
Derap langkah kuda berhenti di depan kediaman Wen Cheng Si. Penjaga gerbang langsung membukakan pintu gerbang saat melihat siapa yang datang.
Lima ekor kuda dengan membawa penunggangnya masing-masing langsung masuk begitu pintu gerbang terbuka. Para penunggang kuda itu di pimpin Qi Shuo.
Qi Shuo tidak sendirian dia menunggang kuda bersama Xie Wan Qing. Begitu kuda berhenti setelah memasuki kediaman, Qi Shuo segera turun dan membantu Xie Wan Qing turun dari kuda.
Wen Cheng Si berdiri di depan kediamannya dengan penuh wibawa, menanti kedatangan Qi Shuo yang membawa Xie Wan Qing. Begitu Xie Wan Qing turun dari kuda , Wen Cheng Si dapat melihat dengan jelas kondisi Xie Wan Qing.
Xie Wan Qing yang biasanya cantik dan mempesona sekarang terlihat kusut dengan rambut acak-acakan dan wajahnya penuh debu.
Agar sampai dengan cepat ke kediaman Wen Cheng Si demi menghindari bahaya karena saat ini Xie Wan Qing jadi incaran musuh-musuh kepala suku Nu sejak kematian kepala suku Nu. Xie Wan Qing tidak naik kereta kuda melainkan menunggang kuda bersama Qi Shuo dan empat penjaga lainnya.
Perjalanan yang biasanya ditempuh dari desa suku Nu ke ibukota memakan waktu selama sebulan, sekarang hanya mereka tempuh selama lima belas hari. Mereka lebih cepat dua kali lipat dibanding biasanya.
Sepanjang jalan Xie Wan Qing telah menahan terpaan guyuran hujan , angin debu serta guncangan kuda yang ditungganginya. Mereka hanya berhenti sebentar untuk makan, selanjutnya mereka akan kembali melanjutkan perjalanan tanpa henti. Begitu terus selama lima belas hari.
Tulang-tulang ditubuh Xie Wan Qing seperti akan lepas dari seluruh persendiannya. Dengan mata berkaca-kaca dia memandang Wen Cheng Si yang berdiri tak jauh darinya. Mereka saling bertatapan seolah saling bertukar pesan ,seolah Xie Wan Qing menceritakan penderitaannya dan Wen Cheng Si mendengarkannya.
" Tuann..." Bibir kering Xie Wan Wing bergetar saat memanggil Wen Cheng Si dengan menyedihkan. Dia lalu berlari ke arah Wen Cheng Si dan langsung menerjang ke dalam pelukan Wen Cheng Si diiringi isakan tangis yang menyedihkan.
Wen Cheng Si juga memeluknya erat, bagaimanapun wanita ini adalah wanita yang memiliki tempat istimewa di hatinya, melihat keadaan Xie Wan Qing yang menyedihkan , Wen Cheng Si juga merasa kasihan padanya.
" Tuan bantu aku membalaskan dendam ku, ayahku mati dan desa kami sedang dalam bahaya . Aku tidak punya siapa-siapa lagi, ini semua ulah wanita itu , dia membunuh ayahku!!" teriak Xie Wan Qing histeris dengan begitu menyedihkan . Setelah bertemu Wen Cheng Si , dia seolah menemukan tempatnya bersandar dan mengadu.
" Tenangkan dirimu dulu." Wen Cheng Si hanya bisa membelai rambut panjang Xie Wan Qing menenangkannya.
__ADS_1
Wen Cheng Si tahu meski ayah Xie Wan Qing akhirnya mati ,itu semua berawal dari tindakan Xie Wan Qing sendiri , tapi dia tentu tak bisa mengungkapkannya sekarang karena kondisi Xie Wan Qing yang masih tertekan.
Xie Wan Qing menangis tersedu-sedu di pelukan Wen Cheng Si untuk beberapa lama. Setelah tenang dia baru melepaskan pelukannya.
" Ayo masuk ke dalam bersihkan tubuhmu dulu lalu makanlah , kamu pasti sudah sangat lapar." Ujar Wen Cheng Si kemudian sambil menghapus airmata Xie Wan Qing dengan penuh perhatian.
Xie Wan Qing mengangguk sambil tersipu malu, menyadari kondisinya yang berantakan , apalagi tiba-tiba perutnya berbunyi menandakan cacing-cacing di perutnya minta di beri makan. Xie Wan Qing memegang erat perutnya dengan perasaan campur aduk.
Wen Cheng Si lalu memerintahkan pelayan memandikan Xie Wan Qing dan mempersiapkan makan untuk mereka.
Xie Wan Qing kemudian mengikuti pelayan itu untuk membersihkan diri diikuti tatapan rumit Wen Cheng Si.
