Musim Semi Di Tiansheng

Musim Semi Di Tiansheng
Bab 56


__ADS_3

Saat berikutnya, sosok Zhao Xifeng bergerak secepat kilat dan pedang biru di tangannya memantulkan cahaya dingin dan haus darah. Tanpa ragu, dia menikam ke arah kepala suku Nu.


Melihat pedang tajam dengan cepat menusuk ke arahnya, pupil mata kepala suku Nu menyusut, dan bayangan kematian menyelimutinya.


Dia segera ingin berbalik dan menghindar, tapi kecepatan Zhao Xifeng terlalu cepat!. Ketakutan yang tak terlukiskan menyelimuti hati kepala suku Nu dan Xie Wan Qing.


Kepala suku Nu berusaha menangkis pedang Zhao Xifeng dengan pedang ditangannya. Dia terdorong beberapa langkah akibat kekuatan sapuan tenaga dalam Zhao Xifeng. Wajah kepala suku Nu langsung berubah jelek menyadari kekuatan lawannya . Dia jelas merasakan penjaga di depannya ini tidak sederhana. Kekuatannya mungkin jauh diatasnya.


Zhao Xifeng tidak memberi kesempatan pada kepala suku Nu untuk berbicara. Dia mengacungkan pedangnya lagi dan menyerang kepala suku Nu tanpa ragu-ragu!


Orang terkutuk ini harus mati hari ini!!


Alasan mengapa mereka berada dalam bahaya besar adalah karena kepala suku terkutuk ini dan putrinya.


Kepala suku Nu berusaha sekuat tenaga melawan tapi dia sama sekali bukan tandingan Zhao Xifeng.Bahkan meski beberapa penjaganya berusaha membantunya tapi semua di kalahkan oleh Zhao Xifeng hanya dalam beberapa gerakan.


Pedang Zhao Xifeng meliuk seolah seekor ular yang mencari mangsa , disaat yang lengah pedang itu menghujam tubuh kepala suku Nu tanpa ampun.


Segera pemandangan berdarah yang tidak ingin disaksikan oleh Xie Wan Qing tercipta di depan matanya. Pedang tajam Zhao Xifeng menusuk tubuh kepala suku Nu dengan keras. Setiap gerakannya kejam, mengarah pada titik fatal.


Dalam sekejap mata, kepala suku Nu terlempar dan jatuh ke tanah bersimbah darah. Kepala suku Nu memuntahkan seteguk darah. Seluruh wajahnya sangat pucat. Dia tidak ragu jika dia tidak bisa melarikan diri , dia akan segera kehilangan nyawanya.


Xie Wan Qing menatap kosong ke arah Zhao Xifeng. Hati Xie Wan Qing juga dipenuhi dengan keterkejutan dan kengerian.


Sesaat kemudian, sosok Zhao Xifeng kembali melintas. Gerakannya secepat kilat, dan tinjunya, yang bercampur dengan kekuatan tak terbatas, menghantam tubuh kepala suku Nu dengan keras.


"Bam!"

__ADS_1


Kekuatan tirani itu membuat kepala suku Nu merasa seolah-olah organ dalamnya telah berpindah tempat akibat pukulan ini, menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.


Kepala suku Nu kembali memuntahkan darah dan pandangannya perlahan menggelap. Ia tidak ingin mati sekarang, dia masih ingin hidup , dia masih belum melihat putri kesayangannya Xie Wan Qing menikah dengan pria impiannya.


Tapi tidak semua hal di dunia ini akan berjalan sesuai kemauannya. Hanya begitu saja, lalu semua tanda kehidupan kepala suku Nu menghilang dari tubuhnya.


Sampai akhir kematiannya dia masih tidak percaya bahwa dia akan mati hari ini ditangan seorang penjaga yang awalnya dipandang sebelah mata.


Xie Wan Qing terbelalak melihat ayahnya mati begitu saja. Dia menatap Zhao Xifeng dengan kengerian.


" Beraninya kau membunuh ayahku !!! Tahukah kamu siapa ayahku? Ayahku kepala suku di desa ini, aku putri kesayangannya yang akan menjadi istri sah Wen Cheng Si putra jenderal Wen. Wen Cheng Si pasti akan membunuh kalian semua !!!!" teriak Xie Wan Qing seperti orang gila .


