
Dua minggu kemudian di sebuah tempat makan lesehan yang letaknya di pinggir jalan, Kamila dan ketiga temannya yang saat ini berada sedang memesan makanan. Sudah lama setelah dirinya resign Kamila tidak berkumpul dengan teman - temannya. Hanya chat yang ia lakukan.
"Duh Mil kamu tambah cantik lho pakai hijab... semoga aku bisa secepatnya nyusul kayak kamu deh Mil", puji Lina pada Kamila.
" Aamiin... ", Kamila dan yang lain mengaminkan doa Lina.
" Emang kalian nggak pada pengen apa seperti Kamila? " tanya Lina kepada dua temannya yang bernama Hani dan Vivi.
"Ya pengen tapi hatiku belum mantap", jawab Hani.
" Iya sama aku juga. Kalau lihat orang pakai hijab itu pengen banget tapi hatiku masih ragu... nanti aku masih pengen pakai baju yang seksi semacamnya", tambah Vivi.
"Semua itu ada prosesnya yang penting kita berusaha lebih baik. Aku dulu... kalian tahu sendiri kan gaya berpakaian ku seperti apa? Mana aku tahu sekarang akan berpakaian seperti ini. Dulu kalau lihat orang pakai baju tertutup, longgar, kerudung di mataku seperti orang tua. Tapi seiring berjalannya waktu entah kenapa hatiku jadi tersentuh ketika melihat wanita yang pakaiannya tertutup"
"Ciyee.. ", kompak ketiga teman Kamila.
"Hei hei lihat deh tu cowok keren banget! ", Vivi memberitahu teman - temannya lantas mereka menoleh ke arah yang di tunjukkan Vivi.
" Oh my... siapa dia cool bangettt?", pekik pelan Hani.
"Iya gilaa", tambah Lina.
" Deg", berbeda dengan ketiga temannya Kamila justru merasa deg deg an.
'Kenapa sih setiap melihat atau ketemu dengan Sandi jantungku jadi berdebar gini? Bener - bener nggak bisa di ajak kompromi', dalam hati Kamila.
Lelaki yang dimaksud Vivi itu adalah Sandi, ia kebetulan juga sedang ingin makan malam bersama teman - temannya di tempat ini. Sandi turun dari motor nya menyunggar rambutnya ke belakang yang agak panjang sampai tengkuk lehernya. Kemudian menghampiri sebuah meja yang sudah ada dua orang lelaki sebelumnya.
"Hai bro? plak..", sapa salah satu dari dua lelaki tersebut sambil mempertemukan kedua telapak tangan mereka.
" Hallo brother gimana kabarnya? ", gantian teman satunya.
" Seperti yang kalian lihat", jawab Sandi santai.
Sandi kemudian memanggil pelayan dan memesan. Setelah pelayan pergi Sandi dan kedua temannya berbincang kembali tanpa di sadari oleh mereka bahwa mereka di perhatikan beberapa wanita yang tak lain adalah ketiga teman Kamila. Ketiga teman Kamila begitu penasaran terhadap Sandi. Namun justru membuat was - was Kamila.
Hati Kamila berbicara,
'Aduh udah dong ngomongin Sandi! Gimana ini kalau begini terus takutnya lama - lama ketahuan sama Sandi dan temannya jika diperhatikan. Aku harus gimana...? Sembunyi...ah masa iya sembunyi sih? '''
"Permisi mbak...? ", suara pelayan mengantar pesanan mereka.
Beberapa menit kemudian pelayan selesai mengantarkan pesanan Kamila dan ketiga temannya.
Mereka mulai menyantap makanan mereka, Kamila merasa lega paling tidak mereka sudah berhenti memperhatikan Sandi. Tapi ternyata tidak sesuai harapan Kamila, temanya curi - curi pandang di sela - sela sedang makan. Dan ya akhirnya salah satu teman Sandi melihatnya, Vivi yang sedang memperhatikan mereka. Teman Sandi tersebut lantas tersenyum. Vivi balas tersenyum kikuk. Merasa malu karena tertangkap basah memperhatikan Sandi dan temannya. Walaupun sebenarnya yang diperhatikan adalah Sandi.
"Hei kalian lihat meja di sana, yang cewek empat orang itu! ", salah satu teman Sandi berucap.
__ADS_1
" Ada apa memangnya? ", satunya lagi bertanya.
