Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Romantis?


__ADS_3

Sore harinya setelah Sandi pulang dari kerja ibunya menyuruh agar makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah mertuanya. Akhirnya Sandi dan Kamila memutuskan pulang setelah maghrib.


"Buruan ke bawah aku tunggu! ", perintah Sandi kepada sang istri yang masih sibuk memasukan skin carenya ke dalam tas.


" Iya"


Sandi pun turun terlebih dulu menunggu Kamila di bawah. Beberapa menit kemudian Kamila turun dengan tas di pundaknya. Hanya itu yang ia bawa karena tas pakaian sudah di bawa oleh Sandi.


"Pak, buk... Sandi pulang dulu ya? "


"Iya hati - hati, tidak ada yang tertinggal barangmu? ", jawab ibu Yani sementara pak Andi hanya mengangguk saat Sandi berpamitan.


" Tidak ada", jawab Sandi sembari menjabat tangan ibu, bapak, dan Revan bergantian.


Kamila pun mengikuti apa yang dilakukan Sandi sesaat kemudian Alya muncul dan berkata,


"Ini ponsel siapa tertinggal di ruang tengah? "


Semua orang menoleh ke arah Alya,


"Oh itu punya mas Sandi", Kamila menjawab. Ia tidak enak hati jika memanggil Sandi dengan nama di depan mertuanya pasalnya mereka sudah menikah.


Lain dengan Sandi, ia merasa kaget Kamila memanggilnya 'mas'.


'What? Mas? Kamila panggil aku mas? ', dalam hati Sandi malu namun juga mau atau lebih tepatnya ia senang.


"Kamu ini gimana sih San, barang sepenting itu kok bisa lupa? ", ucap Ibu Yani.


" Namanya juga lupa buk", jawab Sandi seraya mengambil ponselnya dari tangan Alya.


Sandi berjabat tangan dengan Alya yang kemudian di ikuti Kamila.


"Kami pulang dulu ya pak, buk, mbak, mas...? ", pamit Kamila dengan menganggukan kepala hormat.


Merekaounembalas dengan anggukan kepala dan senyum.


" Sering - sering ke sini ini juga rumah kalian! ", ucap pak Andi.


" Iya Pak", jawab Sandi.


Sandi dan Kamila pun di antar hingga teras rumah.


"Jangan ngebut bawa motornya San... ingat kamu nggak sendirian! ", ibu Yani mengingatkan putra keduanya.


" Iya buk"


"Kamila lebih baik bonceng nya jangan miring! ", tambah pak Andi.


Kamila mengangguk kemudian duduk di atas motor sesuai arahan bapak mertuanya.


" Pegangan Mil, Sandi kalau bawa motor agak ugal", ucap Revan.


"Iya sudah tahu", jawab Kamila.


" Apa? ", Sandi sedikit tidak terima Kamila menjawab demikian.


" Lha emang iya kok", Kamila tidak mau kalah.


"Hehehe", semua tertawa melihat Sandi dan Kamila.


" Ck", Sandi berdecak.

__ADS_1


Kemudian Sandi menjalankan motornya meninggalkan rumah orangtuanya. Di perjalanan Sandi mengajak Kamila berbicara. Rasa canggung antara keduanya yang sebelumnya karena ulah Sandi berangsur hilang.


"Eh tadi kamu panggil aku apa? Mas? Coba dong ulangin! ", dengan suara agak keras karena di jalan bising.


"Apa sih? ", balas Kamila dengan suara keras juga.


"Ulangi ku bilang! "


"Apa yang mesti di ulang? "


"Tadi loh yang pas ponselku tertinggal"


"Aku nggak bilang apa - apa"


"Orang kamu bilang 'mas' loh. Hayoo... ulang ndong Mil! "


"Nggak ah"


"Kenapa? Malu?"


"Ciyee... malu", lanjut Sandi.


" Apa sih Sandi", ucap Kamila sambil mencubit kecil pinggang Sandi.


"Ih geli Mil. Apa tadi... Sandi? Kok Sandi lagi sih? "


"Mil... ", karena tidak ada tanggapan dari Kamila. Wanita itu sepertinya agak kesal atau malu mungkin.


" Mana...? ", tanya Sandi lagi.


" Apa yang mana? "


"Tadi yang ku minta? "


Beberapa saat kemudian Sandi mengendarai motornya dengan sengaja membelak - belokkan stir. Hingga motornya pun berjalan berbelak - belok tak beraturan. Kamila yang menyadari itu menjadi panik.


" Sandi... yang bener dong nyetirnya bahaya tahu"


"Ini udah bener"


"Sandi ini tuh jalan raya...ramai"


"Bodo", balas Sandi cuek.


" Sandi nggak enak dilihatin pengendara yang lain"


Sandi tidak bergeming, ia malah menggoyang - goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sedang mendengarkan musik.


"Mas Sandi... ", Kamila memanggilnya.


" Hah... apa? Aku seperti dengar sesuatu", ucap Sandi sengaja menggoda.


"Mas Sandi bawa motornya yang bener dong! "


"Oh siap ", ucap Sandi dengan cengengesan.


Sandi kemudian melakukan motornya dengan stabil. Huh, Kamila merasa lega. 'Tapi ini kok lurus terus tidak berbelok. Kalau ke rumah kan harusnya belok, ini kenapa lurus? Mau kemana? ', pikir Kamila.


" Kita mau kemana? ", Kamila yang penasaran.


