Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Bukan Boneka


__ADS_3

Malam harinya Niko mendatangi Bella yang sedang berenang.


"Ehem ehem... ", Niko sengaja berdehm ketika Bella sedang duduk di tepi kolam sambil minum jus.


Bella menoleh ke sumber suara sesaat memandang Niko kemudian kepalanya berbalik ke arah semula. Cuek dengan kedatangan Niko.


" Bell apa nggak sebaiknya kamu sesekali ajak keluar Antonio? Sepertinya dia bosan di rumah terus"


"Maksud kamu apa Niko? ", judes Bella.


" Sudah dua tahun sejak pertama kali kamu membawanya ke sini, kamu tidak memperbolehkan dia keluar rumah. Bekerja pun juga tak boleh. Apa kamu nggak merasa kasihan padanya? "


"Hei Niko... dia itu tanpa bekerja tidak kekurangan apapun di rumah ini. Dia juga bisa melakukan banyak hal di rumah ini. Rumah ini fasilitasnya sudah lengkap apa lagi? "


"Bukan itu maksudku Bel, kadang juga orang ingin berkumpul dengan teman sekedar jalan - jalan saja atau makan dan lainnya"


"Ah sudahlah kamu tidak usah ikut campur urusanku. Pergi sana!, Bella mengusir Niko.


" Oke aku pergi tapi kamu harus ingat dia itu bukan boneka, dia itu manusia", Niko kemudian pergi meninggalkan Bella sendiri di tepi kolam.


"Sialan.... prang...prang... ", Bella mengumpat dan melempar gelas serta piring yang ada di dekatnya.


Tak jauh dari tempat itu dua pelayan yang kebetulan lewat mendengar.


" Apa itu nona Bella? ", seorang pelayan perempuan bertanya kepada temannya yang merupakan seorang lelaki.


" Ku bilang juga apa... nona itu belum sembuh. Pak Yuda saja yang mudah di bohongi"


"Sstt...jangan keras - keras nanti ada yang dengar! ", pelayan perempuan memperingati temannya.


" Ayo coba lihat! ", lanjutnya mengajak temannya memastikan apakah benar suara pecah itu perbuatan Bella.


Kedua pelayan itu berjalan mengendap - endap, meraka mengintip di sebuah tiang besar sembari mata melirik ke sana sini. Dan mereka menemukan pecahan kaca serta piring. Mereka juga melihat Bella yang sedang berenang.

__ADS_1


"Hei ayo jangan lama - lama! ", pelayan lelaki mengajak pelayan perempuan untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan.


Di dalam kamar Antonio merasa sangat jenuh namun ia tidak bisa berbuat apa - apa. Ia juga tidak tahu mengapa Bella melarangnya keluar. Ia melirik botol obat yang ada di mejanya. Bella berkata jika obat tersebut adalah obat untuk membantu mengembalikan ingatannya. Antonio berjalan dan meraih botol obat tersebut kemudian duduk di tepi ranjang.


"Dari pertama kali aku sadar hingga sekarang aku selalu meminumu... tapi sampai sekarang aku belum bisa mengingat apapun. Obat macam apa sebenarnya kau ini? ", ia berbicara dengan botol obat yang ada di genggamannya.


" Tok tok tok", suara pintu di ketik dari luar.


"Masuk saja! "


"Tuan... anda belum minum obatnya? Oh iya nona Bella meminta anda untuk datang ke kamarnya sekarang", Ruhi memberitahu maksud kedatangannya.


" Iya", jawab Antonio kemudian meletakkan botol tersebut kembali ke atas meja.


Ruhi pun pergi lebih dulu. Antonio berdiri sambil menghela napas, ia merasa lelah dan bosan dengan sikap Bella. Ia berjalan menuju ke kamar Bella yang berjarak dua ruangan.


"Tok tok tok", Antonio mengetuk pintu Bella.


" Masuk! "


"Huh... Bella ada apa? "


"Ada apa? Apa kamu nggak kangen sama aku? "


Bella mencium bibir Antonio dan mengecup semua bagian wajah lelaki itu. Lanjut mengecup kedua rahang lelaki tersebut dan turun ke leher.


