Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Kegilaan Revan


__ADS_3

Di kamar Sandi tidak langsung tidur. Ia masih mencoba menghubungi Alya. Ia juga merasa tidak tenang dengan masalah kakaknya saat ini. Bagaimanapun Alya adalah istri kakaknya berarti kakaknya juga. Dua kali menelpon tapi tidak di angkat Alya. Sandi tidak berhenti di situ ia mengirim pesan pada Alya.


"Mbak dimana? "


Tidak ada balasan, jangankan balasan di baca saja tidak. Tentu saja tidak di baca karena saat ini orang yang di kirimi pesan sudah tidur terlelap. Mengeluarkan banyak air mata membuatnya lelah.


Keesokan harinya keluarga pak Andi yang sedang sarapan bersama. Ditengah - tengah sarapan ibu Yani membuka pembicaraan,


"Berapa hari Alya nginap di rumah temannya Van? "


"Deg", Revan jadi tegang seketika. Ia melirik adiknya, Sandi paham dengan lirikan dari sang kakak. Yang berarti ' jangan sampai ibuk dan bapak tahu',


" Kalau jadi hari ini pulang", jawab Revan asal hanya untuk memenangkan orangtuanya saja.


"Jangan lama - lama Van ! Kalian sudah menikah. Tidak baik menginap di rumah orang sekalipun teman dekat. Kecuali ada hal yang darurat",pak Andi menasehati.


" Benar itu. Kurang pantas kalau di lihat tetangga di kira kenapa - kenapa", ibu Yani menambahkan.


'Bukan dikira lagi buk ya emang udah kenapa - kenapa', batin Sandi. Revan hanya mengangguk mengerti. Satu pelajaran pagi ini untuknya bahwa setelah menikah orang tidak boleh sembarangan mengambil keputusan. Misal Alya saat ini yang sudah menikah dengannya tidak baik menginap di rumah orang. Dan lagi ia hampir lupa, dirinya yang bertemu dengan Kamila itu juga tidak benar. Apa lagi sembunyi - bunyi. Ia semakin bersalah menyadari hal itu.


Setelah sarapan selesai Revan langsung pergi ke kamarnya dan Sandi menuju teras rumah. Ia duduk di kursi teras seraya memperhatikan pemandangan di depan rumahnya.


"Drtt drrt", ada pesan masuk di ponselnya, ia lantas merogoh saku celananya. Ia membuka pesan yang masuk,


Mbak Alya :


" Aku di rumah teman. Mas Revan tahu kok"


Sandi :


"Kapan mbak pulang? "


Mbak Alya :


"Belum tahu"


Sandi :


"Mbak marah kan sama mas Revan? Aku udah tahu kok mbak, mas Revan sendiri yang bilang kalau ketemu sama Kamila"


Mbak Alya :


"Bilang sama kakakmu itu buat habis - habisin itu sayang - sayangan sama mantannya"


Sandi :


"Itu orang memang jadi o'on mbak kalau sudah ketemu mak Lampir"


Mbak Alya :


"Mak Lampir ? "


Sandi :


"Iya itu Kamila maksudnya. Ngomong - ngomong rumah teman mbak dimana? "


Mbak Alya :


"Kepo, nggak bakal aku kasih tahu. Nanti ujung - ujungnya juga bakal kamu bilangin ke kakakmu. Sudah jangan chat lagi karena nggak akan aku balas! "


"Lah... ", ucap Sandi setelah membaca pesan Alya yang terakhir.


Waktu berjalan namun belum ada kabar dari Alya. Revan berkali - kali menghubungi namun tidak di jawab, pesan juga tidak di balas hanya di baca. Seharian ini ia hanya di rumah malas melakukan apapun. Rasa sepi menyelimuti, tidak ada Alya maupun Faya.


Sore harinya ia pergi ke cafe untuk bertemu dengan Rio. Setibanya di cafe ia langsung menuju ruang kantor menunggu sahabatnya Rio, ia ingin meminta bantuan atau saran dari sahabatnya tersebut. Beberapa kemudian masuklah Rio tanpa mengetuk pintu karena sudah tahu keberadaan Revan.


"Ada apa bro... sampai suruh aku cepat - cepat ke sini? "


"Yo, kamu ada kenalan yang bisa lacak lokasi seseorang nggak? "


"Hah... macam detektif aja. Emang mau lacak siapa? "


"Alya... "


"Bini kamu? Kenapa ? "


"Kemarin malam dia lihat aku sama Kamila ketemuan di cafe"


"Hahahaha.... syukurin",di luar dugaan Rio malah menertawakan Revan.


" Sialan kamu, teman lagi kesusahan malah di syukurin"


"Itu kan salah kamu sendiri. Udah punya bini masih aja ganjen. Bener deh yang di lakuin Alya itu, minggat. Ngapain nungguin laki yang nggak tahu diri seperti kamu. Lagian masih cantik dan muda juga, masih banyak yang mau"


"Sialan, dasar sahabat tengik", Revan makin kesal.


