Musim Semi Di Tiansheng

Musim Semi Di Tiansheng
Bab 24


__ADS_3

Setelah beberapa jam mereka baru sampai di tempat kereta kuda mereka. Untungnya selain dinding kereta yang dirusak pembunuh tadi malam tak ada kerusakan lain.


Jiang Zhen dan yang lain segera berinisiatif memperbaikinya. Dinding yang rusak ditutup dengan karpet tebal yang awalnya menjadi alas di kereta pengangkut barang.


Setelah semuanya selesai mereka segera bergegas melanjutkan perjalanan. Mereka harus bergerak cepat agar bisa keluar dari hutan sebelum senja. Mereka tidak ingin bermalam lagi di hutan.


Berjarak jauh di depan rombongan Hua Chunran ada rombongan Xie Wan Qing yang juga sedang menuju desa suku Nu. Setelah pelayannya di bunuh penjaga Hua Chunran, Xie Wan Qing memutuskan untuk segera kembali ke Desa suku Nu dan tidak menunda lagi .


Tiba-tiba terdengar ketukan di jendela kereta kudanya. Xie Wan Qing membuka jendela dan terlihat penjaga bayangannya yang sebelumnya dia kirim untuk menyelidiki Hua Chunran.


" Nona saya telah menyelidikinya, Nona Hua akan menuju ke desa Nu. " Penjaga bayangannya langsung melapor begitu Hua Chunran membuka jendela.


" Ke Desa Nu?" Hua Chunran mengernyitkan alis heran.


" Apa yang dia cari ke desa Nu?" tanya Hua Chunran kemudian.


" Masalah itu hamba tidak tahu , karena informasi ini dijaga sangat ketat . Bahkan tunangannya Tuan Wen tidak mengetahui kepergiannya ke suku Nu."


" Wen Cheng Si tidak tahu? " Xie Wan Qing merasa semakin heran. Dia merasa ada sesuatu hal yang besar yang disembunyikan oleh Hua Chunran.


" Selidiki lagi , cari tahu apa tujuan wanita itu datang ke suku Nu ."


" Baik Nona." Penjaga itu segera menghilang setelah menerima perintah dari Xie Wan Qing.


"Hua Chunran, apa yang kau cari sehingga datang jauh-jauh ke suku Nu?" gumam Xie Wan Qing penasaran. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.


Meski Wen Cheng Si sudah memperingatkannya untuk tidak mencari masalah dengan Hua Chunran dia masih tak bisa menahan perasaan benci dan tak terima jika hanya menjadi seorang selir. Apalagi setelah pelayan terdekatnya di bunuh oleh penjaga Hua Chunran.


Berdasarkan apa dia harus kalah dari wanita manja yang hanya mengandalkan posisi ayahnya untuk menjebak Wen Cheng Si ke dalam pernikahan. Sekarang wanita itu malah datang ke wilayahnya, ke desa suku Nu, dia ingin melihat apakah setelah terjadi sesuatu pada wanita itu Wen Cheng Si masih akan menjadikannya istri sahnya.

__ADS_1


Lagipula hati Wen Cheng Si sudah menjadi miliknya , meski nanti Wen Cheng Si tahu dia mencelakai Hua Chunran, kalau sudah terjadi dia pasti tidak akan punya pilihan selain menerimanya . Dan Xie Wan Qing bisa menjadi istri sah Wen Cheng Si .


Cahaya jahat melintas di mata Xie Wan Qing yang indah. Sejak dulu dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.


Hanya karena Hua Chunran dia harus menerima nasib jadi selir ? . Dia Xie Wan Qing bidadari suku Nu yang memiliki kecantikan tiada tara, kemanapun dia pergi mata pria akan menatap penuh kekaguman dan para wanita penuh dengan kecemburuan , pasti tidak ada kata menyerah dalam hidupnya !.


Perjalanan ke suku Nu bisa memakan waktu satu bulan dengan kecepatan kereta kuda. Hua Chunran merasa sangat bosan karena sepanjang jalan hanya bisa melihat pepohonan dan hutan. Tubuhnya terasa mulai letih karena dia tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan kereta kuda yang guncangannya terasa sedikit keras.


Di hari ke tujuh akhirnya mereka melintasi sebuah desa. Desa Gang Kou desa di dekat pelabuhan yang ramai.


Hua Chunran berbinar melihat keramaian saat mengintip dari balik tirai kereta kuda.


