
Sandi sesekali melirik sang istri yang tadi menyalakan TV namun tidak menonton. Malah ia yang di tonton TV.
"Plug", kacang terlempar di tubuh Kamila membuatnya sadar dari lamunan.
'Ulah siapa ini', dalam hatinya kemudian melihat lelaki di sebrang nya ' siapa lagi kalau bukan orang itu'.
"Apa sih lempar - lempar? ", kesalnya.
" Kamu kenapa sih dari kemarin malam aku perhatikan sejak dari bawah kamu seperti orang yang memikirkan sesuatu ? "
"Hh... aku penasaran sama orang yang ngobrol sama papa. Papa sepertinya punya kekasih"
"Trus? "
"Kok terus?"
"Ya memang kenapa kalau papamu punya kekasih orang dia belum terlalu tua? Beda lagi jika seperti bapakku udah tua penyakitan pula"
"Jadi San menurutmu kamu setuju jika papa menikah lagi? "
"Kenapa nggak? selama wanita itu orang baik - baik. Papamu juga perlu bahagia Mil. Bukan berarti papamu selama ini yang tinggal dengan mu dan Rafli tak bahagia, tapi papamu masih muda. Pasti masih ada hasrat dengan lawan jenis"
"Lagi pula apa kamu nggak kasihan sama papamu jika ternyata ia masih merindukan seorang wanita berada di sampingnya? ", lanjut Sandi.
"Lalu bagaimana dengan mama? Aku hanya merasa kasihan dengan mama. Bukankah itu seperti papa mengkhianati mama? "
"Aduh Kamila aku nggak nyangka pemikiranmu sedangkan itu"
"Maksudnya? ", Kamila mendelik tidak suka dengan perkataan Sandi.
" Mamamu itu sudah bepindah tempat Mil, udah beda dunia dengan kita. Kita yang ditinggal masih harus melanjutkan hidup bukan terpuruk dalam duka karena dia yang sudah pergi"
Kamila mulai mengendur mendengar ucapan Sandi. Apa yang di katakan Sandi benar pikirnya. Ia merasa dirinya selama ini bodoh.
"Tapi San apakah papaku masih cocok untuk menikah lagi? "
"Masihlah. Dia masih sehat, segar bugar, tidak pengangguran dan belum terlalu tua. Bahkan jika punya anak lagi tidak masalah"
"Hah...? ", Kamila menganga.
" Kan salah satu tujuan menikah untuk dapat keturunan, penerus".
"Kitalah yang perlu di pertanyakan, kita menikah untuk apa? Jika kita tidak terkena masalah apakah kita bakal menikah? "
"Jadi untuk apa pernikahan kita San? "
"Kalau aku pribadi jujur aku nggak suka cara kita menikah. Tapi namanya jodoh mau dengan siapa dan bagaimana caranya? siapa yang tahu. Nyatanya sampai sekarang aku masih menjadi suamimu kan? "
"Iya San kamu benar"
"Dan kamu kenapa masih bertahan denganku Mil? "
__ADS_1
"Aku hanya berusaha menjalaninya, mungkin ini sudah takdirku "
"Sama aku juga begitu. Tapi nggak buruk juga ternyata menikah sama kamu Mil"
Setelah berkata begitu Sandi lantas pergi ke atas meninggalkan Kamila sendiri di ruang tengah. Kamila melirik jam dinding menunjukan pukul sebelas malam.
"Papa pergi kemana sih kok belum pulang? Padahal perginya sudah dari setelah maghrib tadi", Kamila bicara sendiri. Sebenarnya ia menunggu papanya pulang.
" Mbak, papa belum pulang? ", tanya Rafli tiba - tiba sudah berdiri di tangga.
" Eh kamu Rafli bikin mbak kaget aja. Papa belum pulang. Kamu belum tidur? "
"Udah tadi tapi kebangun"
"Oh"
"Ya sudah aku mau balik tidur lagi? "
"Iya"
Di sisi lain tepatnya di tempat parkir apartemen, dua sejoli di dalam mobil sedang melepas kerinduan. Saling memagut, berpelukan, dan sedikit melakukan hal nakal. Dua orang tersebut adalah Doni dan Vinni yang merupakan adik dari mendiang Farah.
"Ah... mas", desah Vinni ketika tangan Doni mengelus bagian bawahnya yang masih tertutup kain.
" Vinni... kamu benar - benar ah... ", Doni mendesah karena Vinni yang juga tak mau kalah seolah mempermainkan kejantanan suami dari kakaknya tersebut.
" Sudah Vin... jangan lebih dari ini!", ucap Doni ia tidak mau melakukan hubungan badan sebelum sah.
