
Setelah kedatangan Revan dan Rio ke rumah Kamila, Revan berusaha menyakinkan kedua orang tuanya agar tidak menyalahkan Sandi. Ia menceritakan apa yang di alami Sandi juga Kamila namun tanpa menyebut nama Ryan. Pasti akan lebih panjang jika kedua orangtuanya mengetahui bahwa Ryan yang menjebak Sandi. Pasalnya Ryan adalah anak dari teman ayahnya. Revan juga mengatakan kepada kedua orangtuanya bahwa Sandi akan menjalani pernikahannya dengan Kamila. Kedua orangtuanya tadinya terlihat resah namun setelah Revan menyakinkan akhirnya mereka menerima. Revan juga mengatakan jika Kamila sudah berubah.
Setelah beberapa hari Sandi dan Kamila menyandang status suami istri kini mereka mulai terbiasa dengan satu sama lain. Walaupun kadang sikap Sandi masih ketus. Kamila paham dengan sikap Sandi oleh karenanya ia berusaha sabar dan menerima ketika Sandi ketus, cuek ataupun marah.
"Ih mana sih? Susah banget", gumam Kamila sambil mencari sesuatu di kolong lemari dengan menggunakan sapu.
" Kamu ngapain ? ", datang Sandi di belakangnya dengan posisi gagang sapu berada di tengah antara kedua kakinya.
" Aku lagi cari cincin jatuh", jawab Kamila tanpa menoleh dengan posisi menungging dan kepalanya hampir mengenai lantai.
"Eh itu dia kelihatan", ucap Kamila begitu melihat benda kecil mengkilap di kolong lemari.
Ia langsung saja mengangkat sapu dengan cepat dan semangat tanpa memedulikan yang di belakangnya. Begitu sapu diangkat untuk di gunakan meraih benda itu...
" Dugh... ", gagang sapu mengenai sesuatu.
" Aw... **** Mil yang benar aja dong", teriak Sandi. Kamila lantas menoleh dan melihat Sandi membekap asetnya dengan kedua telapak tangannya. Sandi terlihat kesakitan.
"Aduh Sandi maaf...? Lagian ngapain sih kamu di situ? "
"Harta ku... aku belum punya anak lagi sshhh huhsh", bukannya menjawab Sandi malah berceloteh tidak jelas kemudian berlalu dengan mendesis kesakitan.
" Orang di tanya malah ngomong apa. Siapa suruh di situ", gumam Kamila setelah Sandi keluar dari kamar.
Sandi turun dari tangga, di ruang tengah ada ayah mertua dan adik iparnya sedang menonton pertandingan tinju. Hari ini semua orang di rumah karena hari minggu.
"Om dengar ribut - ribut di atas ada apa? ", tanya pak Doni begitu melihat Sandi turun sambil mendesis. Tangannya sedikit mengusap asetnya.
" Itu Kamila lagi cari entah apaan"
"Trus kenapa kamu mendesis dan kenapa dengan bawahmu? "
"Oh tidak apa - apa om", Sandi baru sadar dengan apa yang ia lakukan sejak tadi ia lantas menyingkirkan tangannya. Kemudian ia berlalu masuk ke dapur.
" Pa... mungkin lagi bangun punya kak Sandi", bisik Rafli pada papanya.
"Hush"
Rafli terdiam seketika. Beberapa menit kemudian muncul Sandi dengan membawa sebotol air minum.
"Om, Sandi ke atas dulu", pamitnya dan pak Doni mengangguk sebagai jawaban.
" Cklek", Sandi membuka pintu kamar.
"San kamu nggak apa - apa?", tanya Kamila.
" Tanggung jawab kamu...! ", jawab Sandi ketus.
" Tanggung jawab? tanggung jawab buat apa? "
__ADS_1
"Kamu udah bikin adikku sakit, kalau sampai aku nggak bisa punya anak hm... kamu juga nggak boleh punya anak mau nikah sama siapa pun"
"Ha...? Kan aku nikahnya sama kamu? ", Kamila ternganga dengan ucapan Sandi.
" Ya kan kita nggak tahu ke depannya seperti apa... bisa aja kita berpisah terus kamu nikah lagi"
"Kok ngomongnya gitu sih? "
"Memang kamu suka sama aku? Eh bukan suka tapi cinta. Hm....? Kamu cinta sama aku? ", Sandi bertanya kepada Kamila tentang perasaannya.
" Ehm... "
"Nggak bisa jawab kan? Kamu tuh nggak cinta sama aku. Menurutmu apa kita bisa bersama terus? ", ucap Sandi dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kamila.
