
Setelah kepergian Revan, Kamila masih berdiri mematung sendiri di tempat itu. Ia terkejut dengan perubahan sikap Revan. Terakhir kali mereka bertemu Revan masih kelihatan baik - baik saja terhadapnya. Tapi kenapa hari ini berbeda? Apakah karena wanita itu, yang sekarang menjadi istri Revan. Apa istimewanya wanita itu? Tidak terlalu cantik dan dia janda yang sudah punya anak. Apa karena saat ini wanita itu telah mengandung anak Revan? Ya, itu kemungkinan besarnya. Revan bukanlah lelaki yang mudah tertarik dengan wanita. Apa perlu sedikit bermain dengan wanita itu? Kamila tersenyum licik.
Kamila duduk di bangku panjang yang tersedia di taman. Terlintas di pikirannya jika saat ini ia menyedihkan. Tidak ada yang memihaknya. Bahkan papanya sendiri tak memihaknya.
"Mama... apa aku salah? apa aku salah jika memilih kehidupan yang seperti ku inginkan? Mama... sekarang sudah tidak ada lagi yang memihakku. Papa juga tidak memihakku", ia berbicara sendiri sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
Ketika ia akan pergi tak sengaja tatapan matanya tertuju kepada beberapa pemuda sedang berbincang di atas motor di pinggir taman tersebut. Ia mengenali salah satu orang di antara mereka. Dia adalah Sandi. Nampaknya ia baru pulang kerja kemudian mampir ke taman. 'Apa dia tidak ada kuliah hari ini? ', pikir Kamila. Tanpa pikir panjang Kamila melangkahkan kakinya menghampiri gerombolan pemuda tersebut.
Ketika sudah agak dekat ia memanggil Sandi tapi yang di panggil tidak mendengar justru salah satu temannya yang dengar.
"Sandi...? ", Sandi tidak menoleh karena tidak dengar dan asyik berbicara.
" Hei San, tuh ada yang manggil kamu", salah satu teman Sandi memberitahu dengan memberi kode menggerakan dagunya.
Sandi lantas menoleh ke arah yang di maksud temannya.
"Cewek kamu Dan? ", temannya yang lain bertanya.
" Bukan"
"Ya sudah kalian duluan aja ! aku ada sedikit urusan sama dia", lanjut Sandi.
Teman - teman Sandi menurut dan mereka pergi meninggalkan taman. Setelah teman - teman Sandi pergi, Kamila mendekati Sandi yang masih di tempatnya .
" Ada apa? ", tanya Sandi.
" Kamu ngapain di sini? ", bukannya menjawab Kamila malah balik bertanya.
" Ck, ya terserah aku lah mau dimana saja. Kamu tadi manggil ada apa? "
"Deg, kamu? Sandi barusan memanggilku ' kamu'', batin Kamila.
" Hei kok malah bengong sih? ", Sandi dengan nada sedikit keras terkesan sedikit membentak.
" Eh ng- nggak", Kamila gelagapan keasadarannya kembali setelah mendengar Sandi bicara seperti membentak.
"Buruan ada apa? ", tanya Sandi ulang dengan nada ketus.
__ADS_1
" Ng- nggak jadi", Kamila mengurungkan niatnya yang sebelumnya karena tiba - tiba apa yang ada di pikirannya seperti hilang semua lantaran melihat sikap Sandi.
"Ck, nggak jelas", Sandi kemudian memakai helmnya dan menghidupkan mesin motor, berlalu meninggalkan Kamila sendiri tanpa berpamitan.
" Hah... kenapa sih hari ini orang - orang sikapnya aneh. Sandi kenapa jadi galak? tidak seperti Sandi yang ku kenal. Tapi... galak kenapa justru terlihat keren ? Astaga... kenapa dengan otakku ini? Bisanya aku berpikir Sandi keren", Kamila berbicara sendiri.
Ia berjalan menuju tempat ia memarkirkan motor sambil menggelengkan kepala 'tidak, tidak, bisanya aku punya pikiran konyol kepada Sandi', batinnya menolak mengakui bahwa Sandi keren.
Setelah pertemuan tak terduga Kamila dengan Revan di taman, dua bulan kemudian banyak perubahan dalam diri Kamila. Dua bulan terakhir ini ia memang mengerjakan pekerjaan mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Sesekali membantu ayahnya memasak di dapur atau kalau tidak ia akan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain seperti menyapu dan mengepel lantai. Walaupun tanpa diminta ayah atau adiknya. Ayah dan adik Kamila sudah sepakat tidak mau menyuruh atau minta tolong kepada Kamila untuk mengerjakan pekerjaan rumah termasuk memasak. Kecuali urusan pakaian Kamila, ayah dan adiknya tidak mau tahu. Terbiasa melakukan pekerjaan rumah membuat pola pikir Kamila berubah. Ia lebih banyak di rumah, keluar jika ada perlu saja. Ia juga belajar memasak melalui youtube. Jika ayahnya memuji masakannya ia merasa bahagia dan semakin semangat untuk mencoba menu yang lain. Tentu ayah dan adiknya senang dengan perubahan Kamila.
