
Setelah kejadian di cafe beberapa waktu yang lalu, Kamila tidak ada menghubungi Revan lagi. Ia merasa kecewa dan juga malu. Hal itu membuat ia menjadi pendiam dan lebih betah berasa di rumah. Orangtuanya senang melihat ia yang lebih banyak di rumah tidak seperti sebelumnya ia jika tidak bekerja lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman - temannya di luar.
"Mil, apa ada pria yang kamu sukai saat ini? ", tanya sang mama tiba -tiba dari arah dapur sambil membawa camilan di piring menghampiri Kamila yang sedang bermain ponsel di ruang tengah.
" Kenapa mama tiba - tiba bertanya begitu? "
"Nggak, siapa tahu kamu saat ini sedang tertarik dengan seorang pria"
"Belum ada"
"O. Gimana kalau mama kenalin sama anak teman mama yang masih jomblo? "
"Apaan sih ma ? Tidak usah yang begitu! "
"Bukannya mama memaksa kamu supaya cepat menikah Mil, hanya saja dengan batalnya pernikahan kamu dengan Revan itu membuat pandangan masyarakat pada keluarga kita negatif. Jadi mama berharap kamu secepatnya mendapat pengganti Revan dan menikah. Dengan begitu pandangan masyarakat kepada keluarga kita tidak terlalu negatif, paling nggak dengan pernikahanmu bisa menutupi kesalahan kita. Sekali lagi mama tidak memaksa kamu lo ya untuk segera menikah", Ibu Farah menjelaskan pelan - pelan pada putrinya.
"Iya ma, Mila ngerti maksud mama tapi Mila belum ada pikiran ke arah situ saat ini"
"Kenalan dulu, berteman dulu tidak mau juga? "
"Hm entahlah"
"Kan tidak ada salahnya kenalan dulu, berteman dulu. Kalau iya mama coba tanyain ke teman mama"
"Nggak deh ma"
"Ya sudah tidak apa - apa"
"Ayo di makan pisang gorengnya mumpung masih hangat! ", suruh ibu Farah.
Tanpa menjawab Kamila langsung mengambil satu biji pisang goreng.
Di sisi lain Alya sedang malas - malasan dari pagi, entah kenapa akhir - akhir ini ia merasa pegal - pegal di sekitar pinggang. Ini seperti salah satu gejala jika seseorang akan kedatangan tamu. Ia mengingat - ingat terakhir kali dirinya datang bulan.
"Harusnya sudah dekat hari - hari ini" gumamnya setelah mengingat tanggal terakhir haid bulan sebelumnya.
"Bunda main yuk? ", Faya tiba - tiba datang mengajaknya bermain.
" Maaf ya sayang, badan bunda rasanya pegal - pegal biar di temani bi Surti ya mainnya? "
"Bunda kenapa? Tadi pagi yang antar sekolah ayah dan yang jemput bi Surti. Bunda sakit ya"
"Bunda nggak sakit mungkin cuma capek aja"
"Ya sudah deh Faya main sama bi Surti, bunda cepat hilang ya capeknya? "
"Iya sayang makasih, maaf ya bunda nggak bisa temanin? "
"Nggak apa - apa bunda"
Malam harinya,
"Mas nafasmu bau", Alya dan Revan yang berbaring miring saling berhadapan.
" Hah... aku sudah sikat gigi lho. Masa bau... ha... ha... nggak ih", Revan mencoba menghbuskan nafas lewat mulutnya dan menciumnya sendiri. Namun ia tidak merasa nafasnya bau seperti yang di katakan Alya.
"Ih beneran. Hadap sana, jangan hadap sini! "
"Kamu kenapa sih? ", Revan ngedumel namu tetap menuruti perintah istrinya.
Beberapa menit kemudian baru saja Revan mulai terlelap di kagetkan dengan bahunya yang di goyang - goyang istrinya dari belakang.
" Mas...? "
__ADS_1
"Hm... apa sih ? aku ngantuk"
"Pijitin punggungku, aku nggak bisa tidur dari tadi"
"Aku ngantuk yank... "
"Ayolah aku nggak bisa tidur nih! ", Alya merengek manja.
" Iya iya, hadap sana! Jangan lama - lama ya, ngantuk banget nih! "
"Ya sampai aku tertidur lah baru mas boleh tidur"
"Apa? "
Alya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lha kamu tidurnya kapan, iya kalau kamu cepat tidur kalau nggak tidur - tidur? Aku yang tersiksa"
Alya cuek saja.
