Mungkin Memang Jodoh

Mungkin Memang Jodoh
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

"Kirain papa kalian nggak jadi pulang malam ini? ", tanya pak Doni kepada Kamila dan Sandi yang baru melangkahkan kaki menghampirinya di toko.


" Jadi pa", jawab Kamila sambil meraih tangan sang ayah dan di ikuti Sandi.


"Ya sudah sana kalian istirahat! Eh kalian sudah makan ? ", pak Doni hampir lupa.


" Sudah pa di rumah ibuk tadi sebelum kami pulang disuruh makan dulu"


"Oh ya sudah"


Kamila dan Sandi berlalu menuju kamar mereka. Begitu mereka sampai di dalam kamar tiba - tiba Sandi meraih pinggang Kamila dari belakang ketika sang istri baru saja meletakan tas di atas meja.


"Akh... ", Kamila refleks berteriak karena kaget dengan perlakuan Sandi.


" Sandi ih... ", ucap Kamila yang saat ini sudah berhadapan dengan Sandi dengan sedikit kesal di buat kaget.


" Apa... hm? Marah? ", tanya Sandi.


" Aku kaget tahu"


"Lepas ih! ", lanjut Kamila karena Sandi masih merangkul pinggangnya.


Sandi tidak bergeming ia malah memajukan wajahnya dan kemudian meraup bibir ranum wanita di depannya. Kamila tidak merespon namun juga tidak menolak pagutan bibir Sandi. Sandi semakin memperdalam ciumannya seakan tidak peduli Kamila tidak merespon. Hingga Kamila termundur dan...


"Bugh", keduanya jatuh di atas kasur dengan Sandi berada di atas tubuh Kamila.


Sandi masih terus memagut bibir Kamila seperti seseorang yang sedang menikmati makanan.


Di sisi lain pak Doni yang berada di toko sedikit mendengar teriakan dari atas. Ia tadinya ingin mengabaikan namun ia merasa tidak tenang akhirnya ia memutuskan menuju ke atas. Begitu sampai di atas ia mendapati pintu kamar Kamila terbuka. Ia lantas melihat dan ia terkejut melihat putri dan menantunya.


"Ugh... ", Kamila mulai terbawa oleh Sandi yang bergerak - gerak di atasnya masih menciumnya.


Pak Doni yang melihat itu kemudian menarik gagang pintu dan menutupnya. Ia lantas bergegas turun kembali ke toko.


" Cklek", bunyi pintu tertutup membuat keduanya sadar menoleh ke arah pintu bersamaan dan Sandi berhenti seketika dari aktifitasnya.


"San... ", ucap Kamila lirih.


" Astaga kita belum tutup pintu", Sandi yang menyadari.


"Kita...? Kamu kali"


"Iya aku, salahku", Sandi mengaku salah sebab ia yang belakang masuk kamar.

__ADS_1


" Ya udah sana berdiri! ", perintah Kamila kepada Sandi yang tak kunjung bangkit dari posisinya.


Sandi berdiri kemudian menuju kamar mandi, ia ingin mencuci wajah dan ketika bercermin ia melihat merah berantakan di bibirnya. Itu lipstik Kamila. Ia lantas menyalakan air di wastafel mencuci wajahnya. Sandi mengingat kegiatan yang di lakukannya beberapa menit yang lalu. Ia melihat ke arah bawah celananya.


'Hampir aja si adek minta keluar', dalam hatinya berkata dan bibirnya tersenyum kemudian. Ia mengingat lenguhan Kamila yang membuatnya semakin gila dan adiknya semakin tegak. Namun itu lenyap seketika begitu mendengar suara pintu di tutup. Sandi menggeleng - gelengkan kepalanya.


Di saat yang bersamaan Kamila duduk di kursi rias nya, ia melihat pantulan dirinya di cermin. Penutup kepala yang berantakan dan lipstik yang belepotan.


Ia tidak merespon yang di lakukan Sandi tapi ia tidak menampik apa yang di lakukan Sandi itu terasa... enak. Bahkan lebih enak saat dengan Sandi daripada dengan Revan dulu. 'Apakah karena sudah halal? Apakah itu berpengaruh? Bukankah hal semacam itu sama saja?',pikir Kamila bertanya - tanya. Ah Kamila jadi mengingat bagaimana dirinya merasakan sesuatu dari Sandi yang keras dan bergerak beberapa kali di antara kedua pahanya. Dan hal itu membuatnya tidak bisa mengendalikan diri hingga suara khas kenikmatan itu keluar begitu saja. Kamila tersenyum merasa malu sendiri. Kenapa ia tidak bisa mengontrolnya.


