Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Hukuman


__ADS_3

Setelah Sandi mendapat telpon dari sang ibu kemarin maka sore ini ia mengajak Kamila untuk pulang ke rumah orangtuanya. Rencananya mereka akan menginap semalam di rumah pak Andi.


"Akhirnya datang juga", seru ibu Yani ketika melihat Sandi dan Kamila masuk ke dalam rumah.


Kedatangan Sandi dan Kamila pun di sambut baik oleh seluruh anggota keluarga pak Andi. Mereka berusaha melupakan apa yang sudah berlalu dan berusaha menerima Kamila sebagai anggota keluarga. Sandi dan Kamila menyalami seluruh anggota keluarga yang memang semuanya berkumpul di ruang keluarga hanya untuk menunggu kedatangan mereka.


"Ayo kita langsung aja makan ya, mumpung masih hangat! ", ajak ibu Yani.


" Iya langsung makan sekarang saja", pak Andi menimpali.


Mereka semua menuju ruang makan dimana sudah terdapat berbagai macam makanan. Karena ibu Yani sengaja menyuruh mbak Surti memasak beberapa menu makanan.


"Wih... banyak banget makanannya", ucap Sandi.


" Iya. Ibuk memang sengaja menyuruh Surti masak beberapa menu. Soalnya kamu mau datang"


"Tuh lihat San! Semua menu kesukaan kamu", Revan berkata.


" Ya tidak apa - apalah Van, adikmu kan sekarang sudah tidak tinggal sama kita", ibu Yani membela.


"Ayo Kamila jangan sungkan - sungkan! ", imbuh ibu Yani.


" Iya Kamila ayo ambil saja apa yang kamu suka! Ini semua menu kesukaan Sandi. Ibumu Yani sangat rindu pada suamimu makanya hari ini menunya kesukaan Sandi semua", pak Andi menambahi.


"Iya om", balas Kamila.


" Bapak. Sekarang panggil bapak! Kamu kan sudah jadi istrinya Sandi".


"Iya om eh bapak", Kamila lupa lagi padahal baru saja di beritahu.


" Tidak apa - apa", ucap pak Andi agar menantu barunya itu lebih tenang.


"Sekarang kalau panggil saya juga ibuk jangan tante! ", ibu Yani menambahi.


Kamila mengangguk dan tersenyum. Setelahnya hanya sesekali mereka berbicara karena fokus makan. Hingga acara makan pun selesai. Kamila dan Alya membantu ibu Yani membereskan sisa - sisa makan mereka karena mbak Surti sudah pulang. Di sela - sela mencuci piring,


"Mbak... Mila minta maaf ya atas kesalahan Mila yang sebelumnya? ", Kamila meminta maaf kepada Alya yang saat ini sedang mencuci piring sedang Kamila sendiri membantu membilas cucian piring.


" Iya udah di maafin kok", jawab Alya dengan tersenyum manis.


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting dia menyadari kesalahannya dan mau berubah lebih baik", tambah Alya.


" Terimakasih mbak"


Alya tersenyum sebagai tanggapan kepada Kamila. Saat ini hanya mereka berdua yang berada di dapur. Ibu Yani sedang berada di ruang keluarga bersama pak Andi dan Sandi. Mereka sedang berbincang entah membicarakan soal apa. Mungkin melepas rindu.

__ADS_1


"Yank Alre bangun sepertinya haus", Revan datang tiba - tiba ke dapur dan pergi lagi setelah memberitahu Alya.


" Oh iya bentar aku ke kamar! Kamila aku tinggal dulu ya Alre bangun! "


"Ah iya mbak tinggal aja biar Mila yang selesaikan! "


Setelahnya tinggalah Kamila sendiri di dapur melanjutkan mencuci piring. Beberapa menit kemudian selesailah mencuci piring, Kamila keluar dari dapur dan tak sengaja berpapasan dengan Revan yang keluar dari kamarnya.


"Mas... ", sapa Kamila.


Revan mengangguk dan tersenyum, baru ia akan melangkah Kamila sudah berucap kembali


" Mas, bisa kita bicara sebentar? Aku tidak bermaksud buruk"


Revan mengangguk sebagai jawaban kemudian berucap,


"Ayo bicara di samping rumah! "


Revan mengajak Kamila menuju samping rumah keluar melalui pintu belakang. Sesampai di samping rumah yang letaknya pas bersebrangan dengan ruang keluarga tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan. Orang itu adalah Sandi. Ia tak sengaja melihat Revan dan Kamila berbicara di samping rumah yang bisa kelihatan karena terdapat jendela kaca. Sedang kedua orangtuanya tidak menyadari hal itu. Sandi berusaha agar sikapnya biasa saja agar orangtuanya tidak curiga. Walaupun sebenarnya sudah ada yang mendesak dadanya. Ia mungkin cemburu.


"Mas aku minta maaf atas segala kesalahanku. Aku yang membatalkan pernikahan kita secara sepihak. Kemudian berusaha merebut dirimu dari mbak Alya dengan tak tahu malunya. Tolong maafkan aku mas! Aku sangat menyesal", ucap Kamila kepada Revan.


