
Bella diam - diam pergi meninggalkan rumah Reva pagi ini. Semua orang mengira jika ia pergi bekerja. Tapi nyatanya ia akan ke kota sebrang.
"Bella tidak sarapan? ", tanya Reva kepada Yuda yang sudah duduk.
" Memang dia belum sarapan? Aku kira dia sudah sarapan lebih dulu", jawab Yuda.
"Nona Bella tidak sarapan pak", Ruhi memotong.
"Oh", hanya itu yang keluar dari mulut Yuda.
" Mungkin dia masih marah karena Antonio pergi", lanjut Reva.
"Dia memang masih marah. Bahkan semalam dia tidak sudi melihatku"
"Ah iya? hehehe", Reva dan Niko yang memang sudah berada di situ sedari tadi tertawa.
Merasa lucu karena pamannya dimusuhi anaknya sendiri.
" Aku bilang padanya jika besok dia ikut denganku ke luar negeri", lanjut Yuda.
"Memang menurutku sebaiknya dia di sana saja mas. Jika di sini bukannya kami tidak menerimanya hanya saja jika Bella sudah melakukan hal kami tidak bisa berbuat apa - apa. Jika dia bersama mas kan... mas itu papanya biarpun dia kesal tapi masih ada menurutnya", ucap Reva.
"Iya paman, di sini kita susah mengontrol Bella. Contohnya dia yang membawa suami orang ke sini, kami tidak bisa berbuat apa-apa ", Niko menimpali.
Yuda mengangguk kemudian berucap,
" Sepertinya aku harus mencari dokter yang lebih bagus lagi untuk menangani Bella. Dokter yang kemarin itu juga bisanya kecolongan"
Kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan pesawat Bella pun sampai di kota tujuan.
"Hei di sini", seorang lelaki berseru ke arah Bella ketika melihat wanita itu muncul.
" Kamu nggak bawa apa - apa? ", tanya Ryan kepada Bella.
" Kau ini bodoh atau bagaimana? Jika aku membawa koper yang ada orang rumah curiga", jawabnya ketus.
"Ya sudah ayo naik! "
Dalam hati Ryan,
'Sialan, sudah di tolong nggak ada santun - santunnya. Setelah ini aku tidak mau berurusan denganmu lagi'
"Sebenarnya apa tujuanmu ke sini lagi? Bukannya Sandi sudah bersama kamu? "
"Sandi di sini bego"
"Apa? Kok bisa? "
"Tentu saja wanita yang membuatmu gila itu yang membawanya, sialan memang Kamila itu"
"Lalu... apa yang akan kamu lakukan? "
"Aku tidak terima Sandi hidup bersamanya, aku akan berusaha membawanya lagi"
"Kamu bisa di tangkap polisi jika berbuat nekat lagi"
"Hmm... ", Bella malah tersenyum smirk.
 Beberapa menit perjalanan sampailah Ryan dan Bella di sebuah apartemen. Dimana apartemen itu adalah milik ayah Ryan namun jarang di datangi. Hanya Ryan yang sering datang ke apartemen tersebut.
" Apa ini punyamu ? ", tanya Bella setelah berada di dalam.
" Iya. Lebih tepatnya punya ayahku. Kamu jangan banyak tingkah di sini. Aku takut kamu memancing kecurigaan penghuni apartemen yang lain"
"Dan perlu kamu tahu papaku tidak tahu soal kamu di sini. Jadi jangan macam - macam! ", Ryan memperingati Bella.
Seperti biasa Bella tidak menggubris.
" Aku pergi dulu, jika kamu ingin makan beli online saja. Jangan merepotkan ku! ", pamit Ryan.
" Tunggu! ", teriak Bella ketika Ryan hampir memutar knop pintu.
" Beri aku alamat rumah Kamila! "
"Mau apa kamu? Jangan nekat kamu Bella! "
"Terserahku"
__ADS_1
"Cepat kirim sekarang alamatnya ke ponselku! ", lanjut Bella.
" Dengar Bella aku sudah mengingatkanmu, jangan bawa - bawa aku jika terjadi sesuatu! "
"Cerewet"
"Ting", pesan masuk ke ponsel Bella.
Bella tersenyum begitu melihat pesan tersebut yang berisi alamat rumah Kamila. Ia kemudian mengibaskan tangannya mengusir Ryan.
Ryan lantas pergi meninggalkan Bella di apartemen sendiri.
" Sial, aku terpaksa memberi alamat rumah Kamila. Maafkan aku Mil, Sandi... aku terpaksa. Jika aku tidak mengikuti kemauannya aku tidak akan di lepaskan wanita itu", Ryan berjalan sambil berbicara sendiri.
