
Sampai di kantor polisi, Sandi dan Kamila menghubungi keluarganya masing - masing. Mereka berdua diinterogasi bersama dengan kelima lelaki yang membawa mereka.
"Pak, kami benar - benar tidak melakukan perbuatan mesum. Saya hanya menolong perempuan ini" , Sandi berusaha menjelaskan dengan menahan rasa sakit ketika di tanya petugas kepolisian.
"Iya pak yang di katakan nya benar, dia hanya menolong saya", tambah Kamila.
" Kalian nggak mesum gimana?, jelas - jelas saya pergoki lelaki ini memegang bahu perempuan ini dan lihat penampilannya. Kerudungnya di lepas. Mereka itu bohong pak, biasalah anak jaman sekarang", salah satu dari lima orang yang membawa Sandi dan Kamila.
"Kalian saling kenal? ", pertanyaan dari pak polisi.
Kamila dan Sandi mengangguk.
" Nah loh.. ", serempak kelima orang tersebut.
" Tapi kami tidak seperti itu", sahut Kamila sedang Sandi hanya menggeleng - gelengkan kepala rasanya ia sudah lemas.
"Iya kalian memang belum sampai melakukan tapi jika tidak datang kalian pasti sudah melakukannya kan? ",salah satu dari kelima orang tersebut.
" Sebentar, awal mulanya bapak - bapak ini bisa tahu mereka melakukan itu bagaimana? ", tanya pak polisi.
" Pak kami tidak melakukan itu", jawab Sandi tegas dan menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Diam, saya sedang bertanya kepada kelima bapak ini"
"Ck", Sandi berdecak kesal.
" Begini pak awalnya ada orang lari - lari meminta tolong... ", berceritalah salah satu dari kelima orang tersebut.
" Hah saya memukul orang yang menegur saya ingin berbuat begitu? Itu tidak benar pak. Ciri - ciri orang itu seperti apa? "
Kelima lelaki itu menjelaskan satu persatu ciri - ciri orang yang melaporkan Sandi dan Kamila berbuat mesum. Dan ciri - ciri yang di maskud mirip dengan Ryan.
"Ck, justru orang itu yang... ", Ucapan Sandi terpotong ketika tiba - tiba tangan Kamila mencengkram pahanya.
Kamila memberi kode agar Sandi tak mengatakannya melalui tatapan mata dan sedikit gelengan kepala.
" Ck", Sandi kesal kepada Kamila dan kelima orang yang membawa mereka.
'Apa maksud Kamila ini? ', batin Sandi.
__ADS_1
"Tuh kan pak mereka tidak bisa mengelak",
" Begini saja untuk kebaikan dan dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain, kita nikahkan saja mereka sekarang pak", salah satu dari kelima orang tersebut menyarankan.
"Menikah? ", Sandi dan Kamila kaget lintas saling menoleh satu sama lain hingga berpandangan.
" Nggak... ", ucap keduanya serempak.
" Kami bukan sepasang kekasih pak", ucap Kamila.
"Nah itu kamu tahu kalau bukan sepasang kekasih, kenapa mau mesum? Justru kalau kalian menikah itu malah bagus, kalian mau begituan bebas",salah satu dari kelima orang tersebut menyudutkan.
" Astaga", Sandi lelah berusaha menjelaskan kepada mereka di tambah lagi sakit di sekujur tubuhnya.
"Begini saja kita tunggu kedatangan keluarga mereka! ", ucap pak polisi.
Beberapa menit kemudian datang keluarga dari Sandi yaitu pak Andi, Ibu Yani dan Revan. Sedang keluarga dari Kamila hanya pak Doni, sang ayah.
Polisi yang bertugas pun menjelaskan duduk permasalahan yang saat ini membelit Sandi dan Kamila kepada kedua belah pihak keluarga. Polisi tersebut juga menyuruh untuk menikahkan mereka demi kebaikan dan bisa di jadikan pelajaran untuk anak muda yang lain.
Kedua belah pihak sebenarnya keberatan jika harus menikahkan mereka sebab dilatarbelakangi kejadian yang memalukan dan di kantor polisi pula. Namun mereka tidak bisa berbuat apa - apa karena masalah sudah sampai membawa polisi dan di tambah baik Sandi maupun Kamila tidak bisa memberikan jawaban yang bisa menyakinkan bahwa mereka tidak bermaksud berbuat demikian. Akhirnya dengan berat hati Sandi dan Kamila di nikahkan di kantor polisi secara siri sementara untuk menghindari fitnah. Setelah ijab qabul Sandi dan Kamila dinyatakan sah menjadi suami istri. Bahkan kelima lelaki yang membawa Sandi dan Kamila ke kantor polisi juga menjadi saksi.
"San... maaf ya? Kamu boleh menceraikan aku kapan saja", Kamila bicara dengan berbisik kepada Sandi saat menuju tempat parkir.
" Hm... apa buat kamu pernikahan itu main - main Mil? " Sandi tersenyum mengejek.
"Bukan begitu San han... ", Kamila bermaksud mengatakan alasannya namun Sandi sudah terlebih dulu memotong.
"Bukankah memang iya? Kamu nggak pernah menganggap pernikahan itu serius. Sudah terbukti kan dulu kamu sama mas Revan dan sekarang sama aku. Bahkan baru beberapa menit yang lalu kita sah jadi suami istri"
"Hei kalian kalian yang di belakang cepat! ",teriak pak Andi kepada Revan dan Kamila yang berjalan di belakang agak jauh dari yang lain.
