Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Antonio


__ADS_3

Hari ini Kamila dan Dita pergi berlibur ke kota sebrang.ke


"Bagus kan ? ", tanya Dita kepada Kamila yang melihat pemandangan kota dari kaca jendela kamar hotelnya.


" Iya. Eh Dit lihat deh di sana ada pantai kelihatan dari sini"


"Iya memang di sini wisata pantainya ditengah kota"


"Besok kita jalan - jalan ke sana. Nanti sore kita cari makan di luar sambil jalan - jalan oke? ", tambah Dita.


" Kamu seperti sudah hafal dengan kota ini Dit? "


"Iyalah aku kan punya keluarga di sini, tanteku"


"Oh begitu"


"Sebenarnya aku malah di suruh tante nginap di rumahnya tapi aku nggak mau. Aku takut kamu jadi nggak nyaman"


"Yah... aku ngrepotin dong? "


"Nggaklah Mil, santai aja yang terpenting sekarang adalah kamu bisa bangkit lagi. Membuka lembaran baru. Aku seneng kalau kamu bisa bangkit kembali, tidak larut dalam kesedihan terus"


"Makasih ya Dit, kamu mendukung bahkan kamu menemaniku di saat suamiku tidak ada"


"Iya Mil kita kan sudah berteman dari sekolah hingga sampai saat ini kita masih berteman"


Sore harinya Dita mengajak Kamila berjalan - jalan. Mereka menaiki angkutan umum dan sesekali berjalan menyusuri jalanan kota.


"Wah Dit ini enak banget", puji Kamila saat di ajak makan di sebuah cafe bergaya klasik di kota tersebut.


" Iya kan. Cafe ini tuh jarang sepi. Soalnya dari masakannya itu enak banget baru harganya bersahabat. Nongkrong di sini tuh seperti nggak ada bedanya orang kaya sama orang ekonomi standar"


"Hm iya sih, sekarang aja penuh"


"Eh habis ini kita jalan ke mall yuk? "


"Boleh, aku juga pengen tahu mall di sini seperti apa"


"Nanti kita jalan kaki aja... mallnya dekat dari sini"


"Mall di sini nggak sebanyak di kota kita Mil dan harganya mehong", lanjut Dita.


" Masa? Waduh bisa habis uangku kalau pakai belanja di sini"


"Ya nggak usah banyak - banyaklah kalau belanja"


"Hm... paling pengen beliin apa gitu buat Amerra"


"Makanya kalau liburan ke sini aku sukanya jalan sama tante, biar di bayarin tante. Tante uangnya banyak hehehe"


"Nakal juga kamu Dit"

__ADS_1


"Hahaha tapi tanteku itu baik Mil. Sekalipun aku nggak minta di bayarin pasti juga ujung - ujungnya aku nggak boleh bayar sendiri. Dia udah tahu sih kalau aku pakai uang sendiri nanti habis uangku. Hehehe"


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di mall. Mereka pun melihat - lihat apa pun yang di jual di tempat tersebut.


"Eh Dit lihat deh baju itu bagus banget...kayaknya cocok buat Amerra", tunjuk Kamila pada pakaian anak yang di gantung di balik kaca.


" Iya Mil tapi kalau di tempat modelan kayak gini biasanya mahal, tapi nggak papalah kita lihat dulu aja yuk! "


Setelah masuk Kamila dan Dita langsung melihat pakaian tadi.


"Gila baju seumplis gini harganya hampir lima ratus ribu", pekik Dita namun tidak keras.


" Tapi bagus Dit... aku membayangkan Amerra pasti cantik pakai baju ini"


"Anakmu mau kamu pakein baju model gimana aja juga cantik. Orang dasarnya memang cantik. Perpaduan kamu sama Sandi cantiknya dia itu. Bener - bener dah ck... "


"Jadi gimana mau kamu ambil? ", lanjut Dita.


" Iya Dit nggak apa - apalah harga segitu. Lagian aku kerja buat siapa kalau bukan buat anakku. Ya walaupun sudah di jatah dari keluarga papanya tapi kan nggak seperti dari jerih payah aku sendiri"


"Iya kamu benar"


Keesokan harinya Dita mengajak Kamila berkunjung ke rumah tantenya. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga tante Dita. Hingga waktu sore tiba Dita berpamitan karena ingin mengajak Kamila pergi ke pantai seperti yang kemarin ia katakan.


Baru akan memasuki kawasan pantai sudah tampak ramai di luarnya. Kamila sempat takjub karena begitu ramainya. Sebenarnya jika di lihat bagusnya tidak terlalu hanya saja yang membuat takjub karena keramaiannya.


"Ramai banget Dit", ucap Kamila ketika mereka berjalan - jalan di area pantai tersebut.


"Oh pantas saja"


Mereka kemudian lanjut berjalan berkeliling sambil melihat - lihat beberapa stan orang berjualan. Mereka juga mengambil foto diri mereka.


