Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Kenyataan yang Di Tutupi


__ADS_3

Besok malamnya Revan dan Rio berkunjung ke rumah Kamila. Begitu sampai di halaman mereka melihat Kamila yang sedang melayani pembeli di tokonya.


"Eh jualan ya? ", celetuk Rio.


" Sepertinya", Revan menduga karena ia sendiri tidak tahu perihal Kamila yang punya toko di rumah.


"Assalamualaikum? ", bersamaan Revan dan Rio mengucap salam di depan toko namun agak jauh.


" Waalaikumsalam. Eh mas Revan, Rio... mau bertemu Sandi ya? "


"Iya, ada kan? "


"Ada. Bentar ya ku panggilkan! Silakan duduk dulu di dalam! "


"Iya makasih"


Kamila masuk rumah menuju kamarnya yang berada di atas.


"Tok tok tok", Kamila mengetuk pintu kamar.


" Masuk! "


"San ada mas Revan sama Rio di bawah. Mereka ingin bertemu sama kamu"


"O iya", Sandi terlihat sumringah dan bangkit seketika, ia lupa bahwa kakinya masih agak sakit.


" Aww... ", pekik Sandi.


" San... sakit ya? Kenapa nggak hati - hati sih? ", Kamila teriak karena mendengar pekikan Sandi.


" Sini aku bantu! ", Kamila membantu dengan memapah lengan Sandi.


Mereka pun turun berjalan pelan - pelan menuju ruang tamu.


" Wah San parah juga kamu? ", ucap Rio begitu melihat Sandi yang berjalan dengan di papah Kamila.


" Aku tinggal ke dalam dulu ya? ", pamit Kamila setelah membantu Sandi duduk di sofa.


" Oke", jawab Rio.


"San bagaimana ceritanya sampai kayak gini? ", tanya Rio yang sudah penasaran dari kemarin malam.


Berceritalah Sandi di depan Rio juga Revan.


" Jadi Ryan", Rio bersuara setelah mendengar cerita Sandi.

__ADS_1


"Sialan Ryan. Tega banget dia lakuin itu ", Revan tak menyangka jika teman dekatnya dululah dalang di balik kondisi adiknya saat ini.


" Dia dendam mas", ucap Sandi pelan namun masih bisa di dengar Revan dan Rio.


"Dendam untuk apa? ", tanya Revan.


" Dari dulu sebenarnya dia suka sama Kamila, tapi Kamila malah sukanya sama mas Revan"


Revan melongo mendengar pernyataan dari Sandi. Kemudian menoleh saat mendengar Rio berkata namun wajahnya datar seperti sudah mengetahui.


"O gara - gara itu", Rio tidak kaget.


" Kamu tahu Yo? Kenapa nggak bilang ke aku kalau Ryan suka sama Kamila? "


"Kalau aku bilang ke kamu apa kamu mau putusin Kamila? ", Rio balik bertanya dan Revan masih berusaha memahami kata - kata Rio.


" Aku tahu Ryan suka sama Kamila itu sesudah kamu jadian sama Kamila. Dan aku perhatikan Kamila sukanya sama kamu bukan sama Ryan", Rio lanjut menjelaskan.


"Jadi itu sebabnya Ryan seperti menjauh dariku", ucap Revan.


" Sebenarnya... ", Sandi langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Kamila dari dalam membawa minuman menuju ruang tamu.


Revan dan Rio tadinya merasa linglung sebab Sandi langsung berhenti bicara namun kemudian mereka paham ketika melihat Kamila datang.


" Nih silakan di minum! " , Kamila meletakan tiga cangkir teh dan sepiring kue brownies.


" Makasih ya Mil", Revan menambahkan.


"Nggak repot kok, sama - sama mas"


Kamila lantas berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Rio memberi kode kepada Sandi dengan menggerakan janggutnya ke arah Sandi yang berarti 'kenapa? '


"Mila nggak mau semua orang tahu apa yang dilakukan Ryan kepadanya. Terutama papanya", Sandi menjawab rasa penasaran Revan dan Rio.


"Loh kenapa? ", Rio yang selalu lebih cepat dari Revan.


" Dia malu, dia belum siap jika orang - orang tahu. Sebenarnya aku juga di minta tidak memberitahu kalian, tapi aku nggak bisa seperti itu"


"Itu sebabnya waktu di kantor polisi kalian tidak bisa memberi penjelasan yang menyakinkan? ", selidik Revan dan di angguki Sandi.


