Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Timing yang Pas


__ADS_3

Dua hari sudah Alya dan putrinya berada di rumah kakanya Deddy. Hari ini Deddy mengajak sang adik dan keponakannya itu berkunjung ke rumah salah satu kenalan kakaknya mumpung Alya di kota ini pikir Deddy. Karena Alya sendiri juga mengetahui siapa kenalan kakaknya yang kali ini akan di kunjungi. Ia adalah mantan bos Deddy sewaktu ia masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Mereka hari ini hanya pergi bertiga karena Zacky sekolah seperti biasa sedang Herli di rumah menunggu kepulangan Zacky makanya mereka tidak ikut pergi. Biasanya kalau ada keluarga atau saudara datang mereka akan mengusahakan pergi bersama entah hanya jalan - jalan, berkunjung ke tempat kerabat, belanja. Sedang Deddy sendiri setelah ia keluar dari pekerjaannya ia memulai membuka usaha sendiri di bidang otomotif seperti keahliannya, yaitu membuka usaha bengkel mobil.


Sekitar satu jam mereka berada di rumah mantan bos Deddy, mereka pun undur diri. Agak lama memang mereka di situ, itu karena mereka sudah kenal baik satu sama lain. Bahkan setiap lebaran Deddy menyempatkan berkunjung ke rumah mantan bosnya tersebut dan tak lupa Alya pun di ajaknya. Itu sebelum Alya pulang ke kampung halamannya. Di tengah perjalanan Deddy tiba - tiba membuka suara


"Dek masih ingat pak Andi nggak? "


"Masihlah. Kenapa emang bang? "


"Kita mampir main ke rumahnya yuk ! Udah lama semenjak kamu pulang kampung aku nggak pernah ke rumahnya. Paling sesekali bertukar kabar aja"


"Lah kenapa abang nggak main ke rumahnya? "


"Males aja dek. Nggak tahu, nggak ada kamu di sini aku males main ke rumahnya pak Andi. Gimana yah...orangnya kamu tahu sendiri kan? Keras. Seperti tidak memandang orang. Anak - anaknya juga itu, kelihatan angkuh. Seperti enggan menyapa orang"


"Iya sih. Padahal hidup mereka dari segi ekonomi udah berubah drastis iya kan bang ? Anaknya masih SMA aja kalau jalan pakai mobil mewah dulu seingatku"


"Hm. Tapi sekarang kelihatannya sudah bangkit lagi walaupun nggak sekaya dulu sebelum bobrok usahanya"


"Hm... ", Alya manggut - manggut mengerti.


Mereka pun memutuskan untuk mampir ke rumah pak Andi salah satu kenalan Deddy. Sekitar dua puluh menit kemudian sampailah mereka di rumah pak Andi.


" Tok tok tok, assalamualaikum? ", Deddy mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tidak lama kemudian mbak Surti membukakan pintu.


" Waalaikumsalam, eh mas Deddy sama mbak Alya", seru mbak Surti senang melihat kedatangan Deddy dan Alya. Mereka memang sudah kenal karena Deddy dan pak Andy cukup dekat dulu.


"Mau ketemu bapak ya? Mari masuk! ", belum di jawab Surti sudah menyuruh masuk saja.


" Silakan duduk mas, mbak. Saya panggil bapak dulu".


"Eh kamu Ded? Alya, gimana kabarnya? Katanya di kampung? ", pak Andi yang datang beberapa kemudian setelah mbak Surti memanggil. Ibu Yani pun ikut keluar menemui Deddy dan Alya.

__ADS_1


" Alhamdulillah baik. Iya, saya di kampung pak, bu", jawab Alya. Kemudian mereka semua duduk. Di ruang keluarga Revan dan Sandi yang sedang duduk santai mendengar dan merasa penasaran siapa yang datang. Kenapa sepertinya akrab sekali dengan kedua orangtuanya? Rasa penasaran membuat Revan beranjak dari duduknya dan ingin memastikan dengan bertanya kepada mbak Surti yang saat ini berada di dapur. Sudah pasti membuatkan minum untuk tamu.


"Mau kemana mas? ", tanya Sandi yang melihat kakaknya tiba - tiba berdiri dari duduknya.


