
Beberapa bulan kemudian di sebuah tempat perbelanjaan yang melayani ecer maupun grosir, terlihat seorang perempuan bersama lelaki paruh baya sedang membeli beberapa barang untuk mereka jual kembali di rumah. Kamila sudah tidak bekerja di perusahaan, ia kini membuka toko sembako dan lain - lain yang biasa di perlukan masyarakat setiap hari. Ia lebih tenang menjalani hidupnya yang sekarang. Pak Doni masih melihat - lihat barang di luar kaca toko sambil membawa mendorong troli besar, sedang Kamila ada di dalam toko tersebut sedang memilih keperluan atk. Tiba - tiba ada seseorang yang tak sengaja menyenggol lengan pak Doni dari belakang.
"Eh maaf - maaf? Saya tidak seng... "
"Loh Sandi? "
"Om"
"Gimana kabar kamu sekeluarga?
"Alhamdulillah baik om, om sendiri? O iya maaf om tadi Sandi tidak sengaja? "
"Alhamdulillah baik juga. Ah nggak apa - apa, santai saja"
"Om... belanja? ", Sandi melirik troli yang di bawa pak Doni.
" Iya"
"Banyak banget om seperti orang jualan hehehe"
"Iya ini memang mau di jual lagi"
"Lhoh sekarang om jualan? "
"Bukan om tapi Kamila. Dia sudah resign dari pekerjaannya, sekarang dia jualan di rumah"
"Pa udah, eh Sandi? ",Kamila yang keluar mbawa kantong kresek besar memberitahu ayahnya kalau sudah selesai belanja di toko tersebut.
" Hai, belanja? ", balas Sandi.
" Ah iya"
"Yuk pa pulang sudah selesai belanjanya! ", ajak Kamila pada sang ayah.
" Ya sudah ayo, mana belanjaanmu sekalian masukan troli! ", Pak Doni mengambil kantong kresek yang di bawa Kamila untuk di masukan ke troli.
" Yuk San kita duluan? ", Pak Doni lanjut berpamitan pada Sandi. Kamila menganggukan kepala kepada Sandi sambil tersenyum.
" Silakan om, Kamila"
"Buset aku kaget banget. Penampilan dan sikapnya berubah. Berapa bulan ya nggak ketemu? ", Sandi berbicara sendiri setelah kepergian Kamila dan ayahnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di tempat lain Alya, Revan dan Faya sedang bermain dengan seorang bayi laki - laki baru berumur satu bulan yang di baringkan di atas kasur. Bayi itu diberi nama Alre Malik Bagaskara. Nama depannya perpaduan antara nama Alya dan Revan. Sama seperti Faya, namanya juga perpaduan nama Fahri yang merupakan ayahnya dan Alya.
"Ulu ulu ulu ulu... ", Revan bercanda dengan putranya yang masih bayi.
Si bayi hanya merespon dengan suara khas bayi.
__ADS_1
" Ayah adek itu belum bisa bicara", Faya memprotes sang ayah.
"Siapa bilang adek belum bisa bicara tuh ek ek ek, begitu bicaranya adek"
"Benar bunda? ", sekarang Alya yang gantian ditanya Faya dan Alya hanya mengangguk.
" Tuh kan bener ayah bilang, Faya nggak percaya"
"Iya kan dek? he'em kakak nggak percaya sama ayah kalau adek bisa ngomong", Revan kembali mengajak sang putra bicara.
" Sekarang kakak percaya kok"
"Hehehe iya iya, nggak usah dengerin ayah. Ayah itu cuma bercanda", Alya menertawakan kelucuan putrinya.
" Ayah hanya bercanda sayang, kakak sayang ayah nggak? ", Revan mengusap kepala putrinya.
"He'em sayang "
"Sayang aja? "
"Hm... pakai banget deh", Faya berpikir sejenak.
" Hehehe", Revan dan Alya tertawa bersamaan.
"Sayang tapi mikir dulu... nggak ikhlas nih sayangnya? "
"Masa? Yang bener ah"
"Bener, suer", sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V.
" Hehehe", lagi Alya dan Revan tertawa bersamaan.
