Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Berubah Baik itu Tidak Mudah


__ADS_3

Begitu Sandi sudah tidak kelihatan lagi Kamila melangkahkan kakinya belum sampai di pintu sang Ayah sudah membuka pintu dari dalam.


"Papa? ",


" Sudah pulang? Naik ojek kok tadi ayah dengar suara motor? "


"Bukan, tadi itu Sandi yang antar Mila pa. Papa kok bisa dengar suara motor? "


"Iya papa memang nungguin kamu di ruang tamu. Papa khawatir saja soalnya kamu kan sudah lumayan lama tidak keluar malam"


"Oh, papa tidak usah khawatir Mila tidak kenapa - kenapa kok"


"Tetap saja papa khawatir Mila, kamu anak ayah. Ya sudah ayo masuk! "


Mereka masuk ke dalam rumah, sambil berjalan Kamila hanyut dalam pikirannya. Ia merasa terharu dengan sang ayah yang begitu mengkhawatirkannya.


'Kemana saja aku selama ini? Kenapa aku bisa tidak menyadari betapa sayang orangtuaku pada diriku? Mama yang selalu cerewet pada diriku juga karena sayang. Mama...aku kangen mama. Selama ini papa dan mama sering memberi nasehat namun aku tidak mau mendengar. Jika saja aku mau mendengarkan mereka, mungkin saat ini aku sudah bahagia dengan mas Revan. Jika saja waktu bisa di putar kembali, tak mengapa tidak menikah dengan mas Revan asal aku bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Papa,


mama, dan adikku Rafli. Sekarang aku sadar diriku yang dulu lebih banyak menghabiskan waktu luang ku dengan teman - teman daripada dengan keluarga. Maafkan Kamila pa, ma, Rafli...? '


"Mila... ", Pak Doni menepuk pundak putrinya.


" Eh iya pa ada apa? ", Kamila tersadar begitu sang ayah memanggil dan menepuk pundaknya.


" Kok malah melamun. Kamu nggak pergi ke kamarmu? "


"Oh iya. Kalau begitu Mila ke kamar dulu ya pa? "


"Iya, jangan tidur terlalu malam! ", teriak pak Doni ketika Kamila menaiki tangga.


" Iya pa"


Pov Sandi


Malam ini aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi, mantan calon kakak ipar. Dia masih cantik, malah lebih cantik dan anggun dengan penampilannya yang baru. Entah perasaanku saja atau memang benar, dia kelihatan seperti salah tingkah jika berhadapan denganku. Dan anehnya walau aku bicara dengan nada ketus padanya, dia terlihat datar saja. Seperti tidak menggubris. Andai saja dia saat itu tidak membatalkan pernikahan dengan kakakku mungkin sekarang mereka sudah bahagia dan punya anak. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, tiba - tiba membatalkan pernikahan secara sepihak. Kemudian mengejar kakakku lagi dan sekarang dia berubah. Jika ingat apa yang diperbuatnya dulu jujur aku muak melihatnya bahkan hingga sekarang. Melihatnya yang sekarang berubah baik dari penampilan maupun sikapnya membuatku ilfeel. Benarkah dia sudah berubah ataukah hanya ingin terlihat baik saja?


Bisa ya orang berubah dalam waktu beberapa bulan ? Apa lagi sebenarnya yang dia rencanakan? Jika saja aku sudah tidak punya hati nurani, aku pasti sudah membiarkan saja dia di pinggir jalan. Peduli amat di goda orang contohnya kedua temanku tadi yang ingin mendekatinya. Tapi aneh, aku tak bisa cuek padanya di saat situasi seperti tadi. Aku melihat dia sebagai perempuan yang harus di lindungi. Padahal sudah nyata apa yang diperbuatnya kepada keluargaku.


"Wanita yang tidak bisa di tebak", gumam Sandi sambil berbaring di atas kasur.


Disebuah kamar,


" Yank adek kok boboknya larut? ", tanya Revan sembari memijat kaki sang istri.


" Iya ada memang bayi yang seperti itu yank. Tidurnya larut", jawab Alya sedang memangku bayinya yang belum tidur.


"Bisa teler kalau nggak ada yang bantu jagain, ngajak begadang mulu sih"


"He'em"


"Alre, Alre nggak bobok? Hm... belum ngantuk? ", Alya mengajak bayinya bicara. Tampak bayi itu hanya menggerak - gerakan kepalanya dengan mata yang masih terang.