"Ting", suara notifikasi di ponsel Revan.
" Ryan? Apa ini ada Bella? ", gumam Revan yang hanya melihat setengah pesannya.
"Bella di sini, dia mengincar Sandi. Dia tahu alamat rumah Kamila", setelah pesan terbuka seluruhnya.
Mata Revan melotot setelah membaca pesan dari Ryan. Sebenarnya membingungkan kenapa Ryan bisa tahu tapi saat ini yang terpenting adalah Sandi. Revan segera menghubungi Sandi agar waspada karena ia mendapat info jika Bella di sini.
Hari ini hingga malam tak terjadi apa - apa namun baik Sandi dan Kamila masih waspada. Sedang di rumah Reva mereka baru menyadari jika Bella tak ada di rumah. Lebih tepatnya tidak pulang ke rumah. Niko tiba - tiba merasa khawatir. Ia pun mempunyai ide dengan menghubungi Kamila.
"Iya mas Niko ada apa? Saya baru saja ingin menghubungi mas perihal Bella", jawab Bella di telpon.
" Kami dapat info dari salah satu teman kami jika Bella di sini. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan"
"Baiklah, iya aku rasa memang lebih baik begitu. Iya terakhir sudah menghubungi? Tut", telpon terputus antara Kamila dan Niko.
" Mas, pah sepertinya info dari mas Revan itu benar. Sebab Bella tidak ada pulang ke rumah. Barusan mas Niko telpon", Kamila memberitahu Doni dan Sandi yang juga berada di situ.
"Kita lihat saja apa yang sebenarnya di inginkan wanita itu? ", ucap Doni.
" Iya papa benar", imbuh Sandi.
"Tapi untuk sementara papa minta kepada kalian jangan dulu keluar - keluar! "
Kamila dan Sandi mengangguk.
"Siang tante...? Kamila dan Sandi ada? "
"Maaf siapa ya? ", istri Doni bertanya sebab ia yang berada di toko saat ini.
" Saya teman Kamila dan Sandi, saya ingin bertemu mereka. Nama saya Bella", Bella terang - terangan menunjukkan siapa dirinya.
"Oh iya sebentar, ayo silakan masuk!", istri Doni sebenarnya ingat nama Bella tapi bagaimanapun ia mencari Kamila dan Sandi. Selain itu ia juga tidak tahu apa tujuan Bella datang.
" Terimaksih tante"
Vinni lantas menuju ke atas memanggil Kamila dan Sandi. Memberitahukan ada Bella di bawah.
Sandi dan Kamila pun turun. Namun sebelum itu Kamila sudah mengirim pesan kepada Revan jika Bella di sini.
Sandi dan Kamila kaget melihat penampilan Bella yang drastis. Bella memakai penutup kepala warna hitam dengan pakaian atasan lengan panjang warna hitam juga. Dan celana panjang putih. Mereka berdua pun mempunyai pemikiran sama seketika. 'Apakah Bella sudah insyaf? '
Bella tersenyum manis ketika melihat kedatangan Sandi dan Kamila.
"Mila... ", ucapnya lantas memeluk Bella seperti teman lama yang baru berjumpa.
Sandi sendiri masih belum paham. Jangankan Sandi, Kamila yang di peluk saja juga tidak mengerti dengan situasi saat ini.
" Bella, kamu ada apa ke sini? Eh ayo silakan duduk! ", Kamila bertanya tujuan kedatangan Bella serta mempersilakan duduk.
" Aku...mau jemput suami kamu", Bella menjawab dengan entengnya tanpa rasa bersalah atau sungkan.
Ia justru memasang wajah dengan tatapan mengerikan ke arah Sandi sambil memiringkan kepalanya. Seperti orang yang kerasukan setan di film - film horor.
Sontak Kamila matanya melotot dan Sandi pun juga menganga.
"Apa maksud kamu? ", tanya Kamila berusaha tetap tenang.
" Hehehe kamu nggak salah dengar. Aku mau membawa Sandi kembali", mata Bella beralih menatap Kamila.
"Bella, itu tidak mungkin. Aku sudah berkeluarga dan di antara kita tidak ada hubungan", Sandi yang sudah tidak tahan pun bersuara.
" San... Antonio kita ini sepasang kekasih, kenapa kamu mau saja di bawa wanita itu? "
__ADS_1
"Dia istriku Bella", Sandi tegas.
Bella kemudian berdiri menghampiri Sandi yang juga sudah berdiri serta Kamila. Bella merangkul lengan Sandi.
