
Beberapa hari kemudian Sandi dan Kamila sudah resmi menikah di KUA dan mendapatkan buku nikah. Acaranya sangat sederhana sebab hanya keluarga inti dari kedua belah pihak saja yang hadir. Kamila pun dirias natural dengan memakai baju kebaya putih dan Sandi memakai jas hitam. Akan tetapi mereka terlihat mempesona karena memang dasarnya keduanya mempunyai wajah yang menawan.
"Rasanya aku lebih deg - deg'an saat di KUA ketimbang di kantor polisi", Sandi berkata ketika sudah sampai di rumah.
" Hehehe", Kamila dan Vinni menertawakan Sandi.
Sejak kedatangan Vinni pertama kali ke rumah Doni setelahnya Vinni sering datang. Ia juga membantu Kamila di toko. Adanya Vinni membuat Kamila tidak kesepian jika ditinggal Doni dan Sandi yang bekerja serta Rafli sekolah.
"Mas mau makan? ", tanya Vinni kepada Doni.
" Kan tadi pagi sudah makan"
"Lha ini kan sudah siang? "
"Iya kan tapi masih belum setengah hari"
"Memang mesti nunggu setengah hari? "
"Iya tapi kan aku belum lapar dan aku biasa makan tengah hari"
Sandi memberi kode kepada Kamila agar naik ke atas menuju kamar. Kamila pun menurut. Mereka berdua berjalan menuju ke lantai atas. Tinggalah Doni dan Vinni di ruang tengah. Sedang Rafli sudah masuk ke kamarnya dari tadi.
Begitu di rasa keadaan sepi Doni tiba - tiba meraih pergelangan tangan Vinni dan membawanya masuk ke kamar.
"Ngapain mas? ", Vinni bicara pelan ketika sudah di dalam kamar Doni.
" Aku kangen"
"Kan hampir tiap hari ketemu? "
"Iya tapi masih kurang rasanya"
"Dasar nakal", Vinni menarik ujung hidung Doni yang mancung.
Tanpa basa - basi Doni merebahkan tubuh Vinni di atas kasur dan menindih nya. Detak jantung Doni terdengar kencang dan cepat. Bahkan keringatnya bercucuran hingga menetes di wajah Vinni yang saat ini saling pandang dengan Doni. Vinni pun paham Doni saat ini. Semakin jelas dengan sesuatu yang bergerak di bawah sana dan menekan keras. Doni semakin menekannya hingga...
"Maashh... ", panggil Vinni sudah tak stabil.
Ia melingkarkan kedua tanganya di leher Doni kemudian meraup bibir lelaki itu. Keduanya saling menyesap dan membelit. Doni semakin gila di bawah sana meski masih berpakaian lengkap. Ia ingin lebih, kemudian meraih kedua gunung kembar Vinni. Memainkannya membuat Vinni belingsatan dan beberapa menit kemudian Doni membuka kancing kebaya Vinni. Terlihat sesuatu yang putih mulus seperti ingin tumpah. Doni menatapnya dan semakin menginginkan lebih banyak. Namun ia ingat bahwa mereka belum sah. Akhirnya mereka hanya melakukan yang tipis - tipis saja. Tidak sampai melakukan yang dalam.
Di lantai atas Kamila dan Sandi sudah berganti dengan pakaian santai. Keduanya asyik memainkan ponsel masing - masing. Tiba - tiba Kamila jadi teringat kepada papanya.
'Apa yang dilakukan papa dan tante Vinni di bawah ya? Apakah mereka melakukan itu sebelum menikah? Apakah memang seperti itu gaya pacaran orang yang sudah dewasa atau yang usianya sudah matang...seperti papa dan tante Vinni? Lalu bagaimana denganku dan Sandi? Kami sudah menikah beberapa minggu yang lalu tapi kami belum sampai melakukan yang biasa di lakukan suami istri. Sebenarnya Sandi menginginkanku atau tidak aku tidak tahu. Jika dilihat dari terkadang dia yang menciumku itu seperti dia sangat menginginkan. Tapi jika seperti saat ini dia cuek seperti tidak memikirkannya. Ah entahlah... apakah hubunganku dan Sandi akan tidak jelas seperti ini terus? Kenapa juga tiba - tiba aku memikirkannya? ", di dalam hati Kamila berbicara.