"Cklek", suara pintu kamar mandi terbuka keluar Sandi dari sana.


" Aku mau turun", ucap Sandi.


"Iya"


Sandi pun turun menuju ruang tengah yang sudah ada bapak mertuanya sedang menonton TV. Ia ikut bergabung duduk di sofa.


"Kalian ini cocok", ujar pak Doni tiba - tiba.


" Hm... gimana om? ", Sandi yang bingung dengan ucapan mertuanya.


" Kamu sama Kamila cocok. Sama - sama sembrono. Mbok ya kalau mau mesra - mesraan di kamar itu di kunci pintunya"


Sandi merasa sangat malu hingga ia senyum - senyum. Namun ia hanya diam.


"Maaf om...? ".


" Tidak apa - apa, om ngerti hanya saja kalian harus lebih hati - hati jika ingin begitu"


"Iya om"


"Ada apa sih pa...? ", Kamila yang baru dari atas ikut bergabung.


" Nah kamu juga Kamila... sekarang kamu sudah jadi istri jangan sembarangan melakukan apapun! Jangan sembrono! ", pak Doni menasehati putrinya.


Kamila bingung dan melihat Sandi kemudian gantian melihat sang ayah.


" Tadi papa yang tutup pintu kamar", Sandi menjawab kebingungan Kamila.


"Hah...? ", Kamila menutup mulutnya dan memandang sang ayah.


" Masih bagus papa yang tidak sengaja melihat sebab papa sudah pernah muda, lha jika adikmu yang tidak sengaja melihat... apa kamu nggak malu? Dan bahayanya bisa ditiru karena penasaran seperti apa. Makanya kalian jangan sembrono! Papa sudah dua kali tidak sengaja melihat Kalian begitu. Ya walaupun yang pertama masih tergolong biasa saja tidak seperti hari ini"

__ADS_1


"Kapan? ", Kamila dan Sandi bersamaan.


" Beberapa hari yang lalu kalian sedang tidur siang, kaki Sandi di atas kakimu. Dan pintu kamar tidak kalian tutup rapat"


"Oh", Sandi dan Kamila mulai paham. Namun kemudian Kamila penasaran dan bertanya kembali.


" Papa memangnya waktu itu sedang apa ke kamar Mila? "


"Waktu itu papa berniat membangunkanmu untuk jaga toko dan yang hari ini karena papa sedikit mendengar kamu teriak. Papa khawatir ada apa - apa, makanya papa ke kamarmu. Ternyata... kalian udah siap tow kasih cucu buat papa? "


"Itu... ", Kamila nampak berpikir sedang Sandi masih malu - malu.


" Kalau belum siap jangan lupa pakai pengaman! Nikmati masa - masa berdua kalian. Tapi jika sudah siap ya apa boleh buat. Papa mendukung saja. Ya sudah papa mau istirahat"


"Iya pa".


" Hihihi", Kamila dan Sandi cekikikan setelah kepergian pak Doni.


"Kamu sih San"


"Ya mau gimana lagi udah terlanjur. Tapi kok San sih? "


"Maksudnya? "


"Mas... mas... Kamila! "


"Oh"


"Masa panggil suami pakai nama langsung? "


"Situ juga panggil aku nama langsung", alasan Kamila saja yang sesungguhnya ia canggung memanggil Sandi dengan 'mas'.


" Kalau kamu panggil aku 'mas', panggilan ku ke kamu juga bakal berubah", ucap Sandi serius.


Kamila diam dan berpikir, di lihatnya Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke atas. Kamila mematikan TV kemudian menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah keluar dari dapur dengan membawa air putih di botol. Baru ia ingin melanjutkan melangkahkan kakinya menuju ke atas, ia mendengar suara papanya sedang berbicara dengan seseorang ditelpon. 'Siapa orang yang berbicara ditelpon dengan papa jam segini? ', pikir Kamila. Ia kemudian melangkah pelan mendekati pintu kamar papanya. Ia menguping.


"Iya mas juga kangen... "


"Deg", Kamila kaget sang ayah berkata kangen.


" Butuh waktu untuk menyakinkan anak - anak dengan hubungan kita, kamu sabar dulu ya? "


"Ya sudah sayang ini sudah malam, besok aku juga kerja. Kamu juga cepat tidur. Daah sayang muach"

__ADS_1


Setelahnya tidak ada pembicaraan lagi Kamila bergegas menuju ke lantai atas.


'Siapa yang dekat dengan papa? Siapa wanita itu? Dan sejak kapan papa dekat dengan wanita itu? ', Kamila bertanya - tanya dalam hati sembari berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2