Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Penyesalan Itu di Belakang


__ADS_3

Setelah hasil tes DNA keluar dan dinyatakan bahwa DNA Antonio dan Sandi sama. Maka keluarga Sandi pun membawa Sandi pulang ke kota sebrang. Sementara Bella dibebaskan karena mereka memilih cara kekeluargaaan. Mengingat Yuda juga baik terhadap keluarga Sandi, dalam artian ia mendukung keluarga Sandi.


Raut bahagia nampak di wajah Sandi karena bisa berkumpul dengan keluarganya lagi meskipun ingatannya belum kembali. Ia menjalani pengobatan untuk membantu mendpatakan ingatannya kembali.


Semua anggota hari ini berkumpul di rumah Doni termasuk keluarga dari pihak Sandi. Suasana haru memenuhi ruang tamu Doni.


"Besok ke rumah ya menginap lah beberapa hari di sana, kita masih kangen! ", ucap Yani kepada Sandi sambil mencium pipi kanan kiri Sandi.


" Iya buk, besok biar Kamila ajak mas Sandi ke rumah", Kamila yang menjawab.


"Ya sudah kami pamit dulu pak Doni? ", pamit Andi.


" Iya iya Pak, tidak pulang juga tidak apa - apa pak. Di sini saja hahaha", bercanda Doni kepada besannya.


"Hahaha bisa saja pak Doni ini"


Setelah kepergian keluarga Andi, kini Sandi bersama Kamila serta putri kecilnya.


"Nih dek ikut papa! ", Kamila mengangkat Ameera dan di letakan di atas pangkuan Sandi.


Sandi pun menerimanya kemudia bertanya kepada Kamila,


" Namanya Ameera? "


"Iya Ameera Kasandi, Ameera Kamila Sandi hehehe. Ada nama kita"


"Bagus"


"Mas ke kamar yuk, aku pengen dengar cerita kamu selama bersama Bella! "


"Ayolah! "


Sesampai di kamar keduanya lantas berbaring di atas kasur berhadapan. Sedang Ameera duduk ditengah - tengah mereka sambil bermain.


"Mas gimana ceritanya, mas bisa dibawa Bella ke sebrang? "


"Aku juga nggak tahu, tiba - tiba sudah di sana dan tidak ingat apa - apa. Hanya Bella bilang jika aku dan dia sepasang kekasih. Aku mengalami kecelakaan dan sudah tak punya keluarga"


"Aku nggak menyangka Bella punya kepribadian yang agak... "


"Aku juga tadinya tidak tahu hal itu. Setelah lama tinggal bersamanya barulah aku merasa aneh dengan sikapnya. Dia mudah sekali marah apalagi jika tidak sesuai keinginannya. Dan yang membuatku penasaran adalah aku sama sekali tidak boleh keluar rumah. Sekedar bekerja pun juga tidak boleh"


"Hah? ", Kamila melongo.


" Iya", Sandi kembali meyakinkan.


"Jadi mas selama ini tidak boleh keluar? Selama dua tahun? "


"Hm. Sekali aja yang pas bertemu denganmu di pantai "


"Kamu tahu nggak, aku benar - benar bingung waktu kamu mengaku sebagai istriku", lanjut Sandi.


" Iya. Mas seperti orang linglung. Diam dan memperhatikan saja"


"Gimana nggak bingung? Nggak ingat apa - apa , tiba - tiba ada yang mengaku sebagai istriku. Sedang di rumah juga ada kekasih"

__ADS_1


"Hm iya. Ya sudahlah yang penting sekarang mas sudah kembali. Aku sudah bahagia banget"


"O iya dulu bagaimana aku menghilang ? ",gantian Sandi yang bertanya. Kamila memang sudah menceritakan hilangnya Sandi namun tidak detail saat dirumah Reva.


" Tidak ada yang aneh hari itu hanya saja biasanya mas pulang kerja sampai di rumah setengah enam sore. Tapi hari itu mas belum pulang - pulang. Sampai aku menghubungi teman mas yang sekantor dengan mas. Orang itu bilang mas sudah pulang bareng dia tapi karena beda arah, jadi kalian berpisah setelah keluar dari area kantor. Aku hubungi mas Revan juga kupikir siapa tahu mas mampir ke rumah ibuk, tapi nihil juga. Sampai aku tunggu besoknya tapi tetap nggak ada kabar dari mas. Kemudian kita sepakat melapor ke polisi. Tak lama kemudian ada laporan ditemukannya motor yang jatuh ke jurang. Setelah diselidiki ternyata benar motor mas namun tidak ada jejak mas di area tempat itu. Makanya kita bingung antara percaya dan nggak percaya jika mas sudah meninggal"


"Lalu bagaimana kami bisa ke kota sebrang? "


"Itu karena keluarga kita yang menyuruh aku liburan, ya semacam refreshing. Sejak mas tidak ada aku berusaha menjalani meneruskan hidupku dengan Ameera dari waktu masih di kandungan"


"Apa? Jadi kamu hamil waktu aku menghilang? "


"Iya. Aku mengetahui jika diriku hamil saat mas baru menghilang dari malamnya"


"Maafkan aku... di saat kamu butuh orang di sampingmu malah aku menghilang begitu saja"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan mas. Mungkin memang sudah takdir kita dengan ujian seperti ini. Lagian jika mas tidak dibawa pergi orang mas nggak mungkin meninggalkanku"


Sandi tersenyum kemudian menarik bahu Kamila, mengecup kening wanita tersebut.


Di kota sebrang Bella masih tidak terima dengan perginya Sandi. Ia marahndi dalam kamarnya.