"Iya iya ayah percaya sayang, masa ayah nggak percaya sama putri ayah yang cantik ini... ", Revan mencium pipi dan memeluk Faya.
" Udah ya mainnya sama adek, sekarang adek udah waktunya bobok siang. Kakak juga bobok ya di temani ayah! "
"Adek mau bobok ya... ya udah deh kakak juga mau bobok, yuk yah", Faya meraih tangan Revan mengajak pergi ke kamarnya. Revan pun menurut.
" Daa bunda daa adek", sebelum membuka pintu kamar untuk keluar.
"Daa kakak", balas Alya.
Sepuluh menit kemudian Revan kembali ke kamar, ia melihat sang istri tidur di kasur sementara putranya di ranjang bayi. Ia kemudian mendatangi sang istri yang tidur miring dan ikut berbaring miring di belakang sang istri. Memeluk dari belakang sambil berbisik,
"Yank belum kelar kah nifasnya? Udah lama eh nggak itu"
"Belum yank ntar lagi, sabar ya...? ", Alya yang paham apa yang dimaksud sang suami.
__ADS_1
" Lamanya yank, udah kepengen..."
"Iya aku tahu, sabar dulu ih! Hm... gimana kalau aku mainin mau? "
"Maksudnya? Mainin gimana? "
"Pakai ini", Alya mengangkat tangannya dan menggerak - gerakannya.
" Boleh juga daripada nggak, udah pengen banget ih", jawab Revan.
Mereka pun mulai bermain siang itu walau hanya sebentar namun Revan puas dan lega sesuatu yang sudah lama membendung akhirnya lepas bebas.
"Yank gimana kalau kita nanti bikin dedek lagi? ", Revan bertanya setelah selesai bermain dengan istrinya.
" Astaga Alre aja baru satu bulan"
"Kan ku bilang nanti yank"
"Udah itu pikirkan nanti! "
Setelah mengatakan itu Alya lantas pergi ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya sudah terlelap.
"Udah tidur? hm... ", ia tersenyum.
Jika dipikirkan kembali ia tak pernah menyangka bahwa menikah dengan Revan akan semanis ini. Bahkan waktu itu usia pernikahan yang baru saja sudah dapat gangguan dari Kamila. Sempat punya pikiran 'apakah bisa bertahan pernikahan ini? ' , tapi yang kuasa berkehendak lain dengan menitipkan sebuah amanah dengan dirinya yang hamil dalam waktu termasuk cepat. Sehingga ia harus bertahan untuk kebaikkan bersama. Ia juga merasa aneh dengan Revan, padahal Revan saat itu belum ada perasaan cinta untuknya namun Revan menggaulinya dengan penuh perasaan dan memasukan benih ke dalam rahimnya begitu saja hingga membuat ia hamil. Dan semakin hari Revan semakin perhatian dan sayang kepadanya, juga anaknya.
"Kurasa keputusanku untuk menerimamu dulu sudah benar mas", gumam Alya saat ini duduk di samping suaminya yang terlelap.
Sandi baru pulang dari bertemu dengan teman - temannya, ia langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ia melepas jaket yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan kaos kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kamila bisa berubah begitu ya, cantik sih... ", ia tersenyum.
" Siapa yang cantik? ", tiba - tiba ibu Yani sudah mengintip di pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Sandi lupa menutup pintu kamarnya dengan benar.
"Ibuk... , ah nggak"
"Siapa hayo...? "
"Nggak buk"
"Siapa hm? ", ibu Yani masih mendesak sang putra.
" Hh jadi begini tadi pas Sandi jalan mau bertemu teman, Sandi nggak sengaja bertemu om Doni sama Kamila. Dan Kamila penampilannya berubah, sekarang pakai hijab"
Ibu Yani diam setelah mendengar cerita sang putra, Sandi berpikir pasti ibunya tidak suka mendengar nama itu. Sebenarnya memang benar ibu Yani masih merasa tidak nyaman mendengar nama wanita tersebut walau kenyataan sudah beberapa bulan tak ada lagi ia dengar mengenai hal berkaitan dengan Kamila.
"Baguslah", setelah beberapa menit diam itulah kalimat yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Sandi tahu apa yang di rasakan ibunya namun ia berusaha seolah tidak tahu.