
Setelah di nyatakan positif hamil oleh dokter kandungan kebahagiaan di rumah pak Andi bertambah. Alya pun mengikuti prosedur yang di anjurkan oleh dokter. Revan sendiri juga banyak perubahan, ia lebih sering di rumah setelah mengajar. Ia hanya menghubungi Rio sahabatnya dari rumah untuk memantau perkembangan cafe. Karena kondisi Alya akhir - akhir ini lebih payah dari sebelumnya maka ia memilih menemani Faya bermain agar Alya bisa istirahat.
Berbeda dengan suasana di rumah pak Andi, di rumah pak Doni serasa sunyi semenjak batalnya pernikahan Kamila dan Revan. Pak Doni dan ibu Farah saat ini lebih memilih diam untuk menjaga perasaan putrinya Kamila. Mereka memutuskan untuk tidak mengungkit sesuatu yang berhubungan dengan Revan. Sedang Kamila terakhir kali bertemu dengan Revan di penjual nasi pecel, ia seperti merenung memikirkan sesuatu entah apa itu. Seakan di rumah tersebut penghuninya larut dalam pikiran masing - masing. Satu hal yang membuat Kamila agak tenang adalah mamanya tidak lagi mencoba mengenalkan dirinya pada anak temannya setelah hari itu. Mamanya sekarang seakan terserah apa yang di lakukan Kamila. Tetap menyayangi Kamila namun tak membicarakan perihal pernikahan semacamnya.
"Mama mau kemana? ", tanya Kamila begitu melihat sang mama berpakaian rapi dengan menenteng tas.
" Mama mau makan di luar sama teman - teman mama"
"Panas - panas begini? Papa tidak ikut? "
"Mama bawa mobil. Papa di rumah biar istirahat. Lagian juga hanya para wanita tidak ada yang laki - laki"
"Oh"
"Kamu jaga diri baik - baik ya mama pergi dulu! ", ibu Farah perpamitan pada putrinya serta mengingatkan agar putrinya menjaga diri.
Ia juga berjabat tangan yang di cium punggung tangannya oleh putrinya. Mengecup kening serta mencium kedua pipi sang putri. Kamila agak merasa aneh, entah perasaannya saja atau bagaimana ia tidak dapat mendeskripsikannya. Memperhatikan wajah mamanya seperti ada perasaan sedih, damai, dan merelakan. Beberapa saat kemudian papanya keluar dari kamar.
"Papa kok tidak pergi sama mama? ", walaupun Kamila sudah tahu alasannya.
" Mama kan ada acara makan - makan sama temannya. Dan itu ibu - ibu semua, masa papa mau ikut. Lagi pula ada saatnya mama kamu butuh waktu sendiri, tidak harus selalu sama papa dan kamu. Biarlah mamamu menikmati me timenya", pak Doni yang saat ini sudah duduk di sofa.
"Hm... papa perhatian banget sama mama"
"Ya harus dong, itu sudah kewajiban papa sebagai suaminya"
"Menurut papa, apa mas Revan juga seperti papa yang perhatian sama istrinya? ", pertanyaan tak terduga dari Kamila. Pasalnya kedua orangtuanya sudah diam tak membahas soal Revan. Tapi Kamila tiba - tiba...
" Sepertinya iya", pak Doni tetap menjawab.
"Papa menyesal Kamila tidak jadi menikah dengan mas Revan? ", lanjut Kamila.
"Sebenarnya apa maksud kamu Mila? Papa menyesal? Tentu papa sangat menyesalkan nya karena dimata papa, Revan adalah sosok yang sangat menyayangimu selain itu dia punya pekerjaan tetap. Bukan hanya papa bahkan mama kamu pun sama. Namun apa yang bisa papa dan mama lakukan jika putri kami sudah memutuskan tidak mau"
__ADS_1
"Satu hal Kamila jika seseorang benar - benar sayang pasti akan berusaha membahagiakan orang yang di sayangi", lanjut pak Doni.
" Maafkan Kamila pa...? "
"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu cukup kita ambil hikmahnya. Dan kamu tidak usah lagi memikirkan Revan. Dia sudah menikah. Kamu sekarang fokus saja pada masa depanmu! "
Kamila tidak menjawab namun mengangguk.
"Nanti mama pulangnya jam berapa pa? ", Kamila mengganti topik.