" Kerja bagus.." Ucap Wen Cheng Si pada Qi Shuo sebelum ikut masuk ke dalam kediamannya.
Satu jam kemudian Xie Wan Qing sudah selesai mandi dan berdandan. Dia melangkah ke ruang makan , disana Wen Cheng Si sudah menunggunya di meja makan untuk makan bersama.
Xie Wan Qing mengangguk dan duduk di kursi di seberang Wen Cheng Si. Hanya mereka berdua yang makan , sementara beberapa pelayan berdiri di dekat mereka bersiap melayani jika dibutuhkan.
Diatas meja makan telah tersedia banyak makanan lezat yang sengaja diperintahkan Wen Cheng Si kepada pelayan untuk memasaknya.
Air liur Xie Wan Qing hampir menetes saat melihat banyak makanan lezat yang terhidang di depannya. Namun dia masih berusaha mempertahankan keanggunannya di depan Wen Cheng Si. Dia tidak ingin terlihat memalukan di depan pria yang disukainya .
Xie Wan Qing kemudian makan dengan anggun .Mereka tak mengeluarkan sepatah katapun saat makan. Setelah selesai makan barulah Wen Cheng Si membawa Xie Wan Qing ke taman beristirahat di gazebo sambil menghirup udara segar.
Xie Wan Qing menenggelamkan tubuhnya dalam dekapan hangat Wen Cheng Si. Raut wajahnya kembali diliputi kesedihan.
__ADS_1
" Tuan terima kasih telah membawaku kembali ke kediamanmu. Kalau tidak ,aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." ujar Xie Wan Qing lirih.
Hati Xie Wan Qing sangat sedih juga marah, dia awalnya adalah putri surga yang bangga , dicintai oleh keluarga dan semua orang di suku Nu. Tapi sekarang semuanya hilang begitu saja. Bahkan demi keselamatannya dia rela meninggalkan ibunya di desa suku Nu .Ini semua gara-gara wanita ****** itu.
Teringat pada Hua Chunran, Xie Wan Qing tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Sekarang dia lebih bertekad untuk merebut Wen Cheng Si dari tangan Hua Chunran.
" Aku sudah memperingatkanmu jangan menyentuh Hua Chunran dulu, tapi kamu tidak mendengarkan kata-kataku. Tahukah kamu kali ini jika Hua Chunran tewas yang dirugikan tetap adalah diriku. " Wen Cheng Si sedikit merasakan amarah di hatinya.
" Tuan, maafkan aku . Itu karena aku tidak bisa menahan kecemburuanku padanya karena aku ingin menjadi wanitamu yang paling istimewa." Xie Wan Qing terisak dengan menyedihkan.
Wen Cheng Si menghela nafas berat, kecemburuan wanita memang selalu membuat pria sakit kepala. Sekarang ingin marah pun tidak ada gunanya. Lagipula Xie Wan Qing juga sudah menerima akibatnya.
" Sekarang tinggallah dengan tenang disini tapi jangan menimbulkan keributan apapun. Sampai aku berhasil menikahi Hua Chunran sebaiknya kamu tetap diam dalam senyap. Jangan sampai dia mengetahui keberadaanmu agar tidak menghalangi rencanaku . Mengerti?! " Tanya Wen Cheng Si tegas.
Xie Wan Qing sangat tidak terima di dalam hatinya, namun dia tidak punya pilihan lain jadi hanya bisa mengangguk lemah . Salahkan dia yang tidak mempunyai ayah berkedudukan tinggi seperti Hua Chunran.
" Jika kamu melakukan kesalahan lagi aku pasti tidak akan mentolerirmu lagi." Kata-kata Wen Cheng Si mengandung sedikit ancaman.
Xie Wan Qing mengangguk cepat dengan ketakutan sambil berurai airmata " Aku pasti tidak akan melakukan kesalahan lagi.."
Melihat Xie Wan Qing yang ketakutan dan begitu menyedihkan , hati Wen Cheng Si melunak. Dia lalu kembali memeluk Xie Wan Qing dengan hangat.
" jangan khawatir, kelak setelah aku mendapatkan keinginanku , Hua Chunran hanya akan memperoleh status permaisuri di atas kertas. Kamulah permaisuriku yang sebenarnya . Saat itu belum terlambat untuk membalaskan kematian ayahmu."
Mata Xie Wan Qing berbinar mendengar kata-kata Wen Cheng Si.
__ADS_1
" Tuan, kamu harus berjanji padaku akan benar-benar melakukannya. Membalaskan dendamku juga ." Ujar Xie Wan Qing sambil menatap Wen Cheng Si penuh harap.
" Percayalah padaku.." Ujar Wen Cheng Si sambil mengecup kening Xie Wan Qing. Wanita ini yang memberinya kehangatan berbeda, Hua Chunran bukanlah apa-apa baginya sejak awal.