" Sudahlah Mil semua sudah berlalu yang penting sekarang kamu sudah menyadarinya"


"Apakah itu artinya mas memaafkanku? "


"Terimakasih mas"


"Sama - sama. Ya sudah aku duluan masuk ke dalam nggak enak jika ada yang melihat"


"Iya mas, silakan mas duluan! "


Di tempat lain,


"Bapak sama ibuk istirahat gih! Sandi juga mau istirahat"


"Ya sudah bapak dan ibuk ke kamar dulu! Ibukmu tadi siang sampai tidak tidur sangking antusiasnya pengen ketemu kamu"


"Benar buk? "


"Iyalah, kamu kan anak ibuk juga", ibu Yani membenarkan yang dikatakan suaminya.


" Ya sudah kalau gitu ibuk istirahat sekarang! ", perintah Sandi.


" Iya ibuk sama bapak duluan ya, kamu juga jangan larut - larut tidurnya! "

__ADS_1


"Iya buk"


Pak Andi dan ibu Yani pun pergi menuju kamar mereka. Sandi kemudian juga beranjak dari duduknya menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sudah dari tadi ia menahan sesuatu yang mengganjal sesak di dadanya. Sesampainya di kamarnya Kamila belum ada dan Sandi sudah tahu hal itu. Beberapa menit kemudian Kamila masuk kamar.


"Dari mana kamu? ", Sandi bertanya kepada Kamila dengan nada sudah agak tidak bersahabat.


" Dari samping rumah ", Kamila menjawab jujur.


" Sama siapa? ",Sandi menginterogasi seolah Kamila penjahat.


" Ehm.... sama... ", belum sempat Kamila menyebutkan siapa orang yang bersamanya tadi Sandi sudah menarik tangannya hingga keduanya terjatuh di atas kasur.


Dimana posisi saat ini Sandi menindih Kamila dan mencium bibir Kamila dengan beringas. Kasar dan penuh penekanan. Kamila merasa sangat tidak senang namun Sandi tidak mau melepaskan ciumannya yang justru semakin menggila.


"Ehm ehm... ", Kamila berusaha berontak dengan tangan sebelah memukul - mukul punggung Sandi.


Namun Sandi sama sekali tak terpengaruh. Ia melepaskan ciuman di bibir kemudian beralih membuka penutup kepala Kamila. Leher Kamila yang sekarang di incarnya. Sandi menciumi dan menyesap kulit putih halus. Tidak berhenti di situ Sandi juga meremas kuat dada Kamila. Hingga Kamila kesakitan.


"Sss-San saki...t", ucapnya sambil meringis kesakitan.


" Sakit? Apa yang kamu lakukan dengan kakakku hah? Apa belum cukup aku menjadi suamimu? "


"A-aku hanya minta maaf sshh... ", Kamila masih kesakitan karena Sandi belum melepaskannya.


" Minta maaf? Ini hukuman buat orang yang sudah bersuami masih gatel sama lelaki lain",


Kemudian Sandi menyingkap ke atas gamis yang di pakai Kamila hingga ke perut. Melorotkan celana leging yang di pakai Kamila hingga kelihatanlah paha sampai ke bawah Kamila. Lalu Sandi mencengkram salah satu paha Kamila kuat - kuat dengan tangan satu. Sedang tangan yang satunya ia gunakan untuk mengunci kedua tangan Kamila di atas kepala. Tangan Sandi berpindah ke paha sebelahnya.


"Sann.... saakiitt... hiks hiks", Kamila menangis karena kesakitan.


" Bilang apa? ", Sandi berbicara dengan kasar.


" Hm...? Bilang apa? ", lanjutnya karena Kamila hanya diam dan menangis.


" San... ", Kamila bersuara setelahnya.


" Minta maaf! ", perintah Sandi dengan membentak keras.


" A- aku minta maaf San? Tolong sudah... sakiit..! ",


" Aku mohon maafin aku... aku nggak ulangi? ", lanjut Kamila memohon.


Sesaat kemudian cengkraman tangan Sandi di paha mengendur dan melepaskan kuncian pada tangan Kamila.


" Jangan ulangi lagi! ", perintah Sandi dengan suara pelan dan lembut.

__ADS_1


Kemudian berdiri menuju keluar kamar meninggalkan Kamila. Kamila yang sendirian merasa lemas dan menangis tanpa memedulikan pakaiannya yang di singkap oleh Sandi. Di sisi lain Sandi yang saat ini berada di teras merasa tidak karu - karuan, antara menyesal telah berbuat kasar kepada Kamila dan kesal dengan perbuatan Kamila yang berbicara berdua dengan sang kakak.


Tiga puluh menit berlalu Sandi memutuskan masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Begitu masuk kamar ia di suguhi dengan pemandangan yang entahlah apakah menyenangkan atau sebaliknya. Kamila tidur terlelap tanpa menurunkan pakaian yang di singkap Sandi hingga kelihatanlah sesuatu yang indah berbalut kain warna hitam dan paha mulus yang lebam akibat perbuatan Sandi. Entah kulit Kamila yang sensitif atau karena tangan Sandi yang terlalu kuat mencengkram. Sandi mengusap wajahnya dengan sedikit menarik hidungnya. Kemudian ia menurunkan pakaian Kamila dan menyelimuti tubuhnya. Ia juga mengambil bantal untuk di jadikan pijakan kaki Kamila agar tidak menggantung di lantai.


__ADS_2