Xie Wan Qing berlari menuju mayat ayahnya yang bersimbah darah. Menangis meraung tak percaya ayahnya mati karena penjaga ini.


" Ayah jangan tinggalkan aku, ayo bunuh bajingan ini ayah..!!!" Xie Wan Qing berteriak memanggil ayahnya dengan putus asa. Tapi tidak peduli seberapa keras dia memanggil, ayahnya tetap tidak bergeming.


Wajah tampan Zhao Xifeng tampak seperti diukir dengan cermat oleh langit. Kontur wajahnya setajam pisau, dingin dan keras tanpa kehilangan ketampanannya. Di bawah alisnya yang tajam, matanya, yang sedalam lautan, tampak dalam dan misterius. Seolah-olah dia bisa melahap jiwa seseorang hanya dengan satu tatapan.


Pada saat ini, seluruh tubuh Zhao Xifeng memancarkan aura dingin dan menakutkan. Dia sama mulianya dengan dewa dan utusan neraka, memancarkan aura pembunuh yang haus darah dan menakutkan.


Wanita jelek dan tercela ini telah berusaha mencelakai Hua Chunran dan mereka semua dengan segala cara. Dia ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam Hua Chunran .


Melihat Zhao Xifeng bergerak hendak membunuhnya , mata Xie Wan Qing membelalak tak percaya . Dia adalah putri surga yang bangga dengan kecantikannya yang tiada tara tapi penjaga di depannya ini tanpa ragu ingin membunuhnya. Xie Wan Qing benar-benar tak percaya.


" Hentikan !!" Hua Chunran berteriak keras menghentikan gerakan pedang Zhao Xifeng.


Hanya satu inchi lagi sebelum pedang itu menusuk tubuh Xie Wan Qing.

__ADS_1


Zhao Xifeng menoleh menatap Hua Chunran tidak mengerti.


" jangan bunuh dia, dia sudah membayar harga akibat perbuatannya. " Hua Chunran berjalan mendekat.


Hua Chunran membenci Xie Wan Qing sejak dia ingin mengambil nyawanya, tapi dia tidak ingin Zhao Xifeng melumuri tangannya dengan darah, membunuh wanita yang sudah tidak berdaya.


Xie Wan Qing tak bisa menahan nafas lega saat pedang Zhao Xifeng urung menikam tubuhnya .


" Nona tahukah kamu, mengasihani musuh, berbaik hati pada musuh berarti kejam pada dirimu sendiri." ujar Zhao Xifeng dingin.


Bagi Zhao Xifeng selama itu adalah musuhnya, dia tidak akan pernah menunjukkan belas kasihan.


Hua Chunran menggeleng " jangan kotori tanganmu dengan darah kotornya. Biarkan dia hidup menanggung rasa bersalahnya .Karena ulahnya ayahnya harus kehilangan nyawa. Siksaan hidup dan rasa bersalah seperti itu lebih pantas untuknya .Mati terlalu mudah baginya. "


Hua Chunran menghela nafas pelan, hidup memang seperti ini, terkadang ketika keputusan yang salah dibuat, seseorang harus membayar harga yang mahal, dan mungkin tidak ada ruang untuk penebusan sepanjang hidupnya.


Xie Wan Qing menatap Hua Chunran penuh kebencian dengan mata membara. Jika tatapan bisa membunuh mungkin Hua Chunran sudah mati ribuan kali.


Zhao Xifeng menarik pedangnya lagi mendengar kata-kata Hua Chunran. Dia lalu meraih tangan kecil Hua Chunran dan menariknya pergi.


" Ayo pergi ..."


Xie Wan Qing mengelas nafas lega, tapi meski nyawanya selamat dia tetap tidak terima ayahnya mati ditangan penjaga Hua Chunran. Api dendam berkobar di matanya.


Dia memandang sosok Hua Chunran dan Zhao Xifeng dengan penuh kecemburuan. Hua Chunran tidak lebih cantik darinya tapi dia bisa menjadi tunangan dan calon istri sah Wen Cheng Si, bahkan dia memiliki penjaga sangat tampan dan sangat kuat di sisinya yang melindunginya sepenuh hati, tapi dia hanya bisa berharap untuk menjadi selir dan bahkan kehilangan ayahnya.


Xie Wan Qing menggertakkan giginya menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2