Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Maaf, Tidak Bisa


__ADS_3

Setelah di sepakati bahwa Alya akan ikut pergi melayat besok semuanya pun bubar meninggalkan ruang keluarga.


'Astagfirullah kenapa aku jadi punya pikiran bahwa Kamila menyalahgunakan kesempatan merayu mas Revan. Kenapa aku jadi berpikir negatif begini padahal saat ini Kamila sedang berduka. Ya allah ampuni aku yang berpikir negatif tentang Kamila saat ini', batin Alya di atas kasur.


"Astagfirullah... ", sebut Alya.


" Kenapa? ", tanya Revan yang duduk di sampingnya.


" Nggak ada mas"


"Hm"


Keesokan harinya keluarga pak Andi pun pergi melayat Ibu Farah, hanya Faya yang tidak ikut. Ia di tinggal bersama mbak Surti.


Sesampai di rumah duka, Pak Doni yang melihat kedatangan keluarga pak Andi merasa terharu. Sebab sebelumnya hubungan mereka menjadi tidak baik semenjak pernikahan anak mereka batal. Pak Doni dan pak Andi berpelukan.


"Saya beserta keluarga ikut berduka cita atas kepergian beliau..demoga di ampuni segala dosa, di terima amal ibadahnya dan di tempatkan di tempat yang terbaik oleh allah, aamiin... "


"Aamiin... terimakasih doanya pak dan mohon dimaafkan segala kesalahan istri saya semasa hidupnya"


"Iya... kami sudah memaafkan"


Kamila yang juga mengetahui kedatangan keluarga pak Andi lantas mendekat, memeluk pak Andi dan ibu Yani. Kemudian menyerunduk menyusupkan kepala di dada bidang Revan. Revan kikuk tidak bisa berbuat apa - apa, ingin menolak tapi ia tahu Kamila saat ini sedang terguncang. Di sisi lain ada Alya di sampingnya. Alya berusaha mengendalikan emosinya, berusaha maklum dan sabar walau sebenarnya ia sangat tidak suka. Sandi yang memperhatikan lantas mengambil inisiatif mendekati Kamila, menarik tangannya kemudian memeluk wanita tersebut. Alya paham dengan yang di lakukan Sandi. Sementara Revan merasa lega bisa terlepas dari pelukan Kamila. Pasalnya wanita itu seperti enggan melepaskan pelukannya dari Revan. Entah kenapa dengan wanita itu, apakah karena ia yang sedih dengan kepergian ibunya ataukah memang sengaja melakukan itu? Hanya Kamila yang tahu alasannya.


"San makasih ya...? ", ucap Alya berbisik di dekat telinganya Sandi setelah mereka duduk di kursi yang tersedia.


" It's okey mbak"


Setelah acara pemakaman selesai, keluarga pak Andi bermaksud undur diri.


"Mas... nanti sampai tujuh hari mama mas ke sini ya kalau sore, ikut do'ain mama", pinta tiba - tiba Kamila kepada Revan.


" Mas Revan sibuk... biar aku saja yang ke sini kalau sempat", sahut Sandi cepat.


"Iya mas Revan sibuk, nanti biar di doakan di rumah saja. Iya kan mas? ", Alya menimpali sambil menggamit lengan Revan dan memandang wajah sang suami.


" Iya, aku doakan dari rumah saja soalnya aku sibuk", Revan mengiyakan yang di katakan sang istri.


Kamila mengangguk nampak kecewa, sang ayah yang melihat pun mengerti namun keluarga pak Andi tidaklah salah. Sedang ibu Yani sebenarnya jengah, pak Andi pun sudah tidak sabar sebenarnya berasa di situ.

__ADS_1


"Revan, awas kamu sampai dekat - dekat sama Kamila! Pokoknya nggak ya Revan! Ibuk nggak suka, ibuk nggak mau", ibu Yani marah seketika di dalam mobil.


" Tidak usah bertemu lagi setelah ini, karena sepertinya dia masih berusaha mengejarmu", tambah pak Andi.


"Sudah jelas itu, tadi saja langsung nyungsep di dada mas Revan padahal ada mbak Alya. Trus waktu kita berpamitan masa minta mas Revan kesini. Apaan...?",Sandi tak ketinggalan.


Revan dan Alya hanya mendengarkan. Setelahnya semua diam tak ada yang berbicara hingga sampai di rumah.


Sore harinya Rio beserta sang istri, Rina baru pergi ke rumah Kamila di karenakan Rio baru mendengar setelah berada di tempat kerja dan bertepatan ada janji dengan tamu penting.


