Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Orang Egois


__ADS_3

Keesokan harinya Alya melakukan aktifitas seperti biasa. Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal yang kemarin. Seolah tak terjadi apa - apa. Ia juga sudah bersikap seperti biasa terhadap Revan. Revan merasa lega karena Alya bisa mengerti. Akan tetapi kenyataannya belum selesai.


"Drrt... drrt... ", ponsel Revan bergetar tanda ada notifikasi.


Revan mengambilnya dari atas meja dan membuka pesan masuk.


" Siapa? " , tanya Alya yang saat ini juga berada di kamar. Ia sedang merapikan tempat tidur.


"Kamila"


"Ada apa...? "


"Minta aku ke rumahnya, katanya ada yang ingin disampaikan "


"Nggak usah di balas! ", perintah Alya tegas.


Revan melongo melihat reaksi Alya.


'apa wanita hamil memang galak', batin Revan namun ia tidak berani mengatakannya. Ia pun membalas pesan Kamila sesuai yang diperintahkan oleh sang istri. Menurutnya apa yang dikatakan oleh Alya memang benar. Jika ingin lepas dari Kamila maka tidak usah memberi celah sedikitpun.


Beberapa hari kemudian, Kamila merasa kesal karena pesannya yang di kirim ke Revan tak pernah mendapat balasan.


"Mil papa mau bicara sama kamu ", pak Doni yang keluar dari kamarnya.


" Iya pa bicara saja! "


"Gimana kalau kamu resign dari pekerjaan kamu? ", setelah pak Doni duduk di sofa ruang tengah.


" Kenapa Kamila harus resign? "


"Supaya kamu bisa temani adikmu kalau dia di rumah sendirian"


"Rafli kan sudah besar pa, udah SMA masa suruh temanin? "


"Iya papa tahu dia sudah SMA. Tapi biarpun begitu dia tetap butuh teman di rumah. Ya anggaplah kamu sebagai pengganti mamamu. Rafli kan juga dekat sama mama selama ini"


"Tapi nggak perlu juga kali pa Mila harus resign"


"Papa ingin kamu resign supaya ketika Rafli pulang sekolah ada kamu di rumah, tidak sendirian dan agar dia merasa ada yang memperhatikannya. Papa khawatir jika papa dan kamu kerja sementara di rumah Rafli kesepian sendiri dia jadi salah pergaulan. Jika kamu di rumah paling tidak ada yang mengawasinya. Kamu tahu kan anak seusia Rafli itu liar - liarnya? "


"Selain itu kamu juga bisa melakukan pekerjaan rumah seperti yang mama kamu lakukan. Jadi rumah tetap bersih dan rapi", lanjut pak Doni.


" Nggak pa, malas Mila melakukan pekerjaan seperti itu. Cari saja pembantu supaya urus rumah dan temanin Rafli"


"Kapan kamu bisa mengerti sih nak? ", pak Doni merasa heran dengan putrinya.


Kamila hanya diam tidak menanggapi ucapan sang ayah. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.


" Nggak usah maksa anak perempuanmu itu pa! dia itu orang egois. Mau enaknya sendiri ", Rafli berjalan menghampiri sang ayah dan kakaknya kemudian ikut duduk.

__ADS_1


" Rafli", ucap pak Doni pelan. Ia tidak tahu jika Rafli mendengar pembicaraannya dengan Kamila.


"Apa kamu bilang, aku egois? ", Kamila marah pada adiknya.


" Iya, kamu memang egois. Nggak nyadar? "


"Grtt ", Kamila kesal bukan main pada adiknya hingga menggeretakan giginya.


" Sudah - sudah kalian jangan bertengkar! ", pak Doni melarai kedua anaknya.


"Papa nggak usah khawatir, Rafli akan mengikuti apa yang di katakan mama. Nggak usah papa minta tolong pada anak perempuan papa ini. Dia itu mana mau jika bukan untuk keuntungan dirinya sendiri", ucap Rafli sembari melirik sang kakak sinis.


"Kamu ya... ", Kamila berdiri entah apa yang akan di lakukan kepada adiknya.


" Mila cukup! " , pak Doni segera menangkap tangan Kamila sebelum melakukan sesuatu terhadap sang adik.


"Belajarlah dewasa Kamila! Mau sampai kapan kamu kekanakan seperti ini? "


"Papa bilang Mila kekanakan? ", Mila merasa papanya lebih memihak sang adik.


