
Siang itu juga Yuda dan Niko baru tiba. Yuda menghubungi Sandi begitu sampai di bandara kota tersebut.
"Halo Anto... eh Sandi, aku dan paman Yuda sekarang berada di bandara".
" Baguslah kalian datang, Bella berulah. Dia menusuk perut Kamila"
"Apa? "
"Iya sekarang aku sedang berada di rumah sakit? "
"Bagaimana keadaan Kamila? "
"Belum tahu, dia masih di tangani dokter diruang IGD"
"Lalu Bella dimana? "
"Tadi dia masih di rumah di tangani oleh warga, aku belum tahu untuk saat ini"
"Beri alamat rumahmu aku dan paman akan ke sana sekarang! "
"Baiklah! "
Tak lama kemudian Sandi mengirim alamat rumah Doni kepada Niko. Namun baru beberapa menit setelah ia mengirim pesan kepada Niko. Ia mendapat telpon dari kantor polisi yang menginginkan kesaksiannya. Bella sudah di bawa ke kantor polisi.
Sandi lantas menghubungi Niko kembali dan memberitahu keberadaan Bella saat ini.
"Pak tolong antarkan kami ke kantor polisi A! ", ucap Niko kepada sopir taksi.
" Baik Pak" , jawab si sopir.
"Ada apa Niko? ", Yuda yang sudah kelihatan lelah. Bukan lelah perjalanan namun lelah karena ulah anaknya.
" Bella di kantor polisi paman"
"Huh... pada akhirnya", ucap Yuda.
" Paman yang sabar", Niko menepuk punggung tangan Yuda.
"Memangnya ada pilihan lain, selain sabar? "
"Yang ku khawatirkan pun terjadi", lanjut Yuda.
" Kita ikuti prosesnya saja paman! ", Niko menyarankan kepada pamannya.
Revan menghubungi keluarganya agar segera datang ke rumah sakit. Sebab ia juga diminta datang ke kantor polisi sebagai saksi. Beberapa menit kemudian Doni datang dan tak lama orangtua Revan juga datang.
__ADS_1
" Pak, buk... Revan dan Sandi pergi dulu ke kantor polisi? ", pamit Revan.
" Om ikut Van, seperti apa sih si Bella itu? ", Doni penuh amarah.
" Iya biar bapak dan ibuk yang tungguin Kamila"
Di kantor polisi sudah ada Yuda dan Niko, Vinni yang masih menggendong Ameera serta seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah tetangga yang menolong tadi.
Semua yang menjadi saksi pun di interogasi satu persatu.
Doni geram bukan main ketika mengetahui perempuan bernama Bella yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan diwajahnya. Rasanya ingin mencakar wajah perempuan tersebut, tidak peduli Bella seorang wanita atau bukan. Namun ia masih waras, jika saat ini ia berada di kantor polisi. Bella sama sekali tidak ada raut penyesalan, sedih, menangis. Justru terlihat cuek dan tenang - tenang saja. Ketika ditanya polisi pun menjawab dengan enteng, jika dirinya hanya ingin mengambil apa yang ia sukai. Ia tidak peduli jika sudah melukai orang lain.
"Bella... kenapa kamu lakukan itu?", Yuda berbicara pelan kepada sang putri yang duduk di sebelahnya.
" Bella kan sudah bilang kalau Bella mau Antonio. Wanita itu saja yang keras kepala tidak mau memberikannya. Padahal Bella sudah minta baik - baik", dengan lancarnya Bella menjawab pertanyaan papanya.
"Grrt", Doni menggertakan giginya mendengar jawaban Bella.
Sedang Revan hanya geleng - geleng kepala, 'dasar tidak waras', dalam hatinya.
" Dia bukan Antonio, dia Sandi dan wanita yang kamu tusuk adalah istrinya", Yuda berusaha menyadarkan Bella.
"Aku tahu tapi dia sudah jadi Antonio. Bukan Sandi lagi. Itu artinya dia tak punya istri sebab Sandi sudah tiada"
Beberapa menit kemudian datang Ryan dengan papanya. Lantaran polisi bertanya setelah Revan menceritakan bahwa dirinya mendapat informasi kedatangan Bella dari Ryan.
Ryan kemudian berlutut di kaki Sandi meminta maaf, ia mengakui jika dirinya adalah salah satu dalang yang membuatnya hilang. Tentu saja Sandi terkejut mendengarnya. Bahkan bukan Sandi saja, Revan dan Doni pun juga.