Kamila tak mampu mengucap sepatah kata pun, ia sedikit menundukkan wajahnya, grogi dan jantungnya berdetak kencang. Beberapa detik kemudian Sandi memundurkan wajahnya. Ia merebahkan tubuhnya terlentang di atas kasur semantara Kamila masih pada posisinya yang duduk di samping Sandi. Seakan tidak peduli dengan keberadaan Kamila, Sandi memejamkan matanya. Kamila memandang wajah Sandi dengan teliti. Menyusuri setiap inchi wajah lelaki itu. Terlihat tegas, hidung mancung, alis tebal hitam, bulu mata agak panjang, bibir agak tebal dan agak merah.
'Aku baru sadar jika Sandi lebih tampan dari kakaknya. Dan tingginya juga... Sandi lebih tinggi dan gagah', dalam hati Kamila.
Kamila menggeleng - gelengkan kepalanya kemudian bangkit dari duduknya. Ia pergi menuju kamar mandi, entah kenapa jarak yang dekat dengan Sandi beberapa menit yang lalu membuat sesuatu di bawah lepek.
"Huh...anak kecil itu kenapa membuatku begini? Jatungku rasanya mau meledak", gumam Kamila begitu di dalam kamar mandi.
Dua menit kemudian Kamila keluar dari kamar mandi, ia melihat Sandi yang sudah berpindah posisi tidurnya. Yang tadinya terlentang ke arah horizontal dengan kaki menggantung di lantai sekarang posisinya menjadi vertikal keseluruhan anggota tubuhnya di atas kasur. Kamila mengambil ponselnya yang ada di meja kemudian menekan sebuah nomor.
"Tut tut tut"
"Apa? "
"Iya gitu aja pakai nelpon segala", setelahnya telpon terputus.
"Siapa yang telpon? ", tanya pak Doni.
" Mbak Mila"
"Hah? Bukannya dia ada di atas? "
"Iya"
"Lha kenapa pakai nelpon segala? Memang mbakmu bilang apa? "
"Tau tuh. Nanti kalau ada pembeli Rafli suruh melayani. Dia mau istirahat bentar, capek bilangnya"
"Oh"
Setelah satu jam kemudian,
"Pa, panggilin mbak Mila dong! Rafli mau gantian tidur. siang"
"Kamu ini nyuruh orangtua"
__ADS_1
"Ya udah papa yang jaga toko kalau gitu. Rafli yang ke atas panggil mbak Mila"
"Tidak usah biar papa aja! "
Pak Doni pun berjalan menuju ke atas. Begitu sampai di atas ia melihat pintu kamar Kamila sedikit terbuka. Ia lantas melongok ke dalam,
"Astaga... dasar dua manusia sembrono", ia geleng - geleng kepala dan memilih menutup pintu kamar tersebut. Tidak jadi memanggil Kamila. Lantaran ia melihat putri dan menantunya sedang tidur terlelap posisi terlentang dengan kaki sebelah Sandi menindih salah satu kaki Kamila.
Pak Doni lantas turun,
"Sudah kamu tidur sana! ", perintahnya kepada Rafli ketika sampai di anak tangga paling bawah.
" Mbak Mila mana? "
"Tidur"
"Kenapa papa nggak bangunin? "
"Sepertinya mbak mu kecapekan, papa nggak tega bangunin. Udah sana kamu tidur biar papa yang jaga toko! "
"Siapp bos", Rafli memberi hormat kepada papanya.
" Untung tadi bukan Rafli yang ke atas. Kalau Rafli yang ke atas dan mengetahui itu pasti mulutnya nggak mau diam. Kakaknya nanti bisa jadi bahan ledekannya", ucap pak Doni setelah kepergian Rafli.
"Beli... ", suara teriakan dari luar lebih tepatnya di toko yang menandakan ada pembeli.
" O iya sebentar...! ", pak Doni menjawab dari dalam.
" Eh bu Tirah, mau beli apa bu? "
"Itu saya beli tepung terigu satu kilo pak. Mana Kamila? biasa Kamila yang jaga? "
"Kamila sedang istirahat, ini bu dua puluh ribu"
"Ini uangnya pak, pas ya"
"Makasih".
Di tempat lain
" Pak besok kita suruh Sandi sama istrinya ke sini ya? Ibuk kangen sama Sandi"
"Iya terserah ibuk aja"
"Kalau gitu ibuk telpon Sandi dulu"
"Tut tut tut"
"Nyambung tapi nggak di angkat? "
__ADS_1
"Mungkin sedang sibuk, nanti kan bisa? "
"Iya deh nanti ibuk hubungi lagi"