" Mau ke dapur tanya sama mbak Surti siapa tamu di depan"


"O"


Revan berjalan meninggalkan Sandi sendiri di ruang keluarga menuju dapur. Benar saja dugaannya mbak Surti saat ini sedang membuatkan teh untuk tamu.


"Ehm... mbk...? "


"Eh mas Revan bikin kaget aja. Ada apa", Surti yang sedang fokus membuat minuman di kagetkan suara Revan dari arah belakangnya.


" Hee... itu siapa yang datang? "


"Mas Deddy sama mbak Alya. Masih ingat tow? "


" Ya udah kalau begitu"


"Memangnya ada apa mas? "


"Nggak ada", jawab Revan sambil berlalu meninggalkan dapur.


"Lhoh gimana sih? Cuma mau tanya gitu aja", Surti merasa aneh dengan sikap anak dari majikannya itu.


Di ruang tamu,


" Ini anak kamu Al? ", tanya pak Andi.


" Iya pak"

__ADS_1


"Berapa tahun? " kini ini ayani yang bertanya.


"Lima tahun buk"


"Sudah sekolah dong ? "


" Baru nanti masuk Tk tahun ajaran baru"


"O iya"


Setelah dari dapur Revan langsung berjalan menuju ruang tamu.


"Mau kemana lagi? ", tanya Sandi kepada kakaknya karena merasa heran setelah dari dapur langsung berjalan ke arah ruang tamu bukannya duduk kembali dengannya.


" Mau ke depan. Yuk...! ", ajak Revan pada adiknya.


" Memang siapa yang bertamu ? "


"Mas Deddy dan mbak Alya"


Sandi langsung tahu namun ia juga mengekor pada kakaknya walaupun ia sebenarnya agak aneh melihat sikap kakaknya. Tidak biasanya kakaknya tertarik dengan hal seperti ini sekalipun itu menyangkut kenalan dari ayahnya. Sesampai di ruang tamu mereka berdua langsung berjabatan tangan dengan Deddy serta Alya.


"Ayahnya mana Al? Nggak ikut?", tanya pak Andi pada Alya.


" Itu...ayahnya sudah di panggil sama yang kuasa saat anak saya berusia dua tahun"


"Innalillahi...", ucap Ibu Yani kaget bahkan suami dan kedua putranya ikut kaget namun tak berkata apa - apa.


" Kasihannya", bilang pak Andi sambil memperhatikan Faya yang sedang melihat foto keluarga yang terpajang di ruangan itu. Entah kenapa di saat seperti itu ada seseorang yang merasa lega. Apa dia saja ku jadikan istriku? Timing yang pas, batin Revan. Iya orang tersebut adalah Revan, pikirannya jadi ngawur setelah apa yang di alaminya akhir - akhir ini. Sekarang yang dipikirannya adalah secepatnya mendapatkan pengganti Kamila sebagai istrinya agar kedua orangtuanya menjadi tenang tidak mengkhawatirkannya. Seperti pepatah pucuk di cinta ulan pun tiba mungkin seperti itu? Kemudian mbak Surti datang dengan membawa minuman. Ia sempat melirik ke arah Revan dan Sandi. Batinnya merasa heran, tumben sekali mereka mau ikut bergabung seperti ini. Setelahnya meletakkan minum di meja mbak Surti segera menuju belakang lagi. Pak Andi dan Deddy pun berbincang yang kadang baik Alya atau ibu Yani tak mengerti apa yang di bicarakan kedua lelaki itu. Jadi mereka memilih diam mendengarkan begitu juga Revan dan Sandi. Hingga beberapa saat perbincangan antara pak Andi dan Deddy sudah sedikit berkurang, Revan membuka suara yang tadinya hanya diam saja.


"Maaf sebelumnya, mbak Alya bisa kita bicara sebentar? Berdua saja",pinta Revan pada Alya. Semua orang di ruangan itu tercengang dengan apa yang baru saja di katakan Revan. Ada apa gerangan? Kenapa tiba - tiba? Seperti itulah mungkin yang ada di hati orang - orang di ruangan itu. Alya yang tadinya juga kaget mendengar permintaan Revan kemudia mengangguk dan Revan berdiri dari duduknya. Revan memberi isyarat kepada Alya agar mengikutinya pergi. Yang lain hanya diam. Revan mengajak Alya menuju kamarnya, membuat Alya semakin penasaran. Hanya berdua dan dikamar pula?

__ADS_1


__ADS_2