
Sementara Revan yang masih berada di dalam cafe menunggu Alya dari toilet. Beberapa menit belum ada muncul. Ia masih menunggu hingga beberapa menit lagi... dan tak sabar,
"Tut... tut.... tut... ", bunyi telpon tersambung namun tak di jawab. Revan pun mengirim pesan.
" Yank... apa kamu baik - baik saja? ",
" Yank... kamu dimana sih? Ke toilet kok lama banget? ", ia mengirim pesan lagi karena pesan yang dikirim sebelumnya tak kunjung ada respon.
" Yank... ", pesannya lagi dan akhirnya Revan bangkit dari duduknya berjalan ke meja kasir. Membayar pesanan setelah itu ia berjalan menuju toilet. Ia menunggu di luar toilet wanita. Ia berpikir mungkin Alya sakit perut, bisa saja kan. Ia mencoba menghubungi lagi namun tetap sama tak ada jawaban. Revan pun memutuskan untuk pulang karena menunggu di depan toilet sepertinya tidak ada tanda - tanda keberadaan istrinya.
Tentu saja percuma Revan menunggu karena orang yang di tunggu saat ini baru saja sampai di rumah temannya.
"Aku nggak sekuat itu... hiks hiks hiks... ", Alya langsung menangis begitu pintu rumah Nina di buka. Untung saja Faya sudah tidur. Jadi gadis kecil itu tidak melihat bundanya menangis.
" Tenang Al... kamu kenapa datang - datang langsung menangis begini? ", Nina berusaha menenangkan sahabatnya dengan mengelus kepala Alya yang masih berbalut kerudung.
Mereka saat ini berada di kamar Nina sedang Faya di kamar yang lain. Nina sengaja membawa Alya masuk kamarnya karena takut Faya mendengar.
" Aku sakit banget Nin lihat mas Revan sama mantannya, tadi rasanya aku nggak kuat melihat mereka seperti orang yang sedang berkencan"
'Bukankah mereka memang sedang berkencan? Aku sudah ada pikiran kalau bakal nggak bagus ', batin Nina namun tidak mungkin ia mengutarakan kepada sahabatnya. Jadilah ia hanya mendengarkan keluh kesah Alya.
"Tadi penampilan mas Revan itu nggak kayak biasanya, terlihat jelas kalau dia ingin menemui seseorang yang spesial. Dan mantannya penampilannya juga nggak kalah, sudah seperti aktris. Mana pakai nempel - nempel mas Revan. Dia bergelayut manja di lengan mas Revan dan parahnya mas Revan nggak menolak. Malah terkesan membiarkan wanita itu melakukan apa saja pada dirinya. Hiks hiks hiks... "
"Apa kamu sudah suka sama Revan? ", Nina yang dari tadi hanya mendengarkan dan mencoba memahami sang sahabat kini buka suara.
Alya menoleh ke arah Nina, ia tak mengucapkan sepatah kata pun justru seperti berpikir.
" Kalau kamu nggak ada rasa suka sama Revan kamu nggak mungkin sampai seperti ini kan? Ya, aku tahu bagaimana pun kamu istrinya pasti ada rasa gimana gitu melihat suamimu dengan wanita lain. Tapi apa iya kamu akan sehisteris ini. Kamu saat ini seperti sedang terluka dalam Al"
__ADS_1
"Iya kan sudah rasa itu...? ", tanya Nina lagi sebelum ada jawaban dari Alya.
Alya hanya bergeming dan sudah merasa agak tenang.
" Sebenarnya, dulu waktu aku belum menikah dengan mas Fahri dan masih berada di kota ini... diriku sempat penasaran dengan sosoknya mas Revan. Walaupun kami tidak pernah berbicara satu sama lain. Hanya sekali kami berpapasan saling melihat dan tersenyum. Itu saja interaksi antara diriku dan mas Revan. Tapi hal kecil itu mengusik pikiranku terus. Entah kenapa aku ingin melihat dia"
"Haish... ", Nina menghela napas. Kemudian berucap,
" Trus kenapa dulu kamu nggak coba berkenalan, mendekati gitu...? "
"Diri ini tak ada keberanian Nin. Aku sadar siapa diriku yang berbeda jauh dengannya. Dia yang terlahir dari keluarga yang kaya serba berkecukupan, pendidikan tinggi. Sedang aku dari keluarga sederhana, hanya lulusan sekolah menengah"
"Huh... yang kamu bilang itu memang nggak salah sih Al. Terkadang kita kalau mau suka sama seseorang harus sadar diri juga. Ya memang perbedaan kasta nggak menjamin seseorang nggak bisa menikah dengan yang beda kasta. Banyak kok orang yang dari keluarga biasa menikah dengan orang dari keluarga terpandang. Tapi banyak fakta juga dimana tidak di hargai setelah menikah. Ujung - ujungnya ya karena alasan beda kasta. Ya walaupun nggak semua sih. Tapi aku sering dengar cerita begitu"
"Makanya itu Nin... aku jadi minder duluan", suara Alya melemah.
