Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Kenyataan


__ADS_3

Sore harinya Revan mengajak Alya serta putrinya Gaya untuk berkunjung ke cafe yang di jalankannya bersama Rio. Mereka sepakat bertemu di kafe sekaligus memperkenalkan secara resmi Alya sebagai istri Revan. Sesampai di cafe ternyata Rio dan sang istri serta putranya Robin sudah berada di sana menunggu kedatangannya. Rio sudah mempersiapkan tempat yang berada di sudut. Bentuk tempatnya lesehan di atas papan kayu yang di buat panggung. Cafe mereka ada yang sebagian lesehan ada juga yang meja kursi seperti pada umumnya. Memang mereka sengaja mengatur demikian agar pengunjung bisa bebas memilih tempat seperti yang di inginkan.


"Akhirnya datang juga yang di tunggu", seru Rio girang sehingga menyita perhatian orang sekitar.


Mereka saling berjabat tangan. Kemudian duduk di tempat yang di siapkan Rio. Karyawan yang melihat interaksi mereka bertanya - tanya, 'siapa yang di ajak pak Revan? '. Tentu para karyawan yang melihatnya penasaran sebab belum pernah Revan mengajak Alya sebelumnya. Pernah sekali Revan membawa wanita, mungkin Kamila? Pikiran mereka pun bubar karena salah satu dari mereka di panggil Rio, sepertinya akan memesan makanan atau minuman. Dan ternyata benar Rio dan yang lain memesan makanan dan minuman.


Di sudut ruangan mereka saling mengobrol satu sama lain. Istri Rio yang bernama Rina duduk bersebelahan dengan Alya sedang Rio dan Revan berada di sebrang mereka yang di selat oleh meja. Robbin dan Faya, kedua anak itu juga terlihat langsung akrab duduk di sisi lain dari para orangtua mereka.


"Eh sorry ya Al... aku boleh tanya nggak? ", Rina memulai dengan akrab setelah mengetahui nama satu sama lain.


" Boleh. Tanya aja! ", Alya pun membalas akrab juga.


" Gimana ceritanya kamu bisa menikah sama mas Revan, soalnya setahu aku calonnya mas Revan itu Kamila? Jujur pas aku datang ke acara pernikahan kalian kemarin aku kira kamu Kamila, hanya saja jadi berbeda setelah di make up"


"Oh soal itu ya... jadi kalian belum di ceritain tah sama mas Revan? ", Alya mengira baik Rio maupun Rina sudah tahu perihal batalnya pernikahannya dengan Kamila. Revan sempat cerita kepada Alya kalau Rio adalah sahabat sewaktu di mobil dalam perjalanan menuju cafe.


" Nggak ada, mas Rio juga nggak ada cerita apa - apa ke aku", Rina berucap sambil melirik ke arah suaminya.


"Yank aku ke dalam dulu sama Revan, ada yang mau kita bicarakan", pamit Rio pada sang istri. Dan sang istri mengangguk. Sementara Revan berdiri sambil mengangguk memberi kode ke arah Alya dan Alya mengangguk pula sebagai tanda mengerti.


Setelah kepergian kedua suami mereka tinggalah mereka berempat, yakni Alya, Rina, Faya serta Robin. Alya dan Rina melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Faya dan Robbin mereka asyik menonton tayangan anak - anak yang ada di ponsel milik Rina.


"Eh lanjut Al, gimana - gimana tadi? "


"Jadi begini... yang aku dengar sih pernikahannya di batalkan. Cuma aku kurang paham kenapa batal. Aku mau tanya ke mas Revan nggak enak untuk saat ini"


"Trus mas Revan ngajakin kamu nikah ? "


"Iya, alasannya karena kesehatan orangtuanya"


"Hm... gitu", Rina manggut - manggut. Kemudian ia melanjutkan,


"Tapi mas Revan yang aku kenal itu dia pribadi yang kalau sudah mengambil keputusan nggak bakal berubah kok Al, jadi kamu nggak usah khawatir ! Dia orang yang bertanggungjawab"


"Iya Rin, aku nggak khawatir apalagi bapak sama ibuk juga meyakinkan aku waktu datang ke rumah memintaku"


"Oh iya ? ", Rina berseru bahagia.


" Iya Rin, makanya aku mau karena merasa yakin dengan penuturan bapak dan ibuk. Tadinya sebelum kedatangan bapak dan ibuk ke rumah abangku sumpah aku kesal banget sama mas Revan"


"Hahaha", Rina terbahak mendengar cerita Alya.


" Gimana nggak Rin, dia batal menikah yang kurang beberapa hari tiba - tiba ngajak aku nikah. Padahal sebelumnya belum pernah kita saling bicara. Jujur aku merasa seperti di manfaatkan aja. Sebagai pengganti mantan kekasihnya itu. Gimana nggak kesal coba? "


"Iya sih Al, kalau aku jadi kamu... aku pasti juga kesal malah mungkin lebih parah. Mencak - mencak sudah aku"

__ADS_1


"Hehehe iya kan? "


"Hm"


"Tapi keluarga mas Revan baik aja kan orangnya Al? "


"Iya alhamdulillah Rin"


"Eh pelayan datang"


Datanglah dua pelayan laki - laki membawa pesanan yang mereka pesan sebelumnya. Setelah semua pesanan sudah lengkap dan pelayan meninggalkan mereka.


"Tut tut tut", Rina menelpon suaminya.