"Maaf ya om, Mil baru datang soalnya saya tahu sudah berada di kantor dan kebetulan ada tamu penting", ucap Rio pada pak Doni dan Kamila.


" Kami ikut berduka cita om, Mila semoga tante Farah di ampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya", Rina istri Rio yang berbicara kali ini.


"Iya tidak apa - apa, kalian mau datang saja saya sudah senang", pak Doni berkata.


" Papa benar... makasih kalian sudah datang dan mendoakan mama", Kamila menimpali.


Mereka bercakap - cakap sembari pak Doni menceritakan kronologi kecelakaan yang menyebabkan istrinya meninggal.


"Om benar - benar tak menyangka Yo, tantemu akan pergi secepat ini. Di saat Rafli masih butuh kasih sayang dan perhatian dari mamanya. Kamu tahu sendiri anak seumur Rafli adalah masa bandel - bandelnya"


"Iya om, tapi siapa yang tahu umur om. Semua sudah kehendak Allah"


"Bisa saja sih om, tapi apa Kamila mau? "


"Itu om belum berbicara dengan Kamila. Andai saja Kamila tidak membatalkan pernikahannya dengan Revan, dia pasti saat ini sudah tidak bekerja. Jadi bisa membantu mengurus adiknya. Om terkadang takut... "


"Takut... jika om kerja dan Kamila juga kerja sehingga Rafli kurang di perhatikan jadi salah pergaulan. Biasanya anak itu masih suka manja pada mamanya. Sekarang mamanya sudah tidak ada", pak Doni melanjutkan perkataannya.


"Hm... iya Rio mengerti om. Pasti tidak akan mudah.Tapi om jangan patah semangat! Kenapa om di beri ujian seperti ini pasti karena om mampu melaluinya"


"Iya om juga pernah dengar itu. Semoga saja..."


"Papa, Kamila ingin bicara sama mas Rio berdua sebentar", Kamila tiba - tiba memotong.


Pak Doni menatap Rio,


" Boleh", jawab Rio.

__ADS_1


Istri Rio pun sudah mengijinkannya ketika Kamila berbicara dengannya.


Rio dan Kamila saat ini duduk di samping rumah.


"Ada apa Mil..? "


"Yo bisa tolongin aku? "


"Tolong apa? ", Rio mengernyit bingung.


" Tolong dekatin Kamila sama mas Revan lagi? "


"Maksudnya? "


"Bantu aku mendapatkan mas Revan lagi! "


"Gila kamu Mil? Revan sudah ada yang punya Mil, dan sekarang istrinya sedang hamil"


"Iya aku memang gila. Aku tergila - gila sama mas Revan dan aku ingin memilikinya"


"Lupakan! "


"Lupakan Revan Mil...! Lagi pula ini keputusanmu dulu. Kenapa kamu menginginkan Revan kembali setelah dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang ?",lanjut Rio sebelum Kamila berbicara.


"Aku menyesal Yo. Aku benar - benar menyesal. Setelah aku kembali dengan mas Revan aku nggak akan mempermainkan nya lagi. Tolong bantu aku Yo? "


"Kalau kamu kembali dengan Revan lalu bagaimana dengan Alya istri Revan? Mil kamu sadar kamu sedang mempermainkan perasaan orang hah...? Jika kamu kembali dengan Revan, Alya pasti sangat terluka. Tolong Mil berpikirlah yang jernih jangan bermain dengan perasaan orang lagi! "


"Jika sampai kamu kembali dengan Revan berapa hati lagi yang akan terluka? Bukan hanya Alya, tapi juga anaknya serta orangtua Revan. O iya Sandi, Sandi juga", Rio masih melanjutkan.


" Yo please! "


"Maaf, tidak bisa"


"Belajarlah lebih dewasa lagi Mil ! Jangan buang - buang waktumu hanya untuk melukai perasaan orang! Maaf aku tidak bisa bantu kamu, aku pamit", Rio melanjutkan dan berpamitan setelahnya.


" Om saya pamit pulang dulu soalnya Robbin sendiri di rumah? yuk yank! " , Rio berpamitan kepada pak Doni dan mengajak istrinya pulang.


"O iya iya, makasih ya dan hati - hati di jalan! ", ucap pak Doni.

__ADS_1


" Iya om makasih"


Setelah Rio dan istrinya berjalan keluar, 'kenapa dengan Rio? sebenarnya apa yang dibicarakan dengan Kamila? ', batin pak Doni.


__ADS_2