
Di sisi lain Dita yang sedang memohon - mohon kepada Niko justru Kamila tampak terpaku karena lelaki yang dikira suaminya tak mengenalnya dan merupakan suami dari teman sekolahnya. Ia bingung dengan keadaan yang ada. Antara yakin bahwa lelaki tersebut dalah Sandi dan kenapa menjadi suami temannya. Yang mana yang benar? Benarkah saat ini ia hanya berhalusinasi bahwa itu Sandi padahal bukan? Apakah ia kini sudah tidak membedakan mana Sandi dan mana yang bukan lantaran sudah dua tahun lamanya ia ditinggal lelaki tersebut?
"Mil kamu nggak apa - apa? ", Dita menghampiri Kamila setelah lelaki yang ia mintai tolong meninggalkan tempat itu.
Orang - orang yang tadinya menyaksikan kehebohan yang mereka buat pun mulai pergi.
Kamila masih bergeming dengan tatapan kosong.
" Mil, sadar Mil... ! ", Dita sedikit menggoyangkan tubuh Kamila agar sahabatnya itu sadar.
Beberapa saat kemudian Kamila menggerakan kelopak matanya dan menatap Dita beberapa detik.
" Ayo kita duduk dulu! ", Dita yang tahu jika Kamila sudah mulai sadar dari keterpakuan.
Dita baru ingat entah di mana tadi ia meletakan minuman dan camilan yang ia beli. Tiba - tiba ada seorang wanita paruh baya menyodorkan kantong kresek.
" Mbak ini minuman mbak"
"Eh makasih buk"
"Sama - sama"
"Mil ini minum dulu! ", Dita segera mengambil minuman di dalam kantong kresek tersebut lalu membuka tutupnya. Ia memberikannya kepada Kamila.
"Sebenarnya tadi itu ada apa mbak? ", tanya wanita paruh baya tersebut.
Dita kemudian menceritakan kepada wanita paruh baya tersebut agar tidak salah paham dengan kejadian beberapa waktu lalu. Ia tidak ingin orang - orang salah mengira bahwa Kamila adalah selingkuhan ataupun pelakor.
"Saya ikut prihatin dengan apa yang di alami teman mbak, semoga allah memberi petunjuk. Kalau begitu saya permisi? ", ucap wanita paruh baya tersebut.
" Iya buk silakan, aamiin...terimakasih doanya", balas Dita.
"Kamu udah lebih baik? Kita pulang sekarang? ", tanya Dita kepada Kamila. Dan Kamila mengangguk.
Mereka pun pulang namun tidak ke hotel melainkan ke rumah tante Dita. Karena Dita pikir itu lebih baik daripada di hotel yang hanya mereka berdua.
" Kenapa dengan Kamila? ", tanya Diana yang merupakan tante Dita.
" Aduh kamu kenapa nak? Kenapa jadi begini? ", lanjut Diana.
" Nanti Dita ceritakan tante, sekarang biar Kamila tenang dulu! ", ucap Dita dan di angguki Diana.
Di tengah perjalanan seorang perempuan sedang memarahi seorang lelaki uang sedang mengemudi.
" Kamu kenapa sih tadi lama banget ditungguin? Kamu di ajak ngobrol ya sama perempuan itu?", Bella marah kepada Niko lantaran Niko tak segera menyusul ketika ia mengajaknya pulang tadi.
"Bell aku nggak ngerti deh... siapa sebenarnya perempuan tadi? Dia sepertinya kenal sama kamu"
"Diam kamu jangan banyak tanya! ", bentak Bella.
__ADS_1
Antonio yang mendengar Bella marah - marah dari tadi merasa kepalanya menjadi pusing. Ia meringis sembari memijat - mijat pelipisnya dengan mata terpejam. Niko yang menyadari lewat kaca spion karena Antonio duduk di belakang kursi kemudi.
"Antoni kamu pusing? Tunggu sebentar lagi kita samoai rumah! ", tanya Niko kepada Antonio.
" Sayang kepala kamu pusing ya... tunggu ya sebentar lagi kita sampai", ucap Bella saat ini fokusnya pindah ke Antonio.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Niko memapah Antonio di bantu satu security berjalan menuju kamar Antonio. Kemudian mereka membaringkan Antonio di atas ranjang.
"Ini semua salahmu ", ucap Bella kepada Niko setelah mereka keluar dari kamar Antonio.
" Apa maksudmu salahku? ", Niko tidak mengerti maksud Bella.
" Karena saran bodohmu untuk membawa dia keluar lihat Antonio sekarang!
"Ck ck", Niko berdecak dan menggeleng setelah Bella pergi.
Niko lantas berjalan turun, ia masih memikirkan kejadian di pantai tadi. Ia tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa perempuan yang mengaku istri Antonio itu sepertinya mengenal Bella. Dan perempuan tersebut memanggil Antonio... Sandi. Siapa sebenarnya perempuan tadi? Pikir Niko.
"Tolong bawakan jus jeruk ke taman! ", perintah Niko pada salah satu pelayan yang ada di lantai bawah.
Niko lantas melanjutkan berjalan menuju taman. Ia duduk di sebuah kursi dan merogoh saku celananya.
" Dita, haruskah aku menghubungi perempuan ini? Tapi untuk apa? Aku tadi mengiyakannya karena aku kebingungan di tambah lagi dia memohon di depan orang banyak. Ah sial kenapa aku terlibat dengan urusan Bella? Aku juga janji akan menghubungi lagi...? Kasihan juga sih jika benar yang di katakan nya", Niko berbicara sendiri.