"Aku nggak nyangka kamu sebejat itu Yan, kamu belum puas melecehkan Kamila dan kemudian memisahkan kami"
Papa Ryan naik pitam mendengar ucapan Sandi lantas menampar pipi Ryan.
"Dasar anak kurang ajar. Papa tidak pernah mengajarkan kamu hal sekotor itu"
"Dia harus di penjara juga! ", ucap Doni tiba - tiba.
" Apa salah anakku sampai kamu melecehkannya? ", lanjut Doni.
" Maaf om saya terlalu terbawa perasaan hingga akhirnya menyimpan dendam", aku Ryan.
Doni hampir mengeluarkan tinjunya namun sudah di lerai polisi terlebih dulu.
"Dasar bodoh", umpat Bella kepada Ryan sambil tersenyum mengejek.
Wanita itu memang sepertinya tidak waras. Atau mungkin psikopat.
__ADS_1
Pihak kepolisian pun masih mengusut kejadian ini. Yuda juga memilih mengikuti prosedur dari kepolisian sebab ia tak bisa berbuat apa - apa lantaran semua bukti sudah mengarah kepada Bella. Ryan yang ikut terlibat juga sudah mengakui. Karena memang Bella mempunyai masalah kejiwaan, polisi pun belum bisa menahannya bersama napi lainnya. Ia dimasukan ke rehabilitasi agar kejiwaannya membaik. Sedangkan Ryan, ia juga mendapat hukuman atas perbuatannya.
Di rumah sakit Kamila sudah melewati masa kritis namun belum sadarkan diri. Ia sudah di pindah ke ruang inap. Setelah dari kantor polisi mereka yang tak lain Sandi, Revan, Doni, Vinni serta Ameera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Kamila.
"Maa maa.. ", Ameera mengoceh memanggil mamanya yang terbaring masih menutup mata.
Sandi membawa Ameera mendekat hingga di samping Kamila. Melihat Kamila yang terbaring tak berdaya membuat hati Sandi bagai di sayat - sayat walaupun ia belum bisa mengingat. Hingga ia meneteskan air mata di depan semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Sabar, doakan dia supaya lekas sembuh! ", Yani menepuk pundak putra keduanya tersebut.
Beberapa menit kemudian yang lain keluar dari ruangan karena akan pulang. Sebelum pulang Andi berbicara dengan Sandi.
" Sebegitu cintanya kamu sama dia? hm? ", Andi menepuk pundak Sandi sambil tersenyum.
Sandi tak menjawab namun Andi sudah paham.
Tiga hari di rumah sakit akhirnya Kamila hari ini sudah di perbolehkan pulang. Hanya masih harus kontrol hingga luka bekas tusukannya benar - benar sudah membaik.
Sandi sangat telaten mengurus Kamila dan ingatannya perlahan kembali dengan sendirinya.
"Hm... mas gimana dengan Bella sekarang ya? ", tanya Kamila tiba - tiba di sela ia sedang di suapi bubur ayam oleh Sandi.
" Entahlah, jangan ngomongin dia! Aku merinding jika ingat"
"Kenapa? "
"Dia seperti... bukan dirinya setelah menusuk kamu yank. Susah jelasinnya pokoknya. Kayak orang yang di rasuki setan seperti di film - film horor. Hii... ", Sandi merinding yang menceritakan Bella kembali.
" Apa dia di sini mas? ", Kamila masih penasaran.
" Nggak, dia nggak di kota ini. Lagian menakutkan juga kalau dia di sini. Dia di pindah ke kota sebrang agar keluarganya bisa lebih mudah mengunjunginya"
"Tapi jujur aku kasihan pada om Yuda yank... dia sebenarnya orangnya baik tapi kenapa anaknya bisa seperti itu ya? Dan tante Reva ternyata selama ini tidak begitu suka Bella tinggal serumah dengannya. Bukan karena benci atau tidak suka, tapi karena penyakitnya Bella itu", lanjut Sandi.
"Tapi syukurlah semua sudah berakhir ya mas, semoga Bella cepat sembuh dari penyakitnya"
"Iya aamiin, tapi aku kurang yakin sih"
"Hah kenapa begitu? "
"Karena setahuku penyakit kejiwaan itu susah yank sembuhnya, tapi ya nggak tahu sih. Aku kan bukan dokter"
"Hehehe", keduanya tertawa.
TAMAT
__ADS_1