Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Jebakan


__ADS_3

Pov Author


Ryan adalah salah satu teman dekat Revan dulu. Dimana Revan sedang nongkrong atau bermain di situ juga pasti ada Ryan. Tentu saja ia juga mengenal Sandi. Karena Sandi kerap kali ikut bersama Revan kemana pun pergi di setiap bukan waktu sekolah. Tapi kemudian Ryan menjauh karena Revan menjalin hubungan dengan Kamila. Ryan sudah menyukai Kamila sejak lama dan berusaha mendekatinya terus namun tidak berhasil. Kamila terlihat cuek kepadanya. Begitu Revan muncul justru Kamila berusaha mendekati Revan. Ryan yang mengetahui hal itu membuatnya marah dan membenci Revan. Ia juga merasa kecewa kepada Kamila yang lebih memilih Revan. Ia juga tidak suka Sandi yang mendukung begitu saja hubungan Revan dan Kamila sedang ia tahu bahwa Ryan menyukai Kamila. Pastilah Sandi mendukung hubungan Revan dengan Kamila karena ia merupakan adik Revan. Namun Ryan juga mengetahui fakta tentang Sandi yang diam - diam sebenarnya ia menyukai Kamila. Sebagai seorang lelaki yang mempunyai pengalaman berpacaran beberapa kali dengan perempuan tentu mudah bagi Ryan mengetahui bahwa Sandi menyukai Kamila. Tapi berbeda dengan Revan yang memang dari dulu tak terlihat pernah dekat dengan perempuan lantaran ia yang cenderung dingin. Revan tidak mengetahui fakta bahwa sang adik, Ryan menyukai kekasihnya Kamila. Revan juga tidak mengetahui alasan Ryan yang tiba - tiba menjauh.


"Sial", Ryan mengumpat di dalam mobil sembari mengemudi. Ia yang pergi setelah tersungkur di hajar oleh Sandi.


" Masih juga si kacung itu peduli sama Kamila setelah batal menikah dengan kakaknya. Awas saja Sandi aku akan buat perhitungan denganmu! ", lanjutnya.


" Loh mana sarapannya Sandi? ", Ibu Yani yang melihat anak keduanya pulang dari pasar namun tak membawa apa - apa. Pasalnya Sandi pergi ke pasar tadi untuk membeli sarapan.


" Itu warungnya tutup " , bohongnya.


"Kalau tutup kenapa tidak beli di tempat lain? ", kali ini pak Andi yang berbicara. Sedari tadi ia bersama sang istri.


" Takut tidak enak pak. Maaf ya pak, buk... Sandi ke kamar dulu mau mandi. Gerah", Sandi sengaja beralasan untuk menghindari pembicaraan yang lebih panjang dengan kedua orangtuanya.


"Pagi begini mau mandi? ", ucap pak Andi setelah kepergian Sandi.


" Gerah bilangnya", sang istri menjawab.


"Heh... ", pak Andi seperti mengejek. Pasalnya Sandi adalah anaknya yang paling susah di suruh mandi apalagi pagi - pagi sekali.


" Pagi - pagi sudah menyebalkan", gerutu Sandi begitu masuk kamar sambil melepas jaketnya dan kemudian meleparnya asal.


"Bisanya Ryan berbuat gila seperti itu, menjijikan... ", lanjutnya yang sudah dengan posisi berbaring terlentang.


Di tempat lain pak Doni merasa tidak tenang melihat putrinya begitu masuk rumah langsung berlari menuju kamarnya beberapa menit yang lalu. Ia pun berniat untuk mendatangi kamar putrinya.


" Tok tok tok, Kamila kamu baik - baik saja? "


"Cklek", pintu terbuka dari dalam memperlihatkan Kamila.


" Kamila baik - baik saja pa. Maaf tadi Kamila tiba - tiba mules, jadi batal deh beli sarapannya? ", bohongnya.


" O ya sudah tidak apa - apa. Papa hanya khawatir kamu kenapa - kenapa, ternyata mules tow"


"Iya pa"


"Kalau begitu papa suruh Rafli saja beli sarapan yang di depan gang"


"Iya pa, sekalian nanti Mila sepertinya tidak bisa memasak pa"


"Tidak usah memasak kalau kamu nggak enak badan, untuk hari ini kita beli saja. Papa juga mau malas - malasan"


"Hehehe papa bisa saja"


"Ya sudah kamu istirahat saja biar enakan perutmu! "

__ADS_1


"Iya pa, makasih"


Pak Doni tidak menjawab namun mengelus puncak kepala putrinya kemudian turun.


Beberapa hari kemudian di sebuah pesta ulang tahun yang di adakan di sebuah tempat karaoke. Ryan melihat Sandi yang juga diundang datang sendiri tanpa adanya Revan. Tiba - tiba terbesit rencana licik untuk menjebak Sandi. Ia yakin jika Kamila juga pasti di undang lantaran ia juga merupakan teman yang punya acara. Dugaan Ryan pun benar. Kamila datang seorang diri. Di tengah - tengah acara orang - orang tenggelam dalam suasana, Ryan menghampiri Kamila yang sedang berbicara dengan salah satu temannya.


"Ikut aku, aku ingin minta maaf yang soal kemarin! Ayo kita bicara sebentar saja please!", Ryan berbisik di telinga Kamila. Kamila pun mengangguk dengan polosnya karena di sisi lain ia tidak mau memancing kecurigaan teman - temannya.


Sandi melihat Ryan keluar dengan menggsndeng salah satu pergelangan tangan Kamila.


