
Beberapa hari kemudian tampak keluarga Sandi berkunjung ke rumah Kamila. Tentu saja mereka ingin bertemu Kamila dan putrinya, Ameera. Mereka berbincang di ruang tamu hingga akhirnya Kamila membawa Ameera ke atas untuk ganti popok. Saat Kamila meninggalkan mereka. Pak Andi membuka suara,
"Maaf Pak Doni sebelumnya... apakah saat ini Kamila dekat dengan seseorang? "
"Maksud pak Andi bagaimana? "
"Sandi kan sudah pergi dua tahun yang lalu, tidak ada yang tahu apakah dia masih hidup atau sudah pergi untuk selamanya. Jadi saya dan keluarga sudah membicarakan hal ini... bahwa kami tidak ingin mengikat Kamila. Kami membebaskan Kamila. Maksud kami adalah jika suatu hari Kamila menyukai seseorang maka kami tidak akan menghalanginya. Kamila harus melanjutkan hidupnya dan dia berhak bahagia"
"Tapi sepertinya Kamila tidak dekat dengan seorang lelaki, dalam arti spesial. Justru kelihatannya dia tidak berpikir ke arah itu. Saya juga heran, dulu awal menikah mereka tak seperti suami istri. Tapi dengan menghilangnya Sandi ternyata membuat putri saya benar - benar merasa kehilangan sosok yang sangat dia cintai"
"Yang di katakan suami saya benar pak, karena setiap hari saya dirumah dengannya. Kamila seperti orang yang tidak punya semangat sejak Sandi tidak ada. Apalagi saat itu dia sedang mengandung", Vinni menambahi.
" Intinya saya hanya ingin menyampaikan bahwa kami tidak menghalangi Kamila jika ada lelaki yang ia suka", ucap pak Andi.
"Iya kamin paham maksud bapak sekeluarga",Doni memahami maksud Pak Andi.
" Semalam saya membicarakan dengan istri saya, bagaimana jika Kamila kita suruh liburan saja beberapa hari di luar kota. Selama ini dia sudah melalui masa - masa yang berat. Jadi kami rasa tak ada salahnya jika Kamila pergi berlibur ke suatu tempat. Siapa tahu dengan begitu dia tidak tenggelam dalam kesedihan yang panjang", ucap Revan.
"Menurut ibuk itu ide bagus", ucap Yani.
Doni nampak berpikir, ia juga merasa itu ide yang masuk akal.
" Kalau saya juga setuju, kalau mas Doni bagaimana? ", Vinni bertanya kepada Doni.
" Hm... bisa saja, tapi apa Kamila mau? "
"Kita harus merayunya mas, sebab jika tidak begitu pasti dia menolak", Vinni memberi masukkan.
" Baiklah nanti kita bicarakan dengannya"
Beberapa menit kemudian Kamila muncul dengan Ameera di gendongannya.
"Kamila duduk sini dekat ibuk! ", pinta Yani.
Kamila menurut duduk di sebelah ibu mertuanya.
" Begini nak selama ini kamu sibuk mengurus anak dan bekerja, bagaimana jika kamu berlibur sementara waktu ke luar kota? "
__ADS_1
"Maksud ibuk? "
"Maksudnya pergilah berlibur, selama ini kan kamu sudah sibuk. Kami semua tahu kamu sangat kehilangan Sandi tapi kami tidak ingin kamu larut dalam kesedihan yang panjang. Kamu harus memikirkan masa depanmu dan putrimu. Dan bukan kamu saja yang kehilangan kami pun sangat kehilangan. Karena kami orangtuanya"
Kamila nampak berpikir beberapa saat hingga ia di sadarkan sebuah suara yang tak lain adalah papanya.
"Mila yang dikatakan mertuamu benar, pergilah berlibur. Siapa tahu dengan kamu liburan... kamu mendapatkan pandangan yang bagus untuk ke depannya".
" Mila kami semua sayang padamu... oleh sebab itu kami tidak ingin kamu larut dalam kesedihan terlalu lama. Sudah dua tahun Kamila", kini Alya yang bersuara.