"Di ajak wik wik nggak mau tapi tiap malam di suruh mijitin", gerutu Revan namun tidak di hiraukan Alya.
Memang beberapa hari terakhir ini Alya malas di ajak melakukan hubungan suami istri dan selalu minta di pijit punggungnya jika akan tidur.
Alya saat ini hanya fokus agar bisa tidur secepatnya. Perutnya terasa tidak nyaman, entah apa karena akan kedatangan tamu atau...
'Apa aku hamil? ', batin Alya sambil menikmati pijatan di punggungnya yang dilakukan suaminya.
'Setelah menikah setiap melakukan dengan mas Revan memang tidak pernah menggunakan pengaman dan mas Revan juga mengeluarkannya di dalam. Bisa saja sih aku hamil', lanjut Alya membatin. Ia tersenyum dan mengusap perutnya. Ia juga berencana meminta tolong mbak Surti besok untuk membelikan test pack di apotek depan. Beberapa menit akhirnya Alya tertidur, selesailah tugas Revan.
"Huft... ", Revan menghela napas lega mengetahui sang istri sudah tidur. Ia pun kemudian ikut menyusul tidur.
Pagi harinya sekitar pukul setengah enam Alya minta di belikan nasi pecel.
" Kamu tumben pagi - pagi begini lapar yank? ", tanya Revan.
"Ya sudah pakai lauk apa? "
"Pakai ampela ati sama sekalian jajanan ya...? hehehe"
"Hi, ada - ada aja. Ada tambahan lagi? "
"Nggak itu dulu cukup"
Revan pun pergi membelikan apa yang di minta sang istri, sebenarnya ia masih malas kalau harus keluar pagi - pagi begini. Apalagi udara masih dingin.
Begitu sampai di tempat penjual nasi pecel ia lantas mematika mesin motornya dan turun. Tak terduga ternyata di situ ada Kamila yang sedang duduk di salah satu kursi, sepertinya ia juga membeli sarapan.
"Mas...? ", sapa Kamila.
" Ah, iya", jawab Revan canggung.
"Tumben mas beli makanan pagi - pagi begini? ", setahu Kamila memang Revan tidak pernah sarapan sepagi ini.
"Itu belikan Alya, nggak tahu juga tumben dia minta di belikan sarapan pagi - pagi begini"
"Oh gitu ya". 'Apa dia hamil? ', batin Alya.
Sebagai perempuan ia pernah mendengar jika wanita hamil suka aneh - aneh, tak terduga. Ia merasakan sakit menyusup di hatinya memikirkan hal itu jika memang benar. Tiba - tiba ia merasa dadanya sesak dan matanya mulai berkaca - kaca. 'Perasaan macam apa ini? Kenapa tiba - tiba aku ingin menangis? ', batinya bercampur dengan pikirannya. Ia berusaha menahan dirinya agar tetap normal. Jangan sampai ia menangis di sini, akan sangat memalukan bukan tanpa ada alasan apa - apa menangis? Ia kemudian berinisiatif berdiri berjalan - jalan di sekitaran sembari menunggu pesanannya. Sementara Revan yang diam saja agak kaget begitu Kamila tiba - tiba berdiri dari duduknya namun ia memilih menahan diri untuk tidak bertanya sebab ia sudah berjanji pada seseorang yang tak lain adalah istrinya, Alya. Kamila mengusap air matanya, perasaannya tidak karu - karuan. Ada rasa menyesal, iri, dan mungkin tidak suka kepada Alya. Bagaimanapun ia juga seorang perempuan normal yang juga mendambakan menikah dengan lelaki yang di cintai dan memiliki anak. Tapi lihat sekarang akibat ulahnya sendiri ia harus terlihat menyedihkan seperti saat ini. Beberapa menit kemudian pesanannya pun siap, ia di panggil si penjual kemudian membayar tanpa berpamitan pada Revan. Revan sempat merasa aneh tapi tak mau ambil pusing. Setelah dua pembeli selesai dengan pesanannya kini giliran pesanan Revan. Beberapa detik selesai,Revan membayar lantas pergi setelahnya.
"Yank...? ", panggil Revan pada sang istri dari ruang makan.
" Tuh sarapanmu", Revan menunjuk makanan yang ada dibatas meja dengan dagunya.