'Ada apa mereka? ', dalam hatinya.


Ryan terus menggandeng Kamila,


"Ryan kita mau kemana? "


"Sttt diamlah ada yang ingin kutunjukkan kepadamu! "


"Katanya mau bicara? Jangan jauh - jauh! "


"Iya, tapi di luar saja"


Ryan masih terus menggandeng Kamila hingga keluar dari tempat karaoke tersebut. Tapi Ryan masih belum berhenti, masih terus berjalan sambil menggandeng tangan Kamila. Hingga sampai di ruko - ruko yang tutup dan suasana yang sepi.


"Ryan lepas! ", teriak Kamila merasa curiga dengan Ryan dan pegangan tangan Ryan juga semakin kuat.


" Sampai", ucap Ryan lagi setelah beberapa langkah.


Ryan mengajak Kamila di sebuah lorong yang merupakan jarak antara bangunan yang satu dengan yang lainnya. Sepi karena toko - toko tersebut tutup dan buka hanya di siang hari.


"Mau bicara apa? ", Kamila sembari menggerakan bola matanya kesana kesini karena sepi dan ia merasa agak takut.


Tiba - tiba Ryan menarik penutup kepala Kamila dan berusaha mengoyak pakaian longgar Kamila. Kamila berusaha memberontak namun sulit karena saat ini tubuhnya di himpitkan ke tembok.


Di sisi lain Sandi berusaha mencari kemana Ryan membawa Kamila pergi, perasaanya berubah tidak nyaman. Di lihatnya mobil Sandi masih terparkir di parkiran tempat karaoke. Ia pun berjalan menuju deretan toko - toko yang tutup dan sepi, sesekali ia berlari dengan celingukan. Hingga pada ia sudah agak dekat dengan sebuah lorong,


"Lepas! Tolong jangan lakukan ini", suara Kamila.


" Tolong...! ", Kamila berteriak kemudian.


Ryan masih berusaha membuka kancing baju Kamila, ia kesusahan apalagi Kamila juga terus berontak.


Beberapa saat akhirnya ia bisa membuka dua buah kancing baju Kamila dan menyibaknya, hingga memperlihatkan dada dan pundak putih Kamila.


"Brengsek", Sandi langsung memukul Ryan begitu mengetahui apa yang di perbuatnya.


" San... sorry sorry ampun San, aku nggak akan mengulanginya lagi", Ryan memohon kepada Sandi ketika Sandi hampir mekayangkan bogem kembali.

__ADS_1


"Ampun San, aku janji tidak akan mengulanginya lagi... please San! ", Sambil menangkup kan kedua telapak tangannya.


Sesaat Sandi masih terdiam kemudian berkata,


"Kalau sampai aku tahu kamu mengulanginya lagi, kamu bakal tahu akibatnya", Sandi meraih kerah baju Ryan.


" Nggak San, aku nggak akan mengulangi lagi"


Sandi melepaskan Ryan, dan Ryan pun berlari dengan senyum licik. Ryan berlari hingga sampai pada segerombolan laki - laki yang sering nongkrong di daerah itu.


"Bang bang tolong bang di sana ada yang mesum, aku menegur malah di hajar. Tolong bang mereka mesum di sana. Jangan biarkan mereka berbuat zina di sini bang! ", Ryan bersandiwara seakan ia adalah korban.


" Wah nggak bisa di biarkan nih", salah satu dari mereka.


"Iya bang kalau perlu hajar saja lelaki itu biar dia kapok! ", Ryan semakin memprovokasi.


" Ayo cepat ke sana!", salah satu dari mereka.


Mereka berlarian bersama Ryan sebagai penunjuk.


"Di lorong itu bang", Ryan menunjuk tempat tersebut ketika sudah dekat.


Gerombolan laki lelaki yang terdiri lima orang itu lantas berlari menuju lorong dan Ryan berteriak,


" Hajar saja bang! hahaha", ia tertawa sambil berbalik kemudian berlari meninggalkan tempat itu dengan bahagia.


"Hei apa yang kalian lakukan? ", teriak salah satu dari lima orang laki - laki tersebut.


Sandi dan Kamila menoleh bersamaan, mereka terkejut dengan kedatangan lima laki - laki tersebut.


Kelima orang tersebut langsung menghajar Sandi.


" Dasar bocah... kalau mau mesum jangan di sini! " , salah satu dari mereka sambil melayangkan bogem.


Ada yang memegangi Sandi kanan kiri, dan dua orang bergantian memukul Sandi juga menendang sementara orang yang satu lagi memegangi Kamila. Kamila yang masih shock akibat ulah Ryan hanya mampu berkata,


"Jangan... jangan... jangan...!" sambil tangannya berusaha meraih mereka yang memukuli Sandi namun percuma sebab ia juga di pegangin satu orang.


"Bawa saja ke kantor polisi, biar tahu rasa! ", teriak larang yang memegangi Kamila.


Kamila yang mendengar lantas menoleh ke arah lelaki tersebut,


" tapi pak dia tidak salah, dia... ", belum sempat melanjutkan ucapannya sudah di potong tersebut.


" Tidak salah kamu bilang? Kamu dan dia sama saja, mesum. Ck ck perempuan macam apa kamu ini? Apa begini orangtuamu mendidikmu? ", orang itu berujar kepada Kamila.


" Ayo kita bawa ke kantor polisi! ", salah satu orang yang memukuli Sandi setelah puas.

__ADS_1


Sandi dan Kamila pun di bawa ke kantor polisi oleh kelima lelaki tersebut.


__ADS_2