Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Hamil - Hilang


__ADS_3

Dua hari setelahnya Sandi yang mengendarai motornya dalam perjalanan pulang dari kerja tiba - tiba ada mobil yang seperti mengikutinya. Semakin lama mobil tersebut semakin mendekat hingga berada di samping kanannya. Sandi merasa aneh dengan mobil tersebut namun ia tetap berpikir positif dan fokus pada jalanan yang agak sepi. Karena waktu memang sudah menjelang maghrib. Ia harusnya pukul lima sudah pulang namun dikarenakan pekerjaanya hari ini banyak maka ia baru pulang menjelang maghrib. Saat dirinya fokus pada jalanan tiba - tiba mobil yang berada di sampingnya menghantam motor Sandi. Sandi yang tidak siap pun oleng hingga terjatuh. Kemudian mobil yang menghantamnya melaju dengan kecepatan tinggi. Di sisi lain ada mobil di belakang Sandi, mobil tersebut berhenti hendak memberikan pertolongan kepada Sandi. Dua lelaki turun dari mobil kemudian menghampiri Sandi yang jatuh namun tidak apa - apa, ia masih bisa berdiri lantaran hantaman mobil tersebut tidak begitu keras.


"Mas tidak apa - apa? ", salah satu dari dua lelaki tersebut.


" Ah tidak teri... ekh", Sandi merasakan ada yang menusuk di lehernya dan ketika ia menoleh ada seorang lelaki memegang lengannya dari belakang.


Beberapa detik kemudian Sandi tak sadarkan diri.


"Mas Sandi kok sampai jam segini belum pulang? ", gumam Kamila.


Ia lantas mencoba menghubungi nomor Sandi namun tidak aktif.


" Kok nggak aktif? Apa baterainya habis ya? "


"Kenapa Mil...? ", tanya Doni yang melihat putrinya seperti kebingungan di teras.


" Mas Sandi belum pulang pa dan Mila hubungi nggak aktif nomornya"


"Iya ya nggak biasanya Sandi sampai jam segini belum pulang? Apa mungkin dia lembur Mil? Kamu ada nomor teman sekantornya? Coba kamu tanyakan ke dia ! "


"Ada pa, bentar Mila telpon mas Tommy! "


"Tut tut tut"


"Halo Assalamu'alaikum maaf ini siapa ya? "


"Halo waalaikumsalam maaf mengganggu... saya Kamila istrinya mas Sandi apa benar ini dengan mas Tommy? "


"Oh istrinya Sandi, iya ada apa mbak? "


"Apakah mas Sandi ada lembur di kantor? "


"Tadi kita memang pulang agak telat karena banyak kerjaan, tapi setengah enam tadi kita sudah pulang. Ada apa memangnya mbak? "


"Itu... mas Sandi belum pulang"


"Lhoh? Ah mungkin dia ada urusan kemana gitu mbak? Mbak sudah telpon? Yang pasti kita tadi keluar dari kantor barengan, soalnya kita lagi mengerjakan proyek yang sama. Tapi setelah keluar dari kantor kami pisah karena arah rumah kami kan berlawanan"


"Saya sudah mencoba menghubungi nomornya tapi tidak aktif"


"Mbak tenang saja mungkin dia lagi ada urusan!"


"Iya terimakasih ya mas maaf mengganggu. Assalamualaikum? "


"Sama - sama, waalaikumsalam. Tut", telepon berakhir.


" Gimana Mil? ", Doni yang saat ini duduk di kursi teras.


" Kata mas Tommy tadi mereka pulang bareng setelah keluar dari kantor berpisah karena beda arah. Memang pulang mereka agak telat karena banyak pekerjaan. Tapi tetap saja harusnya dia sudah sampai rumah dari tadi pa"


"Sekarang kamu mau telpon siapa lagi? "


"Coba hubungi ibuk, siapa tahu mas Sandi mampir ke rumah orang tuanya "


"Hm itu benar"


"O gitu ya buk, ya sudah buk mungkin mas Sandi mampir kemana dulu", Kamila yang sedang bercakap ditelpon dengan ibu mertuanya.

__ADS_1


" Sandi nggak di sana juga? "


"Iya pa"


"Memang dia nggak ada kabarin kamu dulu? "


"Nggak ada pa bahkan nomornya saja nggak aktif"


"Berpikir positif saja semoga dia tidak kenapa - kenapa! "


"Iya pa", walaupun Kamila menjawab demikian tapi entah mengapa hatinya merasa resah.


Hingga pukul sembilan malam belum ada tanda - tanda kepulangan Sandi. Kamila lantas punya ide untuk menghubungi Alya. Jika menghubungi Revan takutnya jadi salah paham.


"Asalamualaikum Kamila ada apa? ", begitu Alya mengangkat telpon dari Kamila.


" Waalaikumsalam anu...mbak minta tolong dong tanyakan kepada mas Revan tahu mas Sandi saat ini lagi dimana nggak? "


"Bentar kayaknya lebih baik kamu ngomong sama orangnya langsung"


"Mas...? ", panggil Alya kepada Revan sembari memberikan ponselnya.