Kemudian ia menoleh ke samping dan dilihatnya Sandi sudah terlelap. Ia pun lantas ikut menyusul.
Di tempat lain Ryan sudah mendengar kabar menikah nya Sandi dan Kamila.
" Sialan... ", Ryan merasa tidak Terima.
" Kenapa malah Sandi menikah dengan Kamila? Ini nggak bisa di biarin... kalian bahagia sementara aku begini - begini saja? Baiklah Sandi aku akan bermain yang sesungguhnya ", Ryan tersenyum misterius.
Beberapa hari kemudian Ryan menyuruh orang untuk mengantar sebuah bingkisan seperti kado ke rumah Kamila. Di saat bersamaan Kamila sedang berada sendiri di rumah. Vinni tidak datang hari ini.
" Mbak Kamila ya? "
"Iya saya sendiri mas"
"Ini ada paket mbak"
Kamila mengernyit sebab dirinya tidak ada memesan apa - apa.
"Tapi saya tidak ada pesan sesuatu? "
"Wah saya kurang tahu mbak, pokoknya saya mengantar sesuai alamat tertera. Disini juga ada nama pengirimnya mbak... ini yang mengirim atas nama Sandi "
"Oh, iya iya", Kamila nampak senang begitu mendengar nama Sandi di sebut si kurir.
Kamila langsung saja menerimanya, ia sudah tidak sabar ingin membuka bingkisan tersebut.
__ADS_1
Begitu di dalam rumah ia lantas membuka bingkisan tersebut. Dilihatnya lingerie seksi berwarna merah hati. Dan di dalam kotak tersebut ada selembar kertas dengan tulisan 'pakai besok malam ya di hotel xx, jam delapan tunggu aku di kamar 201. Jangan bilang ke siapa - siapa, aku malu kalau ada yang tahu😘'.
"Ah Sandi ada - ada saja", gumam Kamila sembari tersenyum bahagia.
Ia berpikir mungkin Sandi sudah siap melakukan dengannya.
Malamnya ketika di ruang tengah hanya terdapat Sandi dan Kamila. Tiba - tiba Kamila mencolek lengan Sandi.
" Ada apa? ", tanya Sandi.
" Ih begitu aja pakai surat", jawab Kamila.
Sandi justru berpikir ia yang sedang bertukar pesan dengan salah satu temannya saat ini yang di maksud Kamila.
"Surat apa... nih, handphone di bilang surat", Sandi malah menunjukkan poselnya di depan wajah Kamila yang berisi pesan dirinya dan temannya.
Kemudian Sandi pergi meninggalkan Kamila sendiri.
" Ck", Kamila berdecak.
"Kok gitu sih? Apa dia malu aku membahasnya di sini? Mungkin iya", Kamila bicara sendiri kemudian tersenyum.
" Tidak apalah hari ini dia jutek, tapi besok malam mungkin akan menjadi malam yang membahagiakan", lanjutnya.
Kamila benar - benar tidak merasa curiga dengan bingkisan yang ia terima tadi siang. Ia menyakini bahwa itu benar dari Sandi.
Besok malamnya Kamila pukul delapan kurang sudah sampai di hotel tersebut.
"Malam mbak... ", sapa Kamila kepada receptionist hotel tersebut.
" Selamat malam ibu, bisa di bantu", jawab receptionist tersebut.
"Saya mau ke kamar nomor 201"
"Oh ibu Kamila ya? "
"Iya benar sekali mbak"
Kamila kemudian diantar salah satu pelayan hotel menuju kamar. Pelayan itu membukakan pintu kamar tersebut kemudian memberikan kunci kamar kepada Kamila. Setelahnya ia undur diri.