" Mereka tuh dari tadi merhatiin kita, barusan ketahuan curi pandang tuh yang pakai baju pink. Sepertinya dia malu"
Sandi ikut melihat ke arah yang dimaksud temannya dan ia pun melihat Kamila.
'Kamila...? ', dalam hati Sandi.
Di meja Kamila,
"Duh... aku ketahuan lagi lihatin ke arah mereka", celetuk Vivi.
" Ya kamu sih lagi makan masih aja sempat nya lihatin ke sana", sahut Kamila tanpa mengalihkan pandangannya. Ia fokus makan saja. Sebenarnya ia kesal pada temannya itu.
Berbeda dengan Kamila, kedua temannya yang lain malah ikut melihat ke arah tempat Sandi dan temannya berada. Menyapa satu sama lain dengan anggukan kepala.
"Lucu ih mereka hehehe", salah satu teman Sandi berkata.
" Tapi aku lebih penasaran yang pakai hijab", tambahnya.
"Itu ya? Iya sih, paling cantik", teman satunya lagi menimpali.
" Ajakin kenalan aja gimana yang pakai hijab? ", tambahnya.
" Ck jangan macam - macam sama dia! Aku kenal itu cewek", tiba - tiba Sandi bersuara dengan nada dingin.
"Eh mereka udah nggak lihat ke sini lagi ", ucap Hani.
" Iya. Yah... sayang banget padahal aku berharap mereka bakal ngajakin kita kenalan", Vivi menanggapi.
"Hehehe", Lina hanya tertawa semantara Kamila hanya diam.
" Baguslah", dalam hati Kamila.
Tak ada lagi acara curi - curi pandang, kedua belah pihak masing - masing sibuk dengan perbincangan. Hingga akhirnya Kamila dan teman - temannya beranjak dari duduknya. Sandi dan temannya melihat kepergian Kamila beserta temannya.
"Drrt drrt", ponsel Sandi tiba - tiba bergetar ia merogoh saku celananya.
" Asalamualaikum buk... iya ada apa? "
"Oh iya nanti Sandi belikan, ini Sandi juga sudah selesai"
Itu adalah panggilan dari ibu Yani yang meminta Sandi untuk membelikan martabak manis rasa coklat ketika pulang nanti. Faya lah yang menginginkan martabak tersebut.
"Eh aku cabut duluan ya... ibukku nelpon! "
"Oke bro hati - hati"
__ADS_1
"Siip"
Sandi pun pergi baru sekitar dua meter ia melihat Kamila yang sepertinya menunggu angkutan.
"Mau pulang? ", Sandi berhenti di depan Kamila. Sesungguhnya ia ingin tidak peduli namun teringat kedua temannya tadi seperti ingin mendekati Kamila ia jadi berubah pikiran.
" Iya", jawab Kamila sambil mengangguk.
"Ayo ku antar! "
"Ha... ", Kamila seperti tidak percaya dengan yang di dengarnya.
" Buruan! "
"Nggak usah repot - repot aku naik angkot saja"
"Ck buruan gih bahaya cewek keluar malam sendiri! "
"Tapi kan aku nggak ada helm? "
"Nggak usah pakai helm, lagian daerah sini nggak ada polisi"
"Tapi... "
"Udah buruan nggak usah tapi tapi", belum selesai Kamila bicara Sandi sudah memotong dengan galaknya.
Kamila akhirnya mau di bonceng Sandi, dalam perjalanan keduanya tak ada yang bicara hingga sampai di depan rumah Kamila.
" Makasih ya San? "
"Hm", setelahnya Sandi langsung tancap gas meninggalkan Kamila yang masih berdiri.
" Galaknya", gumam Kamila.
"Yeyy... om Sandi datang ", seru Faya yang bahagia melihat Sandi datang dengan menenteng kantong kresek.
" Ini pesanan Faya kan om? ", Faya yang hendak mengambil kresek itu dari tangan Sandi namun Sandi menarik tangannya.
"Bukan, ini punya om"
"Trus pesanan Faya mana? nenek? ", Faya melihat ke arah ibu Yani.
" San jangan menggoda begitu! Dia sedari tadi sore minta tapi ayahnya nggak bisa karena sibuk. Ini kamu malah sengaja menggoda"
"Iya iya nih", Sandi menyodorkan kantong kresek tersebut pada keponakannya.
" Makasih om"
__ADS_1
"Yoi", Sandi berlalu masuk menuju kamarnya.