__ADS_1


" Rasanya aku nggak nyangka lho yank udah jadi bapak. Gendong bayi ya Tuhan... makhluk mungil itu adalah anakku"


"Seperti nggak bisa dipercaya kan? "


"Iya. Aku yang seperti ini tiba - tiba sudah punya anak, membawanya dalam dekapanku. Rasanya itu antara nggak bisa di percaya dan luar biasa sampai sulit untuk di utarakan"


"Hehehe"


"Makasih yank sudah hadir dalam hidupku dan melahirkan anakku? ", Revan mengelus pipi kiri Alya.


" Aku juga berterimakasih mas sudah menjadi suami yang bertanggungjawab, menerima dan menyayangi Faya seperti anak sendiri yang jelas bukan darah daging mas. Ya walaupun awal pernikahan kita rasanya berat bagiku. Mas yang masih mencintai mantan mas dan wanita itu juga mengejar mas. Aku sampai tidak tahu harus di bawa kemana rumah tangga kita yang bahkan usianya masih hitungan hari"


"Maafkan aku yang saat itu yank? Aku akui saat itu aku pun juga merasa berat. Hatiku masih terikat pada Kamila tapi tak bisa menempatkannya di sisiku sebab apa yang diperbuatnya sangat menyakiti keluargaku. Aku memang egois, sudah menikah denganmu namun masih ingin bersama Kamila. Aku saat itu tidak bisa memilih, Kamila wanita yang begitu aku cintai dan dirimu istriku yang sangat penting karena sudah menerimaku apa adanya. Di saat aku jatuh terpuruk kamu menerimaku. Terimakasih sudah menjadi istriku yang sabar dan maaf sudah menyakitimu? "


"Sudahlah mas, semua sudah berlalu yang terpenting sekarang mas sudah sadar dan berusaha memperbaikinya"


"Makasih sayang? "


"Sama - sama mas"


"Eh Alre sudah bobok"


"Eh iya, mungkin obrolan kita seperti dongeng buatnya. Hehehe. Aku pindahin ke ranjangnya dulu mas"


"Hati - hati"


"Hm"


Besok paginya Kamila pergi ke pasar bermaksud membeli sarapan di salah satu warung langganannya yang letaknya pas di depan pasar. Ia memarkirkan motornya di parkiran. Kemudian berjalan melewati ruko - ruko yang masih tertutup karena memang belum waktunya buka. Keadaan di daerah itu memang masih sepi karena masih sangat pagi. Kecuali tepat di lokasi pasarnya yang pasti sudah ramai. Saat asyik berjalan tiba - tiba ada sebuah tangan mencekal pergelangan tangan Kamila dengan sedikit menarik dari belakang. Kamila sangat kaget dibuatnya dan melotot seketika matanya begitu mengetahui orang yang mencekalnya.


"Ngapain kamu? Lepasin tangan aku! "


"Wow slow slow gak perlu emosi gitu! Ngomong - ngomong ngapain kamu pakai baju kayak ginian? Mau pamer ke orang? Supaya terlihat baik gitu? Cewek yang biasanya pakai baju seksi, sekarang pakai baju longgar dan tertutup. Atau jangan - jangan sekarang kamu lagi menggaet ustadz makanya penampilanmu begini? ", masih dalam keadaan mencekal pergelangan tangan dan berbicara di dekat telinga Kamila. Hingga Kamila merasa ngeri dan jijik.


" Ryan lepasin! ", Kamila berusaha memberontak namun percuma karena kalah tenaga.


" Hei tenang! Kita kan udah lama nggak ketemu Kamila apa kamu nggak ada rasa kangen sedikitpun sama aku? O iya aku dengar pernikahan kamu sama Revan batal ya? Kenapa Kamila... apa kamu sudah sadar kalau laki - laki itu hanya pecundang? Kamu sih dulu lebih milih Revan daripada aku. Padahal aku lebih jantan dari dia", Ryan menyudutkan Kamila antara dirinya dan tembok.


"Ryan please lepasin atau aku teriak? ", Kamila masih berusaha memberontak akan tetapi Ryan semakin menjadi.


" Teriak aja! Di sini jam segini masih sepi"


"Hiks hiks hiks", Kamila menangis.


" Eh eh jangan nangis sayang! Begini saja gimana kalau kamu ngasih bibirmu ini, baru aku lepasin? ", Ryan mengusap bibir Kamila dengan ibu jarinya.