" Hahaha, kan kamu udah ku ingatin 'jangan main api'. Tapi malah kamu praktekin"


"Udah. Aku pusing nih dari kemarin malam sampai sekarang Alya nggak mau ngomong sama aku. Telpon nggak di angkat, pesan nggak di balas. Kamu ada nggak yang tadi ku tanyakan? "


"Orang yang bisa lacak itu... nggak ada, nggak ada aku kenalan yang seperti itu"

__ADS_1


"Trus aku harus gimana dong Yo? Kalau Alya nggak secepatnya pulang takutnya orangtuaku nanti tahu"


"Jadi orangtuamu belum tahu? "


"Ya belum lah. Bisa berabe kalau tahu aku ketemu Kamila"


"Awalnya gimana sih ceritanya sampai kebetulan kamu ketemu sama Alya di cafe yang sama? "


Mengalirlah cerita Revan kepada sahabatnya Rio dari awal ia janjian dengan Kamila sampai akhirnya bertemu dengan Alya di cafe.


"Kamu yakin Alya nggak tahu rencana kamu yang ingin ketemu sama Kamila dari awal hm? , bisa aja kan bini kamu sudah tahu rencanamu untuk ketemu sama Kamila", setelah Rio mendengarkan cerita dari Revan. Entah mengapa ia merasa itu seperti bukan suatu kebetulan.


"Hah... iya juga ya Yo? Aku nggak kepikiran sama sekali"


"Soalnya begini bro dari cerita kamu kemarin - kemarin mengenai Alya... dia sepertinya bukan tipe orang yang sering jalan ke tempat mewah. Yah intinya standar ajalah. Tapi kenapa bisa dia ada di cafe langganan kamu yang menunya saja mahal. Kecuali kalau temannya orang berduit atau Alya yang ingin traktir temannya karena sekarang jadi istrimu pasti duitnya Alya banyak. Ngomong - ngomong kamu lihat temannya nggak di cafe? "


"Nggak"


"Kamu nggak lihat temannya? jangan - jangan itu alasan binimu saja yang sebenarnya dia datang sendiri. Kalau Faya di ajak nggak? "


"Katanya sih di ajak tapi pas itu lagi sama temannya yang kebetulan ketemu sama kenalannya di depan"


"Alya bilang begitu? "


"Iya"


"Hm... semakin mencurigakan"


"Maksudnya? "


"Aku curiga binimu sudah tahu dari awal kamu mau ketemuan sama Kamila. Jadilah dia membuat skenario tiba - tiba ingin nginap di rumah temannya"


"Kayak film aja pakai skenario segala"


"Ya kamu sih jadi idiot kalau udah menyangkut Kamila, jadinya gini kan? "


"Intinya sekarang aku mesti gimana Yo? "


"Ya kamu carilah di rumah temannya itu, apa mungkin...Alya sebenarnya nggak di rumah temannya tapi di rumah abangnya? "


"Gila Yo, kalau aku salah - salah bisa mampus. Aku belum siap berhadapan sama abangnya"


"Nah tu kamu tahu makanya kalau mau nakal itu mbok ya di pikir dulu! ", Rio menasehati sekaligus berpikir kemudian melanjutkan bicaranya.


" Begini aja kamu telpon abangnya Alya sekarang! pura - pura tanya Alya ada main ke situ nggak. Bilang aja tadi Alya mau kemana gitu siapa tahu mampir ke rumah abangnya. Buruan deh! "


"Wah boleh juga ide kamu, oke aku coba"


Revan pun langsung menghubungi Deddy sesuai arahan Rio dan ia mendapatkan kepastian yang di inginkan.


" Kalau begitu benar dia di rumah temannya. Kamu tahu rumah temannya nggak? "


"Nggak"


"Yaelah..., bro pentingnya komunikasi antar suami istri. Cari tahu apa yang di sukai dan apa yang nggak di sukai. Temannya siapa aja, alamatnya. Kebiasaannya dia apa. Kalau begini gimana mau carinya? "


"Kan aku dari awal tanya kamu ada orang yang bisa lacak lokasi nggak? "


"Eh sebentar... bukannya Faya sekolah ya? "


"Iya tapi Alya sempat bilang kalau ijin"


"Memang ijin mau berapa hari? Lagian masih satu kota juga"


"Aduh aku kok nggak kepikiran sampai situ sih Yo", Revan senang bukan main sampai merangkul leher Rio di ombang ambing ke kanan dan ke kiri.


" Woi... lepasin leherku, bisa mati aku. Sekarang itu cara kamu satu - satunya. Ke sekolah Faya besok! Semoga aja masuk sekolah kalau nggak mau nggak mau kamu harus nunggu Alya pulang dengan sendirinya, entah kapan "


Revan mengangguk paham dengan yang dikatakan Rio. Setelahnya ia pamit pulang. Sampainya di rumah ia pun berpikir membuat rencana buat besok.


