Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Perbedaan di Rumah Mertua


__ADS_3

Pagi sekali setelah sholat subuh Kamila membangunkan Sandi yang masih terlelap.


"San bangun sholat subuh! "


Sandi membuka matanya seperti orang kebingungan. 'Kamila membangunkan aku untuk sholat subuh', batinnya.


"Sholat subuh gih! Aku main turun dulu"


"Kakiku kan sakit"


"Kan sholat bisa sambil duduk kalau nggak bisa berdiri "


"Hhh iya", jawab Sandi malas.


Kamila tersenyum kemudian turun dari kamarnya menuju dapur. Ia membuat teh hangat sebelum mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan lainnya. Beberapa menit kemudian ia meletakan satu gelas teh di atas meja ruang tengah untuk sang ayah dan satu lagi dibawanya ke atas.


"Cklek", Sandi yang bary saja selesai sholat namun masih duduk di atas sajadah lantas menoleh ketika mendengar pintu kamar terbuka.


" San ini teh hangat, minum ya! "


Sandi hanya mengangguk dan memperhatikan Kamila yang memrapikan tempat tidur. Kemudian pergi ke kamar mandi mengambil cucian kotor di keranjang. Kamila keluar dari kamar.


'Sibuk sekali', pikir Sandi.


'Apa setiap pagi memang seperti ini dia? ', lanjutnya.


Tapi ia tak mau ambil pusing, setelah berusaha berdiri ia duduk di pinggir kasur. Ia mengambil teh yang tadi di siapkan Kamila di atas meja dekat tempat tidur. Ia pun meminumnya pelan - pelan dengan menggunakan sendok kecil yang sudah di sediakan karena masih panas.


Dibawah Rafli tampak menyapu sedang Kamila memasak sembari mencuci pakaian di mesin cuci. Di rumah tersebut memang sejak kepergian ibu Farah pekerjaan rumah memang di bagi, supaya rata. Pak Doni pun tidak tinggal diam setelah Rafli selesai menyapu maka ia yang kemudian mengepel lantai.


Sandi yang merasa bosan di kamar pun bermaksud ingin turun. Begitu ia turun baru sampai di tangga, ia melihat pak Doni sedang mengepel lantai.


"Om..? ",


" Eh San kamu sudah bangun? Kamu mau duduk di sini ya? hati - hati kalau jalan ya habis om pel"


Sandi berjalan hati - hati dengan kakinya yang masih pincang.


"Kok om ngepel? "


"Eh iya San, di sini semenjak kepergian Farah tugas rumah memang kami bagi. Rafli kalau pagi menyapu, Kamila memasak sambil mencuci pakaian, sedang om yang bagian ngepel lantai. Supaya rata San. Kasihan Kamila jika mengerjakan semua sendiri belum nanti melayani pembeli di toko"


"Yah Sandi tidak bantu apa - apa om? ", Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


" Ah tidak apa - apa San. Ini sudah rutinitas kami sehari - hari"


"O iya gimana dengan lukamu? Kakimu gimana? ", lanjut pak Doni.


"Sudah mending om, tadi malam di obatin Kamila yang di wajah. Kaki juga udah mending tidak sesakit tadi malam"


"Perlu kita bawa ke tukang urut San? siapa tahu ada uratnya yang salah"


"Ah tidak perlu om. Sakitnya ini karena di tendang buak karena terkilir atau apa"


Pak Doni manggut - manggut,


"Om ngepel ruang tamu dan teras dulu San, kamu duduk di sini saja! "


Sandi mencium bau masakan menguar dari arah dapur yang bersebelahan dengan ruang keluarga atau ruang tengah.


'Kamila masak', pikirnya.


Di sini ia harus melihat orang yang sudah sibuk di pagi hari berbeda dengan di rumahnya, yang mengerjakan pekerjaan rumah pembantu. Paling sang ibu atau Alya yang sedikit - sedikit membantu Surti di dapur.


Setelah semua orang di rumah pak Doni selesai dengan aktifitasnya masing - masing saat ini mereka pun sarapan di tempat makan yang satu ruangan dengan dapur.


"Kamila ambilkan Sandi nasi di piringnya! " perintah pak Doni pada Kamila.


"Segini kurang? ", begitu Kamila meletakan sendokan nasi di piring Sandi.


" Doyan ini?", Kamila menyodorkan tumis kangkung dan Sandi mengangguk.


