
Setelah mendapat pesan dari Revan, Alya langsung berkemas dan pulang ke rumah mertuanya menggunakan taksi online. Sesampai di rumah ia di sambut ibu mertuanya.
"Aduh Alya rumah sepi nggak ada kamu sama Faya. Eh ngomong - ngomong Faya mana kok nggak sama kamu? "
"Loh bukannya udah pulang sama mas Revan buk? "
"Nggak ada, Revan belum pulang"
"Kemana ya mereka? ", Alya bergumam.
" Memang kalian nggak pulang sama - sama? "
"I-tu... mas Revan tadi jemputin Faya di sekolah sendiri soalnya Alya masih ada urusan. Alya kira langsung di ajak pulang. Coba Alya telpon dulu mas Revan buk"
Ibu Yani mengangguk.
"Tut... tut... tut... halo, assalamualaikum mas dimana kok belum ada di rumah? "
"Aku masih di mall sama Faya, bentar lagi pulang"
"Di mall? "
"Iya. Aku ngajak Faya main"
"O ya udah cepat pulang ya...! Assalamualaikum"
"Hm, waalaikumsalam"
"Kemana jadi mereka? ", ibu Yani bertanya setelah melihat Alya selesai bicara dengan Revan.
" Ternyata di ajak mas Revan main ke mall"
"Oh"
"Kalau begitu Alya ke kamar dulu ya buk"
"Iya iya".
Begitu Alya sampai di dalam kamar, ia pun memasukan pakaian yang di bawanya ke dalam lemari. Selesai memasukan pakaian ia menyalakan TV guna menghilangkan kejenuhan menunggu Revan dan Faya pulang. Beberapa kali melihat jam dinding, rasa tak sabar menunggu kedatangan Revan dan Faya. Beberapa menit kemudian terdengar suara riuh di ruang tengah, suara ceria Faya. Alya pun langsung mematikan TV dan berlalu keluar kamar.
"Bunda... ", Faya yang melihat Alya muncul.
" Bunda kok tadi nggak ikut ayah jemput Faya? "
"Maaf sayang bunda tadi masih ada urusan sama tante Nina"
"Bun tadi ayah ngajakin Faya main ke G-zone lho. Bunda sih nggak ikut"
"O iya asyik dong? "
Revan hanya bergeming melihat interaksi ibu dan anak itu. Ia berjalan menuju kamar. Alya yang melihatnya bermaksud mengikutinya.
"Faya main di sini dulu sama nenek ya... bunda mau nyusul ayah ke kamar! "
"Iya bun"
Alya kemudian berjalan ke kamar menyusul Revan. Di dalam kamar ia mendapati Revan berbaring terlentang di atas kasur sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Mas...? "
Yang di panggil pun lantas membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Ia kemudian berjalan menghampiri sang istri yang masih dalam posisi berdiri. Ia memeluk istrinya, lalu mengecup kening mencium kedua pipi beralih ke bibir ********** beberapa detik masih dengan pelukannya. Lantas melepasnya dan menarik tangan sang istri di dudukkannya di tepi ranjang. Revan duduk bersimpuh di depan sang istri, menggenggam kedua tangan sang istri sambil menengadah menatap wajahnya.
"Kenapa yank...? kenapa nggak pulang? ", tanya Revan pelan.
"Aku minta maaf yank... aku salah", tanpa menunggu jawaban dari sang istri Revan melanjutkan dengan mengungkapkan permintaan maafnya.
Alya masih diam antara kesal dan bagaimana ia harus menyikapi Revan. Kalau boleh jujur sebenarnya ia masih enggan berbicara dengan Revan saat ini. Hatinya masih sakit dan belum bisa melupakan kejadian malam itu. Tentu saja hal itu tidak akan mudah di lupakan begitu saja.
"Yank... kok diam saja sih? ", Revan yang tidak mendapat jawaban apapun dari Alya.
" Jangan diam saja dong? ", Revan masih memelas.
" Awas mas aku mau ke kamar mandi! ", Alya bukannya memberi jawaban atas pertanyaan Revan malah terkesan mengusir Revan.
Mau tidak mau Revan pun menyingkir, 'sepertinya bakal sulit ini', batin Revan seraya mengelus jidatnya lelah setelah Alya menuju kamar mandi. Ia masih menunggu sang istri keluar dari kamar mandi. Beberapa saat kemudian yang di tunggu pun keluar. Lalu naik ke kasur dan berbaring miring memunggungi sang suami yang berada di sisi lain ranjang. Revan tak tinggal diam, ia ikut berbaring miring memeluk sang istri dari belakang. Ia tahu kalau Alya hanya berpura - pura untuk tidur.
"Yank aku minta maaf? aku tahu aku salah. Aku nggak akan melakukan itu lagi", Revan bicara pelan di dekat telinga sang istri.
" Setelah kita menikah baru kemarin kok aku ketemu sama Kamila. Dia terus memohon untuk ketemu sama aku untuk yang terakhir kali. Makanya aku mau di ajak ketemu malam itu"
"Trus mau juga di apa - apain? Di ajak tidur juga mau ya? Buat anak buah cinta kalian... ", Alya pun akhirnya bicara.
" Nggak nggak, nggak ada yang kayak gitu yank", Revan tidak membenarkan perkataan Alya.