"Tuan ini minumnya ", tiba - tiba sebuah suara membuat Niko menoleh.
Pelayan itu lantas pergi setelah meletakkan jus di atas meja.
" Iya bi Ruhi ada apa? "
"Maaf tuan silakan anda minum dulu! "
Niko meminum jusnya, kemudian bertanya maksud kedatangan Ruhi.
"Bi Ruhi ada perlu apa? "
"Maaf sebelumnya saya tidak bermaksud ikut campur hanya saja saya adalah orang yang diberi tanggung jawab merawat tuan Antonio dari awal kedatangannya. Saya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan tuan Antonio? "
"Huh... tadi waktu kami ke pantai, ada seorang perempuan berhijab menyebut Antonio sebagai suaminya dan namanya itu Sandi. Tapi perempuan itu sepertinya juga mengenal Bella. Perempuan itu juga sudah punya anak. Dan teman perempuan itu memohon kepadaku agar bisa bertemu dengan Antonio sekali saja. Untuk memastikan apakah benar Antonio itu Sandi atau bukan"
"Lalu apa yang akan tuan Niko lakukan? "
"Itulah bi aku bingung, menurut bibi apakah aku harus menghubungi teman perempuan tersebut? Tadi karena bingung dan juga malu menjadi pusat perhatian aku iyakan saja saat diminta berjanji untuk menghubungi"
"Maksud tuan Niko... tuan berjanji akan menghubungi teman perempuan itu?
" Iya"
"Tapi bagaimana dengan perempuan yang mengaku sebagai istri tuan Antonio... maksud saya apakah dia kelihatan normal atau tidak gila? Bisa saja itu orang gila yang menganggap tuan Antonio sebagai suaminya"
__ADS_1
"Tidak bi, perempuan itu terlihat normal. Pakaiannya rapi, bersih, riasan wajahnya juga bagus. Orangnya cantik. Tidak seperti orang gila sama sekali"
"Kalau begitu mungkin lebih baik anda menghubungi dan menemui temannya untuk memastikan saja. Tapi jangan membawa tuan Antonio! "
"Begitu ya bi? "
"Menurut saya begitu tuan. Sebab jika saya memperhatikan tuan Antonio... dia sepertinya tidak punya perasaan apa - apa terhadap non Bella. Dia hilang ingatan... iya itu mungkin saja berpengaruh tapi sudah dua tahun lamanya bersama nona Bella apakah perasaan itu tak tumbuh? Sebenarnya saya sering bertanya - tanya, siapa tuan Antonio sebenarnya? Apakah dia sama sekali tak punya saudara? "
"Sebenarnya sejak pertama kali Bella membawanya ke sini aku dan mama sudah agak curiga. Tapi kami merasa tak tahu hal yang sebenarnya dan itu bukan urusan kami"
"Baiklah tuan Niko saya takut non Bella mencari. Saya pergi dulu tuan? Eh... ", Ruhi mengingat sesuatu ketika baru saja ia akan pergi.
" Ada apa bi? "
"Itu... benarkah tuan Antonio masih harus mengonsumsi obat? "
"Obat... obat apa? "
"Yang saya tahu obat untuk mengembalikan ingatan tuan Antonio"
"Apa Antonio sering meminumnya? "
"Iya setiap hari sejak dia di bawa ke sini"
"Bibi tolong beritahu Antonio agar sementara berhenti meminumnya tapi jangan sampai Bella tahu. Dan tolong berikan kepadaku beberapa untuk mencari tahu itu obat apa"
"Baik tuan saya pergi dulu"
"Sial, itu obat apa dan sampai sekarang Antonio masih meminumnya? ", gumam Niko setelah kepergian Ruhi.
Sementara itu di kamar Bella sudah seperti kapal pecah. Ia mengobrak - abrik semua barangnya.
" Sialan... kenapa dia bisa ada di sini? Kamila sialan, kau selalu menggangguku", Bella mengumpat dengan napas memburu karena marah.
Kemudian ia menghubungi seseorang,
"Tut tut tut"
"Iya tuan putri", suara seorang lelaki di sambungan telpon.
" Hei bodoh... apa kau tahu Kamila saat ini ada di sini? "
"Apa? Sedang apa dia di sana? "
"Mana kutahu. Harusnya kau cari tahu! "
"Bella kita kan sudah sepakat, kamu dapat Sandi dan aku senang dengan kehancuran Kamila. Kenapa kamu menyalahkanku? ", ucap Ryan tidak Terima di salahkan Bella.
" Kalau sampai ada apa - apa namamu juga ku seret. Tut", Bella memutuskan panggilan dan ia tak menyadari jika ada yang menguping di balik pintu kamarnya. Orang itu adalah Ruhi.
__ADS_1
"Begini nih kalau kerjasama dengan orang sinting", Ryan marah setelah Bella mematikan telepon.
" Huh... masa aku harus memutar otak lagi supaya tidak terbongkar siapa dalang di balik hilangnya Sandi? Harusnya itu sudah bukan urusanku karena Sandi saat ini sudah bersama Bella. Tapi perempuan itu kan gila... mana mau dia di rugikan sendiri? Kenapa juga Kamila harus pergi ke sana? ", Ryan berbicara sendiri di balkon kamarnya.