" Lalu apa tadi yang ingin kamu katakan, waktu Kamila kesini? ", lanjut Revan bertanya.


" Itu... sebenarnya Ryan bukan kemarin saja melecehkan Kamila"


"Apa? ", keduanya kaget mendengar penuturan Sandi.

__ADS_1


" Ryan juga pernah melecehkan Kamila di pasar. Waktu itu pagi - pagi sekali Kamila ingin membeli sarapan di tempat langganannya. Aku juga pas ke pasar saat itu, jadilah tanpa sengaja aku melihat perbuatan Ryan kepada Kamila"


"Tunggu, apa yang kamu waktu itu pergi ke pasar pagi - pagi ingin membeli sarapan tapi begitu sampai rumah tidak membawa apa - apa? ", Revan mengingat kejadian dimana Sandi pergi membeli sarapan pagi - pagi namun sampai dirumah tak ada makanan yang dibawanya.


Sandi kemudian mengangguk.


" Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan bapak-ibuk di rumah? Apa kamu tidak ingin mereka tahu kebenarannya? Dan pernikahanmu dengan Kamila bagaimana? ", Revan bertanya lagi pada sang adik.


" Mas Revan bisa bantu aku kan untuk bapak dan ibuk? Kalau soal pernikahanku dengan Kamila...aku akan mencoba menjalaninya. Karena pernikahan itu tidak untuk main - main"


"Baiklah kalau keputusanmu begitu, soal bapak dan ibuk biar nanti aku jelaskan jika ada yang menjebakmu"


"Ryan? ", tanya Rio.


" Bukan, jika tidak ingin om Doni tahu. Maka sebaiknya tidak usah menyebutkan siapa - siapa. Bilang saja orang tak dikenal"


"Iya begitu lebih baik, masalahnya Kamila tidak mau papanya tahu", setuju Rio.


" Eh ngomong - ngomong dimana om Doni? ", Rio lanjut bertanya.


" Orangnya sudah tidur dari habis isya' tadi mungkin kelelahan", Sandi menjawab.


Di waktu yang sama, Ryan senang bukan main di rumahnya. Lebih tepatnya di teras rumah. Karena merasa berhasil membuat Sandi babak belur tanpa ia ikut mengotori tangannya sendiri.


"Sandi... Sandi..., mau sampai kapan kamu lemah sama perempuan itu", gumamnya.


" Tapi asyik juga sih, aku nggak bisa membalas sakit hatiku pada Revan. Namun aku bisa melampiaskan nya padamu. Bukankah kamu juga suka Kamila dari dulu hihihi... ", lanjutnya.


" Apa yang kamu lakukan pada Revan? ", tiba - tiba suara seorang lelaki mengagetkannya.


Ryan lantas menoleh mendapati sang ayah susah berdiri di pintu.


" Ng.. nggak ada pa", jawab Ryan gelagapan.


"Jangan ganggu rumah tangga orang! Apalagi Revan itu anak dari teman papa. Akan sangat memalukan jika sampai kamu melakukan hal - hal yang tidak pantas", pak Indra yang merupakan ayah Ryan memperingatkan putranya.


" Nggak pa, nggak ada apa - apa", Ryan berusaha menyakinkan sang ayah.


"Soalnya tadi dari dalam papa sedikit mendengar kamu menyebut nama Revan. Ya sudah kalau tidak ada apa - apa. Jangan hanya karena perempuan lantas kalian bermusuhan".


" Iya pa"


Pasalnya pak Indra mengetahui jika putranya itu menyukai perempuan yang sama dengan Revan. Yaitu Kamila. Dan ia berpikir jika kemarin yang menikah dengan Revan adalah Kamila. Padahal perempuan yang saat ini menjadi istri Revan adalah Alya. Saat acara pernikahan Revan sebenarnya ia juga di undang namun ia tidak dapat hadir karena ada urusan mendadak di luar kota.


Pak Indra lantas pergi masuk ke dalam rumah lagi setelah mendengar ucapa dari putranya seakan tunduk kepadanya.

__ADS_1


"Hufft... hampir saja", Ryan bernapas lega sambil mengelus dadanya.


__ADS_2