Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Jujurlah !


__ADS_3

Diperjalanan menuju rumah Rio,


"Yank tadi bicara apa sama Kamila? Trus tiba - tiba ngajak pulang... pakai alasan Robbin lagi? Kan Robbin di rumah sama bibi? ", tanya Rina pada sang suami sebab penasaran sejak dari rumah Kamila.


" Itu... Kamila ngawur"


"Ngawur? ", Rina masih belum paham.


"Iya. Masa dia minta aku bantu buat dekat sama Revan lagi"


"Ih ngerinya si Mila ini"


"Iya kan? "


"Trus sayang bilang apa? "


"Ya aku emoh(nggak mau) lah. Gila apa aku? Tahu sendiri gimana hancurnya Revan waktu dia batalin nikah? Kecewanya orangtuanya Revan. Alya yang tidak tahu apa - apa di pilih saja sama Revan. Seperti asal dapat? "


"Kok 'asal dapat' yank? "


"Coba aja pikir yank ! Revan menikah sama Alya atas dasar apa? Revan begitu ketemu Alya, dia langsung ngajak menikah tanpa adanya perasaan cinta. Itu pun beberapa hari setelah batalnya pernikahan Revan dan Kamila. Memang Alya itu barang? Begitu ketemu langsung ambil gitu? "


"Iya juga ya yank kasihan Alya. Revan kok tega"


"Itu dia yang kurang aku suka dari Revan, brengsek. Padahal dulu Revan itu nggak brengsek seperti ini. Setelah sama Kamila itu sepertinya dia jadi error. Kalau bukan sahabat dari dulu aku males sebenarnya sekarang sama dia. Tapi untungnya dia menikahnya sama Alya. Kalau sama wanita lain nggak tahu sudah"


"Untungnya menikah sama Alya, gimana sih maksudnya yank? Aku jadi bingung"


"Alya itu kalau aku perhatikan orangnya sabar dan menerima. Ya bagus kalau Revan menikah sama Alya. Sabarlah menghadapi Revan. Coba kalau menikah sama wanita selain Alya, belum tentu tow? "


"Hm iya iya", Rina manggut - manggut sudah paham yang di maksud suaminya.


"Kita memang belum kenal lama sama Alya tapi apa yang di alaminya itu menurut aku nggak adil gitu lho. Apalagi lihat orangnya langsung, kalem dan nrimo (menerima) "


"Benar yang kamu bilang yank", Rina menggenggam tangan suaminya sambil melirik ke arah wajah sang suami.


Malam harinya di rumah pak Andi,


" Yank kamu dari tadi siang cuekin aku... apa aku berbuat salah? ", tanya Revan kepada sang istri yang saat ini mereka duduk di atas kasur berdampingan.


" Masih tanya? Bukannya sudah jelas? "

__ADS_1


Revan mulai berpikir mengingat apa saja yang telah dilalui seharian ini.


"Apa soal di rumah Kamila tadi? Kamila yang memeluk aku? Maaf yank...? Sebenarnya aku pengen nolak tapi aku ingat dia lagi sedih karena mamanya meninggal"


"Tapi nggak perlu lama dong? Jika saja Sandi nggak menarik dirinya, apa kira - kira dia mau melepaskan mas? ", Alya memojokkan Revan.


"Kamu tahu mas di situ ada aku istrimu, ada keluargamu, ada orang banyak. Tapi kamu membiarkannya memeluk tubuhmu seakan dirimu miliknya. Kamu nggak menghargai keberadaanku mas? ", lanjut Alya dengan dada naik turun karena emosi. Apalagi saat ini dirinya sedang hamil, perasaannya jadi lebih sensitif.


" Bukan begitu yank... "


"Jujurlah mas! Kamu masih mencintai Kamila? ", Alya sudah memotong sebelum Revan melanjutkan kalimatnya.


" Yank... "


"Jawab! "


Revan mengangguk lemah.


"Iya, jujur aku masih mencintainya. Tapi kamu adalah orang yang penting bagiku"


"Aku memang sudah tahu soal mas masih mencintai wanita itu, tapi aku tidak menyangka akan sesakit ini mendengarnya langsung darimu mas"


"Kamu yang minta aku jujur yank"


" Mau kemana? Kamu nggak akan minggat lagi kan? "


"Jangan ikuti aku! ", perintah Alya begitu tahu Revan berniat mengikutinya.


Setelah keluar dari kamar, Alya menuju kamar putrinya. Revan mengintip dari pintu kamarnya.


" Semoga kamu tidak pergi lagi...maafkan aku yank, saat ini aku memang belum bisa menata hatiku. Tapi perlu kamu tahu, kamu adalah orang yang penting bagiku", gumam Revan.