Kamila kemudian mengambilkan ikan goreng dan


"Dikit aja...! ", Sandi yang melihat Kamila menyendok sambal. Kamila mengangguk.


" Ya beginilah San makanan di sini, seadanya. Semoga kamu doyan ya? Nggak tahu ini masakan Kamila cocok tidak di lidah kamu. Maklumi San kalau kamu tidak suka soalnya dia juga baru belajar beberapa bulan ini" , pak Doni berkata.


"Ah sama saja om, di rumah juga seperti ini makanannya"


"Masakannya mbak Mila itu nggak enak mas, asli. Tapi yah mau bagaimana lagi kita makan saja. Dari pada nggak makan", kelakar Rafli yang ceplas ceplos.


" Hehehe", pak Doni dan Kamila sontak tertawa.


Sandi pun hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala. Ia melirik Kamila sekilas, di lihatnya tak ada rasa kesal atau marah di wajah permpuan itu. Justru sebaliknya seperti terlihat lucu. Pasalnya Rafli memang suka mengomentari masakannya tidak seperti sang ayah. Setelah mereka selesai sarapan pak Doni berangkat bekerja sementara Rafli berangkat ke sekolah. Tinggalah Sandi dan Kamila di rumah.


"Sini aku bantu cuci piring! ", tawar Sandi.

__ADS_1


" Nggak usah, kamu istirahat saja biar cepat sembuh", tolak Kamila.


Sandi pun pergi meninggalkan Kamila seorang diri di dapur. Ia keluar menuju teras, di lihatnya halaman yang tidak terlalu luas. Sederhana namun rapi. Sedang halaman di rumah orangtuanya luasnya tiga kali lipat dengan halaman rumah pak Doni. Ia menoleh ke arah yang merupakan garasi di sampingnya ada etalase jualan Kamila.


Waktu berjalan hingga sore hari di sebuah cafe dimana Revan dan Rio berada saat ini.


"Ada apa Van? Seperti penting banget pesanmu tadi malam ngajak ketemuan? ", tanya Rio yang mulai duduk.


" Iya emang penting"


" Sandi dapat masalah", lanjutnya.


"Masalah apa? ", Rio mengernyit penasaran.


" Sandi dan Kamila semalam di bawa lima orang lelaki ke kantor polisi. Mereka di tuduh melakukan perbuatan mesum"


"Trus memang Sandi dan Kamila begitu? "


"Sandi bilang ke aku sih nggak, aku juga nggak percaya jika anak itu melakukan hal seperti itu. Tahu sendiri kan Sandi biarpun nakal tapi kalau soal cewek tidak gampang dia tertarik. Intinya aku tuh penasaran Yo adakah orang yang sengaja menjebak Sandi? Kalau iya, siapa orang itu? Karena begini Yo baik Sandi maupun Kamila, mereka membantah melakukan itu tapi mereka tidak bisa menjelaskan detailnya. Aku kan jadi curiga"


"Itu bagaimana Sandi bisa bersama Kamila? "


"Itu awalnya mereka.... ", Revan menceritakan kepada Rio.


" Hm, kalau begitu Van yang pertama kamu harus lakukan itu mengorek informasi dari Sandi"


"Iya aku juga berencana seperti itu makanya aku hubungi kamu"


"Aku...? ", tanya Rio sambil menunjuk dirinya sendiri karena masih belum paham.


" Iya kamu, temanin aku ke rumah Kamila. Nggak enak lah aku ke situ sendirian. Biniku punya bayi juga sibuk dan lagi ini biar kita laki - laki saja yang menyelesaikan"


"Gimana sih Van, aku masih nggak ngerti. Kenapa mesti ke rumah Kamila? Sandi kan serumah sama kamu? "


"Sekarang nggak, Sandi di rumah mertuanya. Om Doni. Sandi dan Kamila terpaksa menikah di kantor polisi gara - gara yang dituduhkan ke mereka"


"Apa? Sandi menikah dengan Kamila? "


"Hm. Makanya Sandi nggak boleh tinggal di rumah lagi. Bapak marah karena berpikir Sandi memang melakukan itu dan juga... bapak sama ibuk kan masih sakit hati pada Kamila"


"Jadi kapan ke rumah Kamila? "


"Besok malam gimana sambil jenguk anak itu...si Sandi. Kasihan dia babak belur di keroyok beberapa orang ck ck"

__ADS_1


"Apes juga Sandi", gumam Rio.


Mereka pun berencana besok akan berkunjung ke rumah pak Doni.


__ADS_2