__ADS_1
Alya pun langsung mengambil sendok yang sudah tersedia di atas meja, lalu membuka bungkusan makanan tersebut. Ia duduk menikmati sarapannya. Revan yang duduk di sebrang nya hanya memperhatikan. Merasa agak heran setelah beberapa menit, pasalnya porsi makanan itu besar dan Alya menghabiskannya. ' Makanan sebanyak itu habis', pikir Revan di tambah lagi ia harus menyaksikan Alya memakan jajanan yang di belinya juga setelah makan nasi pecel. 'Perut atau apa? ', batin Revan sedikit bergindik ngeri melihat istrinya makan. Namun ia memilih diam dari pada nanti kena semprot.
"Mbak nanti habis ngantar Faya ke sekolah tolong mampir ke apotek ya... belikan test pack. Ini uangnya! "
"Ha... sudah tanda - tanda tow? Semoga aja positif ya mbak? ", Mbak Surti yang tadinya sempat bingung karena di suruh mampir ke apotek jadi senang begitu mendengar kalimat lengkap Alya.
Tanpa mereka sadari muncul ibu Yani sedikit mendengar,
" Apa yang positif? "
"Ini buk, mbak Alya minta tolong dibelikan test pack", mbak Surti menjelaskan.
" Sudah ada tanda - tanda Al? " , Ibu Yani pun tampak senang mendengar.
"Gejalanya sepertinya sih iya buk walaupun nggak mual. Tapi kita lihat aja dulu nanti gimana hasilnya"
"Iya iya. Semoga aja positif biar rumah ini ada suara tangisan bayi. Sudah bertahun - tahun rumah ini sepi semenjak anak - anak beranjak besar. Apalagi setelah Revan kuliah di kota A. Hm tinggal Sandi saja, itu pun sudah SMP. Jadi sudah sering sibuk dengan teman - temannya"
"Hehehe", Alya dan mbak Surti tertawa mendengar sedikit cerita dari ibu Yani.
" Yank itu yuk! Udah beberapa hari kamu nggak kasih jatah aku", ajak Revan malam harinya pada sang istri.
"Ya maaf mas soalnya beberapa hari ini entah kenapa perutku nggak nyaman rasanya. Malam ini oke deh kita lakuin tapi pelan - pelan aja ya dan jangan lama! "
"Kenapa begitu? ", Revan agak bingung karena selama ini biasanya mereka melakukan bisa sampai sekitar dua jam.
" Itu aku seperti merasa kalau aku lagi hamil, tapi belum tahu pastinya sih. Belum tes soalnya. Besok pagi baru mau tes"
"Memang gimana ciri - cirinya? ", tanya Revan ingin tahu.
" Dari pengalaman aku dulu hamil Faya itu daerah sekitar pinggang pegal - pegal dan perut rasanya nggak nyaman banget. Seperti yang ku rasakan akhir - akhir ini"
"Oke besok di tes ya... aku jadi penasaran. Ya sudah ayo kita mulai..pelan - pelan saja"
Mereka pun melakukan penyatuan sesuai yang di sepakati.
Keesokan harinya bangun tidur Alya melakukan tes kehamilan menggunakan test pack yang di beli kemarin. Beberapa menit kemudian ia melihat hasilnya dan hasilnya dua garis merah yang berarti ia positif hamil.
"Mas...? "
"Hm... ", Revan sedikit bergerak dari tidurnya mendengar seruan sang istri di pintu kamar mandi yang terbuka.
" Apa...? ", sambil berusaha membuka matanya.
" Mas aku positif hamil", Alya mendekat kepada sang suami dengan menunjukkan test pack yang ia pegang dengan wajah sumringah.
"Ah iya, alhamdulillah", Revan tersenyum melihat test pack tersebut dan kemudian mengecup kening sang istri.
" Kalau begitu sekarang kamu harus hati - hati, jangan capek - capek", lanjutnya mengingatkan sang istri.
"iya mas, alhamdulillah... tapi aku mau ke dokter kandungan untuk memastikannya lagi supaya lebih yakin"
"Iya lebih baik begitu, besok ku antar"
"Memang besok mas nggak mengajar? "
"Hm besok... aku ada kelas pagi sih"
"Tapi biasanya dokternya itu siang sih adanya"
"Hm... baguslah. Nanti kan bisa ijin juga aku"
"Tapi kalau nggak bisa nggak usah di paksa deh mas. Aku bisa naik taksi online"
__ADS_1
"Nggak lah kali ini harus bisa, ini pertama kalinya buat aku"
"Baiklah terserah mas saja".