Mereka kemudian berjalan menyusul pak Andi dan yang lainnya. Dengan Sandi yang berjalan pincang karena kakinya sakit akibat di tendang orang yang menghajarnya di terowongan. Kamila bermaksud membantunya berjalan dengan memegang lengannya namun di hempaskan oleh Sandi. Lelaki itu kesal bukan main kepada Kamila yang saat ini sudah menjadi istrinya. Begitu sampai ikut dengan yang lainnya mereka berdua dapat amukan pak Andi kembali.
" Jalan atau tidur lama banget? ", pak Andi marah lantaran kesal dengan perbuatan mereka.
" Kamu Sandi..sekarang sudah menikah dengan Kamila jadi kamu lebih baik tidak tinggal di rumah. Terserah kamu mau tinggal dimana sama istrimu", lanjutnya seraya melirik Kamila sinis.
"Tapi pak..? "
__ADS_1
"Nggak ada tapi - tapian, kamu juga masih ingat kan apa yang di perbuat permpuan ini sebelumnya. Kamu nggak lupa itu kan? "
"Pak bukankah lebih baik Sandi tinggal sama kita saja, lihat dia babak belur seperti itu", ibu Yani yang tidak tega putranya tinggal di luar.
" Ini demi kebaikan bersama buk. Semua juga tahu apa yang di perbuat Kamila sebelumnya, untuk menghindari hal - hal yang tak diinginkan lebih baik Sandi dan Revan tidak seatap dengan kita.
"Kamila benar - benar minta maaf atas kesalahan yang sudah Kamila perbuat om Andi? Kamila sadar dan sudah menyesalinya, maafkan Kamila om, tante, mas Revan, dan... Sandi? ", Kamila berbicara dengan linangan air mata.
" Benar pak Andi, Kamila sudah menyesali perbuatannya", pak Doni membenarkan yang di katakan putrinya.
"Tetap saja kami belum bisa menerimanya", Ibu Yani berucap.
" Biar Sandi pulang sama kita ya pak? Kamila biar pulang bersama ayahnya. Lagi pula ibu nggak ingin dia ikut sama kita", lanjutnya merayu sang suami.
Jder, seperti mendengar petir di siang bolong. Hati Kamila benar - benar sakit mendengar ucapan ibu Yani. Ia sudah mengira sebelumnya tapi ia tidak menyangka akan sebegitu sakitnya mendengar perkataan ibu Yani. Wajar memang orangtua mana yang tidak benci jika pernikahan anaknya yang sudah di tentukan batal secara sepihak tanpa alasan yang jelas. 'Sebenci itukah kepadaku? ', batin Kamila.
"Tidak bisa seperti itu buk, bagaimanapun mereka saat ini sudah menikah. Jadi lebih baik mereka bersama namun tidak tinggal dengan kita. Selain itu biar ini menjadi hukuman buat Sandi yang melakukan perbuatan mesum"
Jlek, jantung Sandi seperti jatuh seketika mendengar ucapan sang ayah. Yang menyebutnya mesum. 'Sandi tidak mesum pak', hanya itu yang mampu ia katakan itupun di dalam hati.
"Iya saya juga setuju dengan yang di katakan pak Andi", pak Doni menimpali.
Sontak Sandi dan Kamila menoleh ke arah pak Doni, seakan tidak percaya dengan yang di katakan pak Doni. Namun mereka tetap diam.
Sebenarnya bukan seperti itu kemauan pak Doni, tapi melihat pak Andi adalh orang yang keras dan ia juga memikirkan putrinya Kamila. Maka ia pun memilih membenarkan yang di katakan pak Andi. Baginya Kamila yang menikah dengan Sandi tak jadi masalah, masalahnya jika Kamila tinggal bersama dengan mereka ia khawatir Kamila seperti orang yang tidak di anggap. Ia pasti tak akan sanggup melihat putrinya dalam keadaan seperti itu.
"Kamila dan Sandi akan tinggal bersama saya", lanjut pak Doni.
Hati Kamila sedikit lega ia sudah berpikir jika ayahnya akan membuangnya atau lebih tepatnya tidak menginginkan ia tinggal di rumah lagi.
" Begitu lebih baik. Pak, buk biarkan Sandi tinggal di rumah om Doni", Revan yang dari tadi hanya diam pun mengeluarkan suaranya.
Ia sebenarnya juga tidak tega jika adiknya harus terpisah dengan keluarga. Walaupun sekarang Sandi sudah bekerja namun tetap saja memulai kehidupan baru itu pasti butuh biaya banyak. Lagi pula Sandi belum lama bekerja. Jadi daripada Sandi ngontrak akan lebih baik tinggal bersama pak Doni yang merupakan mertuanya sendiri.
Akhirnya semua pun setuju dengan Sandi yang tinggal dengan pak Doni. Dan mengenai pernikahan mereka yang belum tercatat di KUA itu akan segera di proses. Entah dilanjutkan ataukah mereka berpisah itu biar menjadi keputusan mereka nanti.
"Kapan - kapan kita ngobrol! Pakaianmu dan semua yang kamu butuhkan akan di antar besok oleh suaminya mbak Surti. ", Revan menepuk pundak sang adik saat akan berpisah pulang ke rumah masing - masing.
" Aku nggak melakukan itu mas, mas percaya padaku kan? ", Sandi menyakinkan kakaknya kembali dan Revan mengangguk sebagai tanda percaya dengan yang dikatakan sang adik.
__ADS_1