" Iya aku ngerti, kalau aku di posisi kamu mungkin juga aku akan mundur. Bukannya nggak suka menikah dengan orang kaya tapi untuk apa kalau nggak di hargai, batin yang tersiksa"
"Jadi gimana kamu setelah ini? Tuh dari tadi ponselmu bunyi terus! ", Nina bertanya sambil menunjuk tas Alya yang di dalamnya terdapat ponsel berbunyi.
" Aku mau menenangkan diri dulu. Sementara aku nggak ingin bicara sama mas Revan dulu"
"Baiklah, menurutku juga begitu sih. Selain kamu menenangkan diri juga buat kasih pelajaran tu laki kayak nggak punya prinsip aja. Ya udah kamu istirahat sana gih temanin anakmu! "
"Iya... aku jadi kangen sama Faya"
Pembicaraan mereka berakhir dengan Alya pindah ke kamar yang di tempati putrinya tidur.
Di tempat lain, di balkon kamar Sandi nampak Revan yang bingung dan resah. Sandi yang baru pulang dari nongkrong dengan teman - temannya, bingung kenapa pintu kamarnya terbuka. Begitu ia masuk ke dalam di dapatinya pintu yang menuju balkon juga terbuka. Ia melihat sang kakak seperti resah sekilas melihat ponsel yang di genggamnya. 'Ada apa? ', pikir Sandi karena Revan memang jarang ke kamarnya. Apalagi sampai di balkon.
__ADS_1
"Mas ngapain ? "
"Eh San... tolong hubungi Alya! ", Revan to the point.
" Heh...? "Sandi mengernyit tidak mengerti.
" Memang mbak Alya kemana? Kenapa nggak mas hubungi sendiri? ", Sandi penasaran.
" Alya di rumah temannya katanya. Dia nggak mau angkat telpon ku"
"Aku tadi ketemu Kamila dan dia tahu", sebelum Sandi bertanya lagi Revan langsung menjelaskan. Ia tahu Sandi pasti akan bertanya lagi.
" Astaga... ", Sandi menepuk jidatnya sendiri merasa heran dengan kelakuan kakaknya. Tanpa bicara lagi ia pun langsung merogoh saku celananya dan menghubungi nomor seseorang.
" Nggak di angkat", kata Sandi kepada sang kakak.
"Dia pasti sudah berpikir kalau mas yang nyuruh", Sandi menambahkan. Revan manggut - manggut saja.
" Mas juga sih cari perkara aja. Orang sudah menikah ya sudah nggak usah lagi dekat - dekat sama mantan. Ini malah ketemuan"
"Iya aku akui aku memang salah. Tadinya kan ku pikir ini untuk yang terakhir kali aku bertemu Kamila. Dia mendesak terus ingin bertemu"
"Trus mas turutin gitu? Terakhir kali ? dengan keadaan hati mas yang masih ada perasaan sama dia? Yang ada itu malah buat mas susah move on. Cinta itu boleh mas tapi jangan gila dan ingat apa yang sudah wanita itu lakukan pada keluarga kita. Aku bicara begini juga bukan orang yang baik mas, tapi aku hanya ingin menyadarkan mas saja"
"Iya iya adikku sayang... ", Revan mengalah dari adiknya karena memang ia salah.
" Hih... dikasih tahu malah ngeselin. Udah sana keluar dah dari kamar ku! Aku mau tidur", Usir sandi.
"Ada - ada saja", gumam Sandi setelah kepergian Revan.
__ADS_1
Revan turun menuju kamarnya yang berada di lantai bawah. Ia lantas merebahkan diri di atas kasur sambil bicara sendiri.
" Aku tahu aku salah. Kamila sudah membuat keluargaku sangat kecewa bahkan bapak sampai masuk rumah sakit karena ulahnya. Dan Alya yang menjadi korban akibat batalnya pernikahanku. Tapi aku tidak bisa berbohong, aku masih mencintai Kamila. Walaupun sudah separah itu dia mengecewakan. Hati ini masih mencintainya. Ya Tuhan tidak bolehkah aku egois sekali saja tanpa memikirkan keluargaku dan yang lainnya, hanya untuk hatiku"