" Siapa? "


"Kamila"


"Halo iya Mil? "


"Mas, mas Revan tahu nggak mas Sandi dimana? "


"Nggak, emangnya dua belum pulang? "


"Kamu sudah coba telpon dia ? "


"Udah tapi nomornya nggak aktif dan aku juga udah telpon teman sekantornya, katanya mereka tadi pulangnya bareng. Tapi mas Sandi belum sampai rumah hingga sekarang"


"Apa dia nggak ngomong apa - apa sama kamu? "


"Nggak ada. Makanya aku bingung, biasanya kalau dia mampir ke mana pasti bilang dulu ke aku. Tapi ini nggak ada"


"Kamu tenang dulu, kita coba tunggu sampai dia pulang ! Mas juga akan coba hubungi teman - temannya yang mas tahu"


"Iya mas, makasih ya maaf sudah merepotkan? assalamualaikum? "


"Sama - sama, nggak merepotkan. Waalaikumsalam tut"


"Kenapa mas? ", tanya Alya begitu telpon berakhir.


" Sandi belum pulang yank. Harusnya dia sudah pulang dari tadi sore. Nomornya nggak aktif, dia juga nggak ada memberi kabar Kamila sebelumnya jika ada urusan atau apa. Temannya bilang juga kalau mereka tadi pulangnya bareng. Tapi Sandi hingga saat ini belum juga sampai rumah"


"Kamila pasti resah", ucap Alya.


" Iya terdengar seperti itu tadi pas telpon. Dia juga bilang... biasanya Sandi bilang jika ada urusan tapi hari ini Sandi tidak bilang apa - apa"


"Semoga tidak ada hal buruk terhadap Sandi dan cepat pulang"


"Iya aamiin... "

__ADS_1


Di sebuah kapal seorang lelaki mendatangi seorang perempuan yang sedang duduk sambil menikmati sebatang rokok.


"Bu, semuanya sudah siap", ucap lelaki tersebut.


" Apa semua sudah kamu bereskan? Sudah kamu pastikan susah untuk di lacak"


"Sudah bu, semua aman. Motornya juga sudah kami buang ke jurang seolah itu kecelakaan "


"Bagus, ayo kita berangkat! "


Wanita itu berdiri dari duduknya kemudian ia masuk ke sebuah ruangan.


"Sayang mulai sekarang kita akan memulai hidup baru", ucap wanita tersebut sambil mengelus wajah seorang lelaki yang tak sadarkan diri di atas kursi roda.


" Hei cepat baringkan dia di atas kasur! Sayangku pasti lelah jika tidur di atas kursi terus", perintah wanita tersebut kepada dua orang lelaki yang ada di sana.


Keesokan harinya baik Kamila maupun Revan masih belum mendapat kabar dari Sandi. Hal itu membuat Kamila semakin resah dan bingung. Bahkan ia tidak selera makan dari tadi malam.


"Kamila... makan dulu dari semalam kamu belum makan nasi! ", ucap Vinni.


" Kamila nggak selera ma, mas Sandi belum pulang hingga sekarang"


"Tapi kamu pucat Kamila, kamu harus makan ! "


"Yang di katakan mamamu benar, kamu harus makan nanti kamu bisa sakit", Doni menimpali.


Kamila tampak duduk kemudian berdiri lagi sampai beberapa kali. Hingga beberapa detik kemudian pandangan Kamila tiba - tiba berkunang dan ia pingsan. Untung Doni langsung menangkapnya hingga Kamila tidak sampai jatuh ke lantai.


"Kamila... Kamila", Doni dan Vinni panik.


" Baringkan di kursi mas! ", ucap Vinni.


" Rafli... ", lanjut ia memanggil Rafli yang berada di lantai atas.


" Iya ma..", Rafli menjawab sambil menuruni tangga.


"Cepat kamu ke rumah bidan Yuni, suruh datang untuk memeriksa mbak Mila! sekarang! "


"Ah... iya ma", Rafli lantas berlari menyalakan motor menuju tempat yang di suruh Vinni.


Beberapa menit kemudian Rafli datang dengan membonceng kan bidan Yuni. Kamila lantas di periksa.


" Ini mbak Mila belum ada makan ya buk? Dan setelah saya periksa mbak Mila saat ini sedang berbadan dua. Dia tidak boleh kelelahan, tidak boleh stres, harus makan yang bergizi"


"Mila hamil... ", Vinni merasa senang mendengarnya.


" Alhamdulillah berarti saya akan punya cucu", Doni menimpali.


"Iya Pak ini vitamin yang harus diminum mbak Mila nanti, harus rutin mengkonsumsinya"


"Baik bu bidan, kami akan mengingatkannya", ucap Vinni.


" Kalau begitu saya permisi pulang dulu"


"Oh berapa biayanya? "


"Tidak usah untuk kali ini gratis"

__ADS_1


"Terimakasih bu, biar diantar Rafli"


Bu Yuni noun di antar Rafli kembali pulang, saat ini mereka senang dengan kehamilan Kamila namun juga sedih karena Sandi menghilang. Belum pulang hingga saat ini.


__ADS_2