"Bella... ", lirih Antonio merasa risih dengan perlakuan Bella.


Ia lelaki normal tapi apa yang di lakukan Bella tak membuat ia berpikir untuk melakukan hal yang lebih intim. Bella menyudahi ciumannya kemudian jari telunjuknya menyusuri dada Antonio menarik garis lurus dari atas ke bawah.


"Bella kamu mau apa? ", tanya Antonio.


" Toni bagaimana kalau kita hari minggu nanti ke pantai, di sana sangat indah pemandangannya? "

__ADS_1


Antonio tidak menjawab karena berpikir baru kali ini Bella mengajaknya keluar.


"Mau kan? ", masih dengan posisi memainkan jari telunjuknya.


Antonio mengangguk sebagai jawaban.


" Bagus", ucap Bella kemudian memeluk lelaki yang ada di hadapannya.


Setelah ia selesai berenang tadi, Bella memikirkan apa yang di katakan Niko. Ia pun berpikir mungkin memang sesekali ia harus mengajak Antonio keluar rumah. Harusnya ia tak perlu lagi khawatir akan takut kehilangan lelaki itu karena sudah di tempat yang jauh dan yang pasti Antonio tidak mengingat apapun.


Bella tersenyum di belakang kepala Antonio mengingat lelaki tersebut lupa dengan jati dirinya.


'Aku tidak akan melepaskanmu Antonioku sayang, kamu punyaku. Iya..Antonio punyaku dan Sandi sudah berlalu. Yang ada sekarang adalah Antonio'. Di dalam hati Bella berbicara masih dengan posisi yang sama memeluk Antonio.


Di tempat lain Kamila juga merencanakan pergi berlibur ke kota sebrang bersama dengan Dita temannya. Karena wanita itu sedang tidak sibuk. Rencananya mereka akan naik pesawat hari sabtu siang dari sini.


"Lusa mama pergi sama tante Dita, dedek sama nenek Vinni jangan rewel ya di rumah", Kamila berbicara dengan putrinya yang baru berumur satu tahun lebih sembari mengelus kepala bayi tersebut.


" Dedek kok belum bobok sih, nggak ngantuk hm? ", lanjutnya.


Yang di ajak bicara asyik dengan mainannya sendiri.


" Tok tok tok"


Kamila menoleh ke arah pintu dan sudah berdiri papanya di pintu tersebut yang memang di biarkan terbuka.


"Amee belum bobok? Sini main sama kakek kalau gitu", Doni menghampiri kemudian mengangkat bayi perempuan itu dan membawa dalam gendongannya.


" Biar papa yang momong", ucap Doni kepada Kamila kemudian keluar menuju lantai bawah.


Kamila mengambil foto Sandi yang ada di atas meja.


"Mas, lusa aku mau pergi ke kota sebrang bersama Dita. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Ameera di rumah tapi orang - orang melarangku membawanya. Soalnya kasihan masih kecil. Sesungguhnya aku juga tidak ingin pergi liburan tapi orang - orang memaksa, aku berpikir untuk menghargai saran mereka yang berusaha membuatku tidak sedih. Makanya aku menuruti keinginan mereka. Jika mas ada di sini pasti kita sudah liburan bertiga, iya kan? ", setelah berbicara sendiri Kamila lantas meletakkan kembali foto Sandi di atas meja.

__ADS_1


Kamila merenungi setiap hal yang ia lalui selama ini. Hatinya bertanya - tanya.


'Ya Tuhan apakah ini hukuman buatku? Aku pernah di lecehkan ketika aku belajar merubah diriku menjadi lebih baik. Aku menikah dibawah paksaan. Aku pernah hampir di perkosa di hotel. Kemudian aku mendapatkan cinta dan kasih sayang dari suamiku namun kemudian engkau menjauhkannya dariku tiba - tiba. Entah apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Tak ada yang tahu, hanya engkaulah yang tahu. Ya Tuhan berilah aku petunjukmu apakah suamiku masih hidup atau sudah meninggal supaya aku tenang'.


__ADS_2