"Tok tok tok"


"Bella papa masuk ya? "


Bella membuang muka ketika papanya masuk ke kamarnya. Ia tak sudi melihat sang ayah.


"Bella... jangan terus seperti ini. Papa kira kamu sudah melupakan orang itu. Nyatanya kamu malah nekat membawanya ke sini di saat dia sudah berkeluarga. Kamu sadar tidak dengan yang kamu lakukan? Kamu bisa saja di penjara atas tuduhan penculikan. Untung keluarga Sandi masih mau menyelesaikan secara kekeluargaan jika tidak kamu mungkin sudah masuk penjara. Papa begitu naif, dengan mudah percaya jika kamu sudah sembuh. Besok lusa kita akan keluar negeri. Tak ada baiknya juga kamu di sini. Selain itu papa tidak bisa mengawasimu langsung" , Yuda duduk di sisi Bella yang membelakanginya sambil mengelus rambut putrinya tersebut.


Bella sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan papanya. Beberapa saat kemudian di rasa papanya sudah jauh ia lantas mengambil ponselnya yang berada di atas meja.


"Tut tut tut"


"Hei besok siapakan tempat tinggal yang aman untukku, besok aku akan terbang ke sana tut"


Ia menghubungi Ryan, Bella berencana ke kota sebrang besok.


Di sebrang sana orang yang baru saja ditelpon Bella tampak menggerutu.


"Apa lagi sih yang diinginkan wanita gila ini? Menyusahkan saja"


"Eh bukannya Sandi bersamanya... lalu untuk apa dia ke sini? "


Ryan menghubungi nomor Bella kembali untuk mengetahui tujuan kedatangan Bella ke sini. Namun Bella tak menjawab panggilannya.


"Sial tidak di angkat lagi", umpat Ryan.


" Wanita ini manakutkan. Tapi jika aku tidak menuruti kemauannya bisa - bisa dia menyuruh orang untuk menghabisiku"


Ryan menyambar kunci mobil yang ada di atas mejanya. Ia melakukan dengan kecepatan agak tinggi. Beberapa menit kemudian tibalah ia di sebuah kompleks perumahan elit.


"Ting tong ting tong", Ryan memecet bel rumah seseorang.


" Cklek"

__ADS_1


"Eh mas Ryan", seorang wanita paruh baya membuka pintu dari dalam.


" Jonas ada bi? "


"Ada mas, masuk aja! "


"Makasih bi, kalau begitu aku langsung masuk aja ya bi? "


"Iya silakan, biasa juga begitu kan"


Ryan langsung naik ke lantai atas dan menuju ke kamar Jonas temannya.


"Tok tok tok, Jo.. "


"Hei masuk", Jonas yang sudah hafal dengan suara Ryan.


" Tumben kamu nggak ngabarin dulu mau ke sini? "


"Aku buru - buru"


"Ada apa? "


"Aku butuh bantuanmu Jo"


"Apa? "


Ryan menceritakan semuanya hingga ia terlibat dengan Bella.


"Jadi selama ini kamu masih dendam sama Kamila? Astaga Yan berapa kali ku bilang masih banyak cewek yang mau sama kamu. Dan sekarang kamu terlibat dengan wanita gila itu. Ck ck ck"


"Iya. Besok dia mau datang ke sini, dia minta aku buat menyiapkan tempat tinggal selama dia di sini. Aku bingung Jo aku harus gimana? "


"Apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya, secara kamu membahayakan nyawa Sandi. Memisahkan dari keluarganya"


"Yang paling utama sekarang kamu harus tahu dulu apa tujuan Bella ke sini? Jika itu masih menyangkut Sandi lebih baik kamu mundur, jangan lagi ikut campur! Kamu bisa di penjara kalau sampai terungkap salah satu dalang menghilangnya Sandi adalah kamu. Kamu bener - bener nggak waras Yan. Bagaimana kalau orangtuamu sampai tahu? ", lanjut Jonas memberi saran.


" Iya aku sadar aku salah" Ryan mengaku salah sebab ia sudah merasa buntu saat ini.


"Trus tujuan Bella ke sini kamu sudah tahu? "


"Belum. Ku telpon nggak di angkat"


"Pintar juga wanita itu, sepertinya memang dia mau bawa - bawa kamu"


"Trus aku harus gimana Jo? "


"Kamu turutin maunya dia dulu, setelah itu kamu cari tahun tujuan dia sebenarnya apa. Jika ternyata masih berhubungan dengan Sandi atau Kamila mending kamu minta maaf dan terus terang saja kepada keluarga Sandi atau Kamila. Dan beritahu mereka jika Bella di sini. Sekali lagi jika kedatangan Bella masih menyangkut mereka. Menurutku itu yang terbaik Yan"


"Aku masih nggak habis pikir kamu malah terlibat wanita gila seperti Bella. Kamu ingat kan gimana salah satu teman kita menggodanya. Dia malah kayak over, dari situ kan kita bisa tahu kalau Bella itu rada gak waras. Kenapa kamu sekarang malah bersengkongkol sama dia", lanjut Jonas.


"Iya aku akui aku salah. Saat itu aku lagi dendam banget sama Kamila dan Sandi. Aku nggak punya pilihan dan aku ingat wanita itu yang terobsesi kepada Sandi dari dulu. Aku coba hubungi dia dan ternyata dia masih menyukai Sandi. Akhirnya dia datang lagi ke sini"


"Memang penyesalan itu di belakang", ucap Jonas sambil menepuk pundak Ryan.


" Aku nggak bisa ngasih saran yang lain bro, itu tadi saranku buat kamu", lanjutnya yang kemudian di angguki kepala Ryan.

__ADS_1


__ADS_2