" Mungkin sore, bisa juga malam...kan mereka pasti tidak hanya makan - makan. Mungkin juga belanja, biasalah perempuan"
"Hehehe iya ya pa"
Beberapa jam berlalu hingga waktu menunjukkan pukul lima sore. Sebuah mobil yang di kendarai seorang wanita paruh baya berjalan dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang tidak terlalu padat. Tiba - tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan yang melaju tidak stabil hingga berbelok memakan sisi lain jalan. Naasnya truk itu menabrak sebuah mobil yang di kendarai wanita paruh baya tersebut. Mobil yang dikendarai wanita itu terdorong hingga ke tepi mentok membentur sebuah tembok agak tinggi dimana tembok tersebut merupakan jalan yang menyerupai jembatan. Yang mana digunakan sebagai akses keluar masuk mobil sebuah perusahaan yang letaknya memang di dataran tinggi. Jadi tembok itu adalah milik perusahaan tersebut. Posisi mobil wanita paruh baya itu terjepit antara truk dari depan dan tembok di belakangnya. Orang - orang di sekitar berlarian mendekati truk dan mobil tersebut. Ada yang menghubungi ambulans ada juga yang menghubungi kantor polisi. Sekitar sepuluh menit proses evakuasi, akhirnya wanita tersebut yang tidak lain adalah ibu Farah bisa di keluarkan dari mobil. Ia pun segera di larikan ke rumah sakit menggunakan ambulans namun di tengah perjalanan nyawanya sudah tiada.
Sesampai di rumah sakit, pihak rumah sakit pun segera menghubungi keluarga beliau.
" Halo Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam selamat sore Pak.. kami dari rumah sakit , apa benar ini dengan keluarga ibu Farah? "
"Sore, iya benar itu istri saya. Ada apa dengan istri saya bu? ", pak Doni tidak sabar dan panik seketika.
" Begini pak, ibu Farah saat ini sedang berada di rumahsakit, beliau mengalami kecelakaan beberapa menit yang lalu. Mohon kehadiran bapak segera! "
"Innalillahi... baik saya segera ke sana. Terimakasih"
"Sama - sama pak, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam", telpon pun berakhir.
" Kamila... ", panggil pak Doni pada putrinya yang ada di atas.
__ADS_1
" Iya pa ada apa? " , Kamila sedikit tergesa karena mendengar nada sang ayah ketika memanggil seperti terburu - buru.
"Ayo cepetan kita ke rumah sakit, mama kecelakaan"
"Apa... mama? ", sesaat kemudian Kamila tersadar lalu mengikuti sang papa yang menuju keluar.
Mereka pun pergi ke rumah sakit menggunakan motor dengan penampilan seadanya. Sesampai di rumah sakit, mereka sangat terpukul mendengar penjelasan dokter dimana Ibu Farah sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit.
"Mama... ", Kamila menangis melihat jenazah sang ibu di depan matanya.
Pak Doni pun menangis tak berdaya sampai ia terduduk lemas di lantai. Ia tak menyangka istrinya akan pergi meninggalkannya serta kedua anaknya secepat ini. Ia teringat bahwa anak lelakinya saat ini berada di rumah neneknya. Ia harus segera menghubunginya. Pak Doni berusaha bangkit dan menghubungi sang putra.
Kini di rumah duka tampak ramai warga melayat, Rafli dan Kamila hanya menangis membatu. Sedang di sisi lain pak Doni setia di samping jenazah sang istri. Rencananya besok baru di kebumikan karena hari sudah gelap.
'Farah sayang kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku dan kedua anak kita yang masih perlu di bimbing ? Apa aku bisa membimbing mereka sendiri tanpa bantuanmu? Apa aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa dirimu? Tapi biarpun begitu pergilah dengan tenang sayang! Aku akan berusaha semampuku mengurus anak - anak kita', pak Doni bicara dalam hati. Ia harus mengikhlaskan istrinya pergi agar tenang di sana. Walaupun pasti tidak mudah ke depannya yang akan ia lalui.
Kabar meninggalnya Farah pun terdengar sampai kepada keluarga pak Andi.
"Jadi gimana pak? Rasanya tidak pantas kita tidak pergi melayat", Ibu Yani buka suara. Dimana saat ini semua anggota keluarga berada di ruang keluarga.
" Kita tetap harus melayat. Masalah Revan dan Kamila itu tak ada hubungannya dengan ini" , jawab pak Andi sebagai orang yang paling tua di rumah ini.
"Alya juga boleh ikut kalau mau, tapi jangan lupa baca - baca ayat al- qur'an. Kamu sedang hamil takutnya bayimu sawan di ajak ke tempat orang meninggal", lanjut pak Andi.
" Gimana kalau nggak usah ikut saja yank... aku takutnya bayi kita sawan", saran Revan.
Alya tampak berpikir antara memikirkan ia yang sedang mengandung dan ada rasa takut kesempatan itu di salah gunakan Kamila untuk merayu Revan lagi. Ia kemudian memantapkan hati 'bismillah', dalam hatinya.
"Aku ikut saja mas", putus Alya mantap.
" Baiklah kalau mau kamu begitu".
Semua pun setuju dengan keputusan Alya. Sandi juga merasa lega Alya ikut sebab ia juga punya sedikit rasa khawatir jika kakaknya pergi ke rumah Kamila tanpa istrinya. Walaupun tidak boleh berprasangka buruk tapi tetap harus waspada bukan? Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Entah kenapa ia jadi begitu peduli dengan rumah tangga yang di bangun kakaknya.
__ADS_1