" Mas ini makanannya udah siap lho"


"Udah kalian makan duluan aja"


"Oh gitu, nggak bareng? "


"Nggak kalian aja duluan kita mah gampang"


"Oke"


"Al, kita di suruh makan duluan. Ayo makan duluan! ", ajak Rina.


"Nggak apa - apa. Tenang aja! "


Mereka pun makan terlebih dahulu bersama anak mereka karena Revan dan Rio belum bisa ikut bergabung.


Di sebuah ruangan yang tepatnya berada di belakang kasir Revan dan Rio sedang berbicara dari perihal kecelakaan Revan hingga batalnya pernikahan Revan dan Kamila.


"Aku nggak nyangka Kamila bisa setega itu sama kamu Van. Kurang apa kamu sama dia coba? ", Rio yang mengetahui kenyataan batalnya pernikahan sahabatnya. Merasa tak habis pikir dengan Kamila hingga membuat ia geleng - geleng kepala.


"Masalahnya yang membuat aku penasaran sampai sekarang itu alasannya apa gitu lho Yo? Aku sampai bertanya - tanya pada diriku sendiri 'apa aku berbuat salah? kalau iya apa?'. Dia sama sekali nggak ada memberi penjelasan. Terakhir kali dia membalas chatku itu setelah dari rumah sakit jenguk aku. Itu pun nggak langsung di balas chatku. Kalau nggak salah seingatku baru malamnya di balas. Dan kamu tahu nggak Yo dia bilang apa? "


"Apa? ", tanya Rio yang sedari tadi mendengarkan cerita sahabatnya.


" Intinya dia cuma bilang 'minta maaf'. Setelah itu sudah nggak ada lagi chat ke aku. Bahkan aku chat lagi nggak di balasnya. Kamu bisa bayangin gimana stresnya aku saat itu. Sudah sakit badanku di tambah lagi berusaha menahan amarahku karena sikapnya yang nggak jelas"


"Hm... menurut kamu Van iya nggak sih kalau dia membatalkan pernikahan kalian karena kecelakaanmu? "


"Maksud kamu? "


"Sorry ya bro sebelumnya aku nggak bermaksud menyinggung, apa mungkin dia malu dengan keadaan kamu? yang tepatnya wajah kamu kan... ", Rio tidak menlanjutkan ucapannya karena merasa tidak enak dengan sahabatnya.

__ADS_1


" Sempat terlintas di pikiranku begitu juga bro, santai aja oke! Aku juga pernah berpikir begitu, wajahku mengerikan dan menjijikkan. Meyakinkan Alya saja rasanya susah. Mungkin kalau nggak di bantu bapak dan ibuk, Alya mungkin nggak mau nikah sama aku. Secara dia merasa kalau aku menjadikan dia pengganti Kamila. Ya, walaupun nggak sepenuhnya salah sih hehehe"


"Dasar kamu ya. Jangan dimainin anaknya orang bro. Lagian ku lihat Alya kalem orangnya dan cantik juga. Walaupun sudah punya seorang anak tapi wajahnya masih seperti orang yang belum ada anaknya"


"Iya. Dia memang begitu saja dari dulu tidak berubah wajahnya"


"Ha...? ", Rio melongo dan melanjutkan,


" Jadi kalian sudah kenal lama tow? "


"Di bilang kenal nggak juga sih. Hanya sebatas tahu aja. Tapi belum pernah ngobrol sekalipun. Udah ku bilang tadi kan kalau Alya itu adik dari salah satu kenalan bapakku"


"Iya iya"


"O iya Yo... ", Revan tiba - tiba teringat sesuatu.


" Apa... hm? "


"Kemarin malam setelah pernikahanku sama Alya tahu nggak kamu? "


"Ya mana aku tahu... "


"Kamila chat aku? "


"Apa? Ngapain? ", Rio terkejut.


" Iya. Aku juga nggak tahu"


"Apa - apa'an ? Setelah membatalkan pernikahannya denganmu tanpa alasan yang jelas. Tiba - tiba dia menghubungi kamu begitu kamu sudah nikah sama wanita lain. Trus kamu balas apa? "


"Nggak ku balas"


"Bagus", Rio memberi jempol ke arah sahabatnya itu.


"Bagus? "


"Iya. Nggak usah lagi kamu memberi celah sama orang yang sudah buat kamu hancur. Kamu sudah menikah Van, istrimu yang sekarang adalah masa depanmu. Kamu nggak perlu menoleh ke belakang lagi! Apapun alasannya misal suatu hari kamu ketemu dia lagi..pesanku ingat kamu sudah punya istri. Dan istrimu lah yang membuat kamu bisa bebas dari kehancuran yang di sebabkan olehnya. Coba kamu pikir Van seandainya Alya nggak di kirim buat kamu... apa kamu bisa sebaik sekarang? "


"Iya bener apa yang kamu bilang Yo, o iya aku lupa ngasih tahu kamu kalau waktu orangtua Kamila datang ke rumah sempat bilang kalau Kamila belum siap menikah"


"Ah... alasan macam apa itu Van? Kalau memang belum siap menikah harusnya ngomong dong dari jauh hari...paling nggak sebelum kamu sewa gedung, catering, wo dan lainnya. Iya nggak? "


"Iya sih, harusnya begitu"


"Ya udah ayo kita keluar makan para nyonya udah makan duluan".

__ADS_1


Mereka pun keluar dari ruangan yang di jadikan kantor.


"


__ADS_2