"Kita duduk di sana yuk Mil! ", ajak Dita kepada Kamila.


"Ayo"


Mereka duduk di sebuah bangku yang masih kosong.


"Tunggu di sini dulu ya Mil, aku beli minum sama camilan di sana sebentar! ", ucap Dita dan diangguki Kamila.


Tinggalah Kamila seorang diri duduk di bangku tersebut. Tak lama kemudian ada seorang lelaki duduk di bangku yang sama dengan Kamila namun ia duduk di agak ujung. Kamila yang menyadari keberadaan seseorang pun menoleh ke arah lelaki itu. Alangkah terkejutnya Kamila begitu melihat wajah lelaki tersebut hingga matanya tak berkedip beberapa saat. Lelaki itu tak menyadari jika dirinya tengah ada yang memperhatikan begitu dekat. Matanya fokus tertuju kepada beberapa anak yang berlarian ke sana kemari begitu bahagia.


"San... Mas Sandi", ucap Kamila suaranya membuat lelaki tersebut menoleh karena mendengar.


" Mas Sandi... ", ucap Kamila kembali dengan linangan air mata.


Namun lelaki itu tak mengerti dengan situasi saat ini ia justru berkata,


" Maaf... mbak siapa? "


"Deg", dada Kamila terasa di jatuhi batu ketika lelaki tersebut bertanya.

__ADS_1


" Ap.. apa? Ehm..kamu mas Sandi kan? ", tanya Kamila.


" Maaf sepertinya mbak salah orang, saya bukan Sandi"


"Nggak mungkin, kamu mas Sandi. Lihat kamu juga punya tahi lalat di leher. Kamu pasti mas Sandi", Kamila mendekat ke arah lelaki tersebut.


Lelaki tersebut hanya menggelengkan kepala karena bingung.


" Tolong jangan bercanda mas? Ayo kita pulang... aku dan anak kita sudah menunggu lama hiks hiks... ", Kamila tak bisa membendung air matanya sambil ia memegang lengan lelaki tersebut.


" Mas Sandi kenapa diam saja? Aku ini istrimu... apa kamu nggak merindukanku? Mas jawab... mas Sandi? ", Kamila menggerak - gerakan lengan lelaki tersebut sedang lelaki tersebut tampak lilung.


" Dia bukan Sandi", tiba - tiba ada suara dingin seorang perempuan.


Kamila menoleh ke arah suara tersebut dan ia tahu siapa perempuan itu.


"Bella... kamu... "


"Ayo sayang kita pergi! ", Bella mengabaikan ucapan Kamila ia justru menarik lengan lelaki yang di panggilnua sayang.


" Tunggu! ", Kamila masih memegang erat lengan lelaki tersebut.


" Bella... dia mas Sandi kan? Dia suami aku Bella"


"Dia bukan Sandi, dia Antonio suamiku. Puas kamu... ", teriak Bella hingga menjadi pusat perhatian orang - orang yang ada di tempat itu.


Niko yang berada tak jauh dari Bella mendengar perempuan itu berteriak. Ia lantas berlari. Dan ketika ia sudah di belakang Bella, Kamila kembali berkata..


" Bella dia suamiku mas Sandi, kenapa bisa bersama kamu? "


"Deg", Niko kaget namun tak bisa berbuat apa - apa karena ia tahu permasalahannya.


"Ku bilang bukan ya bukan. Ayo sayang! ", Bella menarik paksa Antonio.


" Ayo Niko kita pulang! ", lanjutnya sambil menoleh ke arah Niko.


Niko linglung seperti orang bodoh dan ketika ia baru saja berbalik tiba - tiba ada tangan yang menariknya dari belakang.


" Tunggu mas, kita memang tidak saling kenal. Tapi laki - laki yang di bawa teman mas itu adalah suami dari teman saya itu. Dia sudah dua tahun menunggu suaminya. Tolong mas biarkan teman saya bertemu dengan lelaki tadi. Paling tidak untuk memastikan dia benar atau salah mengira bahwa itu suaminya", Dita memohon kepada Niko.


Niko ingin berjalan meninggalkan tempat itu namun Dita masih memegang tangannya erat.


"Tolong mas saya mohon untuk memastikan saja. Ini nomor telpon saya mas... tolong hubungi saya. Tolong biarkan teman saya bertemu dengan lelaki tadi . Sekali saja... tolonglah mas. Dia dan anaknya sudah menunggu kepulangan suaminya selama dua tahun"


Niko luluh ketika Dita menyebut 'anak', ia kemudian menghela napas dan mengangguk. Ia lantas mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyimpan nomor Dita.


"Terima kasih mas... janji ya mas akan menghubungi saya? Saya tunggu mas sekali saja! "


Niko mengangguk kemudian berlari sebab ia sudah ditunggu Bella.


"

__ADS_1


__ADS_2