"Sabar sebentar lagi aku akan ngomong ke mereka. Tapi aku sedikit ragu Vin, apa mereka akan setuju dengan hubungan kita ini? "
"Mas kan tahu aku sayang sama mereka, bahkan mereka seperti anakku sendiri. Aku sangat sayang kepada mbak Farah mas. Kalau tidak aku pasti sudah menggoda mas dari dulu"
"Apa kamu bilang barusan? "
"Iya mas, sebenarnya dari dulu aku suka sama mas Doni. Mas yang begitu sayang dan perhatian kepada mbak Farah kadang membuat aku sedikit iri. Karena pernikahanku dengan mantan suamiku dulu tidak harmonis dan hanya bertahan satu tahun. Itu kenapa setelah bercerai aku memutuskan pergi ke luar kota dan bekerja di sana. Karena aku akan sangat iri jika melihat kemesraan kalian"
"Sejak kapan kamu menyukaiku? "
"Sejak mas jadi suami mbak Farah. Aku sering memperhatikan mas yang begitu perhatian kepada mbak Farah. Namun aku berusaha menepis karena bagaimanapun mas adalah suami kakaku. Hingga aku bertemu dengan mantan suamiku tak lama kami menikah"
"Tapi Vin, kenapa kamu tidak punya anak dengan Anton? "
"Dia memang nggak mau punya anak, dia tak mau mengeluarkan di dalam"
"Kenapa begitu? "
"Waktu itu alasannya masih belum siap punya anak"
"Lalu alasan kalian bercerai apa? "
"Dari waktu ke waktu dia semakin jarang pulang, alasan lembur kalau tidak ada tugas di luar kota. Hingga akhirnya aku tahu kenapa dia jarang pulang. Itu karena dia punya pacar yang masih SMA"
__ADS_1
"Anak SMA? "
"Iya. Aku pernah lihat chatnya dengan gadis itu... isinya jorok - jorok untuk orang yang belum menikah"
"Apakah seperti yang kita lakukan tadi? "
"Hehehe iya sih tapi gadis itu kan masih sekolah kalau kita kan sudah matang"
"Hahaha kamu bisa aja Vin... Vin", Doni tergelak.
" Semoga anak - anak setuju dengan hubungan kita ya mas? Aku udah nggak tahan pengen deket sama mas terus"
"Pengen deket atau pengen... ", goda Doni.
" Iya pengen di semburin isinya mas Doni"
"Kamu mau Vin? Aku isiin? "
"Mau banget mas, bahkan sekarang pun aku nggak nolak kalau mas mau"
"Aku sih pengen Vin tapi nggak sekarang, sabar dulu yah sayang. Ini udah malam takutnya anak - anak pada nungguin"
"Yah mas sudah mau pulang? ", Vinni merengek manja.
" Iya, sini!", pinta Doni yang kemudian menyambar bibir Vinny dengan tangannya memainkan dada Vinni.
Vinni begitu terbawa, ia menarik pinggang Doni merapatkan dengan tubuhnya hingga bertemu bagian intim keduanya. Semakin membuat keduanya panas.
"Ah... tidak bisa begini. Harus secepatnya", Doni yang sudah melepaskan diri dari Vinni.
Sedang Vinni dadanya naik turun, mengatur nafas akibat perbuatan mereka.
" Aku akan segera menikahimu Vinni, aku nggak bisa begini terus"
Vinni tersenyum bahagia dan berdoa dalam hati ' semoga terjadi secepatnya'.
Setelahnya Vinni kembali menuju apartemennya dan Doni pulang ke rumah. Di perjalanan Doni masih mengingat apa yang di lakuka dengan adik dari istrinya.
"Janda memang luar biasa... pasti dia selama ini cukup tersiksa sendirian", gumam Doni sembari fokus pada jalanan. Kemudian tersenyum.
" Tunggu aku Vinni! "
Beberapa menit kemudian suara mobil memasuki halaman. Kamila yang mendengar langsung beranjak dari duduknya.
"Itu papa", ia berjalan menuju pintu depan dan menyambut sang papa di teras.
" Papa baru pulang? ", tanyanya begitu melihat papanya turun dari mobil.
Doni tersenyum kepada putrinya kemudian ia pergi mengunci pagar.
" Rafli sudah tidur? " , tanyanya berjalan menghampiri Kamila. Mengecup kening Kamila sekilas.
__ADS_1
Mata Kamila menangkap sesuatu di leher sang papa, lipstik di leher papanya. 'Berarti papa tadi habis jalan dengan kekasihnya', dalam hati Kamila.