Hati Kamila berbunga - bunga ia memindai setiap sudut kamr tersebut. Sebenarnya tidak ada yang spesial hanya ada satu yang menarik hatinya setangkai bunga mawar merah dan di dekatnya ada segelas minuman berwarna merah. Sepertinya itu sirup. Di dekat minuman itu juga ada selembar kertas kecil bertuliskan ' diminum ya biar fresh, jangan sampai kamu belum minum ketika aku datang! Aku pengen kamu strong begitu aku datang. Love you'.
Kamila tersenyum entah yang ke berapa kalinya hari ini, ia lantas mengambil minuman tersebut dan meminumnya hingga tinggal sedikit. Rasanya manis. Benar itu adalah sirup.
Di tempat lain Sandi merasa kebingungan lantaran setelah maghrib ia tidak melihat Kamila. Setiap sudut rumah sudah ia cek namun nihil. Akhirnya ia menuju kamar Rafli.
"Tot tok"
"Masuk", suara dari dalam.
" Raf, kamu tahu Kamila dimana? ", tanya Sandi agak tergesa.
" Lhoh bukannya sama mas Sandi? "
"Nggak"
"Tadi mbak Mila pas mau pergi ku tanyain bilangnya mau jalan sama mas Sandi"
"Kemana? "
"Nggak bilang mau kemana"
Sandi lantas bergegas menuju kamarnya tanpa pamit kepada Rafli. Begitu ia sampai di dalam kamar ia lantas mengambil ponsel di atas nakas dan memencet nomor Kamila.
"Tut tut tut"
"Kamu dimana? "
"Ngapain di hotel? "
__ADS_1
"Apa? "
"Hotel apa? Nomor berapa? "
"Sial", Sandi mengumpat kemudian menyambar jaket yang tergantung dan dompetnya di atas meja.
Ia berlari turun,
" San ada apa?", tanya Doni yang kaget pasalnya Sandi berlari menuruni tangga.
"Sandi keluar dulu pa", jawabnya sambil berlari keluar bahkan tak peduli dengan panggilannya kepada mertuanya yang biasanya om jadi pa.
Sandi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia khawatir kepada Kamila.
" Kamila apa yang kamu lakukan? ", ucapnya sambil. fokus pada jalanan.
Ia menyalip banyak kendaraan seperti orang kesetanan.
Di sisi lain Kamila merasa aneh dengan tubuhnya, ia merasa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Ia yang kini sudah berganti pakaian dengan lingerie merah yang di dapatnya tadi siang. Ia mencoba menambah kedinginan AC namun tetap tubuhnya merasa panas. Semakin lama semakin panas dan ia merasa aneh dengan bagian bawahnya. Tiba - tiba pintu kamar terbuka. Kamila mengira itu adalah Sandi tapi begitu ia memperhatikan dengan seksama lelaki itu bukanlah Sandi. Entah siapa lelaki itu ia tak mengenalnya.
"Siapa kamu? Kenapa masuk ke sini? "
"Tenang sayang...sepertinya kamu sudah tidak tahan", lelaki tinggi besar sepertinya bukan orang asli kota ini. Lelaki itu mendekati Kamila mencoba menyentuh pipi Kamila. Namun di tepis Kamila.
" Pergi kamu!", teriak Kamila dengan menahan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Lelaki itu terus maju mendekat, Kamila terus melangkah mundur hingga ia tersudut antara lelaki itu dan ranjang.
Sandi yang baru sampai lantas memarkirkan motor asal di depan hotel dan berlari menuju receptionist.
"Nomor 201 lantai berapa? ", tanpa basa - basi ia bertanya.
" Cepat teman saya sedang sakit! " , bohong Sandi karena tak kunjung di jawab malah seperti orang kaget si receptionistnya.
"Lan.... lantai 20 pak", gagap receptionist tersebut lantaran masih kaget dengan kedatangan Sandi.
