut tut... ", bunyi tersambung ke nomor yang di tuju.
" Halo, apa kabar bro? Kirain udah lupa sama aku? ", suara di sebrang yang tidak lain adalah Farel salah satu teman Sandi dari sekolah.
" Baik, kamu sendiri bagaimana? "
"Aku baik juga. Ngomong - ngomong kamu kangen ya hubungi aku? "
"Cih... jijik aku kangen sama kamu"
"Aku lagi pengen cerita sama kamu"
"Kamu ada masalah? "
"Iya dikit"
"Kamu tuh bener - bener ya San, katanya bestie tapi menghubungi kalau lagi ada masalah. Kalau nggak ada masalah seperti orang yang berpuasa nggak ada menghubungi"
"Hahaha"
"Malah ketawa. Buruan cerita apa masalah kamu! "
"Jadi aku... ", Sandi menceritakan masalahnya namun belum selesai bercarita Farel sudah menyolot.
" What? Kamu sudah menikah? Kamu nggak ada ngabarin aku? Kamu teman macam apa sih San? "
"Bentar... ceritaku belum selesai bego! "
"Lanjut! ", ucap Farel.
Sandi melanjutkan ceritanya sampai selesai.
__ADS_1
"Jahat bener kamu sama bini San, tega"
"Iya ya? "
"Istri itu di muliakan San bukan disakitin, tak peduli dengan masa lalunya. Apa lagi jika dia sudah berubah menjadi lebih baik itu malah bagus"
"Wah lama nggak ketemu dan ngobrol sama kamu, sepertinya kamu jadi ustadz ya? "
"Sialan... aku tuh ngasih tahu kamu dut dut. Itu yang pernah aku dengar dari salah satu ustadz di sosmed"
"Iya iya. Sekarang apa yang harus ku lakukan? "
"Sudah jelas kan? Minta maaflah! "
"Iya tapi aku bingung dari mana mulainya? "
"Kamu ajak dia bicara empat mata San! Dimana gitu... usahakan orang rumah nggak tahu masalah kalian"
"Di luar rumah gitu maksud kamu? "
"Ya nggak harus di luar rumah, yang penting itu pembicaraan kalian itu aman nggak di dengar siapapun kalau bisa. Masalah rumah tangga kalau bisa harus di tutupin San. Itu yang pernah aku dengar sih"
"Oke akan aku pikirkan. Btw makasih sarannya ya? "
"Santai aja San, kamu masih bestie aku kok. Tapi kamu kok bisa duluin aku sih San? Ini yang bikin aku agak nggak terima"
"Maksudnya? "
"Kamu nggak gampang suka sama cewek tapi tiba - tiba udah nikah aja. Aku yang gampang dekat sama cewek belum juga nikah"
"Hahaha itu mah takdirmu"
"Iya ya hahaha, belum waktunya mungkin"
"Iya sabar aja pasti ada giliranmu nanti! Ya udah ya aku lanjut kerja dulu! "
"Iya aku juga mau lanjut kerja. Untungnya kerjaanku santai jadi bisa ngobrol sama kamu"
"Sama kerjaanku hari ini nggak terlalu banyak jadi bisa cerita sama kamu. Makasih brother? "
"Oke, tut"
Percakapan mereka pun berakhir.
"
__ADS_1