Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Temani Aku


__ADS_3

Besoknya hati Kamila berbunga - bunga setrika sedang memasak di dapur. Ia mengingat kegiatannya bersama Sandi semalam. Sakit karena ia baru pertama kali namun juga enak. Bahkan saat ini masih bengkak di bawah sana. Entah mengapa ia merasa senang melihat Sandi yang begitu semangat menghujamnya. Baru kali ini ia melihat Sandi yang begitu liar namun seperti luluh seketika di saat di suguhi kenikmatan. Sulit diungkapkan yang pasti ua senang melihat Sandi yang bukan seperti Sandi biasanya.


"Eh kenapa senyum - senyum sendiri? ", tanya Vinni yang tiba - tiba masuk ke dapur.


Vinni memeng di suruh Doni datang lebih awal karena ia merasa khawatir jika Kamila berada di rumah sendiri. Jika ada Vinni Kamila tidak akan sendirian.


" Ah nggak tan cuma ingat hal yang lucu"


"Apa tuh? ", goda Vinni.


" Ah tante mau tau aja"


Tiga puluh menit kemudian makanan telah siap di meja makan. Semua orang sudah siap di ruang makan. Hanya Sandi yang belum turun.


"Sandi mana? Coba panggil suamimu! " perintah Doni.


Kamila tidak menjawab namun langsung berjalan menuju ke atas. Begitu ia masuk kamar ia mendapati Sandi seperti mencari sesuatu.


"Cari apa mas? "


"Eh yank aku cari jam tanganku dimana ya? "


"Tuh di meja rias aku", tunjuk Kamila.


" Kok bisa di meja rias kamu yank jelas - jelas aku ingat kemarin ku taruh di dalam lemari"


"Mas yang pikun deh kayaknya soalnya aku temukan di atas kasur dekat bantal"


"Masa iya? "


"Hm, masa aku bohong? "


Sandi kemudian melingkatkan arlojinya di pergelangan tangan kanannya. Setelah itu ia berdiri di depan sang istri dan tanpa babibu ia tiba - tiba ******* bibir istrinya. Kamila pun membalas hingga mereka semakin intens.


"Mas udah. Ayo sarapan semua sudah di bawah. Mas nanti juga bisa telat kalau kelamaan "

__ADS_1


"Bentar aja sayang", ucap Sandi kemudian berjalan mengunci pintu.


Setelahnya ia menghampiri sang istri menciumnya kembali beberapa detik dan kemudian membalikan tubuh istri membuatnya menungging dengan berpegangan kasur. Sandi menyingkap gamis sang istri dan melucuti bagian bawahnya. Dan mereka pun melakukannya lagi. Membuat bayi. Hingga beberapa menit kegiatan itu selesai. Sandi mau tidak mau mandi lagi. Baru setelah rapi dengan baju kerjanya ia turun untuk sarapan. Orang - orang sudah selesai makan ketika Sandi sampai.


"Kok baru turun? Kita sudah selesai sarapan? ", ucap Doni.


" Iya pa, tadi Sandi mencari arloji dulu"


"Kamila mana? "


"Masih di atas nggak tahu ngapain tadi dia"


"Mas... ", Vinni menegur Doni.


Doni tidak mengerti kode dari Vinni hingga begitu sudah di teras ia pun bertanya dengan berbisik.


" Ada apa sih dek tadi kamu? "


"Hm mas ini masa nggak tahu... mas lihat nggak rambut Sandi masih basah bahkan masih ada yang menetes"


"Bisa aja tadi mereka di atas ehem ehem makanya Sandi ketinggalan sarapan. Soalnya tadi pas aku datang kesini sepertinya Sandi sudah selesai mandi. Tapi barusan mandi lagi kelihatannya"


"Wah bagus kalau begitu... itu berarti perkembangan hubungan mereka sudah lebih matang. Tidak seperti sebelum - sebelumnya. Tidak seperti suami istri"


"Hah...? ", Vinni yang baru tahu merasa tak percaya.


" He'em. Hubungan mereka sebelumnya begitu. Aku berangkat dulu ya hati - hati di rumah sama Kamila! "


"Iya mas, hati - hati juga ya? "


Doni mengangguk dan tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan halaman rumah tersebut. Ketika di rasa mobil Doni sudah tidak terlihat Vinni kemudian masuk ke dalam rumah.