Sandi lantas berlari menuju lift namun sepertinya akan lama hingga ia mencari pilihan lain, menaiki tangga. Ia terus berlari menaiki tangga walau sebenarnya sudah kelelahan namun ia tak boleh berhenti. Hingga ia sampai di lantai 20, ia mencari nomor kamar tersebut.
Setelah menemukannya Sandi langsung memutar knop pintu beruntung pintunya tidak di kunci. Orang itu lupa mengunci pintunya ia berpikir Kamila yang sudah terbakar nafsu tidak akan bisa lari.
Begitu pintu terbuka mata Sandi di suguhi pemandangan Kamila sudah ada di bawah kungkungan seorang lelaki namun belum sampai yang bawah. Lelaki itu berusaha mencumbu Kamila. Terlihat Kamila berusaha menolak dengan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri serta kakinya berusaha bergerak seolah ingin lepas dari kungkungan lelaki tersebut. Sedang tangannya di pegang erat ke atas oleh salah satu tangan lelaki tersebut. Lelaki tersebut menciumi wajah Kamila. Kamila berusaha berteriak namun susah. Ia memberontak dari lelaki itu namun ia juga melawan rasa aneh di tubuhnya. Ia menginginkan yang dilakukan lelaki tersebut namun ia berusaha tetap ingat bahwa itu bukan suaminya.
Sandi menarik lelaki tersebut dari belakang dan memukulinya tanpa ada jeda. Ia sudah naik pitam. Hingga suara seorang wanita yang berada diatas kasur saat ini menghentikan aktifitasnya.
"Sandi... ", suara Kamila parau dengan linangan air mata di wajahnya. Tangannya terulur ke arah Sandi seolah ingin lelaki itu meraihnya.
Saat Sandi melihat Kamila lelaki yang dihajar tersebut berusaha bangkit namun Sandi mengetahuinya.
" Jangan pergi kamu, tunggu polisi datang! ", ucap Sandi.
" P... pak saya sungguh tidak tahu apa - apa, saya hanya membeli wanita itu kepada seseorang", ucap lelaki tersebut.
"Tolong pak sungguh saya tidak tahu apa - apa?", lelaki itu duduk di bawah Sandi dan memohon.
" Saya mohon pak jangan laporkan saya ke polisi, saya hanya membeli. Sungguh"
"Sandi... ", Kamila memanggil lagi dengan tangannya masih terulur.
" Pergi sialan! " , bentak Sandi kepada lelaki tersebut.
Lelaki itu pun lantas pergi dan Sandi meraih ukuran tangan Kamila. Hatinya hancur melihat keadaan Kamila seperti ini. Kamila menangis namun juga seperti tersiksa menahan sesuatu. Sandi paham hal itu. Istrinya saat ini sedang dalam pengaruh obat perangsang. Sandi kemudian memindai sekujur tubuh Kamila... bagian dada masih tertutup kain walaupun bagian itu terbuka karena memang bentuk bajunya seperti itu. Kemudian matanya berpindah ke arah bawah, di singkapnya pakaian Kamila masih terbungkus kain di bawah sana. Berarti belum sampai di masuki batin Sandi. Kemudian ia berusaha membangunkan Kamila dari posisinya hingga terduduk. Sandi memeluk Kamila.
"San... aku panas", ucap Kamila lirih dengan deru napas tak beraturan.
Sandi mengangguk kemudian membopong Kamila menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dimana posisi dirinya dan Kamila saat ini tepat di bawah shower. Air mengucur membasahi keduanya.
Kamila masih menangis dan masih di peluk Sandi. Sandi menuntunnya untuk duduk di lantai kemudian berkata...
"Mana? Mana saja yang di sentuh? Mana yang kotor ? Sini aku bersihkan! ", Sandi mengusap dari pucuk kepala Kamila hingga ke anggota tubuh lainnya dengan menangis terisak.
__ADS_1
Sandi berusaha membersihkan tubuh Kamila dari bekas lelaki tadi sembari menangis. Ia sakit melihat istrinya di kotori lelaki lain. Kamila juga masih menangis. Keduanya menangis.