" Iya. Sikap kamu barusan itu kekanakan Kamila. Rafli itu adik kamu tidak seharusnya ku menanggapinya dengan sikapmu barusan "


"Jadi papa sekarang pilih kasih? Papa lebih memihak Rafli... oke kalau begitu", Kamila pergi menuju kamarnya. Ia kesal pada sang ayah dan adiknya.


" Astaga ck ck", pak Doni menggelengkan kepala melihat sikap anak perempuannya.


"Jadi menurut kamu bagaimana Rafli? Papa cari pembantu saja ? "


"Tidak usah pa. Rasanya aneh kita tidak pernah pakai pembantu dan sekarang setelah mama tidak ada mau pakai pembantu"


"Ya sudah kalau begitu biar papa yang kerjakan pekerjaan rumah"


"Kita kerjakan bersama saja pa. Biar orang egois itu mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Hitung - hitung biar dia belajar jadi ibu - ibu"


"Hehehe", pak Doni tertawa. Ia tak menyangka putranya punya pemikiran yang dewasa.


" Ya sudah kalau begitu kita saling bantu ya mulai besok kita kerjakan bersama! "


"Siip pa", sambil memberi jempol kepada sang ayah.


Sore harinya Revan beserta istri dan anaknya pergi ke taman karena permintaan sang anak. Alya hanya duduk memperhatikan sang suami dan putrinya bermain. Sesekali ia tersenyum melihat kedekatan sang suami dan putrinya. Mereka tampak bahagia.


'Ya allah seperti yang engkau lihat sendiri mereka tampak bahagia bagaimana mungkin engkau akan membiarkan kebahagiaan mereka hancur dengan adanya wanita lain? ',batin Alya.


'Tolong lindungi keluarga kecilku ya allah? ', doanya dalam hati.


Beberapa menit kemudian Faya dan Revan menghampirinya dengan membawa makanan yang mereka beli.


"Apa yang kalian beli"

__ADS_1


"Pentol bakar", jawab Faya.


" Enak lo yank. Cobain deh, buka mulutmu! ", Revan ingin menyuapi nya.


" Iya bun enak lo" tambah Faya.


"Iya kan? ", tanya Revan.


" Hu'um" , Alya membenarkan yang dikatakan suami dan anaknya.


"Beli lagi mas! Enak", pintanya.


" Iya, aku pergi beli dulu", pamit Revan.


Revan mengantri di penjual pentol bakar. Memang enak tidak heran kalau banyak yang beli. Revan tidak menyadari tak jauh dari tempatnya sekarang ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Orang itu adalah Kamila. Kamila kemudian mendatangi Revan.


"Mas..? ", Kamila menarik lengan Revan dari belakang.


" Kamila" , Revan menoleh dan kaget.


Revan tak menyangka bisa bertemu dengan Kamila di tempat ini, 'kesialan macam apa ini', batin Revan.


Kamila menarik membawanya ke tempat agak sepi.


"Kenapa pesanku nggak mas balas? "


"Kenapa aku harus membalas? "


"Kita sudah selesai Kamila, aku sudah beristri dan punya anak. Tolong kamu mengerti! "


"Aku tahu mas sudah menikah, tapi kita bisa berteman kan? "


"Teman? Tapi sikap yang kamu tunjukkan beberapa kali bukanlah sikap seorang teman, lebih mengarah ke arah seorang kekasih. Lagi pula ada ya mantan itu jadi teman? hehe.. mendengar saja terasa lucu"


"Kamu tertawa mas...? "


"Menurutmu? Jika kamu yang di posisiku apa kamu tidak tertawa mendengar kalimat yang seperti kamu ucapkan barusan? "


"Mas kenapa kamu berubah? "


"Aku... berubah? Iya ya...? Tapi bukankah setiap orang bisa berubah? Kamu sadar atau tidak Kamila...aku berubah karena kamu", Revan sudah mulai kesal.


" Aku tahu aku salah mas... aku minta maaf? "


"Sudahlah Kamila kamu nggak perlu minta maaf! Mungkin kita memang bukan jodoh. Dan sekarang aku minta sama kamu, jangan hubungi aku lagi! Kita sudah berakhir begitu kamu membatalkan pernikahan kita"


Revan berlalu meninggalkan Kamila masih berdiri mematung . Revan kembali mengantri pentol bakar. Alya dari kejauhan melihat sedari tadi, namun ia tetap tenang. Ia juga tak ingin mempertanyakannya kepada Revan. Ia akan pura - pura tidak tahu.


.

__ADS_1


__ADS_2