Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Frustasi


__ADS_3

Setelah di dalam rumah mbak Surti menuju kamar Revan,


"tok tok tok", mbak Surti mengetuk pintu kamar Revan namun tak ada sahutan sama sekali.


" Bapak di bawa ke rumah sakit mas. Jika mas ingin menangis, menangislah ! Keluarkan semua rasa sakit di hatimu. Tapi setelah itu tolonglah menjadi kuat untuk keluargamu terutama bapak yang saat ini sangat butuh dukunganmu. Mbak permisi ke belakang dulu", pamit mbak Surti setelah memberi nasehat pada Revan yang sudah seperti adiknya sendiri. Mbak Surti sudah paham dengan apa yang di alami anak majikannya itu, karena ia adalah orang yang sudah bersuami. Ia tahu bagaimana laki - laki jika sudah merasa hancur. Menangis bukanlah hal yang di alami perempuan atau anak kecil saja, laki - laki dewasa pun juga bisa menangis. Dan benar saja saat ini di dalam kamar Revan sedang menangis sambil menelungkupkan wajahnya pada lutut dengan kaki yang di tekuk terduduk di lantai kamarnya. Rasa sakit di tubuhnya sudah tidak terasa sakit lagi. Rasa sakit itu sudah pindah ke hatinya. Dirinya merasa frustasi, benar - benar hancur.


Mbak Surti keluar dari dapur membawa dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng menuju ke arah agak belakang dari rumah itu yang tak lain adalah kandang ayam. Ia kemudian berhenti di sebuah gubuk kecil terbuat dari kayu dan meletakkan apa yang di bawanya di atas papan yang di buat seperti tempat tidur.


"Mas Yon... ini kopinya", serunya pada mas Yono yang tak lain adalah suami mbak Surti. Perlu di ketahui bahwa rumah pak Andi bukanlah rumah yang berada di komplek perumahan. Melainkan cenderung rumah kampung yang letaknya di ujung. Dimana samping dan belakangnya merupakan perkebunan baik itu lahan pak Andi maupun warga lain. Udara pagi yang segarpun masih di dapatkan di tempat ini karena masih dekat alam. Walaupun sudah termasuk area kota. Sedang mbak Surti dan suaminya sama - sama bekerja di tempat pak Andi bahkan adik dari suami yang bernama Heri juga bekerja di situ. Mbak Surti yang sebagai art, sedang sang suami dan adiknya membantu usaha pak Andi yaitu mengurus ayam. Mbak Surti pun juga bukan orangnjauh. Melainkan juga warga di situ, jadi setiap sore ia akan pulang ke rumahnya sendiri bersama sang suami. Sedangkan adik iparnya Heri tinggal di situ guna menjaga ayam di saat malam hari. Di dekat gubuk kayu itu terdapat rumah kecil dari tembok yang di dalamnya terdapat tempat tidur dan kamar mandi , serta TV untuk hiburan yang memang di sediakan pak Andi untuk orang yang mengurus ayamnya.


"Kamu ngapain masih di sini dek? Masuk sana! ", perintah Yono pada istrinya yang biasanya setelah meletakkan kopi langsung kembali ke rumah majikannya. Mbak Surti tidak bergeming membuat suaminya mengernyit heran.


" Kenapa sih? ", tanyanya lagi.


" Tadi ada orangtua mbak Mila ke sini "


"Trus? "


"Mereka ke sini cuma ngasih tau kalau rencana pernikahan batal"


"Ha...? ",


" Apa? ", Heri yang baru datang dr arah belakang mereka ikut menyahut begitu mendengar perkataan kakak iparnya. Mbak Surti dan mas Yono pun kaget dengan kedatangan sang adik sontak berbalik melihat belakang.


" Sontoloyo bikin kaget aja", ujar mas Yono merasa kesal di buat kaget adiknya. Heri begegas ikut bergabung dengan kakaknya.


"Yang bener mbk? "


"Iya.Sekarang malah bapak di bawa ke rumah sakit sama mas Sandi. Dan mas Revan mengurung diri di kamar karena kecewa mendengarnya"


"Haduh, kok jadi begitu ya? Memang apa alasannya dek? "


"Katanya mbak Mila belum siap"

__ADS_1


"Lah... alasan macam apa itu ? kalau belum siap ya pasti udah lama bilangnya. Nah ini acara tinggal dua minggu lebih dikit aja, persiapannya juga hampir selesai. Kenapa baru bilang? Ngomong - ngomong kamu tahu dari mana dek? "


"Aku dengar sendiri, tadinya aku gak bermaksud nguping lha wong tujuanku mau lihat siapa yang bertamu dan berapa orang. Aku mau buatkan minum begitu. Eh taunya malah aku lihat mas Revan lagi nguping, aku ya langsung berhenti di belakang mas Revan dan dengar semuanya"


"Menurutku itu pasti ada sangkut pautnya dengan kecelakaan mas Revan", sahut Heri.