"Nggak. Jangan gila kamu Ryan!", Kamila dengan suara sedikit teriak.


" Nggak usah sok suci kamu Kamila! Kerudungmu ini cuma kedok doang. Biasa juga kamu memamerkan tubuhmu di depan orang banyak", Ryan sambil berusaha menarik penutup kepala Kamila.


Dari arah agak jauh datang sebuah motor memasuki area parkir. Baik Kamila maupun Ryan tidak menyadari hal itu karena agak jauh jaraknya.

__ADS_1


Ryan semakin gila dengan mengelus pipi Kamila dan berusaha mencium paksa. Saat bibir Ryan hampir menempel di bibir Kamila tiba - tiba ada sebuah tangan menarik pundak Ryan dari belakang dan...


"Bugh bugh bugh", Sandi memukul wajah Ryan penuh dengan emosi.


" Wow... kacungnya Revan datang", Ryan terkekeh menyadari bahwa Sandi yang memukulnya sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Plok...plok...plok...bagus - bagus, setelah pernikahan Revan batal kamu masih peduli dengan wanita ini Sandi? ", Ryan mengejek Sandi dengan bertepuk tangan.


" Pergi! ", Sandi menyuruh Ryan pergi namun tidak dihiraukan.


" Santai bro santai! Masa sama teman lama begini sikapmu? Tapi ngomong - ngomong sepertinya kamu nggak bisa move on dari perempuan ini kenapa? Apa wanita ini sudah kamu obok - obok ma... ", Ryan belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dapat pukulan dari Sandi kembali.


"Bajingan... bugh bugh bugh", Sandi naik pitam ketika dirinya di sebut melecehkan Kamila.


Ryan jatuh tersungkur di lantai ruko.


" Awas kamu ganggu dia lagi! ", Sandi memberi peringatan kepada Ryan.


Sandi menghampiri Kamila yang berjongkok sambil menangis ketakutan. Penutup kepalanya sudah berantakan hingga beberapa rambut mencuat keluar. Sandi pun ikut berjongkok dengan menekuk kaki sebelahnya untuk mensejajarkan posisinya dengan Kamila.


"Sudah jangan nangis lagi! Udah selesai oke! ", Sandi menenangkan Kamila sembari berusaha memasukkan rambut Kamila helai demi helai ke dalam kerudung.


" Kamu bisa berdiri? ", setelah beberapa saat Sandi menunggu Kamila yang menangis sesegukkan.


Kemudian mereka berdiri dengan Kamila dibantu oleh Sandi yang memegang kedua sisi lengannya. Sandi mengajak Kamila ke sebuah warung supaya Kamila lebih tenang. Mereka meminum teh hangat.


" Udah lebih tenang? "


Kamila hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Aku antar pulang? "


"Aku bawa motor sendiri"


"Yakin bisa pulang sendiri? "


Lagi Kamila hanya mengangguk.


"Oke. Mau langsung pulang atau masih ada perlu? "


"Pulang"


"Makasih sudah nolongin? ", lanjut Kamila.


Sandi mengangguk - anggukan kepalanya.


Setelah minum teh mereka pergi menuju parkiran motor. Kamila ke arah motornya di parkir dan Sandi ke arah yang berlawanan dimana motornya di parkir. Kamila mengendarai motornya dengan meng-klakson Sandi sebelum keluar dari tempat parkir. Sandi mengangguk, memperhatikannya kemudian menjalankan motornya mengikuti Kamila di belakangnya namun agak jauh. Ia hanya ingin memastikan bahwa wanita itu tiba di rumah dengan selamat.


Beberapa menit di perjalanan sampailah di rumah Kamila, ia turun dari motor dan langsung berlari masuk ke dalam rumah. Melewati papanya yang berada di ruang tengah begitu saja. Berlari menaiki tangga sesampai di depan kamar ia langsung masuk dan menutup pintu kamarnya. Ia membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap.


"Ya Tuhan ternyata berubah baik itu tidak mudah", gumamnya di iringi isak tangis.

__ADS_1


Kamila kembali menangis, di sisi lain sang ayah merasa bingung lantaran putrinya begitu masuk rumah langsung berlari menuju ke atas tanpa berbicara sepatah katapun dan tanpa meliriknya.


"Kenapa dengan anak itu? ", gumam pak Doni.


__ADS_2