" Dan Yin akhirnya kita memasuki desa ...." Hua Chunran berseru gembira. Dan Yin tersenyum dia juga merasa senang mereka akhirnya sampai di desa setelah beberapa hari melalui hutan.


" Penjaga Zhao ayo kita cari restoran makanan Laut disini, aku sudah bosan makan makanan kering terus." Hua Chunran memasang tampang memelas saat meminta pada Zhao Xifeng.


Zhao Xifeng mengangguk " Baiklah nona.."


Setelah berjalan beberapa lama, mereka akhirnya tiba di sebuah restoran yang cukup besar dan ramai .


Pelayan segera menyongsong kedatangan mereka dengan senyum ramah..


" Tuan , Nona selamat datang , untuk berapa orang? " tanya pelayan itu.


" Kami ada sembilan orang...". Sahut Zhao Xifeng .


" Baiklah silahkan ikut dengan hamba.." pelayan itu membawa mereka ke meja panjang di sudut ruangan.


Karena meja itu panjang mereka semua bisa duduk bersama dalam satu meja.

__ADS_1


" Apakah bisa menyediakan satu meja khusus untuk nona kami?" tanya Dan Yin pada pelayan itu.


Sebelum pelayan itu menjawab Hua Chunran menolaknya. " Tidak perlu, aku duduk bersama kalian saja .."


" Tapi nona..." Dan Yin hendak membantah tapi dia melihat Hua Chunran menggelengkan kepalanya , Dan Yin tidak melanjutkan kata-katanya.


Mereka akhirnya duduk bersama di satu meja. Dan Yin duduk disebelah Hua Chunran dan di depan Hua Chunran adalah Zhao Xifeng. Sementara yang lain duduk disebelah Zhao Xifeng secara berurutan. Mereka tak berani duduk di sebelah Hua Chunran.


Hua Chunran menghela nafas dalam hati, melihat sikap penjaganya yang bersikap terlalu berhati-hati padanya. Sebenarnya dia tidak terbiasa di perlakukan istimewa begini.


Zhao Xifeng telah memesan semua menu seafood yang tersedia di restoran ini. Pelayanan di restoran itu sangat baik dan pelayannya sangat cepat dan sigap. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


Mata semua orang berbinar memandang aneka hidangan laut yang menggugah selera di depan mereka. Tak terkecuali Hua Chunran. Zhao Xifeng diam-diam memperhatikan ekspresi Hua Chunran, mata almondnya berbinar dan seperti tak sabar menghabiskan seluruh makanan di meja. Tanpa sadar Zhao Xifeng menyunggingkan senyum tipis.


" Mari kita semua makan , jangan sungkan-sungkan, habiskan semampu kalian , kalau kurang kita bisa meminta pelayan menambahkan makanan lagi.." ujar Hua Chunran bersemangat.


Mendengar kata-kata Hua Chunran semua orang tercengang , tak menyangka nona mereka begitu murah hati . Mereka menjadi sangat senang dan merasa semakin bersemangat.


" Terima kasih nona Hua.." Ujar mereka serempak. Mereka segera menyerbu makanan laut yang tersaji diatas meja dengan bersemangat.


Berhari - hari hanya makan makanan kering membuat mereka serasa mendapatkan makanan surga saat menyantap makanan laut yang beraneka ragam dan rasa.


Melihat wajah-wajah penuh sukacita itu rasa bersalah dihati Hua Chunran sedikit menghilang.


Mereka makan dengan lahap dan penuh sukacita sampai tidak ada satupun yang bersuara sibuk melahap makanan masing-masing.


Selesai makan dan beristirahat sejenak, ketika mereka hendak pergi tiba-tiba terdengar sedikit keributan di pintu restoran.


Perhatian semua pengunjung restoran teralihkan oleh keributan itu. Hua Chunran dan yang lainnya melihat tiga orang pria bertubuh tinggi daripada orang kebanyakan, berambut coklat dan pirang serta bermata hijau dan biru.

__ADS_1


Hua Chunran yang berasal dari dunia modern tentu saja tidak asing dengan sosok seperti ini karena sudah terbiasa melihat dan berinteraksi dengan orang dari Eropa dan Amerika . Hua Chunran dahulu bekerja di tiga tempat sekaligus salah satunya adalah sebagai resepsionis di sebuah hotel . Hotel itu banyak pengunjung dari negara Barat.


Tapi tampaknya orang di zaman kuno ini belum atau sangat jarang melihat dan berinteraksi dengan orang kulit putih sehingga menimbulkan sedikit keributan...


__ADS_2