"Pergilah berlibur Mil! Aku tahu kamu sangat mencintai adikku Sandi tapi kamu juga berhak bahagia. Kita semua tidak tahu kenyataan tentang Sandi masih hidup atau sudah pergi meninggalkan dunia ini. Kita semua juga sedih Mil dengan menghilangnya Sandi, tapi kami sadar bahwa kami tidak boleh terus tenggelam dalam kesedihan. Kami berusaha mengikhlaskan, jika dia memang masih hidup semoga dia baik - baik saja dan kembali di tengah - tengah kami secepatnya. Namun jika ternyata dia sudah meninggalkan dunia ini semoga dia di tempatkan di tempat yang terindah di sisi Allah", Revan berusaha membuka pikiran Kamila.
Semua orang mengaminkan yang dikatakan Revan.
Kamila tidak bisa membendung perasaannya hingga ia menangis. Kata ' ikhlas' yang di ucapkan Revan sungguh berat baginya. Apakah harus sampai di sini ia mengharapkan Sandi? Apakah hanya sebatas ini kesetiaannya?
Beberapa detik kemudian Kamila pun setuju dengan apa yang mereka sarankan. Ia berpikir mungkin ini yang terbaik.
Kamila kembali ke kamarnya setelah mertuanya pamit pulang. Ia merasa beruntung mempunyai mertua dan kakak ipar yang begitu sayang padanya. Baik dirinya maupun Ameera tidak kekurangan apapun sebab keluarga Sandi memberi uang bulanan yang lebih dari cukup. Sedang hasil ia bekerja itu di tabung.
Kamila mengambil foto Sandi yang berada di atas meja samping tempat tidur setelah ia menidurkan putri kecilnya.
Di tempat yang lain Antoni yang tak sengaja melihat Niko turun dari lantai atas.
"Hai Nik kamu akan keluar? "
"Hai Antoni, iya aku akan pergi dengan teman"
"Boleh aku ikut? aku sangat bosan di rumah terus"
"Maaf Antoni...bukannya aku tidak mau mengajakmu tapi kalau aku mengajakmu nanti Bella marah"
"Ya aku mengerti", Antonio mengangguk.
" Oke aku duluan ya? ", Niko pamit.
" Iya hati - hati Nik"
__ADS_1
Niko mengangguk dan tersenyum.
Bertepatan dengan Antonio yang bercakap dengan Niko, dari tempat yang agak dekat Reva mendengar. Setelah kepergian Niko ia pun mendekati Antonio.
"Hai Antonio sedang apa kamu berdiri di sini sendiri? "
"Tante Reva... tidak sedang apa - apa"
"Ayo kita ke taman sambil ngobrol - ngobrol"
"Kamu pasti bosan ya hari - hari hanya di dalam rumah? ", Reva bertanya setelah mereka duduk di kursi yang memang tersedia di taman.
"Iya tante, Bella sama sekali tidak mengijinkan ku keluar. Aku ingin melakukan aktifitas seperti orang - orang pada umumnya. Bekerja dan lain sebagainya"
"Apa kamu tidak...ingat sama sekali dengan masa lalumu...An...to...ni? ", Reva bertanya dengan hati - hati.
"Maksud tante masa laluku? "
"Hmm seperti keluarga misalnya? "
"Bella bilang orangtuaku sudah meninggal semua, aku sendiri"
"Kamu sendiri dan Bella membawamu ke sini dari kotamu berasal? "
"Kotaku berasal? "
"Apa Bella tidak bilang jika kau dari kota sebrang? Maksudku Bella membawamu dari kota sebrang dan saat itu kamu habis kecelakaan"
Antonio mengerutkan keningnya, ia bingung dengan yang dikatakan Reva. Kemudian suara Reva terdengar kembali.
"Baiklah Antonio jika kamu tidak mengingat masa lalumu, mungkin yang di katakan Bella memang benar. Karena yang tahu tentang dirimu hanya Bella di rumah ini. Tapi Antoni tante minta kamu jangan menceritakan apa yang tante katakan kepadamu hari ini kepada Bella! Kamu mengerti maksud tante bukan? "
"Iya tante saya mengerti"
"Akan panjang jika Bella tahu aku menanyakan hal - hal tentang dirimu"
"Iya tante"
__ADS_1
Dalam hati Reva berkata,
'Semoga dengan aku sengaja bertanya tentang masa lalumu, kamu jadi mencari tahu tentang dirimu Antonio. Anak yang malang, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi kepada Niko.