" Apa hubungannya? ", tanya mbak Surti pada adik iparnya.


" Kan wajah mas Revan jadi begitu mbak. Soalnya kadang ada cewek yang kayak gitu. Ya nggak bermaksud nyalahin sih tapi ada emang yang agak ribet begitu"


"Udah, udah. Kamu buruan masuk gih dek! Siapa tahu mas Revan butuh apa - apa. Lagian dia sendirian di rumah". Tanpa menjawab mbak Surti langsung berdiri dari duduknya dan menuju ke rumah depan.


" Kasihan keluarga pak Andi ya mas? ", Heri bicara pada kakaknya.


" Iya. Mungkin memang belum jodohnya mas Revan"


Percakapan mereka berhenti begitu saja dengan menikmati kopi dan gorengan pisang. Bagi mereka itu bukan urusannya jadi kurang pantas kalau membahasnya lebih panjang.


Di rumah depan Revan masih tidak beranjak dari kamarnya.


" Assalamualaikum sob..? ", sapanya dengan suara nyaring dan semangat begitu panggilannya di jawab.


" Waalaikumsalam", jawab Revan kurang semangat.


"Ciee yang mau nikah sibuk amat ", goda Rio pada sahabatnya.


" Aku kecelakaan sob"


"Heh kapan? Kenapa nggak kasih kabar? Pantas saja bilang anak - anak beberapa hari ini kamu nggak ada nongol di cafe"


"Tiga hari yang lalu kalau tidak salah. Entahlah lupa aku"


"Dasar kamu ini ya. Jadi sekarang kamu dimana? "

__ADS_1


"Aku di rumah"


"Ya sudah nanti malam kalau tidak ada halangan aku ke rumahmu sama biniku. Oke aku tutup dulu ya sob selamat istirahat? "


"Hm".


Setelah ber telepon dengan Rio, Revan lantas menghubungi nomor adiknya. Suara tersambung dari sebrang sana dan tak lama kemudian,


" Hallo Assalamu'alaikum...? ", Sandi menjawab panggilan dari kakaknya.


" Waalaikumsalam. Bagaimana keadaan bapak? "


"Bapak sudah stabil kata dokter. Sudah boleh pulang juga"


"O syukur deh. Ibuk? "


"Buk, mas Revan telpon ", Sandi memberitahu ibunya dan memberikan ponselnya pada ibunya.


" Iya Van? Kamu baik - baik aja nak? "


"Iya buk Revan baik saja. Bapak gimana buk? "


"Bapak sudah baikkan kok. Sebentar lagi kita pulang. Maaf tadi keburu panik jadi tidak kasihtau Revan? "


"Iya tidak apa - apa buk"


"Ya sudah ya ibuk tutup nanti kita ngobrol - ngobrol di rumah. Assalamualaikum? "


"Iya buk Revan tunggu di rumah. Waalaikumsalam. Tut."


Percakapan berakhir, Revan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya setelah meletakkan ponsel di atas nakas. Ia merenungi apa yang di alaminya saat ini, mengingat juga hal - hal yang dilaluinya dengan sang kekasih. Eh lebih tepatnya mantan. Revan tak habis pikir kenapa Kamila membatalkan rencana pernikahannya di saat sudah dekat. Rasanya ia masih penasaran dengan jawaban yang sesungguhnya. Ia berpikir lalu apa yang akan dilakukan setelah ini. Kerugian materi pasti karena sudah terlanjur DP gedung, DP jasa wo, catering. Malu juga tak bisa di hindari, di tambah kondisi sang ayah yang bisa kapan saja drop seperti hari ini. Beruntung Yang Kuasa masih memberi keselamatan sehingga bisa stabil dan tidak perlu rawat inap. Kemudian sang ibu walaupun kelihatannya diam bukan berarti tidak kepikiran bukan? Itu juga mengkhawatirkan mengingat ia punya tekanan darah tinggi. Kerugian materi bisa di abaikan tapi kesehatan orangtuanya? Bukan kah akan lebih baik kalau secepatnya ia mendapatkan menantu untuk kedua orangtuanya agar kedua orangtuanya merasa tenang? Rasanya kalau di ibaratkan saat ini kepala Revan mau pecah memikirkan semua. Sudah sakit kepala akibat kecelakaan masih terasa ini di tambah lagi dengan masalah pembatalan pernikahan.


"Menantu buat bapak dan ibuk ya...? ", Revan bicara sendiri.

__ADS_1


Di tempat lain, di bandara kota itu terlihat seorang wanita berhijab dengan seorang anak perempuan yang berusia lima tahun yang di gandengnya dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya menyeret sebuah koper besar berjalan menuju pintu utama kedatangan para penumpang pesawat.


__ADS_2