" Ayo sayang kita pulang! "
"Bella jangan gila kamu! ", ucap Sandi sambil menghempaskan tangan Bella.
" Mil, Sandi itu milikku. Berika padaku! ", Bella beralih memandang Kamila.
" Tidak, sampai kapanpun tidak akan"
"Mil... berikan ya? ", dengan suara pelan merayu namun tampak mengerikan juga.
" Nggak Bella, nggak", Kamila menggelengkan kepala.
"Mil... kumohon! ", Bella semakin memelas dan kemudian mendekati Kamila.
" Nggak bisa Bella, mas Sandi itu suamiku"
"Ayolah Mil, apa kamu nggak kasihan denganku? ", Bella meraih tangan Kamila menggenggamnya.
" Bell masih banyak lelaki di luar sana. Kamu. bisa mendapatkan yang lebih baik dari mas Sandi"
"Aku nggak bisa, aku maunya Sandi", ucap Bella pelan memelas.
" Berikan ya? " , ucapnya lagi.
"Tidak", tegas Kamila.
" Kamila... ", ucap Bella dengan bibirnya melengkung ke bawah seolah akan menangis.
Bella merangkul Kamila dengan tangisan buatannya.
" Hiks hiks hiks... jika kamu tidak mau maka aku terpaksa merebutnya", bisik Bella dengan mengambil sesuatu di balik bajunya.
"Jleb", Bella menusuk perut Kamila dengan pisau yang disembunyikannya di balik baju bagian depan.
" Akh... mas ", Kamila berteriak namun tidak keras.
Sandi terkejut kenapa dengan Kamila.
" Sayang kamu kenapa? ", Sandi menangkap tubuh Kamila dan baru ia menyadari jika perut Kamila berdarah.
" Apa yang kamu lakukan, dasar kamu gila", teriak Sandi keras kepada Bella.
"Hahahaha", Bella malah tertawa terbahak dengan memegang pisau yang sudah berlumur darah.
Bella seperti orang buang sudah tidak ingat apa - apa.
Teriakan Sandi sampai ke telinga Vinni yang sedang menjaga Ameera di kamar Kamila. Ia lantas turun dengan menggendong Amerra.
"Tante tolong minta bantuan Kamila terluka", ucap Sandi dengan tanpa sadar ia menangis.
" Sayang bertahanlah", Sandi berusaha menguatkan Kamila dengan tangannya memegang perut Kamila guna menghambat laju darah yang keluar.
Sedangkan Bella... ia tampak menggelengkan
kepala pelan kesana kemari dengan tatapan matanya ke atas dan melirik ke sana kemari. Seperti berputar namun tidak berputar.
Bella benar - benar seperti bukan dirinya, tidak ada rasa takut setelah apa yang ia lakukan kepada Kamila. Sesekali ia tersenyum seperti orang yang sedang mabuk.
Vinni yang keluar dengan berlari dan masih menggendong Ameera berhenti ketika melihat mobil berjalan ke arahnya. Ia tahu itu mobil Revan.
"Revan cepat Kamila terluka hiks hiks... ", Vinni memberitahu ketika kaca jendela mobil tersebut dibuka Revan sambil menangis.
Revan melajukan mobilnya hingga berhenti di halaman rumah Doni. Tetangga yang tidak sengaja melihat Vinni lantas mendatangi wanita tersebut. Pasalnya Vinni menangis dipinggir jalan sambil menggendong Ameera.
"Bu Vinni kenapa? ", tanya seorang wanita paruh baya.
" Kamila... ada yang melukai Kamila hiks hiks... ", jawab Vinni.
" Tolong bu cari bantuan! ", lanjut Vinni.
" Tolong... tolong! ", wanita paruh baya tersebut berteriak meminta tolong kepada warga.
Hingga warga sekitar berhambur keluar. Beberapa lelaki lantas menuju rumah Doni. Mereka membantu Revan dengan menangkap Bella. Revan yang ingin langsung membawa Kamila pergi terhalang oleh Bella yang memainkan pisau di tangannya. Masih dengan kepala yang seperti orang mabuk. Setelah beberapa warga datang barulah Sandi dan Revan bisa membawa Kamila yang sudah pucat wajahnya menuju rumah sakit terdekat. Salah satubwarga segera menghubungi polisi. Sementara Bella di ikat di sebuah kursi dan diawasi beberapa orang. Tak nampak wajah sedih atau semacamnya. Bella seperti orang yang tidak ingat apa - apa. Menggelengkan kepalanya kesana kesini, seperti ada setan di dalam dirinya.
__ADS_1