Keesokan harinya Revan sengaja ijin tidak masuk mengajar, ia datang ke sekolah Faya di jam pertengahan sebelum Faya pulang. Dan benar saja Faya masuk sekolah seperti biasa. 'Berarti Alya memang sudah merencanakannya. Bagaimana mungkin dia sampai menyiapkan seragam sekolah Faya kalau sudah tidak di rencanakan', batin Revan.


Ia meminta ini pada guru Faya untuk membawa Faya pulang lebih awal karena ada urusan keluarga mendadak.


"Alya kelihatannya kamu lugu tapi ternyata...pintar juga ck ck...", gumam Revan setelah ia di minta menunggu di kantor yang sedang sepi hanya ada dirinya dan salah satu staf admin yang sibuk bekerja.


Ia tak menyangka kalau sang istri ternyata cerdas. Selama ini dirinya mungkin sudah meremehkan Alya, tapi setelah ini ia mengetahui fakta bahwa Alya bukan orang yang bisa di remehkan.


"Ayah... ", Faya begitu melihat Revan sambil berlari menghampiri Revan.


" Faya ayo kita pulang ya... bunda sudah menunggu di rumah"


'Maafkan ayah Faya... ayah terpaksa menculikmu, sudah nasibmu punya ayah gila seperti diriku', batin Revan ia sebenarnya tidak tega karena ia merasa seperti penjahat namun ia tidak punya pilihan lain. Faya adalah satu - satunya pancingan untuk Alya.


Kemudian Revan pamit kepada guru Faya. Di dalam mobil gadis kecil itu bertanya,


"Ayah memang ada apaan sih kok Faya di ajak pulang? kan masih sekolah"


"Ayah mau ajak Faya jalan - jalan, ayah kangen sama Faya. Memang Faya nggak kangen sama ayah? "


"Kangen lah. Memang mau jalan - jalan kemana yah? "

__ADS_1


"Ke... G-Zone, gimana? "


"Hore... ", Faya bersorak gembira.


" Tapi Faya besok kalau di tanya guru atau teman Faya bilang kita ada acara keluarga gitu ya...? "


'Dasar bapak bukannya ngajarin anak yang bener ini malah ngajarin anak bolos sekolah pakai bohong lagi', batin Revan.


"Oke yah"


Setelah sampai di sebuah mall, Revan langsung membawa putrinya ke arena bermain yang di sebutkan tadi. Faya pun di biarkan bermain bebas sementara ia menunggu sambil duduk di bangku yang tersedia. Sesekali ia memperhatikan gadis kecil itu bermain


Revan :


"Pulang kamu sekarang kalau pengen ketemu Faya ! ", ia mengirim pesan pada Alya.


Alya :


" Apa? Faya dimana mas? Apa mas bawa Faya? "


Revan :


"Faya sama aku makanya kamu cepat pulang! "


Alya :


"Mas nggak apa - apain Faya kan? "


Tidak ada balasan dari Revan hanya di baca saja.


"Gila ini orang", pekik Alya perasaannya sudah tidak tenang.


" Ada apa? ", Nina yang mendengar pekikan Alya dari ruang tengah lantas keluar dari kamarnya.


" Mas Revan Nin, dia bawa Faya"


"Sinting juga ya suami kamu, sampai nekat"


"Hahaha tapi lucu juga sih. Itu kan cuma buat mancing kamu supaya pulang hahaha", lanjut Nina menertawakan kekonyolan antara suami istri tersebut.


Alya hanya mendengus kesal kemudian berjalan masuk kamar guna membereskan pakaian untuk di bawa pulang.


" Hahaha", Nina di ruang tengah masih tertawa terbahak - bahak.


Di mall Revan mengambil foto Faya kemudian mengirimkannya pada Rio dan Sandi. Ia memamerkan keberhasilannya membawa Faya.


"Drrt drrt", pesan masuk di ponsel Rio.


Si empunya pun lantas membuka sebuah gambar yang di kirim sahabatnya dimana di beri tulisan di bawahnya 'buruan berhasil'. Rio lantas membalas pesan Revan.


" Gimana caramu bro? "


Revan :


"Aku ambil dia di sekolah, aku ijin pada gurunya bilang kalau ada acara keluarga mendadak"


Rio :


"Jadi Alya nggak tahu? "


Revan :


"Yoi"


Rio :


"Wah berarti kamu culik dong? "


Revan :


"Emang"


Rio :


"Eddaann"


Revan :


"Hahaha. Sekarang emaknya udah tahu soalnya ku suruh pulang kalau mau ketemu anaknya"


Rio :


"Mbuh lah... "


Setelahnya tidak ada percakapan lagi antara mereka. Di sisi lain Sandi membuka pesan dan membalas pesan dari Revan.


Sandi :


"Sipp 👍"


Revan :

__ADS_1


"Siapa dulu😏"


Sandi tidak tahu saja bagaimana kakaknya itu membawa Faya. Jika ia tahu yang sebenarnya mungkin juga akan mengatainya gila.


__ADS_2