"Nggak gimana jelas - jelas dia meluk lengan mas, parahnya mas malah nggak menolak sama sekali. Seneng ya? "
"Itu... ", Revan berpikir mencari alasan apa kenyataanya memang ia tidak menolak waktu Kamila bergelayut manja di lengannya.
" Gak bisa jawab kan... karena emang benar mas tu suka di tempelin Ka-mi-la. Udahlah mas aku capek nggak ada gunanya juga mas minta maaf kalau masih begitu. Simpan aja kata maafnya! "
"Sama mas aku juga manusia biasa yang saat ini belum bisa menerima apa yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Rasanya sangat sakit"
"Kalau masih belum yakin meninggalkan masa lalumu lantas mengapa mas ngajak aku nikah? Benar - benar ngeselin", lanjut Alya yang kemudian bangkit menuju keluar meninggalkan Revan sendiri di kamar.
" Hah... harus gimana ini ? Susahnya perempuan kalau sudah ngambek", Revan stres bagaimana meyakinkan Alya yang terlanjur marah.
Revan menyusul Alya keluar kamar. Alya yang ikut duduk di ruang tengah bersama ibu mertuanya, sedang Faya asyik bermain dengan mainan barunya.
"Yank... ", Revan duduk di samping Alya memelas.
Ibu Yani memperhatikan sedikit bingung, 'ada apaan sih ? ', batinnya.
" Udah sana! ", usir Kamila.
" Ayo yank ke kamar! ", ajak Revan.
" Kalian kenapa sih? ", tanya ibu Yani.
" Tidak buk... kami ke kamar dulu ya? ", Alya lantas menarik tangan Revan mengajaknya ke kamar.
" Mas ngapain sih kayak gitu? ", begitu sampai di dalam kamar.
" Ya kamu... ", kilah Revan.
" Kok aku... ? makanya kalau mau bertingkah itu pikir dulu. Sudah salah masih nyalahin orang. Bapak sama ibuk tahu kenapa aku nggak pulang? "
__ADS_1
"Nggaklah, jangan sampai mereka tahu! "
"Makanya, mau mereka tahu? Ku kasihtahu sekarang ya? ", Alya baru ingin melangkah menuju pintu Revan melarangnya.
" Eh eh jangan... please yank? Aku mohon maafin aku yank. Janji deh nggak mau lagi kalau di ajak ketemuan Kamila. Ya...? " Revan memohon pada Alya.
"Bukan cuma di ajak ketemuan tapi juga jangan mau di deketin! "
"Iya semuanya, aku bakal nolak semua"
"Semua? termasuk chat? "
"Iya semua. Janji"
Alya diam tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Dimaafin ya yank? ya... maafin! ", pelan suara Revan memelas sambil membingkai wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya.
Alya mengangguk sebagai jawaban bahwa ia memaafkan. Revan lantas memeluk kemudian mengecup kening sang istri.
" Makasih sayang", ucapnya dan di angguki Alya.
Biarpun Alya sudah memaafkan Revan tetap ia butuh waktu untuk bersikap biasa seperti sebelumnya. Ia masih tampak cuek cenderung diam. Revan pun tahu hal itu. Dan itu membuatnya resah, masih ada yang mengganjal di hatinya. Alya mengajaknya bicara hanya seperlunya saja.
Malam harinya ketika sudah sepi karena penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing - masing. Revan dan Alya yang di dalam kamar saat ini dengan tv menyala namun tidak ada yang menonton. Sebab Alya sibuk dengan ponselnya entah apa yang di lihatnya, seakan itu cuma di jadikan alasan di depan Revan. Sedang Revan sedari tadi hanya memperhatikan tingkah laku Alya yang mendiamkannya.
Revan tiba - tiba menarik bahu sang istri pelan yang sedang berbaring tengkurap sambil memainkan ponsel.
"Yank kamu masih marah?", yang di tanya tidak menjawab masih berusaha fokus pada ponselnya.
Kemudian Revan mengambil pelan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
" Kamu mau marah - marahin aku silakan! mau pukul, tendang silakan tapi jangan diamkan aku kayak gini. Aku nggak suka, aku nggak bisa di giniin. Please... ku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Kamu belum maafin aku... "
"Udah ku maafin"
"Nggak, kamu belum maafin aku"
"Udah"
"Kalau gitu... "
"Apa? "
"Aku mau itu... "
"Hm...", Alya bingung.
Revan langsung mencium bibir Alya. Alya berusaha berontak namun Revan tak mengindahkan. Ia terus mencium Alya semakin dalam. Beberapa saat kemudian melepaska ciumannya.
" Kalau kamu sudah maafin aku maka ayo kita lakukan sekarang. Aku nggak percaya sebelum kita melakukannya"
"Udah ku maafin", tegas Alya.
" Nggak, aku nggak percaya. Ayo kita lakukan baru aku percaya"
"Hhh... ", Alya menghela nafas kemudian mengangguk pelan. Merasa tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
Jadilah mereka malam ini melakukan hubungan suami istri. Walau sebenarnya Alya masih enggan melakukannya. Tapi tak menampik keduanya sama - sama menikmati pergulatan yang mereka lakukan bahkan merasa saling menyayangi satu sama lain. Mereka seperti tak mau jauh satu sama lain.