Di sisi lain Alya yang saat ini berada di kamar putrinya sedang menangis tapi tak bersuara. Hatinya begitu sakit mendengar kejujuran dari sang suami. Walaupun begitu bukan berarti ikatan dengan suaminya akan berakhir kan? Tidak, Alya tidak mau mundur dari keadaan ini. Pernikahannya adalah sesuatu yang mahal baginya hingga tak bisa di ganti yang lain. Ia akan berusaha mempertahankannya.


"Mungkin ini ujian bagiku ", gumam Alya pelan sambil mengelus kepala sang putri yang sedang terlelap.


" Iya. Kau lihat sendiri kan Alya, bukan suamimu yang mendekati wanita itu. Wanita itulah yang selalu menempel pada suamimu" , lanjut Alya menyadarkan dan menguatkan dirinya sendiri.


Ia sudah bertekad bahwa tak ingin kalah dengan mudah. Ia adalah istrinya Revan, ia lah yang lebih berhak atas Revan.


Setelah acara kirim doa untuk ibu Farah selesai...kini tinggalah Kamila, sang ayah, adiknya, serta beberapa keluarga yang mungkin akan berada di rumah tersebut sampai tujuh harinya mendiang ibu Farah. Ketika anggota keluarga yang lain masih berkumpul di ruang tamu setelah merapikan bekas acara doa, pak Doni mengajak putrinya Kamila berbicara berdua di ruang tengah.

__ADS_1


"Kamila... tadi apa yang kamu bicarakan dengan Rio? Apa soal Revan? "


Kamila tak menjawab namun sang ayah sudah tahu jawabannya dengan diamnya sang putri.


"Jangan aneh - aneh kamu Kamila"


"Maksud papa apa sih? "


"Kamu ingin mendapatkan Revan kembali kan? Kelihatan jelas tingkahmu. Belajarlah dari istrinya Revan! "


"Apa? "


"Perempuan yang menggamit lengan Revan tadi istrinya kan? Belajarlah dari dia yang mau menerima dan menjaga"


"Papa ini... aku semakin tidak mengerti dengan apa yang papa ucapkan. Papa menyuruhku belajar menerima dan menjaga dari wanita itu. Wanita yang sudah merebut mas Revan dariku. Dan apa itu 'menerima dan menjaga'? "


"Pertama wanita itu tidak merebut Revan darimu Kamila, kamulah yang membuang Revan. Kemudian wanita itulah yang menerima Revan di saat terburuknya. Dan setelah menjadi istrinya dia berusaha menjaga suaminya agar tidak jatuh di pelukan wanita lain. Itu yang papa maksud"


"Heh... heran deh sama papa bukannya mendukung anaknya sendiri malah membela wanita itu", kesal Kamila pada sang ayah.


" Papa tidak membela wanita itu tapi papa mengatakan yang sebenarnya. Sudahlah masih banyak di luar sana laki - laki yang mau dan lebih baik dari Revan. Kenapa kamu harus mengganggu rumah tangga orang? Itu tidak baik nak, papa mohon...tolong jangan lakukan itu", pak Doni memohon pada sang putri.


"Huh... ", Kamila mendengus jengah kemudian beranjak dari duduknya berjalan menuju lantai atas.


" Kak, Kamila suka sama suami orang? Revan yang dulu akan menikah dengannya namun batal ? Benar Revan yang itu? ", datang wanita paruh baya menghampiri yang merupakan adik dari pak Doni. Ia tak sengaja menguping pembicaraan ayah dan anak tersebut.


" Iya Revan yang itu. Hah...aku tidak tahu dengan pemikiran keponakanmu itu... dia yang membatalkan, sekarang mau di ambil lagi setelah orang itu sudah menikah dengan wanita lain"


"Astagfirullah... jangan boleh kak! "


"Kamu lihat sendiri kan tadi aku melarangnya tapi seperti yang kamu lihat.. ck ck keras kepala. Apalagi sekarang Farah tidak lagi di sini, aku merasa akan semakin berat dalam mendidik anak - anakku Mun", pak Doni mengungkapkan perasaannya kepada sang adik yang bernama Munah.


"Kenapa Kamila dulu yang sangat imut dan menggemaskan itu jadi berubah seperti ini...? ", gumam Munah.


" Aku juga merindukan sosoknya yang dulu... lugu, manis. Walaupun kalau sudah ada maunya dia keras, tapi aku tidak menyangka sifat kerasnya bisa melewati batas seperti sekarang"


"Doakan saja yang terbaik buat Kamila kak semoga ia segera sadar dengan perbuatannya"


"Iya Mun... aamiin... "


Berakhirlah pembicaraan mereka, sekarang kakak beradik itu di sibukkan dengan pikiran masing - masing. Munah tak menyangka keponakannya yang sangat di sayanginya itu tumbuh menjadi wanita yang susah di atur seperti saat ini.

__ADS_1


"


__ADS_2