" Nanti juga tahu"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian sampailah di sebuah taman yang tampak lumayan ramai. Biasanya taman ini akan lebih ramai di hari sabtu sore dan minggu.


"Ngapain kita ke sini San? ", Kamila turun dari motor.


" Nongkrong aja", jawab Sandi yang kemudian menarik tangan Kamila. Dan masih dengan tas ransel yang berisi pakaian ia sematkan di bagian tubuh depannya.


"Nongkrong? ", gumam Kamila pelan merasa aneh dengan sikap Sandi.


Sandi mengajak Kamila di sebuah bangku panjang yang tidak di tempati orang lain. Kemudian ia mendorong bahu Kamila pelan agar duduk di bangku tersebut. Kamila masih cengo dengan perlakuan laki - laki di depannya saat ini. Sandi kemudian melepas tas ransel dan meletakkan di sebelah Kamila. Semua yang di lakukan Sandi tidak lepas dari pandangan Kamila. Tiba - tiba Sandi berjongkok dengan satu kaki di tekuk di depan Kamila. Ia kemudian meraih kedua telapak Kamila, setiap tangan memegang telapak tangan satu - satu. Mengelus pelan dengan ibu jarinya punggung tangan Kamila keduanya.


"San... ", Kamila masih bingung.


" Mil maafkan sikapku tadi malam? Aku kebablasan. Aku nggak suka lihat kamu dekat sama mas Revan. Maafkan aku ya...? ", Sandi mendongakan kepalanya memandang wajah Kamila.


"Iya udah ku maafin kok. Dan soal mas Revan, aku nggak ada apa - apa sama dia. Kemarin aku cuma minta maaf kepadanya atas perbuatanku sebelumnya" Kamila entah kenapa menjadi kikuk.


"Hah? ", Sandi kaget mendengar penjelasan Kamila.


"Aduh aku tambah makin merasa bersalah karena berpikir yang tidak - tidak sama kamu. Dan parahnya lagi sampai melukai tubuhmu", lanjut Sandi.


" Mana... masih sakit ya pahanya? ", Sandi mengusap - usap paha Kamila.


" Eh San apa yang kamu lakukan? Malu kalau ada yang lihat ", Kamila sambil menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan ada yang memperhatikan mereka saat ini atau tidak.


" Biar aja, mereka punya mata. Lagi pula kita suami istri. Halal"


"Iya tapi kan nggak di tempat umum kayak gini? "


"Kamu memang pemalu atau malu karena sama aku? ", Sandi seolah tak mendengarkan apa yang di katakan Kamila.


" Ya emang aku agak pemalu", jawab Kamila.


"Tapi kamu nggak malu berciuman sama mas Revan di ruang tamu, di rumah orangtuaku? "


"Apa? Sandi kamu... "


"Aku melihatnya Mil, bahkan di tempat karaoke kamu juga berciuman dengan mas Revan. Padahal saat itu ramai bersama teman - teman"


"Sandi seharusnya kamu nggak melihat di saat seperti itu! ", Kamila terkejut dan malu saat ini.


"Nggak seharusnya ya? Tapi bagaimana jika kalian saja melakukan itu seperti tidak tahu tempat ? Bisa di bilang aku sering melihat kegilaan kalian, di mobil... di kamar yang hampir lepas kendali"


"Ah... Sandi hentikan! ", Kamila menunduk dengan menutup wajahnya menggunakan salah satu tangannya. Ia benar - benar malu. Ternyata yang dulunya calon adik iparnya mengetahui keliaran dirinya bersama Revan.


" Bagaimana lelaki tidak hancur jika seorang wanita memberikan kesenangan kepada lelaki itu...namun kenyataanya lelaki itu tidak bisa memiliki ? Impiannya kandas. Apa kamu tidak sadar Mil... dengan kamu memberikan kesenangan kepada mas Revan itu artinya kamu menanamkan sebuah harapan baginya untuk memilikimu. Memang ada juga lelaki yang tidak peduli wanita memberinya kesenangan, karena pada dasarnya lelaki itu tidak serius. Tapi lain dengan mas Revan. Ah... sudahlah kenapa aku jadi membahas ini. Sekarang intinya antara kita saja, bagaimana denganku Mil... apa kamu juga akan memberi kesenangan padaku kemudian pergi begitu saja? "


"Sandi kamu bicara apa sih? "


"Aku juga mau Mil? "


Kamila mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud Sandi.


"Ayo kita berciuman Mil! Di sini saat ini juga! "


Kamila membelalakan matanya tidak percaya Sandi meminta hal demikian di tempat umum. Ia merasa bingung jika tidak menuruti kemauan Sandi kemungkinan akan lebih panjang lagi ceritanya. Kamila akhirnya mengalah agar bisa segera pulang. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban kepada Sandi.


Kamila kemudian meraih tengkuk Sandi yang masih pada posisi sebelumnya dengan kedua tangannya. Sandi pun merespon apa yang di lakukan Kamila. Mereka pun menyatukan bibir mereka dan sedikit ******* beberapa detik yang akhirnya saling melepaskan. Mereka masih ingat jika ini tempat umum.


"Ayo pulang! ", ajak Kamila.


Sandi mengangguk dan tersenyum kemudian menarik kepala Kamila dengan salah satu tangannya, mengecup pipi sebelah Kamila dan berkata...

__ADS_1


" Thanks"


Entah bagaimana hati Kamila tiba - tiba menjadi berbunga - bunga. Seperti ada yang menggelitik. Ia juga tersipu malu sambil menunduk. Ia tak menyangka Sandi bisa...romantis?


__ADS_2