Di sisi lain Kamila tersenyum sendiri membayangkan sambil mengelus perutnya yang masih rata. Ia sadar jika sudah ada benih Sandi di rahimnya suatu saat pasti akan jadi pikirnya. Kemudian ia teringat bahwa Sandi pasti makan sendiri di bawah. Ia pun lantas turun menghampiri Sandi.


"Udah selesai makannya? "

__ADS_1


"Hm baru aja"


"Ya udah aku berangkat dulu ya", pamit Sandi kemudian mencium bibir Kamila sebentar sambil meremas bokong Kamila.


Vinni tak sengaja melihat adegan itu ketika ia bermaksud menuju dapur. Ia langsung buru - buru berbalik dan masuk kamar. Tidak ingin Kamila dan Sandi malu jika mengetahui dirinya berada di sana.


Di tempat lain Ryan tampak mengacak - acak rambutnya ketika di ruang kerjanya. Ia marah lantaran rencananya gagal. Ia gagal ingin merusak Kamila. Ia ingin wanita itu rusak mentalnya tapi lagi - lagi gagal oleh Sandi. Ia pun berpikir apakah ia harus mengganti targetnya? Bukan lagi Kamila tapi Sandi. Apa iya harus begitu sebab yang terkuat di sini Sandi. Jika ingin menghancurkan yang lemah bukankah merobohkan yang kuat dulu akan lebih baik pikir Ryan. Ia pun mulai memikirkan cara untuk melakukan sesuatu kepada Sandi.


"Tunggu aja San! ", ucapnya.


" Aku nggak rela kalah begini. Aku saja tidak bisa mendapatkan Kamila beraninya kamu malah menikah dengan Kamila. Wanita itu harus hancur".


"Baiklah untuk saat ini kalian akan ku biarkan bersenang - senang dulu tapi nanti ketika waktunya sudah tiba kalian akan menangis hahaha", lanjutnya.


Dua minggu setelahnya selama ini tampak kedamaian di dalam rumah Doni. Tidak ada tanda - tanda yang mencurigakan. Mereka saat ini mulai mempersiapkan untuk acara pernikahan Doni dan Vinni. Rencananya pernikahan akan di adakan sederhana saja di rumah Doni dan di hadiri anggota keluarga saja.


Hubungan Sandi dan Kamila semakin baik serta bahagia. Mereka juga berencana akan tinggal terpisah setelah Doni dan Vinni menikah. Karena sepertinya kurang nyaman jika Kamila dan Sandi masih tinggal bersama Doni. Walaupun sebenarnya Doni dan Vinni tidak mempermasalahkan jika mereka masih tinggal bersama dalam satu atap.


Keputusan mereka juga mendapat respon positif dari keluarga Sandi. Memang sudah seharusnya Sandi dan Kamila memiliki rumah sendiri.


Dua minggu kemudian pernikahan Doni dan Vinni pun di laksanakan. Meskipun hanya anggota keluarga tapi tak mengurangi suasana riuh di rumah tersebut. Mereka seperti di satukan kembali dalam satu keluarga setelah kepergian Farah dan kini Doni bersama Vinni yang merupakan adik Farah. Semua tampak bahagia namun sayangnya Kamila tidak bisa bergabung lama dengan anggota keluarganya yang saat ini lengkap. Pasalnya tiba - tiba Kamila merasa kepalanya pusing sehingga ia memilih istirahat di kamarnya. Sesekali Sandi ke atas untuk memastikan keadaan Kamila. Dilihatnya Kamila tidur pulas, ia mengelus kepala sang istri.


"Nanti malam kita ke dokter saja kah? ", ia bertanya kepada istrinya tak peduli yang ditanya mendengar atau tidak.


" Nggak usah, mungkin nanti juga sudah hilang pusingnya? ", ternyata Kamila mendengar namun matanya tetap tertutup.


" Kemarin - kemarin begini nggak? "


"Iya beberapa hari ini. Mungkin efek kelelahan membantu persiapan pernikahan papa"


"Ya udah nanti kalau belum membaik juga kita ke dokter ya. Supaya tahu penyakitnya"


"Hm"


"Tidur lagi gih! "

__ADS_1


"Temani aku di sini! Peluk aku mas! "


__ADS_2