"Hari ini kan libur, kamu tidak ingin keluar? ", tanya sang ayah menghampiri Kamila yang sedang duduk di ruang tengah bermain ponsel.
" Keluar kemana? "
"Ya kemana saja sesuka kamu"
"Nggak, males", jawabnya masih fokus pada ponsel yang ada di tangannya.
Ayahnya mengangguk - angguk tidak melanjutkan pembicaraan lagi.
" Pa, kalau seandainya Mila resign trus buka toko di rumah gimana? "
"Memang kamu ada rencana mau resign? ", lanjut pak Doni bertanya pada putrinya.
" Ada pikiran seperti itu sih. Kadang Mila merasa jenuh, capek kerja ikut orang"
"Coba kamu pikirkan baik - baik. Jika kamu sudah yakin ya sudah resign saja! ", pak Doni tersenyum.
Kamila mengangguk sebagai jawaban.
'Alhamdulillah ya allah semoga anakku Kamila menjadi lebih baik', doa pak Doni dalam hati. Ia sangat senang melihat perubahan dalam diri putrinya tersebut. Ia merasa Kamila sekarang jauh lebih dewasa.
Usia kandungan Alya sekarang sudah tiga bulan, hari - harinya kini sangat tenang. Revan lebih perhatian dan sangat memanjakannya. Setelah dua bulan yang lalu Revan yang tidak sengaja bertemu dangan Kamila di taman, malamnya Revan menceritakannya kepada Alya perihal ia yang tidak sengaja bertemu dengan Kamila. Padahal saat itu Alya memang tidak mau bertanya kepada Revan namun di luar dugaan Revan malah menceritakan dari awal sampai ia pergi meninggalkan Kamila. Tentu saja hal itu membuat Kamila senang.
Sore harinya Alya, Revan dan juga Faya pergi ke sebuah mall sekedar jalan - jalan. Saat Alya memilih - milih baju tak sengaja berpapasan dengan Kamila yang juga sedang memilih baju. Namun Kamila tidak sendiri melainkan dengan seorang anak remaja laki - laki yang tak lain adalah Rafli adik Kamila.
"Hai.. ", sapa Kamila lebih dulu dengan wajah terlihat senang.
__ADS_1
" Hai juga, sedang beli baju? "Alya membalas.
" Iya kalau ada yang cocok. Baru lihat - lihat sih. Kamu sendiri aja? "
"Nggak, aku sama mas Revan dan Faya"
"Oh"
Dari tempat agak jauh Revan yang sedang bersama Faya merasa sedikit khawatir.
'Apa yang mereka bicarakan? Jangan - jangan Kamila ingin berulah? Tapi kenapa wajah keduanya tampak bersahabat? ', hati Revan bertanya - tanya. Ia kemudian mengajak Faya menghampiri Alya. Ia khawatir Kamila nekat melakukan sesuatu kepada Alya. Apalagi saat ini kondisi Alya sedang mengandung.
"Yank? ", panggil Revan kepada sang istri ketika sudah dekat.
" Deg" , hati Kamila berdebar mendengar suara yangbsangat ia kenal tapi sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang.
" Eh mas, ini aku nggak sengaja ketemu Mila di sini. Dia juga lagi lihat - lihat baju"
"Hai Mas Revan gimana kabarnya? ", Kamila menyapa Revan lebih dulu.
" Hai juga, alhamdulillah baik. Kamu sendiri? "
"Alhamdulillah baik juga"
"Kak ayo coba lihat yang di bagian sana! ", Rafli yang tiba - tiba datang. Ketika Kamila dan Alya berbicara tadi Rafli memang pergi meninggalkan mereka berdua.
" Oh ayo! ", jawab Kamila cepat.
" Kalau begitu aku duluan ya mas Revan, Alya... daa cantik" , Kamila pamit sembari mencubit gemas pipi Faya.
"Iya silakan", Revan menjawab sedang Alya mengangguk sambil tersenyum.
" Mas ngrasa nggak Kamila berubah? ", tanya Alya pada sang suami.
" Nggak tahu", jawab Revan jutek.
Dalam hati Revan, " Dia memang kelihatannya berubah namun aku tidak yakin. Tapi tak ku pungkiri dia membuatku terkejut luar biasa. Penampilannya pun berubah, ia sekarang memakai hijab. Sesungguhnya perasaanku masih sama padamu Kamila tapi sekarang aku sudah tidak sendiri, ada hati yang harus di jaga dan tanggung jawab". Revan memejamkan matanya sesaat dengan menarik napas membuangnya kemudian.
__ADS_1
Di sisi lain,
"Syukur Rafli datang tepat waktu. Jantungku rasanya mau copot. Jujur aku masih menyukaimu mas tapi aku sekarang sadar jika kamu sudah tidak bisa menerimaku. Walaupun hingga sekarang aku belum yakin jika dirimu sudah tidak ada perasaan padaku. Maafkan aku yang dulu - dulu mengganggu rumah tangga kalian...maafkan aku juga yang sempat punya pikiran untuk berbuat hal yang buruk pada istrimu. Sekarang aku tidak begitu, sebab aku sudah membuka lembaran baru di hidupku", Kamila bicara dalam hati sepanjang perjalanan menemani Rafli memilih pakaian.